
Semua penonton dibuat gaduh karenanya. Mereka bertanya-tanya apa yang kedua peserta itu lakukan. Kekhawatiran menggerogoti kelompok kelas Satu A, salah satunya Daksa yang langsung berdiri dan hendak melesat membantu Padma tetapi dicekal oleh Kenes.
"Apa yang kau lakukan?! Aku harus menolong Padma sekarang! Dia sedang diserang. Ini sudah melewati batas ...!"
Daksa menangkis cekalan Kenes, tetapi langsung ditatap sinis oleh Kenes sambil berkata, "tsk. Aku tahu kekhawatiranmu. Tapi cobalah lihat wasit. Dia sama sekali tidak bertindak. Pasti ada sesuatu di balik awan hitam itu."
Daksa melihat Tetua Wan yang terlihat diam sambil terus memandang ke bawah dan benar saja, walaupun ada suara teriakkan memekakkan dari Padma, tetapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam awan itu.
"Apa wasit tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam awan sialan itu?!" Daksa yang kepalang marah berteriak sampai beberapa peserta menatap kesal karena telah meremehkan keadilan Tetua Wan.
Tetua Wan sendiri bisa melihat ke dalam awan hitam, yang mana dua peserta yang salah satunya sedang terlilit rambut tidak bisa bergerak. Sementara Inay sendiri tengah duduk santai di atas punggung Padma.
"Hei, sejak kapan kau jadi lemah gemulai seperti ini? Mana tampangmu yang ingin mengalahkanku?" Inay mengerucutkan bibir meledek. Dia kembali mencabut sehelai rambut Padma yang sontak menjerit kesakitan.
Inay tertawa puas tidak mempedulikan teriakan Padma. Padma yang sudah merasakan sakit berkali-kali memaki Inay, "hentikan! Kau membuat rambutku rusak, sialan! Ini sudah keterlaluan ...! Hei, hentikan sekarang juga ...!"
Air mata Padma sampai mengalir. Tidak pernah terbayang dalam mimpi sekali pun akan merasakan penyiksaan berupa pencabutan rambut. Dia lebih baik bertarung sampai terkena luka, mengeluarkan darah daripada setiap detiknya rambutnya dicabut satu demi satu.
"Mn? Apa rasanya menyenangkan? Padma, untuk apa aku melepaskanmu? Yang ada aku akan mendapat serangan darimu. Tsk. Mana boleh."
Inay kembali mencabut sehelai rambut Padma yang sontak menjerit tertahan. Inay menunjukkan rambut tersebut pada Padma yang matanya berbinar-binar.
Padma mengepalkan tangan. Merutuk Inay yang sama sekali tidak membiarkannya lolos.
"Padma, apa kau tidak menyerah saja? Haih, ini baru permulaan. Aku bisa menusuk lehermu dengan jarum."
Rambut Inay melayang-layang, terlihat seperti ribuan jarum panjang yang siap menusuk sampai tembus.
Sementara Padma bisa merasakan ngilu sendiri sebelum rambut Inay menusuk lehernya. Dia tidak mungkin kalah begitu saja. Namun, kemungkinan menang juga sangatlah kecil karena Inay picik dalam berpikir.
"Aku tidak akan menyerah darimu!"
Padma memejamkan mata. Tubuhnya memang tidak bisa bergerak, tapi dia masih bisa merasakan kekuatan mengalir dalam tubuh.
Entah apa yang dilakukan Padma, dia tiba-tiba memunculkan sebuah bunga teratai yang ukurannya tidak terlalu besar tapi mampu membungkus tubuhnya dan Inay seketika membelalakkan mata.
Padma menyeringai dan berkata, "kau pikir aku mau menyerah begitu saja? Tsk. Lebih baik aku menyeretmu ke dalam neraka bersama."
Inay tidak sempat menghindar ketika sesuatu melilit kakinya begitu erat. Inay mencoba menarik kaki, tapi sama sekali tidak bisa bergerak.
"Bunga Teratai Penghisap Nyawa."
Tepat ketika Padma mengatakan hal tersebut, angin kejut muncul dan membuat awan hitam hilang seketika. Bunga Teratai Penghisap Nyawa jurus mengerikan itu memerangkap Padma sekaligus Inay di dalam kurungan bunga besar itu.
Semua penonton dibuat terbelalak kaget melihatnya. Mereka berpikir, Padma sampai mengeluarkan jurus hebat miliknya pasti karena lawan kuat dan sulit dijatuhkan. Namun, yang tidak habis pikir, Padma juga terperangkap dalam bunga besar tersebut.
"Hei, apa yang dilakukannya?! Apa dia mau mati bersama?!"
"Jurus bunga penghisap nyawa itu sungguh mengerikan! Bagaimana dia sampai mengeluarkan jurus tersebut?! Bukankah nyawa yang menjadi taruhannya?!"
"Persetan dengan pertandingan. Nyawa mereka sekarang dalam ...!"
Para penonton dibuat gaduh karenanya. Kerisauan tak terelakkan. Mereka saling berteriak untuk menghentikan pertandingan pada sang wasit yang belum bertindak. Tentu saja semuanya jadi dibuat tersulut emosi melihatnya.
Para Tetua nampak tercengang ketika Padma menggunakan jurus mengerikan tersebut tanpa pikir panjang. Mereka belum bertindak walaupun begitu, karena melihat Tetua Wan yang terlihat masih ada harapan mereka tidak akan terluka parah.
__ADS_1
Tetua Widya yang melihatnya terlihat cemas dan berkata, "Tetua Haki, apa benar tidak apa-apa? Bunga Teratai Penghisap Nyawa ini ...."
"Tetua, sebaiknya hentikan pertandingan." Tambah Tetua Rasmi.
Namun, Tetua Haki hanya menghela napas panjang. Dengan entengnya dia berkata, "apa menurut kalian Padma benar-benar ingin mati bersama? Dia hanya menggertak sama seperti yang dilakukan lawan."
Tetua Genta juga menjelaskan bahwa sangat konyol mati untuk pertandingan seperti ini. Dia berkata lebih baik mengatakan menyerah ketimbang benar-benar mati. Di sini kelas yang menjadi taruhan jika sampai kalah. Mereka jelas mati-matian meraih kemenangan demi kelas.
Tetua Widya dan Tetua Rasmi saling pandang sebelum akhirnya membuang wajah dan menghela napas kesal.
Di sisi lain, kedua kelompok nampak tidak menyangka dengan yang dilakukan Padma. Dari kelompok kelas Satu A, mereka menyerukan nama Padma agar dia tidak boleh bertindak bodoh. Lebih baik menyerah ketimbang terluka parah. Daksa dan Kenes juga menyerukan nama Padma.
Daksa mengepalkan tangan. Tidak disangka Padma akan berkorban hanya demi kemenangan. Daksa berteriak agar Padma mendengar, "Padma, hentikan jurusmu sekarang, bodoh ...! Kau tidak boleh sampai melewati batas kemampuan ...!"
Kenes melayang di udara dan duduk di tongkat peraknya. "Tidak perlu pedulikan kemenangan. Keselamatanmu lebih berharga, Padma ...!"
Banyak dari para peserta yang menelan ludah kesulitan. Jika dari mereka berada di posisi Inay, pasti mereka akan langsung mengatakan menyerah.
Berbeda pemikiran dengan Amdara yang sekarang terlihat tenang. Dia yakin Inay pasti akan selamat. Amdara memang pernah merasakan betapa mengerikannya Bunga Teratai Penghisap Nyawa tersebut. Tubuh yang tertusuk beda tajam, serta kekuatan inti spiritual yang terhisap habis. Namun, ketika Amdara berpikir kembali, Padma mungkin saja akan melakukan hal tersebut, agar keduanya sama-sama kalah.
"Menarik." Amdara tidak mengalihkan pandangan ke arena pertandingan.
Pemikiran Amdara ini jelas berbeda dengan teman-temannya yang terlihat cemas dengan keadaan Inay. Bahkan Atma sampai berteriak menyerukan nama Inay agar segera keluar dari bunga tersebut.
"Nana, cepat keluar ...! Dan habisi lawanmu. Apa kau akan menyerah hanya seperti ini saja ...?!"
Bukan hanya Atma yang berkata tidak masuk akal. Aray juga terlihat melayang dan menepuk tangan beberapa kali dengan keras.
"Hei, apa kau sangat betah di dalam bunga itu?! Cepat keluar dan bawakan kemenangan untuk kami ...!"
Memang terkesan memaksa. Seolah mereka lupa perkataan apa yang telah mereka ucapkan ketika Inay baru akan memasuki pertandingan.
Dirgan bahkan ikut-ikutan, dia dibuat melayang berdiri tegak oleh Aray, begitu pun dengan Atma yang terus menyemangati Inay agar bisa keluar membawa kemenangan.
Mereka memang mengindahkan perkataan Guru Aneh, tapi mereka juga ingin lolos dan masuk babak lanjutan untuk besok. Tentu saja dengan sedikit memaksa Inay.
Tidak ingin kalah menyemangati, Rinai dan Nada meminta Amdara agar mereka juga bisa melayang. Amdara mengangguk paham, tanpa melakukan penolakan sama sekali.
Walaupun suara Rinai terbenam oleh suara-suara berisik lain, tetapi dia sambil menangis berkata, "huhuhu. Nana payah. Lemah. Sangat lama menyelesaikan pertandingan."
Menggunakan kekuatan Nada, dia bisa membuat suara mengerikan milik Siluman Serigala yang mengaum dan berkata, "Nana, khakhaa. Grrrr. Apa kau selemah ini sampai tidak keluar-keluar dari bunga? Khaakhaa. Cepat, lawan sekuat tenaga. Graaoo ...!"
Semua orang yang mendengar seruan kelompok kelas Satu C itu tercengang. Mereka tidak menyangka di saat seperti ini malah memaksa Inay untuk menang dalam pertandingan. Mereka bahkan dibuat membuka mulut lebar mendengarnya. Seolah tidak memikirkan teman yang sedang diambang kematian di dalam bunga teratai tersebut. Suara mengerikan siluman yang entah berasal dari mana juga terdengar menyerukan agar Inay dapat keluar dengan meraih kemenangan. Mereka dibuat merinding dan bertanya-tanya asal suara siluman itu. Bahkan para Tetua juga tersentak, dan langsung mengedarkan pandangan tanpa tahu suara tersebut milik kekuatan Nada.
Guru Aneh juga terlihat berwajah pucat di balik topeng rubah. Dia tidak menyangka murid didiknya akan berperilaku demikian. Antara kesal dan juga tidak menyangka murid didiknya sudah mulai berubah. Mulai dari cara bicara dan juga pola pikir. Sebagai seorang guru, tentu dia tercengang atas segalanya.
"Apa aku pernah mengajari ini pada kalian?" Guru Aneh menggeleng. Selama ini dia selalu mengajarkan hal-hal baik.
Saat ini bahkan dirinya sedang ditatap aneh oleh para wali kelas lain yang seolah meminta jawaban atas tingkah murid didiknya. Guru Aneh tidak mempedulikan. Saat ini dia sedang risau dengan pemikiran sendiri.
Sang wasit yang belum bertindak tentu memiliki alasan lain. Dia melihat menggunakan kekuatannya, kedua peserta yang telah kehilangan kekuatan akibat terserap dalam bunga teratai. Tentu, tidak terluka parah. Hanya saja keduanya sudah lemas kehilangan kekuatan.
Tetua Wan berkata bahwa kedua peserta tidak terluka. Hanya mengalami kelemahan pada kekuatan. Karenanya Tetua Wan belum bisa mengatakan pertandingan ini dihentikan dan melanggar aturan.
Di dalam Bunga Teratai Penghisap Nyawa sendiri, Inay ambruk setelah kekuatannya menghilang. Dia membuat Padma membuka mata lebar merasakan tubuh berat lawan yang kini tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Hei, menyingkirlah. Kau ini berat, sialan."
Padma juga sama halnya. Kekuatannya terserap oleh jurus milik sendiri. Tubuhnya seakan tidak memiliki tulang hanya untuk bergerak sedikit saja.
"Kau pikir ini mauku berdekatan denganmu? Tsk. Aku benar-benar lemas tahu. Dan ini semua salahmu."
Inay mengomel tepat di telinga Padma yang langsung berdenging. Keduanya masih saling menyalahkan. Suara-suara dari luar terdengar membuat keduanya diam beberapa saat.
Inay sampai dibuat berkedip mendengar teriakan-teriakan temannya yang ingin dia segera keluar dan membawa kemenangan. Inay berdecak, dia sekarang bahkan tidak bisa bergerak karena terlalu lemas.
Begitu pula dengan Padma yang mendengar teman-temannya menyerukan namanya agar dia segera menghentikan pertandingan. Keselamatan lebih penting daripada kemenangan.
"Hah, apa yang harus kulakukan sekarang?" Padma pusing sendiri jadi. Dia melakukan ini untuk meraih kemenangan tapi mendengar teman-temannya yang ingin dia selamat membuat Padma harus berpikir ulang.
"Padma, kita sudah sama-sama tidak memiliki kekuatan dan tidak mungkin saling menyerang. Jadi, kenapa kau tidak hilangkan bunga ini saja?"
Inay mencoba membujuk, tetapi yang ada Padma malah marah-marah dan berburuk sangka padanya. Inay mengerucutkan bibir kesal.
Sekarang yang paling menyedihkan adalah Padma yang sudah lemas, malah ditindih oleh berat badan Inay. Rasa-rasanya Padma akan mengalami kegepengan pada tubuh.
"Terserah kau sajalah. Kita akan mati konyol karena kekuatan spiritual yang terserap jurusmu sendiri." Inay masih mencoba memprovokasi.
Padma berdecak kesal. Yang dikatakan Inay memang ada benarnya. Setelah berpikir beberapa saat, Padma akhirnya menghilangkan Bunga Teratai Penghisap Nyawa miliknya.
Suasana masih riuh, para penonton melihat dua peserta yang sudah tidak berdaya tanpa luka.
Inay mencoba berdiri tetapi lagi-lagi gagal dan menimpa Padma yang merasa tubuhnya sudah lemas dan merasakan sakit karena lawan. Inay menarik tangan, mencoba mencubit pipi Padma. Walaupun tenaganya kecil, tetapi Padma merasakan ngilu karena cubitan itu.
"Akh ...! Apa yang kau lakukan sialan ...?!"
Posisinya Padma masih terlilit rambut Inay, jadi dia sama sekali tidak bisa berkutik.
Inay tertawa lemah. Pertandingan masih belum berakhir, tapi keduanya sudah kehilangan kekuatan. Namun, Inay tidak ingin kalah. Dia mencubit Padma lagi sampai terdengar suara memekakkan.
"Hei, jika kau tidak mau merasakan sakit lagi maka menyerah saja."
Inay kali ini berhasil menggerakkan kedua tangan untuk mencubit kedua pipi lawan yang sudah merah karenanya. Padma benar-benar menangis, perih menggerogoti kedua pipi. Ini sungguh penyiksaan luar biasa.
Para penonton dibuat tak henti tercengang dengan kedua peserta tersebut. Tetua Wan bahkan menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil membatin, "apa ini? Kedua bocah ini sudah kehilangan kekuatan. Tapi satunya tidak ingin kalah dan malah melakukan serangan kecil."
Tentu karena belum melanggar aturan, pertandingan belum juga diberhentikan. Suasana masih dalam keterkejutan. Kejadian langka, dan juga lucu itu membuat beberapa penonton tertawa.
Padma sudah sangat lemas. Dia berkata lirih, "akhh! H-hentikan itu. A-aku menyerah."
Inay tersenyum puas, tapi karena suara Padma lirih, Tetua Wan tidak mendengarnya. Inay kembali mencubit pipi Padma dan memintanya untuk mengatakan menyerah dengan keras.
Padma berdecak kesal. Tubuhnya sudah lemas, pipinya sangat sakit tapi lawan malah meminta dia berbicara dengan keras.
"Aku menyerah ...!"
Detik itu juga Inay menghentikan aksinya. Tetua Wan sadar, menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia mendarat di samping kedua bocah itu dan menyatakan perwakilan kelas Satu C menang dan perwakilan kelas Satu A menyatakan sendiri menyerah.
Semua orang tidak menyangka dengan pertandingan kali ini. Amdara segera melesat, dan membantu Inay yang sudah tidak berdaya tetapi masih saja tersenyum puas.
"Yah, akhirnya aku menang. Hahaha. Luffy, pertandingan ini kelas kita bisa masuk babak lanjutan."
__ADS_1
Amdara membawa Inay menggunakan kekuatannya agar bisa melayang dan pergi ke ruang perawatan. Inay tidak hentinya membanggakan diri. Amdara yang mendengarnya menggelengkan kepala. Tentu saja dirinya juga senang karena Inay menang walaupun dengan cara tidak terduga. Dengan ini kelas Satu C lolos pertandingan tiga kali yang artinya mereka akan mengikuti pertandingan lagi untuk besok.
Lawan Inay juga terlihat sedang dibantu oleh teman-temannya untuk memulihkan diri. Tetua Wan mengatakan beberapa hal seperti semakin ke sini pertandingan jadi tidak terduga. Pertandingan kembali dilanjutkan seperti biasa.