
Tetua Haki yang melihat segera mengalihkan pandangan dan berdiri. Ekspresinya bertambah dingin tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Telinga dua teman murid penjaga itu nampak memerah dan beberapakali berdehem. Tak menyangka perubahan tak terduga terjadi pada temannya.
Amdara yang melihatnya nyaris terbahak. Dia juga mengalihkan pandangan. Ramuan Atma yang dia tunggu-tunggu keanehannya akhirnya muncul walaupun ini masih menjadi pertanyaan Amdara.
Atma si pembuat ramuan membelalakkan mata tak menyangka. Dia mengusap-usap mata, berharap yang dilihatnya hanya halusinasi tetapi sesuatu yang menonjol melekat di da** Seniornya ini. Padahal dua senior lain tidak.
Bahkan Guru Kawi yang baru saja sampai dan melihat apa yang sebenarnya terjadi menutupi wajahnya menggunakan kipas. Mereka semua membeku dengan pemikiran masing-masing.
Jelas para murid yang tidak melihat perubahan itu penasaran dan penunggu penjelasan Tetua Genta atau setidaknya yang lain. Namun, bukannya mendengar penjelasan, yang ada murid penjaga itu kembali menangis histeris. Dan mulai ditenangkan oleh kedua temannya.
"Ini bagaimana bisa?"
Sama seperti halnya Tetua Genta yang tengah berpikir sendiri. Guru Kawi mulai mengambil ramuan aneh Atma dan menghirupnya, tidak ada racun sama sekali. Bukankah ketiga murid itu mencicipi ramuan yang sama dan satu sendok yang sama, lalu bagaimana bisa salah satu dari ketiga ini memiliki efek berbeda?
"Perbedaan kekuatan." Amdara berkata tanpa nada. Senyumnya dia sembunyikan. Jika dalam keadaan seperti dia tersenyum, yang ada Amdara dicurigai telah melakukan sesuatu.
Tetua Genta dan Guru Kawi menatap bocah berambut putih itu bingung. "Apa maksudmu, Nak?"
Amdara mengembuskan napas, dan mengambil periuk lalu membopongnya dengan tenang.
"Kurasa ramuan ini memiliki efek berbeda pada setiap kekuatan yang berbeda."
Penjelasan singkat itu membuat Tetua Genta dan Guru Kawi berpikir ulang. Tetua Genta memang merasakan kekuatan murid yang masih menangis itu lebih lemah dari kedua temannya. Akan tetapi tetap saja mereka masih harus meneliti ramuan ini.
"Yang kau katakan mungkin benar atau pun salah. Maka, aku akan mengambil ramuan ini untuk diselidiki," kata Tetua Genta yang menyentuh periuk dan dalam sekejap menghilang.
Amdara sama sekali tidak keberatan. Dia menepuk bahu Atma bangga. Temannya itu memang kemungkinan memiliki bakat menjadi alkemis.
"Gelapnya malam kian menjadi~
Sementara cahaya setitik saja tak pernah datang~
Namun, perlahan ada yang membawa perubahan~
__ADS_1
Membawa cahaya benderang di gelapnya malam."
Guru Kawi berkata aneh lagi. Dia tersenyum ke arah Amdara sebelum menepuk bahu Atma yang terkejut dan sontak langsung menunduk.
"Hei, kau harus bertanggung jawab ...!"
Murid yang masih histeris menangis itu kini menunjuk Amdara penuh amarah.
Amdara menaikkan sebelah alisnya dan berkata tenang, "mn? Aku tidak menghamilimu."
Sontak perkataan tidak tahu malu itu membuat Tetua Genta dan Guru Kawi tercengang dan menatap aneh Amdara. Tidak disangka mulut Amdara yang biasanya terjaga, kini mulai ada perubahan.
Ketiga murid penjaga itu pun terkejut bukan main. Murid yang meminta pertanggungjawaban dari Amdara semakin menangis. Padahal umurnya jauh lebih tua dari Amdara.
Atma sudah tersedak napas sendiri, dia terbatuk-batuk dan mengusap-usap dadanya. Tidak menyangka Amdara bisa berbicara tidak tahu malu juga.
Perkataan Amdara cukup membuat para murid yang mendengarnya tercengang. Mereka mengerutkan dahi tidak mengerti maksud Amdara. Tentu saja itu karena mereka tidak tahu kondisi sebenarnya.
Murid laki-laki yang dadanya menonjol itu kembali berteriak.
"Kau yang tidak tahu malu menangis depan umum."
"Kau ...!"
Amdara tersenyum meledek saat lawan bicara dibuat bungkam dan langsung mengedarkan sekitar. Sepertinya dia memang lupa berada di tengah-tengah lapangan acara pertandingan antar kelas.
Tetua Genta mengusap pelan rambutnya dan melerai agar tidak terjadi keributan lagi. Acara kali ini nampaknya kacau karena ulah bocah berambut putih ini. Jika saja Tetua Genta tidak mengizinkan dia melakukan uji coba, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi. Namun, Tetua Genta baru menyadari sepertinya Amdara memang memiliki niat mengerjai tiga Senior itu.
Kedua teman Senior itu tidak mencoba berbicara, karena keduanya tidak terkena dampak aneh. Malah, mereka seharusnya berterimakasih karena telah dipulihkan kekuatannya.
"Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya pada ramuan itu. Tapi aku ingin kau cepat buat penawarnya ...!" Kali ini dia berteriak dan memelototkan mata ke arah Atma yang menunduk. Tubuhnya lemas seketika.
Ramuannya belum diteliti, bagaimana mungkin Atma membuat penawar? Sementara dirinya membuat ramuan ini saja hanya dengan asal. Mana tau dia tentang penawar?
Tetua Genta dan Guru Kawi setuju dengan perkataan murid penjaga gerbang itu.
__ADS_1
Tetua Genta berkata pada Atma, "dia benar. Nak, kau buatlah penawarnya."
Amdara maju di depan Atma dan berkata tenang, "Tetua, bagaimana kami bisa tahu penawarnya?"
Yang Amdara maksud tentu adalah karena Atma sendiri tidak tahu apa efek dari ramuan buatannya. Bagaimana mungkin bisa membuat penawar? Dan bukankah Tetua Genta sendiri yang mengatakan setuju jika mereka melakukan uji coba?
Tetua Genta dan Guru Kawi saling pandang. Seakan ini bukanlah kesalahan dua bocah yang terlihat polos ini.
Mendengar perkataan Amdara, tiga murid yang dijadikan kelinci percobaan itu serentak terkejut bukan main.
"Apa?! Lalu bagaimana dengan nasibku?!" Murid yang sebelumnya menangis kembali menangis bertambah kencang. Sudah tidak peduli dengan lingkungan sekitar yang penasaran setengah mati.
Bahkan Tetua Widya yang awalnya yakin Tetua Genta bisa mengatasi masalah, sekarang mendekati mereka. Begitu pula dengan Dua Guru Besar yang sebelumnya masih duduk.
"Nak, tenanglah." Tetua Genta menenangkan. Dia harus mengambil keputusan yang tepat. Dirinya berkata pada Atma, "bagaimana pun, kau lah yang membuat ramuan ini. Dan aku yakin, kau bisa membuat penawarnya."
Atma menggeleng penuh putus asa. Bagaimana bisa dirinya membuat penawar? Atma berkata lemas, "t-tetua, a-aku tidak--"
"Beri kami waktu tiga hari."
Amdara menyerobot perkataan Atma dengan cepat. Dia menoleh ke belakang dan mengangguk meminta Atma diam, dan menyerahkan hal ini pada Amdara. Atma menggeleng, dan membatin, "bagaimana kita membuatnya, Luffy?"
Senior yang masih ditenangkan kembali terkejut dan berteriak tidak terima.
"Apa?! Tiga hari?! Aku tidak mau! Cepat kau buatkan sekarang ...!"
"Kau pikir membuat permen?" Amdara menggelengkan kepala dan berkata, "tidak semudah itu membuat penawar. Tiga hari cukup cepat menurutku."
Berdebat pun, tidak ada gunanya sekarang. Tetua Genta mengembuskan napas, dan melirik Tetua Widya yang baru sampai seakan meminta penjelasan.
"Baiklah, tiga hari. Jika kau tidak bisa membuatnya dalam waktu itu, hukuman berat akan dijatuhkan."
Amdara memberi hormat setelah Tetua Genta berkata barusan dan langsung pergi ke kursinya diikuti Tetua Widya dan Tiga Guru Besar. Sadar tak sadar, Amdara telah terlibat dalam masalah besar. Dia bahkan terlihat sedikit berubah pada cara berbicara dan juga bersikap sejak keluar dari Dark World.
Siang itu, kegaduhan tak terelakkan setelah kabar ramuan aneh yang membuat da** salah seorang senior penjaga gerbang tiba-tiba menonjol layaknya perempuan setelah meminum ramuan buatan Atma. Kabar itu bagai lesatan panah api, membakar apa pun di sekitar.
__ADS_1
Acara pertandingan kali ini selesai dengan tidak semestinya. Dan dibubarkan setelah barang-barang yang diciptakan oleh setiap perwakilan kelompok dikumpulkan dan diberi nilai.