
Suara auman begitu mengerikan sampai di telinga Tetua, Guru dan murid-murid yang tengah menunggu di seberang hutan buatan. Mereka dibuat tersentak saat suara-suara mengerikan lain berdatangan, berbeda-beda sampai membuat merinding.
"Suara apa itu? Apa binatang buas yang disiapkan telah memangsa kelompok kelas Satu C?"
"Aku tidak tahu. Tapi bukankah harusnya hanya ada satu jenis suara? Mengapa ada banyak jenis suara? Ini membuatku merinding."
"Atau Tetua sengaja memberikan kejutan pada kelas Satu C?"
Kalimat terakhir yang diucapkan salah seorang murid membuat yang mendengarnya tersentak dan segera menegur.
Beberapa murid mulai menebak apa yang terjadi. Suasana yang awalnya tenang sekarang mulai riuh. Bahkan guru-guru juga memperbincangkan hal ini.
Hanya ada satu binatang yang disiapkan pada setiap kelompok. Dan jelasnya binatang ini tidak memiliki kemampuan mengeluarkan suara berbeda. Guru-guru sampai kebingungan akan hal ini.
Tetua Haki mendengar, tetapi dia tidak memedulikan. Tatapannya masih fokus ke depan, tepat pada bola ajaib yang memperlihatkan tujuh bocah memakai jubah hitam dan topeng kucing. Awalnya Tetua Haki tak melihat bagaimana saat enam bocah muncul dari lubang bawah tanah. Karena saat itu dirinya tengah menyapu keadaan sekitar. Tak disangka, dalam sekejap enam bocah memakai jubah hitam tengah berbincang. Dan yang membuat Tetua Haki mengerutkan dahi adalah ketika dirinya melihat dua bocah penyusup yang sebulan ini tidak dilihatnya dan sekarang berada di hutan buatan itu.
Guru-guru juga anehnya baru melihat keenam bocah itu yang tiba-tiba tengah berbincang dengan Aray. Padahal mereka yakin, sebelumnya keenam bocah menggunakan jubah hitam itu tidak ada. Dan lagi, mereka seakan tidak melihat bagaimana Nada yang mengeluarkan suara-suara mengerikan barusan.
"Apa mereka dari kelas Satu C?"
Salah satu guru bertanya, tetapi teman-temannya menjawab tidak yakin. Tetua Haki menghembuskan napas, dia melirik para guru itu dan berujar.
"Benar. Mereka dari kelas satu c."
Perkataan Tetua Haki membuat guru-guru tersentak. Tidak menyangka ketujuh bocah itu malah sekarang terbang mencari jalan.
Guru Ghana yang mendengarnya juga tersentak bukan main. Dia segera memperhatikan bola ajaib.
Tidak berselang lama, sampai suara seluring merdu terdengar. Menenangkan. Keterkejutan kembali hadir di benak Tetua Haki, guru-guru yang melihat bola ajaib saat seorang bocah berambut putih yang terluka bisa menjinakkan binatang hanya dengan memainkan seluring.
"Siapa yang memainkan seluring ini?"
Jelas mereka bertanya-tanya. Di sana tidak ada yang memainkan seluring. Namun, nada demi nada yang dimainkan sangat menenangkan jiwa.
Guru Kawi yang baru saja mendarat entah dari mana sampai terpana mendengar seluring yang dimainkan ini. Dia berkata, "wahai dewi, baswaramu memancarkan aura menenangkan. Merdu syahdu yang kudengar ini, sungguh tiada tara~"
Beberapa murid dibuat tersentak mendengar nada suara Guru Kawi. Perut mereka seakan tergelitik oleh perkataan guru yang satu ini.
"Dia ... yang memainkan seluring?"
__ADS_1
Guru Kawi menahan napas, melihat seorang bocah yang dengan tenang memainkan seluring dan yang membuatnya tidak menyangka dari bola ajaib. Dia menatap Tetua Haki yang langsung mengangguk.
Di saat semua orang bertanya-tanya tetapi belum menemukan jawaban, tujuh bocah menggunakan jubah hitam dan topeng kucing terlihat berjalan santai keluar dari hutan buatan dan tepat ketika waktu yang ditentukan pada pertandingan ini selesai. Tatapan mereka tegak ke depan. Wajah-wajah yang tak mungkin lolos pertandingan, nyatanya hal yang tak mungkin itu jadi mungkin.
Semua orang yang melihatnya dibuat tersentak. Sangat tidak menyangka dengan yang mereka lihat sekarang. Dan yang membuat terkejut adalah bocah berambut putih yang menunggang Serigala Berbulu Putih sambil terus memainkan seluring.
Membeku. Semua yang melihat bergeming dengan pemikiran ke mana-mana. Kelompok yang lima tahun berturut-turut tak pernah lolos sekali saja, sekarang di hari pertama pertandingan antar kelas muncul. Berhasil lolos dari jebakan hutan buatan.
Bocah yang menunggang Serigala Berbulu Putih itu menghentikan meniup seluring. Tatapan datar yang diperlihatkan ketika semua mata tertuju padanya.
"A-apa kita berhasil?"
Salah satu dari temannya bertanya gugup. Dia adalah Atma yang jadi lemas kembali melihat semua tatapan seperti mengarah padanya. Kepercayaan diri yang dia miliki lenyap di saat seperti ini.
Bukan hanya Atma, bahkan Dirgan sebagai Ketua Kelas nampak menarik jubah Aray yang bergeming. Rinai dan Nada menelan ludah susah payah, mereka mengingat tatapan yang memandang remeh dan hin**n yang sering diterima. Rasanya seakan ingin menggali lubang untuk bersembunyi.
Namun, tidak dengan Inay yang malah tersenyum miring. Dia berjalan mendekati Amdara yang masih menunggang Serigala Berbulu Putih.
"Awal perubahan."
Amdara berkata tanpa nada. Dia memegang erat seluring.
"Kelas Satu C akan memulai perubahan ...!"
Amdara tersenyum tipis. Dia merasakan telinganya sakit karena teriakan Inay. Atma sampai menutup telinga menggunakan jari tangan.
"A-apa?"
Lima detik, Tetua Haki, guru-guru, dan para murid baru sadar. Dan seketika jadi riuh sendiri. Tidak menyangka sama sekali.
Tetua Haki menatap ke arah satu bocah yang memiliki tubuh istimewa dengan tatapan aneh. Seakan ada sesuatu pada bocah itu.
Guru Ghana mengepalkan tangan. Terlihat ada kemarahan pada dirinya. Dia berkata, "bagaimana mungkin?"
Sama halnya dengan Guru Ghana yang nampak tidak suka, Bena yang posisinya tengah duduk santai melihat hal tak terduga ini sampai terbelalak. Begitu pula dengan teman-temannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mereka benar dari kelompok kelas Satu C?"
__ADS_1
"Diamlah. Ini hal langka dan tidak akan pernah terjadi lagi besok. Ini hanya keberuntungan mereka saja."
Masih ada pendapat-pendapat negatif yang keluar. Padahal dengan jelas mata mereka melihat bocah kelas satu c ini lolos dari hutan jebakan. Menyangkal dan berpikir semua ini hanya keberuntungan belaka.
Berbeda dengan seseorang yang menunggu dengan harapan kecil di hatinya. Dia merasakan kesenangan dan kebanggaan di hati sekarang.
Guru Aneh melesat dengan perasaan masih tak menduga. Menapakkan kaki di hadapan murid-murid didiknya penuh haru.
Atma tersenyum lemas. Dia membuat Guru Aneh menahan bendungan air di pelupuk mata.
"G-guru Aneh, kami tidak mengecewakanmu, 'kan ...?"
Guru Aneh menggeleng. Dia baru saja akan menepuk bahu Atma, tetapi tiba-tiba saja bocah yang penuh kepercayaan diri itu memejamkan mata dan langsung ambruk. Guru Aneh dengan sigap menangkap tubuh Atma.
"Guru, kami berhasil ...."
Dirgan tersenyum, dan berucap demikian sebelum tiba-tiba tubuhnya ambruk, tidak sadarkan diri. Guru Aneh tak sempat menangkap Dirgan karena dirinya memegangi Atma.
Aray tersentak, dia berniat membantu Dirgan. Namun, kepalanya terasa sakit, begitu pula dengan seluruh tubuhnya.
"Sial, akan memalukan jika sampai aku kehilangan kesadaran."
Aray menggelengkan kepala. Dia mencoba mengontrol kekuatan, menyembuhkan luka luar dan dalamnya secara berangsur-angsur. Namun, yang ada dia malah kepusingan sendiri sebelum ambruk seperti Dirgan.
Rinai dan Nada kembali mengingat kejadian barusan di dalam hutan. Perutnya jadi terasa teraduk-aduk, dan ingin segera mengeluarkan isi perut. Dan benar saja, keduanya langsung memuntahkan isi perut.
Guru Aneh dibuat panik sendiri. Dia segera memulihkan tubuh Atma sambil menoleh ke arah Inay dan Amdara yang diam tidak berkutik.
"Apa kalian baik-baik saja?"
Guru Aneh bertanya cemas ke arah dua bocah itu. Dan diangguki oleh Inay yang tiba-tiba saja matanya mulai memburam dan ambruk tidak sadarkan diri. Tubuh Inay lemas, lelah dan juga sakit. Mungkin dia yang paling kelelahan sekarang.
Respon Amdara lambat, dia tidak bisa membantu Inay barusan. Dan baru turun dari punggung Serigala Berbulu Putih setelah Inay ambruk.
Guru Aneh kembali dibuat tersentak. Dirinya menatap Amdara sebelum bocah itu tersenyum.
"Aku baik-baik saja."
Amdara mengangguk, menahan sakit dan mencoba menahan sakit dibagian punggung. Dia tidak ingin menambah kekhawatiran Guru Aneh. Namun, sepertinya sama seperti Inay yang terlalu lelah. Akhirnya bocah berambut putih itu juga tidak sadarkan diri.
__ADS_1