
"Kha kha untuk pengambilan hadiah nanti, siapa yang akan maju menerimanya?"
Pertanyaan Nada barusan menghentikan aktivitas makan mereka. Seketika terdiam dan berpikir.
Dirgan mengunyah daging sebelum menelannya. Lalu dia berkata, "kita menang bersama, jadi menerima hadiah juga bersama. Bukankah hadiah juara pertama ada tujuh? Satu-satu dari kita akan mendapatkan semua."
Atma mengangguk-angguk setuju. Dia menambah, "mn, ini sesuatu yang luar biasa. Semua murid akan melihat kita sebagai pemenang. Dan tentu saja aku lah yang akan terlihat paling tampan."
Atma membayangkan suasana riuh ketika dia maju ke depan dengan gagah dan mempesona kaum hawa. Membayangkan tepuk tangan serta sorak yang menyebut namanya membuat Atma senyum-senyum sendiri.
Inay yang melihat senyuman aneh Atma terbatuk-batuk. Dia segera mengambil air, lalu meneguknya cepat. Amdara menepuk-nepuk pelan punggung Inay.
"Apa penampilan kita akan biasa saja di hadapan semua murid? Aish, jika aku boleh memberi usul, lebih baik kita berpenampilan berbeda."
Perkataan Inay barusan membuat teman-temannya menaikkan sebelah alis. Inay mengembuskan napas melihat reaksi tersebut. Dia lalu mulai menjelaskan sesuatu yang membuat teman-temannya berkedip sebelum akhirnya jadi heboh.
"Sang juara itu harusnya berpenampilan keren. Kita ubah penampilan monoton kita ini. Huh." Inay menatap satu persatu teman-temannya. Dari ujung rambut yang biasa saja sampai ujung sepatu yang sangat sederhana. Inay menggeleng, mereka terlalu sederhana. Dia lalu kembali berkata, "sebaiknya kita ubah penampilan. Kalian tidak perlu berpikir panjang. Biar aku yang mengurus semuanya."
Aray berdecak mendengar penuturan Inay yang katanya mereka sama sekali tidak keren. Aray dengan ketus berujar, "heh, memang kau akan mengubah penampilan kami seperti apa?"
"Hmph, kau lihat saja nanti." Inay tersenyum. Dia memiliki ide cemerlang!
Berbeda dengan Aray, Atma malah berpikir yang dikatakan Inay itu menarik. Mereka harus mengubah penampilan untuk malam ini!
"Inay, kau benar! Sang juara harus berpenampilan keren di hadapan semua murid. Aku yakin nanti mereka akan terpesona."
Atma menggebrak meja. Dia terlihat bersemangat jika benar-benar akan mengubah penampilan.
Dirgan menggelengkan kepala. Dia sebagai ketua kelas tidak akan melarang teman-temannya berbuat apa-apa selagi masih tidak melanggar aturan.
Rinai dan Nada hanya mengikuti apa yang akan Inay lakukan. Toh, mereka juga tidak akan dirugikan.
Amdara sendiri tidak terlalu ambil pusing. Dia lebih memilih makan sambil mendengarkan Inay dan Atma yang sepakat akan pergi ke toko mencari bahan yang akan digunakan.
Setelah kepergian Inay dan Atma, keheningan terjadi di meja makan Amdara dan teman-temannya. Mereka merasa ada yang kurang. Dirgan menghela napas, mengetuk-etuk sumpit pada mangkuk daging.
__ADS_1
"Tidak tahu kenapa, rasanya sepi kalau tidak ada Atma dan Inay yang heboh."
Perkataan Dirgan barusan terdengar sedih. Aray sampai berkedip mendengar penuturan ketua kelasnya ini. Rinai menggelengkan kepala, memang ada benarnya perkataan Dirgan. Sementara Nada malah cekikikan, mungkin dia yang terlihat tidak sedih sedikit pun.
Amdara sendiri hanya mengembuskan napas. Dia mengedarkan pandangan. Ternyata beberapa pelanggan sudah hendak pergi. Waktu sore hampir tiba, tapi Atma dan Inay belum juga kembali. Bahkan pelayan kedai sampai sudah membereskan makanan di meja makan.
Satu jam sudah berlalu, Atma dan Inay baru saja datang dengan membawa satu bungkusan besar. Wajah keduanya terlihat berseri-seri menatap teman-teman.
"Kita akan menarik perhatian semua orang ...!" Atma tertawa terbahak, lalu duduk di samping Dirgan.
Inay meletakkan bungkusan besar, dia lalu mengatakan mereka semua akan didandani oleh Atma dan Inay. Tidak ada yang boleh menolak, karena ini sudah disepakati sebelumnya.
Inay mengambil sisir, dia kemudian meminta izin kepada Rinai untuk menyisir rambutnya. Sementara itu, Atma juga melakukan hal yang sama, karena rambut Dirgan panjang jadi Atma sudah memikirkan apa yang akan dirubah.
Tentu keinginan Atma dan Inay ternyata ada yang masih tidak setuju, dan akhirnya melakukan pemberontakan. Salah satunya adalah Amdara yang kini, melesat menghindar.
Inay mengepalkan tangan, gerakan Amdara begitu gesit sampai rambutnya tidak bisa menyentuh bocah berambut putih itu. Bahkan sampai Atma turun tangan, Amdara masih menolak dan terus menghindar. Aray yang melihatnya tidak terima, karena dia sudah didandani, melihat Amdara yang belum dirinya akhirnya membantu Inay dan Atma menangkap Amdara.
"Luffy, kau tidak boleh curang! Semuanya sudah didandani dan sekarang adalah giliranmu ...!"
Aray menggeram marah. Dia sampai menggunakan kekuatan besar hanya untuk menangkap Amdara yang selalu lolos dengan portal.
Kata Amdara yang sangat kesal karena teman-temannya tidak juga menyerah. Bahkan sekarang Dirgan, Rinai, dan Nada juga ikut-ikutan mencoba menangkapnya.
Kebetulan sekali kedai saat ini sedang sepi. Beberapa pelayan yang melihat tingkah bocah-bocah itu menggeleng sambil tersenyum. Mereka tidak keberatan karena ulah bocah-bocah yang sungguh membuat tertawa. Ini seperti hiburan gratis untuk mereka.
Inay berhasil menarik kaki Amdara, lalu langsung menariknya duduk. Aray mencekal satu pergelangan tangan Amdara, satunya lagi dipegang oleh Dirgan. Kedua kaki Amdara ditahan oleh Rinai dan Nada.
"Tidak!"
Amdara memberontak, dia menatap tajam teman-temannya yang malah tertawa dan semakin kuat menahan berontakan Amdara.
"Luffy, kau diamlah! Aiya, aku jadi sulit menyisir rambutmu!"
Inay berdecak kesal. Dia berusaha keras hanya untuk menyisir rambut bocah berambut putih ini. Atma membantu Inay mendandani Amdara.
__ADS_1
Sekarang Amdara terlihat seperti seorang penjahat yang sedang ditahan dan juga sedang diinterogasi. Wajah Amdara sudah pucat pasi, dia tidak bisa menyerang menggunakan kekuatan karena takut melukai teman-temannya. Alhasil Amdara hanya bisa menyerah sambil merutuk dalam hati karena ulah teman-temannya.
*
*
*
Malam berbintang kali ini terlihat lebih tenang. Ketenangan malam di Akademi Magic Awan Langit dapat dirasakan semua murid, guru dan juga Tetua. Hanya saja berbeda dengan detakan jantung murid-murid yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
Murid-murid, guru, termasuk Tetua sudah berkumpul di lapangan Akademi. Kelima Tetua melayang di tengah-tengah lapangan. Terlihat hadiah-hadiah yang akan diberikan kepada sang juara.
Tetua Wan memajukan tubuh, mengedarkan pandangan dengan senyuman terukir di wajah. Kalimat pertama yang dia lontarkan adalah permintaan maaf karena dirinya yang sampai membuat peserta terluka karena adanya Roh Hitam yang mengekang dan menguasai jurus ilusinya.
Beberapa murid mengangguk-anggukkan kepala. Salah satu peserta berceletuk, "pantas saja saat bendera di cabut ada tanda atau pun peringatan bagi yang lain."
Temannya mengangguk setuju. Dia memberikan pendapat, "hah ... aku masih tidak menyangka kelas yang terkenal buruk dalam sekejap menjadi populer karena memenangkan pertandingan ini."
Terlihat wajah tidak terima dari keduanya. Mereka menghela napas, dan melirik ke arah kelompok kelas Satu C yang berdiri dengan tegak. Perubahan kelas Satu C terlalu mendadak, hingga ketika nama mereka meledak banyak yang terkejut.
"Apa mereka semua sudah bisa mengaktifkan kekuatan sekarang?"
Murid lain menimbrung. Dia juga melirik ke arah rombongan Amdara yang tidak menyadari. Satu murid menjawab, "kurasa bocah yang selalu menangis itu belum, ketua kelas, dan juga si tebar pesona."
Yang lain mengangguk-angguk paham. Mereka dapat melihat ada perubahan dari penampilan kelompok kelas Satu C.
Setelah kalimat permintaan maaf, Tetua Wan dengan semangat mulai memuji keberanian para peserta yang menyerang Raja Roh Hitam bahkan sampai bekerjasama dengan sangat baik. Mereka yang merasa mendapat pujian langsung tersenyum, cukup bangga pada diri sendiri. Bahkan Tetua Haki juga menambah karena dari penjelasan salah seorang peserta yang mengatakan bendera telah dicabut sebelum kemunculan asli Raja Roh Hitam, maka jelas pertandingan ini masih sah. Sementara nilai-nilai yang wasit dan Tetua kumpulkan dari melihat tujuh hari pertandingan ini sama sekali tidak ada rekayasa.
Tetua Haki dan yang lainnya juga terkejut ketika mendengar bahwa yang mencabut bendera murid berambut putih, menggunakan kekuatannya yang tiba-tiba muncul dan mengambil bendera.
"Baiklah, kalian sudah tahu sang juara pertama kita. Sangat mengejutkan semua orang dan tentunya ini adalah perubahan baik."
Kata demi kata terlontar bagai pujian dari Tetua Haki yang kini menatap ke arah kelompok kelas Satu C yang sudah tersenyum dan merasa tersentuh, berbeda dengan Aray yang membuang pandangan.
"Juara pertandingan antar kelas selama tujuh hari ini dimenangkan oleh kelompok kelas Satu C yang berhasil mencabut bendera ...!
__ADS_1
Suara tepuk tangan dan sorak meriah menyambut kelompok kelas Satu C yang saling menggenggam tangan mulai terbang ke depan menghadap Tetua Haki.
Guru Aneh yang melihat tidak jauh nampak tersenyum penuh haru. Tapi matanya seketika terbuka lebar melihat penampilan murid-muridnya.