Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
144 - Kondisi yang Mengkhawatirkan


__ADS_3

Cakra dan Shi menyaksikan di mana sebuah pola bercahaya muncul secara tiba-tiba, dan kemudian Roh Hitam dalam sekejap dilahap oleh kobaran api. Keduanya dibuat menahan napas melihat jurus mengerikan barusan.


"A-apa? Siapa yang melakukannya? R-roh Hitam itu benar-benar lenyap." Shi menenggak air liur gugup. Sekarang abu Roh Hitam berterbangan ke atas sebelum benar-benar menghilang. Shi mengedarkan pandangan sambil bergumam, "s-siapa yang melenyapkan Roh Hitam ini? Hei, keluarlah."


Cakra sendiri masih diam membeku. Melihat jurus melenyapkan Roh Hitam barusan membuatnya mulai mengingat kejadian saat babak final. Tepat ketika Amdara juga sepertinya pernah melakukan jurus dengan pola yang sama, dan lagi jurus itu untuk melenyapkan Roh Hitam.


Cakra mengedarkan pandangan, dia ingat ketika Amdara terpental dan sampai lenyapnya Roh Hitam belum kembali juga.


"Senior, cari Luffy."


Perkataan Cakra membuat Shi tersadar bahwa Amdara belum juga kembali. Dia lalu berteriak memanggil bocah berambut putih. Tidak ada jawaban, hal tersebut membuat Shi khawatir. Dia terbang, ke arah berlainan dengan Cakra yang juga sesekali memanggil nama Amdara.


Amdara sendiri sekarang kondisinya memprihatinkan. Setelah menyerang Roh Hitam, entah mengapa dia merasa tubuhnya sangat lemas dan juga kekuatannya berkurang banyak tidak seperti biasa. Beberapa kali Amdara mencoba menyerap kekuatan alam, tapi yang terjadi justru tubuhnya merasakan hal yang amat menyakitkan. Seperti ada ribuan jarum menusuk-nusuk tubuh. Keadaaan seperti ini mengingatkannya pada Benang Merah yang pernah melilit inti spiritualnya.


Amdara mendengar Shi dan Cakra menyebut namanya dengan keras. Namun, saat Amdara hendak buka suara, tenggorokannya terasa sakit entah karena apa. Sekarang untuk berdiri saja rasanya sangat sulit. Yang bisa Amdara lakukan sekarang hanyalah duduk menunggu Cakra dan Shi menemukannya.


"Ada apa dengan tubuhku?"


Kecemasan tentu saja sedang menggerogoti pikiran bocah berambut putih itu. Dia mulai berpikir mungkin terjadi sesuatu di dalam tubuhnya, hanya saja dia tidak tahu apa yang terjadi.


Butuh waktu lama hanya untuk menemukan Amdara yang terduduk menyender pada pohon. Wajahnya sudah sangat pucat, tubuhnya juga lemas. Ketika Cakra menemukannya, dia langsung memanggil nama Shi agar segera mendekat.


"Luffy, ada apa dengan tubuhmu?"

__ADS_1


Cakra sontak terkejut dengan keadaan Amdara sekarang. Dia memeriksa luka dalam serta luar yang ternyata tidak terlalu parah. Namun, ketika Cakra menyalurkan kekuatannya ke dalam tubuh Amdara bermaksud membantu pemulihan, tapi sesuatu yang mengejutkan Cakra terjadi. Kekuatan Cakra ditolak secara tiba-tiba oleh bocah berambut putih itu.


"Senior, itu sia-sia."


Ucapan Amdara menambah kebingungan pada raut wajah Cakra. Amdara lalu mengatakan bahwa tubuhnya tidak akan bisa menerima aliran kekuatan orang asing atau siapa pun. Penjelasan singkat itu membuat Cakra bertambah tersentak.


Ini pertama kalinya bagi Cakra mendengar dan melakukan uji coba langsung bagaimana tubuh seseorang secara murni menolak aliran kekuatan orang lain. Tidak pernah sedikitpun Cakra membaca mengenai tubuh seperti ini.


"Luffy, apa kau baik-baik saja?! Bagaimana kondisimu sekarang?! Apa lukamu parah?!"


Shi mendarat cepat di samping Amdara, dia lalu mulai mengecek keadaan Amdara menggunakan kekuatan. Shi sangat khawatir. Tangan kanannya menyentuh telapak tangan Amdara yang begitu dingin dan juga lemas. Seolah Amdara sekarang sudah benar-benar kejurangan kekuatan.


"Ya ampun, Luffy. Apa kau sebelumnya memang sedang sakit?"


"Luffy, kau ini kenapa? Jangan tolak kekuatanku. Aku hanya akan menyembuhkan lukamu, oke?" Shi mendengus. Dia tidak tahu sebenarnya tubuh Amdara adalah termasuk tubuh istimewa yang tidak sembarang orang dapat menyalurkan kekuatan.


"Senior, itu tolakan murni dari tubuhku." Jelas Amdara sedikit ada rasa cemas sekaligus sedih. Khawatir juga dirinya akan membuat beban kepada kedua seniornya ini di perjalanan.


Shi tersentak, dia menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. Cakra yang melihat reaksi Shi sontak langsung menjelaskan.


"Tolakan murni artinya tubuh Luffy sudah seperti otomatis menolak kekuatan." Cakra juga mengatakan yang pernah dikatakan Amdara sebelumnya.


Raut wajah Shi kembali terkejut. Dia menyentuh dahi Amdara yang sangat dingin begitu pula dengan pipi bocah berambut putih itu. Walaupun Shi kurang paham mengenai tolakan murni, tetapi dia tidak ambil pusing. Dirinya membantu Amdara agar duduk dengan benar, kepala Amdara disenderkan ke dada Shi.

__ADS_1


Amdara berkedip, dia baru saja akan menolak. Tapi Shi langsung berkata, "kau ini sedang sakit. Jangan banyak bergerak."


Alhasil Amdara hanya bisa pasrah. Dia mencoba kembali menyerap kekuatan alam yang sudah mulai terasa sulit kembali. Amdara menghela napas, dia memejamkan mata sejenak.


Shi perlahan mengelus kepala Amdara dengan perasaan hangat. Dia sudah menganggap Amdara seperti adiknya sendiri. Saat Amdara tidak dalam keadaan baik-baik saja, Shi tentu saja dalam hati menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga adik Luffy.


"Apa karena serangan Roh Hitam?" tanya Shi lirih. Namun, terdengar jelas di telinga Amdara.


Amdara hanya bisa mengembuskan napas. Dia juga tidak tahu pasti. Amdara menjawab lirih, "mungkin."


Melihat kondisi Amdara, Cakra hanya bisa diam. Dia mengurungkan niat bertanya mengenai jurus yang melenyapkan Roh Hitam.


Malam itu mereka sepakat untuk beristirahat sambil menunggu pagi kembali menyapa. Cakra duduk di dahan pohon sambil mengawasi sekitar, khawatir jika ada siluman yang akan menyerang.


Syukurlah hingga pagi menjelang tidak ada seekor siluman yang mendekat. Mentari pagi membawaa cahaya setitik pada dedaunan di dalam hutan. Keadaan Amdara belum juga pulih, tidak mungkin mereka menunggu keadaan Amdara benar-benar sampai pulih. Walaupun Shi dan Cakra tidak mempermasalahkan mereka akan datang terlambat ke kediaman Tetua Haki, tapi hal itu membuat Amdara merasa tidak enak dan meminta mereka harus segera melanjutkan perjalanan.


Awalnya Shi sampai dibuat marah-marah dengan keras kepalanya Amdara. Namun, pada akhirnya dia kalah debat dengan bocah dari kelas Satu C itu. Shi sampai dibuat bungkam tidak bisa membalas sekali lagi. Kepandaian Amdara dalam berdebat memang tidak diragukan lagi, sampai Shi dan Cakra dibuat tercengang dibuatnya. Yah, Amdara akan kalah debat jika ketika dia hendak buka suara selalu ada yang menyela. Sama seperti kekalahan pertamanya ketika berhadapan dengan para Tetua.


Amdara dibantu Shi untuk terbang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak terlalu cepat karena kondisi Amdara saat ini.


Shi mengembuskan napas beberapa kali hal tersebut membuat Amdara menaikkan sebelah alisnya bingung. Amdara bertanya tanpa nada sedikit pun, "Senior, ada apa?"


Shi hanya melirik sekilas sebelum dia menarik napas dalam. Raut wajahnya berbeda, terlihat seperti orang yang menyesali sesuatu. Shi dengan lirih mulai mengatakan apa yang membuatnya bersikap demikian.

__ADS_1


__ADS_2