Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
226 - Mimpi


__ADS_3

"Siapa yang akan kau pilih?"


Suara berat pria terdengar. Suara yang tidak pernah Amdara dengar sebelumnya. Dia tidak berani mendongak, masih menyalahkan diri karena tidak bisa menyelamatkan orang lain.


Derap langkah melalui genangan darah mendekat. Aura dingin, disertai aura membunuh begitu pekat terasa sampai membuat Amdara gemetar.


Sesosok makhluk bertubuh manusia dengan jubah hitam menutup wajah berhenti di depan Amdara yang masih tidak jua mendongak untuk melihat siapa dirinya.


"Kau harus memilih salah satu untuk menghentikan perang."


Katanya lagi yang membuat Amdara terdiam dan berusaha menahan tangis yang terasa sesak.


Amdara tidak tahu apakah ini nyata atau tidak. Tapi, perasaannya benar-benar nyata ketakutan dengan perang yang masih berlangsung. Dia semakin mengepalkan tangan. Tubuhnya entah mengapa tiba-tiba bisa digerakkan. Perlahan dia mendongak untuk memastikan ada orang yang sedang berbicara kepadanya, bukan hanya hayalan.


Sosok di depan Amdara tidak berbicara lagi. Namun, auranya sungguh mengerikan. Sesaat Amdara langsung tersadar.


"Siapa kau?"


Amdara menelan ludah susah payah. Dia yakin sosok di hadapannya bukan sosok biasa.


"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku barusan."


Perkataan lawan bicara membuat Amdara merapatkan gigi. Tatapannya perlahan menajam. Amdara mengusap air mata dan mulai bangkit berdiri walau bergetar.


"Apa maksudmu?" Amdara tidak tahu mengapa diberi pertanyaan. Emosinya mendadak memuncak, mengingat bayangan teman-teman, orang-orang yang dia kenal tewas oleh makhluk besar mengerikan. Buliran air mata mulai mengalir kembali.


Dirinya berteriak saat berkata, "sebenarnya siapa kau?! Kau kah yang membuat perang ini terjadi?!"


Ketenangannya benar-benar hirap. Kemarahan akan kematian orang-orang membuat Amdara ingin membalas dendam. Napasnya memburu, tatapan birunya perlahan berubah menjadi putih sepenuhnya.


Sementara lawan bicara tidak gentar dengan tatapan Amdara. Dia masih tenang saat mengeluarkan kalimat penolakan.


"Tidak. Ini adalah perang yang ditakdirkan. Dan kaulah yang harus menghentikan."


Sosok itu yakin, bocah berambut putih ini akan menjawab dengan cepat.

__ADS_1


Takdir tidak masuk akal, pikir Amdara. Dia mengusap wajah gusar. Masih belum bisa menghentikan tangis dan perasaan bersedih. Kali ini Amdara kembali berteriak kencang disertai tangis yang tidak bisa dihentikan.


"Kenapa aku harus memilih salah satu untuk menghentikan perang?!"


Jawaban yang sungguh diluar dugaan lawan bicara. Di balik jubah, dia tersenyum dan kembali mengeluarkan suara. Suara yang sungguh mulai dibenci Amdara. Kalimat yang ingin Amdara hancurkan saat mendengarnya.


"Siapa yang akan kau pilih? Manusia yang tidak benar-benar memberikan kasih sayang atau makhluk-makhluk itu yang akan memberimu sepenuh kasih sayang untukmu?"


Dia menunjuk makhluk-makhluk mengerikan yang masih menyerang manusia yang tersisa secara ganas.


Amdara mengikuti arah pandang, menyaksikan makhluk-makhluk tersebut membabi-buta saat menyerang manusia. Bahkan tidak membuat manusia mat* secara untuh, melainkan menebas dan memisahkan orga* lain.


Kekejian itu membuat Amdara marah. Dia menatap tajam sosok di depan seraya mengusap air mata menggunakan punggung tangan.


"Kau memaksaku memilih." Suara Amdara berubah dingin. "Kau tahu, manusia yang tewas adalah keluargaku. Orang-orang yang telah memberiku cinta penuh kasih."


Sebuah senyuman hangat mengingat orang-orang yang membuat Amdara tertawa terlintas. Namun, detik selanjutnya senyuman itu berubah seringai mengerikan.


"Dan kau bicara apa? Makhluk yang menewaskan keluargaku, akan memberiku kasih sayang? Itu konyol!"


Kini, Amdara tidak lagi gentar. Perasaan takut sebelumnya hirap, terganti kemarahan yang memuncak.


Amdara terdiam, perasaannya dibuat hancur hanya mendengar ucapan lawan bicara. Tatapannya berubah penuh sayu dan kebingungan.


Namun, beberapa saat dirinya tertawa keras. Tawa yang mengeluarkan air mata.


"Siapa kau berani mengatakan hal tersebut?! Kau pikir," Amdara maju perlahan. Perasaan takut terhadap makhluk di depannya lenyap begitu mendengar kalimat-kalimat yang bertentangan dengan pikirannya. Amdara kembali berbicara dengan nada sinis, "aku butuh balasan dari manusia yang kutolong?"


Tawanya semakin keras, sampai membuat lawan bicara perlahan memundurkan langkah.


"Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak membutuhkan hal itu."


Aura gelap disertai keemasan muncul di balik tubuh Amdara. Dia terus maju, seolah ingin melenyapkan sosok di depan. Seolah perasaan dendam untuk keluarganya harus dituntaskan pada makhluk di depan ini.


"Siapa pun kau, dan apa yang kau katakan, aku tidak akan percaya. Urusanku, bukan urusanmu!"

__ADS_1


Amdara melesat dengan tangan terkepal kuat mengeluarkan kekuatan besar bukan main ke arah lawan. Langit seolah mendukung Amdara dengan mengeluarkan suara ledakan besar. Tanah dibuat retak besar, hempasan angin sampai mengoyak tubuh makhluk mengerikan yang melihat betapa dahsyatnya kekuatan manusia berambut putih itu.


*


*


*


Roh Hitam yang dilawan Cakra tumbang seketika mendapat serangan beruntun. Menggeram dan mengeluarkan asap hitam yang perlahan membuat tubuhnya memudar.


Bahkan tiba-tiba saja Roh Hitam lain juga ambruk, dan perlahan menghilang tanpa sebab yang jelas. Kejadian ini membuat warga kebingungan tapi juga lega.


Desa sudah kacau, pohon-pohon sekitar telah tumbang dan hangus. Banyak rumah warga yang telah hancur. Beberapa gedung retak parah, dan ambruk dalam hitungan menit.


Beruntung, penginapan yang ditempati Amdara tidak sepenuhnya rusak. Dan anak itu masih di dalam alam bawah sadar.


Sebuah asap hitam dan emas memutari tubuhnya. Angin berhembus kencang sesaat, membuat barang-barang di kamar tersebut berhamburan.


Di sana, nampak sesosok makhluk dalam mimpi Amdara muncul. Tangannya bergerak menyentuh dahi bocah berambut putih itu, dan dalam kedipan mata dia menghilang bersama asap tersebut.


Amdara terbangun tiba-tiba dengan napas memburu. Dia langsung mengedarkan pandangan cemas. Tangannya meremas kain tempat tidur.


"Mimpi?"


Amdara menarik napas lega, merebahkan kembali tubuhnya. Mengusap keringat di dahi. Bayangan perang dan semua hal yang dilihat dalam mimpi terasa begitu jelas. Seolah dia tidak sedang bermimpi. Serta ucapan sosok berjubah hitam masih terngiang sekarang.


Dirinya memejamkan mata. "Kuharap itu tidak akan pernah terjadi."


Brakk!


Dobrakan pintu tanpa aba-aba mengagetkan Amdara yang langsung terduduk.


Di ambang pintu, terlihat Shi menatapnya khawatir. Pakaian yang terlihat kusut, dan wajah yang nampak lelah itu langsung berlari ke arah Amdara.


Mendekap erat seolah takut kehilangan. Dia berkata dengan nada gemetar, "Luffy, kau baik-baik saja kan?"

__ADS_1


Amdara tersentak, tapi dia terdiam membiarkan Shi mendekapnya. Hangat. Sesaat Amdara memejamkan mata dan membalas dekapan Shi.


"Aku baik-baik saja."


__ADS_2