Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
123 - Babak Final


__ADS_3

Di lapangan Akademi Magic Awan Langit, para Tetua, guru-guru, serta murid-murid sedang melihat atau menonton peserta-peserta yang sedang dalam kesulitan tersendiri. Mereka melihatnya di cermin besar.


Terlihat kelompok Cakra baru saja akan melesat ke arah pagoda, tapi secara mendadak muncul Lima Siluman sekaligus yang menghadang. Di dalam hutan itu, mereka harus melawan kelima siluman sekuat tenaga. Tidak main-main sampai membuat hutan setengah hancur dalam serangan satu jurus. Namun, siluman-siluman itu memiliki kekuatan besar dan layaknya memiliki akal untuk menyerang balik bahkan kelima siluman bekerja sama saling melindungi.


Hal yang tidak terduga adalah ketika satu siluman berhasil mati. Dalam waktu beberapa menit hidup lagi menyerang lebih brutal dari sebelumnya. Tidak ada yang tahu apa penyebab itu semua.


Para penonton yang melihatnya sampai dibuat menahan napas. Jika mereka yang berada di sana, mereka yakin akan kalah dalam sekejap mata. Lihat saja, bukan hanya dari kelompok Cakra yang mendapatkan kesulitan tapi kelompok lain juga demikian.


Dari kelompok kelas Tiga Tingkat A salah seorang anggota melayang di udara. Dia melihat teman-temannya yang lain sedang bertarung. Dia bernama Qi, malah mengedarkan pandangan seolah mencari sesuatu dan sama sekali belum bertindak ketika teman-temannya sedang kesulitan melawan tiga Roh Hitam berbentuk asap. Bahkan salah seorang temannya sampai memarahi Qi yang tidak juga membantu.


Sama seperti lima siluman yang dilawan kelompok kelas Tiga Unggulan yang setelah mati bisa bangkit kembali. Ketiga Roh Hitam ini juga demikian. Apalagi mereka sulit dirasakan hawa kehadiran. Kelompok kelas Tiga Tingkat A jelas sedang dalam masalah besar.


Para Tetua yang memperhatikan kelompok kelas Tiga Tingkat A ini nampak sedang serius. Mereka tidak menyangka akan ada lawan Roh Hitam. Tentu saja semua sudah direncanakan Tetua Wan.


Tetua Wan sendiri berdiri di samping Tetua Haki sambil menikmati tontonan ini. Dirinya tersenyum ketika melihat para peserta belum juga bisa mendekati pagoda.


"Kau sedikit keterlaluan."


Ucapan Tetua Haki barusan menghentikan senyum Tetua Wan yang menoleh dan malah tertawa kecil. Tetua Wan berkata, "ini untuk melatih kemampuan murid-muridmu. Tetua Haki tenang saja, semua yang berada dalam alam ilusiku aku yang mengendalikannya sendiri."


Pandangan Tetua Wan beralih ke cermin yang menggambarkan kelompok-kelompok lain yang sedang berusaha saling melindungi dan memberi serangan pada lawan.


"Untuk meraih kemenangan memang membutuhkan kerja keras. Mereka harus merasakan betapa sulitnya meraih kemenangan. Mereka pasti berpikir tidak ada siluman, Roh Hitam, jebakan, atau manusia-manusia seperti boneka yang akan menjadi pengahalang."


Kejutan yang dibuat Tetua Wan ini memang luar biasa. Walaupun para peserta itu mendapatkan luka, tapi nanti setelah keluar dari cermin pasti luka-luka itu akan hilang.


Dari para peserta dan para murid yang sedang menonton pertandingan ini tidak ada yang tahu bahwa para peserta memasuki alam ilusi yang dibuat Tetua Wan. Mereka mengira bahwa dibawa oleh portal menuju desa terpencil.


Tetua Haki mengangguk setuju dengan pendapat Tetua Wan. Dirinya berkata, "biarkan anak-anak merasakan seperti apa bertarung dengan sungguh-sungguh tanpa harus menahan kekuatan asli. Agar mereka sedikit mengetahui dunia luar yang berbahaya."


Tetua Haki tahu ada banyak murid-muridnya yang menjalankan misi ke dunia luar dan yakin mereka bisa mengatasinya tetapi Tetua Haki ingin melihat langsung para muridnya bertarung secara sungguh-sungguh.


"Di alam ilusiku tidak sebanding bahayanya di dunia luar yang sesungguhnya," ujar Tetua Wan yang matanya beralih ke kelompok kelas Satu C yang sedang kesulitan melawan warga desa tersebut.


"Aku harus memberimu hadiah apa setelah pertandingan? Kau banyak membantu di Akademi ini."


Perkataan Tetua Haki membuat Tetua Wan menoleh dan tersenyum. Dirinya kemudian berkata, "Tetua Haki, kau terlalu sungkan padaku. Tapi yah, aku akan meminta hadiah yang sebanding dengan yang aku lakukan."


Tetua Haki menaikkan sebelah alisnya. Dia bertanya hadiah apa yang diinginkan wasit adil ini. Tetua Wan kemudian mengatakan hadiah yang dia inginkan. Raut wajah Tetua Haki sedikit berubah ketika mendengar permintaan wasit ini.


*


*


*


Pandangan Guru Aneh fokus pada cermin yang memperlihatkan murid didiknya sedang kuwalahan menahan serangan manusia-manusia yang memiliki tanduk hitam dan gigi tajam. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang, tapi kekuatan mereka sungguh besar. Guru Aneh menyaksikan sendiri murid didiknya yang kebingungan harus bagaimana.


Memang lolos tiga kali saja sudah membuat Guru Aneh sebagai guru yang mendidik langsung mereka membuatnya sangat bangga. Apalagi kelompok kelas Satu C kini bisa memasuki babak final. Ini adalah keajaiban yang diberikan pada kelompok kelas Satu C setelah bertahun-tahun.


Di dalam alam ilusi yang dibuat Tetua Wan, kelompok kelas Satu C memang sedang kesulitan. Mereka melawan manusi-manusia yang seolah tidak memiliki akal dan menyerang secara brutal. Berulang kali Aray, Inay, dan Amdara menyatukan kekuatan untuk membuat perisai pelindung tapi hancur seketika oleh serangan petir yang entah datang dari mana.


Apalagi orang-orang desa ini sama sekali tidak bisa diajak bicara. Mereka terus mengeluarkan suara nyaring seolah memprovokasi teman-temannya agar terus menyerang bocah-bocah itu. Kesepuluh orang ini terlihat bukan manusia biasa. Mereka bisa melesatkan serangan begitu besar dari dalam mulut.


Amdara memutuskan menyerang manusia-manusia ini secara langsung karena merasa meraka bukan manusia asli. Namun, segera dicegah oleh Dirgan yang meminta teman-temannya jangan sampai berpencar. Dirgan berkata bahwa mereka harus menggunakan strategi awal, yakni Strategi Cahaya Bintang. Yah, memang lawan mereka bukanlah kelompok lain. Tapi malah manusia-manusia bertanduk.


"Apa kalian masih mengingatnya?"


Mereka semua mengangguk dan merapatkan punggung satu sama lain. Saat ini kesepuluh manusia yang memiliki tanduk terlihat mengeluarkan air liur. Atma yang melihatnya menelan ludah susah payah.


"A-apa mereka ini zombie?"


Inay menyikut lengan Atma dan berdecak, "mereka bukan zombie. Tapi terinfeksi."


Perkataan Inay membuat teman-temannya tersedak. Merinding seketika. Yah, jika melihat dari ciri-cirinya memang bisa disimpulkan bahwa orang-orang itu bukanlah manusia.


Tangan Aray, Inay, dan Amdara terangkat, sedetik berikutnya cahaya yang menyilaukan muncul di atas bocah-bocah itu. Manusia yang memiliki tanduk berteriak nyaring dan menutupi mata mereka menggunakan lengan tangan, tidak bisa melawan karena teralihkan oleh cahaya tersebut.


Kesempatan ini Inay gunakan untuk melilit kesepuluh manusia bertanduk menggunakan rambut. Setelahnya Amdara langsung menciptakan pusaran angin yang begitu tajam, jika terkena kulit saja langsung terluka.


Kesepuluh manusia bertanduk terkurung dalam pusaran angin Amdara yang begitu besar. Suara-sura mengerikan terdengar, bahkan bulu kuduk mereka meremang seketika.


Kelompok kelas Satu C itu perlahan mundur. Menelan ludah susah payah. Baru saja akan mengembuskan napas lega, tapi sebuah serangan listrik dari atas melesat menyerang. Inay menggunakan rambutnya untuk melilit Rinai, Nada, dan Atma untuk menyingkirkan mereka dan langsung melayang. Sementara Dirgan dibawa terbang oleh Aray untuk menghindari serangan mendadak barusan. Amdara berusaha menangkis dengan cepat, tapi kekuatannya malah memantul.


BAAM!


Blaaar!


Debaman keras disertai suara petir di langit terdengar keras. Amdara dibuat terpental tidak bisa menahan serangan lawan yang tidak memperlihatkan wujud.

__ADS_1


"Luffy ...!"


Aray dan yang lain berteriak, jantung mereka seakan sedang diuji oleh suara sambaran petir hendak menerjang mereka. Aray langsung menghindar cepat membawa Dirgan, begitu pula dengan Inay.


Mereka melakukan tangkisan serangan dan membuat perisai pelindung sekuat mungkin. Saat ini tidak bisa melakukan serangan langsung karena tidak tahu ke mana lawan sedang berada.


Amdara menekan dadanya yang terasa sakit. Dia mengedarkan pandangan, mencoba mencari hawa keberadaan seseorang tapi tidak menemukan apa pun. Tapi ada serangan petir yang muncul tiba-tiba.


Salah satu petir melesat ke arah Amdara yang sadar langsung menghindar dengan cepat. Petir itu meledak bersentuhan dengan tanah menghasilkan lubang yang sangat besar.


Petir lain yang seolah muncul dari ruang hampa kembali melesat ke arah Amdara dan teman-temannya yang lain kini menghindar sebisa mungkin.


Suara lengkingan terdengar. Karena Amdara yang kurang konsentrasi, angin beliungnya memudar mengakibatkan sepuluh manusia bertanduk lepas dan menyerang brutal ke arah mereka.


Amdara menciptakan pedang tajam untuk menghalau salah satu manusia bertanduk yang hendak menyerang Rinai. Pedang itu tertancap di punggung, menghentikan aksi manusia bertanduk itu beberapa detik sebelum dia mencabut pedang tersebut dan malah melemparnya ke arah Amdara dan menerjang. Tidak ada darah yang keluar. Juga tidak terlihat wajah kesakitan dari manusia bertanduk itu.


Amdara melesat dan menyerang menggunakan pedang di belakangnya. Dia menciptakan pusaran angin yang langsung membuat lima manusia bertanduk terpental jauh.


"Kalian, bersembunyilah."


Amdara langsung membuat perisai pelindung ketika suara lengkingan dari makhluk itu membuat petir dari atas terjun menyerang. Ledakan besar terjadi antara perisai pelindung milik Amdara dan petir barusan.


Sayangnya, teman-teman Amdara juga berada dalam masalah menghadapi manusia bertanduk. Nada, Rinai, dan Atma diturunkan. Mereka saling merapatkan punggung ketakutan. Sementara Inay melawan dua manusia bertanduk menggunakan rambutnya.


Aray menggunakan kekuatannya untuk melesatkan tiga manusia bertanduk lainnya yang hendak menerjang. Dia juga membuat perisai pelindung untuk menghalau petir walaupun seketika langsung meledak.


"Aray, turunkan aku."


Aray langsung menurunkan Dirgan tanpa banyak bertanya. Dia kembali melesatkan serangan lebih dahsyat. Namun, manusia-manusia bertanduk itu ketika terpental dan mendapatkan serangan langsung bangkit menyerang kembali dengan kekuatan besar.


Aray tersentak. Dia dia menyadari ada sesuatu yang aneh.


Lima manusia bertanduk yang sebelumnya terkena serangan Amdara mendadak berlarian dan kembali menyerang.


"Nada, gunakan kekuatanmu untuk menciptakan angin pada mereka!"


Dirgan berseru dan langsung membuat Nada dengan gemetar mulai mengeluarkan suara yang menciptakan angin besar. Dua di antara manusia bertanduk terdorong mundur. Sementara tiga lainnya melayang ke arah Atma. Mata Atma terbelalak lebar, dia berteriak.


Lesatan angin besar membuat ketiga menusia bertanduk terpental. Nyaris saja jantung Atma copot. Dia mengusap-usap dada dan melihat Amdara yang sedang melayang melindungi mereka dari petir-petir serta tiga manusia bertanduk.


Sementara Nada mengurus dua menusia bertanduk dengan arahan Dirgan.


"Buat mereka terpental jauh dan gunakan kekuatanmu untuk membuat mereka kehilangan konsentrasi."


Rinai berlindung di belakang Dirgan. Dia menangis ketakutan sampai tubuhnya bergetar hebat.


"Huhuhu. Aku takut sekali. Huhu."


"Rinai, berhenti menangis! Sekarang bukan saatnya kau meringkuk ketakutan!"


Inay yang mendengar Rinai menangis berdecak kesal. Dirinya berdiri di depan Atma mengurus dua manusia bertanduk yang tidak bisa dihancurkan. Bahkan ketika Inay sengaja menusuk perut mereka, tidak ada darah yang keluar. Tenaga mereka juga tidak habis.


"Mereka mengerikan!"


Atma menelan ludah susah payah. Dia berseru pada Inay karena di atas mereka satu manusia bertanduk hendak mencakar mereka. Sontak Inay mendongak, menggunakan rambutnya untuk melilit dan membanting manusia bertanduk tersebut.


Blaaar!


Amdara menciptakan angin beliung besar untuk menangkis serangan petir yang secara mendadak meledak ketika bersentuhan dengan beliung itu.


Selagi Amdara fokus menangkis serangan petir-petir. Dia meminta teman-temannya untuk segera pergi mengambil bendera.


"Kalian pergilah."


Aray melepas serangan pada manusia-manusia bertanduk dan berteriak kesal, "apa maksudmu?! Kita akan menghadapi ini bersama!"


Dirgan yang masih memberi arahan pada Nada juga tersedak mendengar dua kata dari Amdara. Dirgan mendengus dan berkata, "Luffy, kau tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Kita harus saling melindungi untuk saat ini."


Perkataan Dirgan dan Aray disetujui oleh Rinai, Nada, dan Atma yang sedang berusaha membantu Inay. Terlihat Inay melibaskan serangan menggunakan rambut dan membuat dua manusia bertanduk terpental.


Inay lalu menoleh ke arah Amdara yang sedang mengangkat tangan untuk pusaran angin milinya. Dia juga berusaha menghalau tiga manusia bertanduk yang hendak menyerang teman-temannya.


"Kita bereskan masalah ini bersama dan setelahnya pergi bersama. Luffy, jangan memaksakan diri sendiri ...!"


Bersamaan Inay berteriak, dua manusia bertanduk yang sebelumnya terpental kini nampak berlarian dan hendak menerjang kembali.


Mereka tertarung dan bekerja sama dengan baik. Antara satu dengan yang lainnya mencoba melindungi dari serangan titik buta lawan yang tidak disadari.


Amdara hanya bisa menghela napas panjang ketika dirinya tidak diizinkan melawan musuh seorang diri. Amdara cukup tertegun dengan teman-temannya yang tidak mau meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Serangan-serangan petir terus saja melesat tanpa henti. Amdara mencoba menyerap kekuatan alam, tapi dia sama sekali tidak merasakan adanya kekuatan alam. Ini aneh, padahal sebelum memasuki cermin, Amdara masih bisa merasakan kekuatan alam. Namun, semenjak memasuki desa ini sama sekali tidak ada kekuatan alam yang dirasakan Amdara.


"Ada apa dengan desa ini?" Amdara berpikir bahwa ini masih di Negeri Nirwana Bumi.


Jika terus menerus melesatkan serangan, yang ada mereka hanya akan membuang kekuatan. Bisa saja kekuatan mereka habis, serangan tidak juga berhenti.


Ada satu lagi kejanggalan yang Amdara rasakan. Yakni pada sepuluhan manusia bertanduk yang ketika diserang seolah tidak merasakan sakit serta dilukai pun tidak berdarah. Umumnya, manusia atau makhluk pasti akan kelelahan setelah bertarung beberapa lama.


Mata Amdara beralih ke tiga manusia bertanduk yang dia hadapi. Mereka membunyikan suara lebih nyaring dan secara bersamaan lima belas petir melesat. Amdara kembali memperkuat anginnya. Fokusnya terbagi dua, dia harus melindungi teman-temannya dari serangan petir. Amdara juga harus mengurus tiga manusia bertanduk.


Blaaar!


Suara gemuruh petir bersahutan di atas. Bukan hanya Amdara yang sedang kesulitan, tapi teman-temannya juga demikian.


"Mn, ini seperti alam ilusi."


Amdara ingat ketika berada di alam bawah sadar Lasi, dirinya tidak merasakan kekuatan mengalir di sekitar. Pemikiran Amdara ini belum bisa diyakininya seratus persen.


Amdara memfokuskan pikiran. Selanjutnya dia menciptakan portal di depan salah satu manusia bertanduk, ketika manusia bertanduk itu memasuki portal yang langsung menghilang dan detik berikutnya muncul tepat di depan angin beliung. Secara mendadak juga lesatan petir mengenai manusia bertanduk.


BAAM!


Ledakan keras terjadi. Manusia bertanduk barusan yang terkena lesatan petir hancur menjadi debu seketika.


Teman-temannya tidak ada yang sadar, mereka terlalu fokus menyerang manusia bertanduk lain.


"Hmph, mari selesaikan dengan cepat."


Amdara tersenyum. Dia sekarang menggunakan cara yang sama untuk melenyapkan dua manusia bertanduk lagi tanpa gagal sekali pun. Ledakan-ledakan besar terjadi ketiga kalinya.


"Kak Nana, pancing manusia-manusia itu kemari."


Inay yang mendengarnya berseru. Dia melilit dua sekaligus manusia bertanduk, melemparnya di atas cepat. Detik berikutnya Amdara menciptakan portal kembali dan memunculkan dua manusia bertanduk tepat saat serangan petir hendak menyerang.


BAAM!


BAAM!


Secara mengejutkan dua ledakan besar terjadi. Inay dan Atma membuka mulut tidak menyangka. Sekali terkena petir itu langsung lenyap manusia bertanduk.


"H-hebat." Atma melihat Amdara yang hanya menggunakan gerakan tangan masih berusaha menciptakan cermin yang bisa menghilangkan sesuatu dan memunculkannya kembali.


Decakan kagum Atma membuat Inay yang melihatnya juga terkesima. Walaupun dirinya sering melihat Amdara mengeluarkan portal, tapi kekaguman itu selalu menghiasi.


"Itu dinamakan portal," kata Inay memberi tahu Atma.


Atma menoleh, masih dengan tatapan kagum dia bertanya, "apa kau juga bisa membuatnya?"


Inay tersenyum kecut dan menggeleng. Dia mengatakan tidak sembarang orang bisa menciptakan portal. Bukan hanya tingkat kesulitannya yang banyak orang menyerah. Inay lalu mengembuskan napas dan buka suara.


"Hanya orang-orang berbakat yang bisa menciptakannya."


"Jadi kau tidak berbakat, ya?"


"Aku berbakat. Hanya saja bakatku berbeda dari Luffy."


"Yah, kau memang berbakat. Tentu salah satunya adalah bakat marah-marah."


Seketika rambut Inay melilit kaki Atma dan menggantung secara terbalik. Atma yang tidak siap berteriak dan meminta Inay menurunkannya tapi dia malah tidak diacuhkan.


Sekarang lima manusia bertanduk lagi harus dihadapi. Sementara kekuatan Amdara sudah terkuras banyak. Dia tidak bisa menggunakan beberapa portal lagi.


Amdara meminta Aray memancing lima sekaligus manusia bertanduk ke arahnya. Awalnya Aray menolak, tapi setelah diberi penjelasan Inay dia menurut. Kelima manusia bertanduk itu hendak menerjang Amdara. Tapi sebuah cermin muncul membuat mereka hilang dan mendadak muncul kembali ketika tujuh petir sekaligus datang. Debaman besar terjadi. Kelima manusia bertanduk hangus dalam petir barusan. Setelah kesepuluh manusia bertanduk lenyap, petir-petir sebelumnya tidak berdatangan lagi.


Amdara menghentikan kekuatannya dan menarik napas dalam. Lega semua sudah berakhir.


"Apa kalian baik-baik saja?"


Amdara bertanya pada teman-temannya yang ternyata terduduk lemas. Mungkin antara lelah dan syok dengan serangan mendadak barusan.


"Huhuhu. Aku takut sekali. Manusia-manusia itu seperti iblis." Rinai meringkuk ketakutan.


"Khakhaa. Iblis tidak akan mudah dilenyapkan. Khkhaaa. Manusia bertanduk itu pasti boneka buatan." Nada memberikan pendapatnya.


Aray mendarat, dia mengedarkan pandangan sekitar dan berkata, "tidak peduli makhluk apa barusan. Sebaiknya kita segera pergi dan dapatkan benderanya.


Dirgan juga mengedarkan pandangan. Dia berpikir mungkin saja ada makhluk lain yang akan menyerang.


"Mn, lebih baik tinggalkan tempat ini segera. Tapi jangan berpencar."

__ADS_1


Pesan Dirgan yang langsung diangguki teman-temannya. Walaupun mereka memang lelah, tapi istirahat bukan hal yang harus dilakukan saat ini. Ingat ini pertandingan yang jelas pasti ada banyak halangan.


Mereka berjalan menuju pagoda. Selama perjalanan, tidak ada keanehan lain. Aray yang mengawasi dari atas juga belum melihat kelompok lain.


__ADS_2