Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
93 - Pil Aneh


__ADS_3

Lima pil hitam berbentuk bola terpampang jelas di dalam periuk. Api biru milik Amdara menerangi malam itu. Tatapan tak percaya dari ketujuh bocah itu saat melihat dengan mata kepala sendiri yang mana tanaman-tanaman herbal sebelumnya kini berubah menjadi lima butir pil dengan aroma menyengat. Aroma ini seperti bunga bangkai. Dalam jarak setengah meter saja aromanya sudah terasa.


Ketujuh bocah itu sontak langsung menutup hidung yang terasa mulai tersiksa. Umumnya, membuat pil tidak dengan cara seperti yang dilakukan Amdara. Dan tidak mudah membuat tanaman-tanaman herbal untuk menyatu dan menjadi ramuan. Namun, kasus yang Amdara buat ini sungguh diluar dugaan. Di buku juga tertulis tidak akan menjadikan olahan tanaman herbal menjadi pil, yang ada hanya cairan penawar.


"Ada yang salah." Amdara bergumam. Dia menutup hidung, tetapi tidak menghindar. Diambilnya kelima pil yang jika diperhatikan dengan jelas, ada tali ungu tipis mengikat pil-pil tersebut.


"Uhuk! Ini sangat menyengat. Ya ampun, hidungku tersiksa."


Inay segera menjauh sampai satu meter. Dia melibas-libaskan tangan di depan hidung sambil berdecak kesal.


"Luffy, letakkan pilnya. Itu sangat bau! Apa kau tidak merasakannya ...?!"


Aray menggelengkan kepala dan menjauh seperti yang lain. Dia sampai ingin mengeluarkan isi perut dibuatnya.


Berbeda dengan Atma yang terus memerhatikan pil-pil itu walaupun harus merasakan hidungnya yang mulai terasa tersiksa. Tatapan matanya tak lepas dari tangan Amdara. Dia mengambil satu dengan tangan bergetar. Tatapan matanya berbinar-binar.


"I-ini luar biasa!"


Atma terkesima. Seakan lebih tertarik pada pil ketimbang memedulikan baunya yang menyengat. Beberapa kali dia membolak-balik pil, seakan mencari sesuatu.


Amdara juga demikian. Tidak peduli dengan Aray yang mulai mengomel. Penasaran bukan main. Dia tidak yakin eksperimen pertamanya lumayan bagus tetapi entah dengan fungsinya. Dia berkata, "kelinci percobaan."


Amdara melirik Atma yang terlihat begitu senang. Amdara berniat membuat Atma menjadi kelinci percobaan, tetapi suara seseorang menginstruksi.


"Hei, apa yang tengah kalian lakukan di sana ...?!"


Sontak Amdara langsung menyembunyikan keempat pil di genggaman. Begitu pula dengan Atma yang tersentak saat ditegur seorang senior.


"Bukan apa-apa, senior. Kami hanya sedang bermain ...!" Atma berteriak sebagai respon.


"Ini tengah malam. Lekaslah istirahat. Besok ada pertandingan duel antar kelas ...!"


Senior itu kembali berteriak dan setelahnya pergi. Amdara dan keenam temannya mengembuskan napas lega.


Amdara menautkan kedua alis mendengar teriakan senior yang telah pergi. Dia bertanya, "duel?"


Atma menoleh, dua menepuk jidat dan berkata, "aiya. Aku lupa mengatakan pertandingan untuk besok. Luffy, dua hari terakhir pertandingan antar kelas adalah berduel atau lebih ke pertarungan antar kelas."


Inay juga lupa mengatakan pertandingan besok. Dia mengangguk dan mengatakan besok adalah penentu dari pemenang pertandingan antar kelas.


"Entah apa yang akan terjadi pada kita di arena pertandingan. Tapi kuharap kita tidak mundur seperti tahun lalu."


Dirgan nampak menghela napas teringat terakhir kali mendapat serangan sampai membuat teman-temannya jatuh sakit berhari-hari.


Nada dan Rinai menunduk. Keduanya juga masih trauma dengan beberapa hal. Walaupun sekarang ada Aray yang bisa menggunakan kekuatan, ditambah ada Inay dan Amdara tetapi lawan tidaklah mudah dikalahkan. Mereka kuat dan cerdas dalam mengatur pertandingan.


Trauma-trauma seperti ini yang sulit dilupakan. Bagi Aray, ini adalah kesempatan bagus untuk merebut kemenangan dan membalaskan dendam.


Dia maju selangkah dan dengan tatapan penuh bara emosi berkata sambil menatap teman-teman.


"Kita tidak akan mundur dari pertandingan sekalipun melawan senior! Kalah atau pun menang, aku tidak peduli. Aku ingin membalaskan rasa sakit yang pernah mereka lakukan!"

__ADS_1


Amdara tercengang mendengarnya. Dia mengangguk melihat semangat di wajah Aray.


"Y-yah. Tentu saja. T-tapi ...."


Atma menelan ludah kesulitan. Wajahnya yang semula cerah berganti pucat.


"Atma, kau ini laki-laki! Jangan lemah gemulai begitu!"


Aray menatap tajam Atma yang langsung menegakkan punggung. Walaupun dalam hati dia sebenarnya takut dengan pertandingan besok.


"Aku tahu selama ini kalian sering dice***h oleh orang lain. Tapi apa sebegitu parahnya sampai membuat trauma besar?"


Inay menggaruk pipi saat bertanya. Dia membuat Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada melirik dan mengangguk.


"Huhuhu. Mereka bahkan dengan sengaja membuat kami cedera." Rinai terduduk dan memeluk lutut erat.


Nada memeluk Rinai dan dengan cekikikan berkata, "luka itu ... khakhaa. Kami ingin mereka juga merasakannya."


Dirgan mengangguk setuju dengan Nada. Dia menepuk bahu Aray lalu mengangguk.


"Kita akan balas dan tidak akan mundur sampai batas kemampuan kita."


Aray tersenyum mendengarnya. Dia mengangkat kepalan tangan dan menyerukan kelas satu c.


Amdara yang melihat teman-temannya diselimuti rasa ingin balas dendam hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Ini bukan urusan dan tujuanku ke negeri ini."


Amdara melirik Inay yang juga ternyata tengah menatapnya seakan banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan.


Atma, dan yang lain dibuat membeku mendengar perkataan Amdara yang menginstruksi mereka. Sontak pandangan beralih ke Amdara yang sama sekali tidak merasa bersalah saat mengatakannya.


"A-apa? Makan pil ini?" Atma menelan ludah susah payah. Menatap Amdara tak percaya.


Amdara mengangguk. Atma menggeleng cepat. Takut jika pil buatan Amdara akan berefek buruk padanya.


"T-tidak. K-kenapa harus aku? Kita berikan langsung saja pada senior itu atau pada Tetua. Untuk efek ... kita akan melihat nanti."


Amdara menimang-nimang usulan Atma sebelum akhirnya mengagguk setuju dan membuat Atma mengembuskan napas.


Tanpa berlama-lama, mereka pergi ke tempat asrama senior yang terkena dampak buruk memakan ramuan Atma.


Suasana malam ini tak seramai biasanya. Mungkin banyak murid yang lebih awal istirahat untuk mempersiapkan pertandingan besok.


"Aku tidak yakin dengan pil bau itu."


Inay berjalan berjauhan dengan Amdara dan Atma yang memegang pil itu gemetar. Bayangan mengenai efek dari pil ini membuat wajah Atma semakin pucat. Pasalnya Amdara tidak mau membuat ramuan lain lagi untuk berjaga-jaga.


Dirgan, Aray, Nada dan Rinai juga sama halnya. Dari bau pilnya saja sudah sangat mencurigakan. Entah apa efek dari pil tersebut jika di makan.


Beruntung, tempat istirahat senior yang mereka tuju sepi. Nampaknya beberapa penghuni dekat kamar itu, sudah tertidur lelap.


Amdara mengetuk pintu kamar yang ditunjuk Atma. Dia tahu kamar senior kelinci percobaan karena sebelumnya Atma pernah diseret kemari untuk menyembuhkan tetapi untungnya ada Tetua yang menolong. Jika tidak, pasti Atma sudah dilukai.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka. Menampakkan seorang laki-laki berdada besar tak wajar. Begitu melihat wajah Amdara, senior tersebut langsung menutup pintu keras.


"S-senior? Kami datang membawa penawar."


Atma mengetuk-ngetuk pintu kembali. Berharap senior dapat percaya padanya. Walaupun Atma sendiri tidak percaya dengan pil yanh dibawa.


"Apa mau kalian?! Apa ingin melenyapkanku datang malam-malam begini?!"


Senior itu berteriak dari dalam kamar. Dari suaranya, Amdara bisa menangkap bahwa senior itu tengah bergetar.


Aray berdecak marah dia mengeluarkan kekuatan. Dia berkata, "tidak bisa pakai cara baik-baik. Sebaiknya kita bakar saja pintunya."


Amdara mengangkat tangan. Petanda Aray tidak boleh bertindak gegabah. Dirgan menepuk-nepuk pelan bahu Aray agar lebih tenang.


Membuat keributan hanya akan membawa mereka dalam masalah. Dan tentu penghuni kamar lain tidak akan terima. Bisa saja mereka malah akan mencelakai.


"Senior, kami bawakan penawar untukmu." Suara menenangkan Amdara tidak dijawab oleh orang dalam kamar di hadapan Amdara membuat dia mengembuskan napas. Dan berkata, "kau makan. Kami tinggalkan di depan kamar."


Amdara membuat sebuah meja melayang dan meminta Atma meletakkan pil itu di atasnya. Dia kemudian melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban.


"Hah, sudah untung dibuatkan penawar. Tapi malah menolak." Inay mendecih sebelum berjalan berjejer dengan Amdara.


Aray mengepalkan tangan. Dia menendang kasar pintu.


"Apa kau pikir kami membuat racun untukmu, senior? Tsk. Kami bukan orang-orang sepertimu yang berani bertindak tanpa berpikir apa akibatnya."


Atma menenangkan Aray. Dia juga kesal pada senior ini yang sama sekali tidak mengatakan terima kasih atau apapun.


"Terserah kau percaya atau tidak dengan penawar yang kami buat. Kami sudah berusaha membuat penawar. Terima kasih."


Aray berkedip mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Atma yang sekarang berjalan santai. Terima kasih?! Tsk. Rasanya itu sama sekali tidak pantas dia ucapkan.


Aray berlari mengejar Atma dan mengomeli bocah itu karena mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.


Selang beberapa menit kemudian, pelan pintu kamar senior itu terbuka. Dia mengedarkan pandangan. Tidak ada orang. Hanya meja putih yang di atasnya ada satu pil hitam dengan aroma menyengat. Sontak dia menutup hidung.


"Apa-apaan ini?! Kenapa bau sekali?!"


Niat awal mau mengambil pil tersebut dia urungkan. Berpikir bahwa bocah-bocah barusan tengah mengerjainya dan membuat racun untuknya.


"Lihat saja jika kalian berani meracuniku. Aku akan membuat kalian merasakan kemati*n luar biasa menyakitkan."


Dengan ragu akhirnya dia mengambil pilnya dan menutup pintu kamar. Dia masih menutup hidung tak kuat dengan baunya. Membolak-balik pil tersebut, seakan mencari sesuatu yang aneh untuk dijadikan bukti barangkali memang pil itu bukan penawar melainkan racun.


"Tsk. Yang benar saja! Apa aku akan menelan pil bau ini?!"


Mata senior itu bahkan sampai berair membayangkan dirinya mati sia-sia hanya dengan menelan pil ini. Untuk itulah dia membuat sebuah bola perekam menggunakan kekuatan lemahnya. Jika dia mati setelah menelan pil ini, maka bocah-bocah barusan akan mendapat hukuman setimpal.


Pil itu tertelan ke mulut dan melebur begitu saja. Rasanya memang pahit, bahkan nyaris saja dia memuntahkan isi perut tidak kuat. Namun, sepuluh detik berikutnya tubuhnya menegang. Dia merasa aliran kekuatan masuk ke dalam tubuh. Perlahan dadanya mulai mengecil dan kembali seperti semula seorang laki-laki.


Senior itu tersentak dengan perubahan yang terjadi. Kekuatan lemahnya seakan bertambah begitu saja setelah menelan pil yang katanya penawar.

__ADS_1


"P-pil ini luar biasa."


__ADS_2