
Strategi pertama yang dibuat Dirgan dinamakan Strategi Belas Kasih, yang mana mereka harus menggunakan cara agar lawan memberikan belas kasih kepada mereka. Namun, mereka tidak boleh menyerang, melainkan menggunakan kesempatan itu untuk terus berjalan mencari bendera yang dicari.
"Bagaimana lawan bisa percaya begitu saja pada kita?!" Atma sampai berteriak frustasi. Dia langsung mendapat jitakan dari Inay agar dirinya lebih memelankan ucapan.
Dirgan tahu teman-temannya akan kebingungan dengan strategi yang dia buat, tapi bukan Dirgan namanya jika tidak memikirkannya matang-matang sebelum dikeluarkan.
"Kalian hanya perlu memelas dengan wajah polos. Jika lawan tidak memberikan belas kasih itu, kita gunakan saja pil bau milik Luffy dan setelahnya melarikan diri dengan cepat."
Dirgan menyeringai, dia menatap Amdara seolah meminta pendapat. Amdara menaikkan sebelah alis, dia lalu mengeluarkan pil bau yang hanya tinggal lima butir. Pil tersebut diberikan pada Dirgan yang langsung memberikannya pada Rinai, Atma, Nada, dan Inay. Satunya untuk diri sendiri. Sementara Aray tidak mungkin melakukan strategi memelas dengan mata berbinar. Dia mudah tersulut emosi dan juga tidak akan pernah mau melakukan hal seperti itu. Yah, jika dipikir lagi, Amdara juga tidak akan bisa melakukan strategi seperti ini.
"Lalu kau sendiri bagaimana, Ketua Kelas?" Tanya Inay penasaran.
Dirgan tertawa dan mengusap pangkal hidung dengan jempol. Dia menegakkan tubuhnya saat duduk dan berkata dengan sedikit angkuh, "hmph, seorang Dirgan tidak akan pernah meminta belas kasih dari lawan."
Inay, Aray, Atma, Rinai, dan Nada mengedutkan sebelah alis mereka. Mendengus dengan ucapan Ketua Kelas mereka ini.
Dirgan tidak akan menggunakan pil bau untuk membeli belas kasih. Dia akan gunakan pil bau untuk melindungi diri sendiri sebelum melarikan diri.
"Nah, strategi kedua ini kunamakan strategi Bocah Nakal. Strategi Bocah Nakal tentu lebih bagus digunakan untuk bocah yang memang nakal."
Dirgan tertawa mendadak, membuat teman-temannya saling memandang dan menggelengkan kepala. Entah mengapa saat ini Ketua Kelas mereka sedang aneh. Dari cara bicara, dan juga pola pikir yang sedikit ....
Strategi Bocah Nakal merupakan strategi yang dilakukan oleh bocah yang mampu mengelabui lawan, dengan cara membuat adu domba antara peserta hingga mereka saling serang tapi diri sendiri tidak ikut, dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri sembunyi-sembunyi.
Strategi ini beresiko, tapi memiliki keuntungan besar. Jika berhasil mengadu domba antara yang kuat dan yang kuat, bisa bertarung cukup lama. Sementara itu, membuat adu domba antara yang kuat dan lemah hanya memakan waktu sedikit. Untuk melarikan diri tidak akan berlangsung lama.
"Khakhaa. Ketua Kelas, kau mendapatkan ide aneh dari mana?"
Nada tertawa cekikikan mendengar strategi Bocah Nakal. Sepertinya dia akan mengambil strategi ini.
Dirgan menepuk-nepuk dada sebelah kiri bangga dan berkata, "ini bukan aneh, tapi unik. Aku akan menjadi ahli strategi suatu saat nanti."
__ADS_1
"Aiya, kuharap suatu saat kau tidak membuat strategi gila saat ada perang," ujar Atma sambil mengedutkan bibir atasnya.
Dirgan mendengus kesal. Dia langsung menyilangkan kedua tangan depan dada. Tingkahnya ini lagi-lagi membuat teman-temannya merasa ada yang aneh dengan Dirgan. Seolah yang mereka lihat ini orang lain.
Amdara yang sedari tadi mendengarkan buka suara tanpa nada seperti biasa, "bukankah kita tidak boleh berpencar?"
Aray, Atma, Inay, Rinai, dan Nada sontak tersedak sendiri karena tidak sadar dengan strategi yang dibuat Dirgan adalah individu. Dirgan mengangguk sudah menduga ada yang bertanya seperti ini. Dirinya mulai serius kembali menjelaskan.
"Aku tahu. Dua strategi barusan digunakan saat kita sudah dekat dengan bendera yang dicari. Menurutku, di saat itulah kita harus berpencar dan melakukan strategi ini untuk mengalihkan perhatian lawan. Satu di antara kita akan mengambil bendera itu secara diam-diam."
Penjelasan Dirgan baru bisa dipahami teman-temannya. Mereka kemudian kembali mendengarkan dengan serius tanpa mengalihkan pandangan ke arah arena pertandingan yang lagi dan lagi berlangsung dengan sengit. Diskusi mereka juga tidak terganggu karena Aray, Inay, dan Amdara sudah menyatukan kekuatan untuk membuat perisai pelindung sehingga serangan nyasar tidak akan mengenai mereka, suara-suara dari luar juga tidak akan mereka dengar begitu pula sebaliknya.
Dirgan berlanjut pada strategi ketiga, dia menamai strategi yang akan mereka gunakan diawal ini dengan Strategi Cahaya Bintang. Strategi tersebut dilakukan secara berkelompok, dan tentu mereka harus bekerja sama dengan baik. Dirgan mengatakan bahwa ketika mereka bersiap mencari bendera, mereka tidak boleh berpencar. Di awal Dirgan yakin akan banyak pertarungan. Untuk itulah dia meminta teman-temannya untuk saling melindungi. Walaupun lawan mungkin lebih kuat dari mereka, tapi mereka harus tetap bersama.
Disebut Strategi Cahaya Bintang karena strategi ini akan mengeluarkan sinar cahaya yang menyilaukan sehingga membuat orang lain kesulitan melihat apa yang terjadi. Di saat itu, Inay harus melilit tubuh mereka kemudian tugas Amdara di sini adalah membuat pusaran angin dahsyat untuk mengepung mereka. Ketika itu berlangsung, mereka harus cepat bersembunyi dan melarikan diri. Di sini Aray yang bertanggung jawab jika ada serangan balasan lawan. Untuk perisai pelindung, Aray, Inay, dan Amdara harus menyatukan kekuatan agar perisai yang mereka buat kuat.
Strategi Dirgan terdengar sederhana, dan terkesan mereka lebih memilih melarikan diri ketimbang melawan. Dirgan berkata bahwa dari segi kekuatan, mereka kalah telak. Jadi untuk kali ini mereka harus melarikan diri sebaik mungkin. Dan juga jika meladeni lawan, hanya akan buang-buang waktu.
Dirgan mengakhiri pembicaraan. Dia meminta pendapat teman-temannya.
Kali ini Rinai mengangkat tangan dan langsung bertanya, "huhuhu. Untuk strategi terakhir kita, seharusnya kita langsung buat saja siapa yang akan melakukan strategi tersebut."
Dirgan mengangguk-angguk. Dirinya kemudian bertanya pada teman-temannya apa yang akan mereka gunakan.
"Khakha. Aku strategi Bocah Nakal. Jika pun mereka sadar, aku bisa melawan dan melindungi diri sendiri. Khakhaa. Itu untuk menyita waktu mereka. Khakhaa."
Nada mengambil keputusan ini. Dia sudah berpikir sebelumnya. Yah, jika dia tidak bisa melawan maka dirinya bisa menggunakan pil bau untuk serangan akhir.
"Sepertinya aku akan mengambil strategi belas kasih." Atma menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kemudian dia berkata, "menggunakan wajah tampanku ini, aku yakin mereka akan langsung memberiku kesempatan."
Inay mendengarnya malah tertawa dan berujar sinis, "mereka bukannya memberi belas kasih tapi malah ingin segera melenyapkan karena melihat wajah menyebalkanmu itu."
__ADS_1
Atma membuka mulut lebar. Sementara teman-temannya juga malah tertawa kecil mendengar perkataan Inay barusan.
"Ha ha ha. Kau benar, Nana. Atma sebaiknya kau ambil strategi Bocah Nakal. Mulutmu itu sangat bisa diandalkan dalam hal ini."
Aray menepuk-nepuk bahu Atma keras. Dia membuat Atma bertambah kesal. Pandangan Atma kemudian beralih ke Rinai yang sedari tadi diam.
"Kurasa Rinai yang paling berbakat dalam strategi bocah nakal."
Seketika pandangan mereka beralih ke Rinai yang beberapa kali mengedipkan mata terkejut. Dia menghela napas dan mengatakan sesuatu dengan nada sedih.
"Huhuhu. Bukankah dengan tangisanku ini bisa digunakan untuk strategi Belas Kasih?"
Rinai berujar. Meminta pendapat teman-temannya yang mulai berpikir. Rinai memiliki mata ajaib. Bisa menangis dan mengeluarkan begitu banyak air mata. Siapa pun yang melihatnya pasti akan menaruh belas kasih padanya. Mulut Rinai juga pedas, jika menggunakan strategi bocah nakal juga bisa dia lakukan.
Dirgan mengangguk. "Aiya, kau bisa menggunakan kedua strategi dalam keadaan menyulitkan sekali pun, Rinai."
Rinai mengangguk-anggukan kepala. Dia akan menggunakan strategi sesuai kondisi nantinya.
Sementara Amdara tidak mungkin menggunakan kedua strategi akhir itu. Dia dipilih teman-temannya untuk mengambil bendera. Resikonya besar, tapi dia bisa melindungi diri sendiri dan juga memberikan perlawanan. Amdara langsung setuju tanpa menolak sedikit pun.
Aray mengambil strategi bocah nakal. Selain itu dia juga ditugaskan untuk membantu Amdara ketika hendak mengambil bendera.
Begitu pula dengan Inay yang memilih strategi bocah nakal juga memiliki tugas melindungi Amdara dari jarak jauh.
Dirgan sendiri tidak bisa menggunakan kedua strategi yang dia buatnya. Dia berkata bahwa akan dekat dengan Nada sambil mengawasi keadaan. Ketika ada sesuatu, dia akan meminta Nada untuk memberikan petunjuk pada teman-temannya yang lain menggunakan kekuatannya.
Mereka setuju dan sepakat akan berusaha sebaik mungkin. Entah menang atau kalah, tapi mereka harus berusaha.
Mentari remang-remang mulai tenggelam. Menunjukkan hari sudah sore. Pertandingan terakhir berakhir tidak terduga. Kelompok kelas Tiga Tingkat Tinggi tidak kalah, sementara kelas Tiga Tingkat Atas juga tidak kalah. Karena keduanya memiliki pertahanan dan serangan dahsyat, Tetua Wan sudah berdiskusi dengan para Tetua dan menghasilkan keputusan bahwa kedua kelompok lolos babak final. Hasil mereka seri. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat.
Pertandingan babak final akan dilakukan saat malam hari setelah mereka semua diistirahatkan dalam waktu tiga jam.
__ADS_1
Waktu istirahat itu Amdara gunakan untuk mengikuti Roh Hitam tanpa mengatakannya pada Inay dan teman-temannya yang lain. Saat ini Amdara sedang berada di atas atap asrama laki-laki diam-diam. Matanya tajam ke arah Roh Hitam yang sedang berjalan santai di depan asrama. Tangan Amdara mengepal, dia baru saja akan melesat tapi bahunya ditepuk oleh seseorang.