Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
72 - Dunia Lain (3)


__ADS_3

Sekitar sepuluh teratai hitam, teratai putih, dan biru yang merupakan tanaman herbal langka kini benar-benar di hadapan Amdara. Ginseng merah, ginseng biru, ginseng air, ginseng api, ginseng es, dan akar putih yang jumlahnya ada banyak hidup di dunia itu dengan liar. Bahkan beberapa jenis tanaman herbal lain yang Amdara tidak diketahui dibawakan oleh Are. Umurnya pun tidak hanya sampai puluhan ribu, tetapi ada ratusan juta! Jika dijual, harganya bisa mencapai satu Akademi!


Dunia lain, atau dunia yang tidak dihuni oleh manusia itu bisa disebut Dark World. Entah ada manusia yang mempercayai mengenai cerita ini dari Hutan Arwah atau tidak, tetapi sekarang Amdara percaya. Masih ada banyak hal yang tidak diketahui Amdara selama ini, dia masih benar-benar polos mengenai beberapa hal.


Bahkan mungkin Aray juga tidak akan menyangka dirinya berada di dunia lain.


Karena telah dibawakan secara sukarela oleh Are, karena di sini juga tidak berguna, Amdara membawa semua tanaman herbal tersebut ke dalam Cincin Ruang. Toh, nantinya dia bisa menanam tanaman herbal tersebut di suatu tempat.


Amdara mengucapkan terima kasih pada Are yang berkata hal tersebut bukanlah benda berharga di Dark Word.


Perjalanan ke tempat di mana Aray berada dilanjutkan. Amdara diceritakan banyak hal mengenai Dark World.


Dia lantas bertanya, "lalu mengapa wujud kalian seperti cahaya?"


"Itu karena kami istimewa. Energi negatif merupakan sumber kekuatan kami. Kami juga tidak bisa menyerupai wujud manusia sesungguhnya. Jadi hanya seperti ini saja."


Amdara mengangguk paham. Dia tidak bertanya mengapa Dark World identik dengan warna hitam, yang dia tebak karena energi hitam yang tercipta. Namun, tanaman-tanaman herbal bisa memiliki warna sesuai dengan jenisnya seakan tidak terpengaruh dengan energi negatif.


Mereka melewati sebuah bangunan-bangunan tinggi dengan ukiran aneh. Kening Amdara mengerut saat melihat salah satu bangunan berbentuk naga hitam dengan memiliki warna emas disela-sela sisiknya.


"Itu adalah Perpustakaan. Gedung penuh dengan kitab hitam dan gudangnya pengetahuan." Are menjelaskan.


Amdara tersenyum tipis dan berkata sinis, "kupikir makhluk seperti kalian tidak tertarik pada kitab."


Are tertawa, dia menggaruk kepalanya dan mengatakan bahwa mereka bukan hanya suka membaca buku tetapi juga memiliki kebiasaan seperti manusia, tidur di rumah misalnya.


"Kami juga suka bermain." Are tertawa dan kemudian melanjutkan ucapannya, "bermain dengan manusia."


Sontak Amdara menghentikan langkah dan membalikkan badan menatap tajam Are yang langsung membeku. Tubuhnya seakan ditekan oleh sesuatu.


"Jika kau dan yang lain bermain dengan manusia sekali lagi, aku akan menghancurkan tempat ini."


Setelah mengatakan hal tersebut Amdara langsung kembali berjalan dan melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya terkepal kuat. Angin melambai-lambai jubah hitam dan ikat rambutnya. Terlihat ada aura agung yang terpancar.

__ADS_1


Are sampai dibuat membeku dan merasakan tengkuknya merinding. Walaupun Amdara menggunakan topeng, tetap saja dia bisa melihat wajah asli Amdara.


"Hah, Nona benar-benar mirip dengan Nyonya."


Are menepuk-nepuk pipi dan segera menyusul. Dia tidak bisa membayangkan betapa menyeramkannya saat Amdara menghancurkan Dark World, dan termasuk para makhluk. Are teringat pertarungan pertama kali yang dilakukan oleh Nyonya Dewi yang mana benar-benar sangat kacau dan menyeramkan, walaupun memiliki wajah yang amat cantik. Namun, kekejaman yang ada pada jiwa Nyonya Dewi melebihi makhluk apa pun.


"Apa nona juga akan sepertinya?" Are menatap punggung Amdara yang kecil. Tegak dan tanpa ragu berjalan maju. Terlihat kuat, tetapi sebenarnya Amdara sekarang sangatlah lemah. Tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Dan tentu Are tidak mengetahuinya.


Are menjentikkan jari dan tersadar akan lamunannya. "Tapi sifat nona berbeda dengan nyonya yang ramah. Dari mana sifat dingin yang dimiliki nona itu? Dan lagi, warna mata nona sangat indah dan menenangkan tetapi sebenarnya ada kekejaman yang tersembunyi."


Saat sedang berpikir sendiri, Are ditegur tanpa nada oleh Amdara yang mengatakan mereka harus segera cepat sampai, khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada temannya.


Suara debaman keras terdengar, ledakan dahsyat sampai membuat Amdara menghentikan langkah dan detik berikutnya berlari secepatnya. Mencari tempat yang terdengar seperti tengah ada pertarungan.


Sesuatu terpental dan menghantam salah satu bangunan yang sampai hancur setengah. Amdara dibuat tersentak karena sesuatu yang menghantam adalah cahaya putih yang sebelumnya menculik dirinya. Lebih tepatnya, membawa dia ke Dark Word.


Belum sempat berbuat apa-apa, cahaya lain menyusul dan tepat menghantam tanah di depannya. Amdara langsung melompat ke belakang. Asap hitam mengepul di udara, dia masih terkejut.


Lesatan bola hitam nyaris mengenai Amdara jika saja Are yang tidak membuat perisai pelindung. Are menggeram, dia terbang mencari sosok yang berani membuat kekacauan di Dark Word.


Seorang bocah terlihat melayang mendekat, wajahnya pucat dan darah mengalir dari mulutnya. Matanya menajam melihat Are, dia baru saja akan mengeluarkan jurus tetapi matanya memburam dan detik selanjutnya terjatuh tidak sadarkan diri.


Amdara yang mengenal bocah itu segera berlari menghampiri Aray yang seperti telah kehabisan kekuatan. Jelas melawan makhluk yang bukan tandingannya adalah sesuatu yang mustahil tetapi karena kekeuh, Aray bisa membuat lawan tak berkutik.


"Aray, bangunlah." Amdara menepuk-nepuk pelan pipi temannya, tetapi memang Aray kehilangan kesadaran.


Amdara mengusap darah yang mengalir dan mengembuskan napas panjang. Entah terbuang ke mana topeng kucing yang dikenakan Aray. Yang dikatakan Are memang benar, Aray mengamuk. Kemungkinan Aray terlalu tertekan atau memang bocah itu melindungi diri dari makhluk yang telah membawanya kemari.


*


*


*

__ADS_1


Aray dibawa ke kamar istana yang amat besar. Kamar tersebut memiliki satu ranjang besar, lima buah kursi dan sekat tempat membersihkan diri. Walaupun besar, nyatanya tidak ada hiasan sama sekali. Dan ruangannya juga berwarna hitam dan sedikit kemerah-merahan. Aray telah diobati oleh Are menggunakan obat-obatan yang khusus untuk manusia.


Sementara dua makhluk sebelumnya atau pengawal istana telah dibawa pergi oleh Are entah ke mana. Amdara tidak memedulikan hal itu.


Amdara duduk di salah satu kursi, dia telah memerhatikan Are yang mengolah tanaman herbal menjadi sebuah pil. Dirinya juga ikut belajar, beberapakali gagal dan Amdara berdecak kesal.


"Nona, sabarlah. Membuat pil memang tidak mudah. Nona masih muda, ada waktu sampai dewasa jika ingin membuat pil berkualitas."


Perkataan Are yang duduk di hadapannya membuat Amdara berdecak kesal. Dia baru akan istirahat, tetapi mendengar perkataan Are yang seperti tengah meledek membuatnya kesal dan kembali mengambil bahan-bahan.


"Apa harus mengeluarkan kekuatan?"


Amdara bertanya tanpa nada pada Are yang langsung mengangguk.


Alat yang digunakan oleh Are hanyalah penumbuk tanaman herbal dan menggunakan kekuatannya, Are tiba-tiba saja membuat tanaman herbal menjadi sebuah pil. Jelas Amdara yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan tidak bisa melakukannya.


Yang Amdara tahu sedikit, membuat pil bukan hanya ditumbuk lalu menggunakan kekuatan untuk meraciknya. Akan tetapi harus menggunakan periuk dan memasak tanaman herbal menggunakan api ungu agar bisa menjadi pil sungguhan. Namun, melihat cara Are membuat Amdara ingin mencobanya.


"Are, apa ada buku meracik obat?"


Amdara bertanya sambil menumbuk tanaman herbal entah apa. Dia mengusap keringat yang terjatuh di kening. Tidak menyangka hanya melakukan hal sepele saja sudah menguras tenaga dan pikirannya.


Are izin undur diri untuk mencari kitab yang diinginkan nonanya.


"Lemah!"


Amdara membanting tumbukkan karena kesal. Entah mengapa emosinya tiba-tiba saja muncul. Dia berjalan menuju jendela kamar, mengedarkan sekeliling dan menarik napas dalam. Topeng kucinya dia lepas, dan menghirup udara dingin.


Keadaan di luar tidak begitu sepi. Beberapa makhluk yang mungkin saja adalah penjaga istana tengah berkeliling. Amdara mengeluarkan seluring, dia tidak hanya mempunyai satu seluring tetapi menyimpan beberapa di Cincin Ruang.


Bocah berambut putih itu mulai memainkan nada ketenangan. Angin berhembus kencang secara tiba-tiba di luar. Beberapa makhluk yang mendengar suara seluring yang seharusnya menenangkan siapa pun, tetapi malah membuat para makhluk itu secara mengejutkan terjatuh dan merasakan lemas. Di antara mereka bahkan sampai berteriak kencang.


Amdara menghentikan memainkan seluring mendengar teriakan tersebut. Dia segera menurunkan pandangan dan tersentak melihat para penjaga istana yang terbaring lemas. Amdara jelas tidak mengetahui perbuatannya. Dia mengerutkan kening saat melihat asap hitam tipis yang keluar dari tubuh para makhluk.

__ADS_1


__ADS_2