
Tangan Ai mulai bergerak menyentuh leher Amdara. Ai mendekatkan wajah dan berbisik, "bagaimana kabarmu setelah perang besar itu?"
Tubuh Amdara merinding seketika. Dia ingin menyerang, tapi untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Amdara menelan ludah susah payah saat Ai berjalan ke depan dan menyentuh pipinya sangat pelan.
Lalu membelai sambil buka suara kembali. "Wajah ini ... memiliki campuran manusia itu."
Ai mendengkus tidak suka dan lantas membalikkan badan. Dia memilih duduk di atas batu, menghadap danau tenang.
Amdara menyerngitkan dahi, tidak mengerti semua ucapan wanita itu. Dirinya berusaha menenangkan diri untuk bertanya.
"Siapa kau?"
Tubuh Amdara masih tidak bisa di gerakan sama sekali. Dia yakin ini karena kekuatan lawan.
Suara nyanyian kecil terdengar dari Ai. Dia memainkan kedua kaki di tepi danau. Senyumnya kembali melengkung mendengar pertanyaan anak manusia itu.
"Apa kau tidak mengenaliku?"
Kini Amdara semakin dibuat bingung. Perkataan lawan bicara seolah dia mengenal Amdara.
"Kau mencari Permata Air, untuk menghilangkan Benang Merah." Ai tertawa kecil. Tawa yang membuat Amdara merinding sekujur tubuh. Ai lalu kembali berkata, "sangat dungu. Kekuatanmu akan membludak setelah Benang Merah tercabut. Dan setelahnya kau akan bertarung habis-habisan."
Tawa itu berhenti. Berganti dengan helaan napas panjang. Dia menghentikan kaki yang bergerak-gerak di tepi danau.
"Dewi, nasibmu akan turun kepada dia. Kasihan. Tapi, inilah resiko paling besar yang kau bawa." Bibirnya terkatup. Lalu terbuka kembali dengan sedikit gemetar. "Kau pergi. Tapi kau lahirkan bencana kembali."
Amdara merasakan jantungnya berdetak lebih keras. Entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. Lawan bicara mengetahui Benang Merah dalam inti spiritualnya. Itu artinya dia memang lawan yang sangat hebat. Apalagi mendengar wanita berambut biru itu terus menyebut 'Dewi'. Nama yang sama dengan ibunya. Dan menyebut 'bencana'.
Amdara hendak buka suara. Akan tetapi suara lain sudah terdengar duluan.
"Dan kau memiliki kekuatan angin, dari Klan Ang."
Ai tiba-tiba saja muncul di depan Amdara dengan tangan menyentuh pipi kanan anak manusia itu. Kehadirannya yang begitu tiba-tiba membuat Amdara terkejut.
__ADS_1
"Dara." Satu kata itu berhasil membuat Amdara merasakan degupan jantung kembali berpacu lebih cepat. Ai tersenyum dan berkata, "nama dari ibumu, dan 'Am' nama dari ayahmu."
"Bagaimana kau--"
"Karena Dewi yang mengatakannya kepadaku."
"Apa?"
"Dia bukan teman, bukan juga musuh. Kami hanya sama. Dan kau," Ai menunjuk Amdara. "Darah yang mengalir dalam tubuhmu, sama dengan bangsa kami."
*
*
*
Tidak jauh dari air terjun berada. Empat hari terlewat dengan pertarungan dahsyat di Lembah Api. Antara Api Biru milik Amdara dan kekuatan api orange murni.
Api Biru harus menghadapi kekuatan api murni di sana. Keduanya bertarung sengit, seolah memiliki pemikiran sendiri. Debaman keras terus terjadi. Ledakan besar menghancurkan tanah di sekitar, tapi pohonnya tidak mati. Tiga malam berturut-turut, di langit gelap selalu ada percikan kembang api biru dan orange dengan suara sambaran petir menjadi-jadi.
Sampai terik matahari muncul saat ini, Api Biru sama sekali tidak menyerah. Karena dia tahu, 'Nona'nya juga sedang bertarung. Jika menunggu 'Nona' maka hanya akan menghabiskan waktu sia-sia.
Di sana, lahar begitu panas sudah mengalir di sekitaran hutan. Hanya saja, keanehan bisa dilihat kembali. Laharnya tidak mengalir ke seluruh hutan.
Dari sebuah lahar itu, salah satunya meletup-letup kecil sampai membesar. Membentuk tubuh manusia, berumur 18 tahunan. Nyaris sempurna. Berpakaian jubah aneh. Berambut kuning pendek dan bermata orange tajam menatap nyalang Apo Biru yang sekarang masih saling serang dengan gelombang lahar.
"Hei, sudah empat hari kau mengganggu tempatku. Kau tidak bosan, hm?"
Itu adalah Roh Hitam yang sebelumnya menyerang Amdara serta Api Biru. Roh Hitam itu bernama Drake. Api meluap-luap di atas kaki tanpa alas itu.
Sambil menyilangkan kedua tangan depan dada, Drake kembali berucap sinis, "apa Dara yang memerintahkanmu kemari?"
Lahar yang sebelumnya menyerang Api Biru terhenti. Api Biru melayang-layang, seolah sedang memperhatikan Roh Hitam. Api Biru kemudian mendekati Drake sambil melayang naik-turun tanpa mengeluarkan sepatah kata.
__ADS_1
Drake yang seolah mengerti hanya menghela napas dan bertutur, "dia butuh Bunga Api untuk apa? Aku yakin kekuatannya lebih besar tanpa mengkonsumi Bunga Api."
"Tapi, jika dia tetap keukeuh, dia memang pantas memiliki perangai itu." Drake menyeringai. "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya malam itu. Takdir memang luar biasa. Tapi Dara seperti tidak mengetahui apa-apa. Nyonya Dewi sama sekali tidak mengatakan apa-pun lagi selain nama gadis itu."
Drake berpikir keras. Dia lalu menatap Api Biru. Tatapan tajamnya dia keluarkan.
"Jangan hanya diam dan berpura-pura kau tidak mengenalku. Hmph. Memuakkan sekali saat kau menyerangku empat hari lalu. Sekarang ceritakan semuanya kepadaku. Atau kau," Drake menunjuk Api Biru. "Kuseret ke tempat asalmu. Tempat mengerikan yang tidak pernah siapa pun bayangkan. Mungkin ... Dara akan terkejut jika mengetahui tempatnya."
Sesaat tatapan Drake menurun, tetapi kembali mendongak. Tatapan mengintimidasi, membuat Api Biru hanya naik-turun melayang-layang. Seolah tengah menjelaskan.
Ekspresi Drake awalnya biasa saja, sampai sepuluh menit mendengarkan cerita lewat pikiran. Riak mukanya berubah. Antara terkejut, sedih, dan juga senang. Ketiganya bercampur aduk.
Drake jadi tahu bahwa Amdara menginginkan Bunga Api untuk menyembuhkan Benang Merah yang melilit inti spiritualnya. Lalu keterkejutan bertambah, saat mendengar Amdara belum pernah melihat kedua orangtuanya dan baru setelah menginjakkan kaki di Negeri Nirwana Bumi ini, mengetahui beberapa informasi. Dia masih terus mencari kebenaran mengenai kedua orangtuanya, sebab banyak informasi yang berbeda-beda.
Api Biru menjelaskan, bagaimana perjuangan Amdara selama ini. Melewati rintangan menantang, merasakan bahaya yang nyaris merenggut nyawa. Sampai sekarang harus terlibat dalam Turnamen Magic Muda di Akademi Nirwana Bumi.
Drake dibuat berkedip saat tahu Amdara bisa melemah hanya karena Benang Merah. Dia lalu bertanya.
"Jadi, dengan kata lain Dara tidak mengetahui jati dirinya?"
Kembali, Api Biru melayang naik-turun seperti mengangguk. Drake mengusap-usap dagu, berpikir.
"Kenapa kau tidak mengatakan segalanya kepada Dara? Kau tahu kebenarannya tapi kau hanya diam? Dasar Api Biru Dark pembohong! Kembali ke tempat asalmu saja sana!"
Drake bersungut-sungut. Namun, suara Api Biru yang mengatakan dirinya diperintahkan oleh 'Tuan' membuat Drake hanya mendengkus kesal sambil menyilangkan kedua tangan, dan menatap Api Biru tidak suka.
"Kenapa Tuan malah menyuruhmu yang lemah untuk melindungi Dara? Kenapa bukan aku saja. Cih! Benar-benar menyebalkan."
Drake mengangkat tangan kanan, saat itu juga sebuah Bunga Api muncul di atasnya. Dia menyerahkan pada Api Biru.
"Berikan kepada Dara. Biarkan kekuatan aslinya muncul dan memporak-porandakan dunia manusia." Drake menyeringai. "Sekarang di mana Dara?"
"Apa? Di air terjun, tempat Permata Air berada?! Dasar api bodoh! Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Tempat itu membahayakan nyawa Dara ...!!"
__ADS_1