Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
87 - Kelompok Kelas Satu C


__ADS_3

Keadaan Amdara masih sama seperti seperti satu jam lamanya. Orion dan murid ahli pengobatan lain nampak gusar karena tak bisa menyembuhkan luka dalam Amdara. Napas Amdara pelan, itu sudah cukup membuat mereka tak sabar menunggu kedatangan Tetua untuk membantu.


Tubuh istimewa. Yang mana tak sembarang orang bisa menyembuhkan luka dalamnya. Akan tetapi bukan berarti tidak bisa terluka. Orang yang memiliki tubuh istimewa tetap bisa terluka luar dan dalam. Dibanding hal itu, kelebihannya ada pada tubuh tersebut bisa menyerap kekuatan alam murni tanpa henti dan kesulitan terkecuali ada suatu penghalang. Sama seperti Amdara yang memiliki Benang Merah yang melilit inti spiritual tak bisa menyerap kekuatan alam.


Dobrakkan pintu di ruang perawatan Amdara membuat Orion dan yang lain tersentak dan segera memberi hormat ketika Tetua Rasmi datang diikuti Cakra dari belakang. Tanpa basa-basi, Tetua Rasmi memeriksa kondisi Amdara yang terbaring tak sadarkan diri.


Raut wajah Tetua Rasmi begitu serius. Dia meminta yang lain keluar agar dirinya bisa berkonsentrasi menyembuhkan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


Tetua Rasmi tahu akan tubuh istimewa Amdara. Namun, ada hal yang membuatnya kebingungan. Yang mana dia sama sekali tidak merasakan kekuatan mengalir di tubuh bocah ini. Umumnya, memiliki tubuh istimewa pun masih bisa mengalirkan kekuatan dalam tubuh.


Tetua Rasmi mencoba lebih berkonsentrasi dalam penanganan ini. Kasus Amdara adalah kali pertama membuat Tetua Rasmi kebingungan. Di kekuatannya yang sekarang, bahkan Tetua cantik itu tidak mengetahui adanya Benang Merah di inti spiritual Amdara.


Di sisi lain, pertandingan ketiga baru saja diumumkan. Kali ini yang mengatur adalah Tiga Guru Besar di lapangan latihan.


Beberapa murid sibuk mencari rekan. Sama seperti kelompok kelas Satu C yang dibuat cemas karena Amdara tak juga datang padahal acara sebentar lagi akan dimulai.


"Aku tidak menemukannya di balai hukuman dan Akademi."


"Khakhaa. Di asrama juga tidak ada."


"Di perpustakaan tidak ada. Huhuhu. Ke mana dia pergi?"


"Hah, di tempat pengambilan misi, pendaftaran murid, bahkan aku menyelinap di ruang Tetua dan Guru tetapi Luffy tidak ada."


Dirgan, Aray, Atma, Rinai, dan Nada sedang berkumpul depan gedung Akademi. Mereka mencari Amdara kurang lebih dua jam.


Aray terlihat marah, dia mengedarkan pandangan. Tidak adanya Amdara akan mempersulit kelompok. Yang mana harus menggantinya dengan orang lain.


Seseorang melayang dan mendarat tepat dihadapan mereka dan berkata, "teman-teman, aku mendengar berita buruk."


Inay menelan ludah susah payah. Napasnya tak beraturan. Raut wajahnya terlihat tidak begitu baik.


Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada segera menatap Inay penuh penasaran.


"Ada apa? Apa kau menemukan Rambut Putih?!" Aray mendekat ke Inay.


Inay menggeleng dan berkata, "dari salah satu murid di balai istirahat mengatakan sekitar satu jam lalu ada pertarungan. Dan Luffy ...."


"Ada apa dengannya?!"


"Dia terjebak dalam jurus ilusi milik salah seorang senior. Keadaannya cukup parah. Senior Cakra membawanya ke tempat pengobatan."


Aray mengepalkan tangan. Tak menyangka Amdara sedang dirawat dan telah diserang. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Tatapan Aray berubah tajam.


Penjelasan Inay cukup membuat teman-temannya terkejut bukan main. Kekhawatiran tercetak jelas. Mereka tidak mendapat penjelasan lebih dari Inay yang berwajah pucat. Dia juga tidak menyangka Amdara akan diserang di saat teman-temannya tidak ada.


"Aray kau mau ke mana?"


Atma tersentak saat Aray tiba-tiba melesat tanpa menjawab pertanyaannya. Dirgan juga tiba-tiba berlari mengejar Aray diikuti Inay yang melesat juga.


Atma yang melihatnya berteriak, "hei, kau juga mau pergi ke mana ...?!"


Dirgan menoleh ke belakang tanpa menghentikan langkah larinya. Dan menjawab keras, "apa? Memangnya kita akan diam saja saat Luffy sedang terluka?"


Mendengar perkataan Dirgan membuat Atma, Rinai, dan Nada tersentak. Mereka segera menyusul Dirgan. Sama sekali tidak memikirkan hal ini. Walaupun tidak bisa menyembuhkan Amdara, tetapi setidaknya mereka harus melihat dengan kepala sendiri kondisi Amdara.


*


*


*


Cakra baru saja menyeret dua senior yang belum pulih ke balai hukuman. Dua senior itu jelas memberontak, tetapi tak segan Cakra menyerang mereka dan langsung menghempaskan tubuh keduanya di hadapan murid yang biasa memberi cambukan. Kejadian itu terlihat jelas dan membuat mereka tercengang. Tak pernah melihat Cakra yang bersikap tidak berwibawa. Entah apa yang membuat bocah hemat bicara itu bersikap demikian.


"Seratus lima puluh cambukan."

__ADS_1


Suara dingin dan tatapan bak elang itu tertuju pada kedua senior yang telah menyerang Amdara. Murid yang biasa mencambuk dibuat menelan ludah susah payah. Dia dan rekan-rekannya langsung mengikat tubuh dua senior itu menggunakan tali ajaib, atau tali khusus agar seseorang tak bisa mengeluarkan kekuatan.


Pemberontakkan terjadi, dua senior itu berteriak keras dan menendang salah seorang yang mencoba mengikatnya. Namun, dengan bantuan Cakra, kedua tangan dan kaki mereka sekarang terikat.


"Cakra, atas dasar apa kau memberikan seratus lima puluh cambukan pada kami ...?!"


Satu senior itu berteriak keras. Rahangnya terasa kering karena kesal. Satu temannya juga berteriak tak terima, "seharusnya hanya tiga puluh cambukan! Kenapa kau bisa berkata demikian?!"


Cakra melihat kemarahan pada dua orang itu. Dia mengepalkan tangan saat menjawab dingin, "kalian melukai murid lain sampai parah dan sulit disembuhkan. Hukuman ini bahkan terlalu ringan."


Kedua senior itu menggeram tak juga terima.


"Lalu bagaimana dengan bocah itu yang membuat teman kami yang merasakan malu?! Bukankah dia juga harus dihukum?"


Perkataan barusan membuat Cakra menggeleng pelan. Bukankah sudah pernah dijelaskan Tetua karena tubuh senior itulah yang membuat efek ramuan aneh Atma berbeda. Amdara sama sekali tidak tahu jika efeknya akan berbeda.


Terdengar hembusan napas Cakra. Dia berkata, "itu akan diurus Tetua."


"Cakra, berani sekali kau melakukan ini ...! Kau memiliki hak apa bisa membuat kami mendapat hukuman ...?!" Salah seorang senior yang saat di balai istirahat bertarung melawan Cakra berteriak marah. Wajahnya merah padam menatap Cakra yang tak bergerak dari tempatnya.


"Ketua Organisasi Akademi," kata Cakra tanpa ekspresi. Dia mengangkat tangan, dan detik berikutnya cambuk yang tergeletak tidak jauh darinya melayang dan dalam waktu singkat tiga cambukan berhasil mendarat di punggung dua sénior itu yang sontak menjerit kesakitan.


Cakra berkata, "lebih cepat lebih baik."


Kejadian itu membuat murid yang seharusnya mencambuk memundurkan langkah dan kesulitan menelan ludah. Tidak tahu apa yang membuat Cakra bersikap demikian.


Mendapat cambukan ke sepuluh saja sudah membuat dua orang itu berwajah pucat dan memuntahkan darah segar.


"S-sialan kau. A-aku pasti akan membalasnya ...!"


Cakra tak menghiraukan, dia masih mencambuk dua orang sekaligus. Tidak peduli dengan tatapan dari orang lain yang mempertanyakan kejadian itu.


Rasa-rasanya Cakra tengah melampiasakan perasaan pada dua orang ini. Dia semakin mempercepat cambukan saat teringat wajah Amdara dan ucapan Senior Orion.


*


*


*


Tetua Rasmi menghempaskan jubahnya. Kesal dengan diri sendiri yang tak bisa berbuat apa pun. Saat ini kondisi Amdara kritis. Tulang punggungya patah, tetapi tidak bisa disambung karena Tetua Rasmi yang sampai bercucuran keringat dingin tak juga bisa menyalurkan kekuatan pada tubuh Amdara.


"Kenapa kau selalu merepotkan. Hah ...! Kau, membuatku terkejut dan ingin menendangmu dari Akademi."


Tetua Rasmi memukul tempat tidur di samping Amdara keras. Dia menatap wajah Amdara yang terlihat tenang, tetapi juga terlihat menahan sakit luar biasa. Tetua Rasmi memejamkan mata sesaat. Walaupun dirinya kesal pada Amdara, tetapi dia tidak ingin Amdara mati begitu saja.


"Tetua Haki, cepatlah kembali dan urus bocah ini. Kenapa jadi aku yang harus mengurus bocah menyebalkan ini? Apa sebuah karma karena kau telah berani melawan pembicaraan orang tua?"


Tetua Rasmi terus berbicara sendiri. Dia frustasi sendiri dengan kondisi Amdara yang tak kunjung sadar. Padahal sudah lama dirinya mencoba menyembuhkan, tetapi semua sia-sia. Tidak ada perubahan apa pun.


"Apa kau tidak bisa menyerang saat diserang? Ck. Kau lemah sekali."


Tetua Rasmi belum mendengar penjelasan Cakra, dia menenggak segelas air di atas meja. Kepalanya jadi sakit memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Amdara.


Suara keributan dari luar terdengar membuat Tetua Rasmi semakin berdecak kesal. Dia membuka pintu, melihat beberapa bocah yang tengah ribut.


"Hei, apa yang kalian lakukan?!"


Bentakan Tetua Rasmi membuat bocah-bocah itu tengah saling dorong membeku dan menatap Tetua Rasmi tegang. Orion dan rekan-rekannya menunduk dan mengatakan maaf karena tidak bisa mencegah bocah-bocah ini masuk dan malah mengganggu konsentrasi Tetua Rasmi.


Aray menerobos tubuh senior yang lebih tinggi darinya agar bisa berhadapan dengan Tetua Rasmi.


"Tetua, bagaimana dengan keadaan Luffy?!" Aray bertanya cemas.


Dirgan, Atma, Inay, Rinai, dan Nada juga melakukan hal yang sama. Mendorong dan menyelinap agar bisa berada di hadapan Tetua Rasmi.


"Apa dia sudah sadar? Aku ingin melihatnya!"

__ADS_1


"Dia tidak terluka parah 'kan? Tetua, izinkan kami masuk untuk melihatnya langsung."


"Tetua, huhuhu. Bagaimana dengan keadaan Luffy?"


Tetua Rasmi memijat kening mendengar pertanyaan beruntun. Dia tak tahu pertemanan mereka akan seerat ini sampai memaksa masuk ke ruang perobatan. Jika mereka masuk, dan melihat Amdara yang masih belum sadarkan diri dan masih terluka parah, yang ada Tetua Rasmi akan ditertawakan karena tidak bisa menyembuhkan Amdara.


Tetua Rasmi menggeleng. "Tidak, itu akan memalukan."


"Hei, seharusnya kalian berkumpul di lapangan dan ikuti pertandingannya!"


Tetua Rasmi membentak. Tetapi keenam bocah di hadapannya malah semakin arogan bertanya dan berkata yang membuat Tetua Rasmi nyaris tersedak napas sendiri.


"Rambut Putih sedang diobati dan pasti sedang menahan sakit, 'kan? Bagaimana mungkin kami pergi dan malah asik menjalankan pertandingan?!"


"Aku tidak peduli dengan pertandingannya. Toh, ini hanya pertandingan. Tidak akan membuatku bisa mengaktifkan kekuatan."


"Biarkan saja pertandingan itu. Yang terpenting sekarang adalah memastikan keadaan Luffy."


"Tidak ada Luffy rasanya tidak lengkap. Dia adalah bagian dari kelompok. Meninggalkannya di kondisi seperti ini tidaklah benar."


"Huhuhu, Luffy lebih penting daripada pertandingan."


"Khakha. Kita sudah lima kali berturut-turut kalah dari pertandingan ini. Tidak mengikuti juga bukan masalah bagi kami."


Tetua Rasmi dibuat tercengang. Dia nampaknya meremehkan cara bicara murid-murid dari kelas Satu C. Selama ini mereka jarang sekali berbicara dengan orang-orang lingkungan Akademi, tetapi mendengar sendiri mereka seperti bocah-bocah cakap bicara membuat Tetua Rasmi sedikit berubah pemikiran.


Tetua Rasmi menatap satu persatu murid-murid kelas Satu C. Wajah-wajah polos yang tengah mengkhawatirkan seorang teman.


Tetua Rasmi berkata, "hei, apa menurut kalian dia akan senang melihat kalian yang meninggalkan pertandingan?"


Membeku. Mereka semua terdiam memikirkan perkataan Tetua Rasmi barusan dan menatap orang di dewasa di depan.


Tetua Rasmi mengembuskan napas. Nampaknya mereka langsung memikirkan apa yang dia katakan. Yah, mau bagaimana pun mereka tetaplah anak-anak yang akan mudah dikelabui.


"Saat dia sadar nanti dan melihat kalian yang tidak mengikuti pertandingan, menurut kalian bagaimana reaksinya?" Tetua Rasmi nampak tersenyum tipis dan kembali berkata, "bocah-bocah lugu, pergi saja sana. Selesaikan pertandingan dengan benar dan tunggu kabar baik kondisi teman kalian."


Aray mengepalkan tangan. Yang dikatakan Tetua Rasmi ada benarnya. Amdara pasti tidak akan senang melihat mereka hanya duduk dan menunggunya sadar.


Pemikiran seperti itu dirasakan Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay yang mengepalkan tangan. Dalam hati dia berdoa agar Amdara cepat sadar.


"Dia pasti akan kecewa."


Perkataan Dirgan menambah teman-temannya tertohok. Terdengar hembusan napas pelannya dan menggeleng pelan.


Amdara telah membuat mereka bisa melewati pertandingan lebih mudah dan telah membalaskan kekesalan dengan melakukan uji coba ramuan aneh Atma pada tiga senior penjaga gerbang. Perjuangannya jelas teringat di kepala mereka.


Aray mengambil keputusan. Dia berkata, "baiklah, kami akan mengikuti pertandingan dan akan kembali setelah pertandingan selesai. Dan saat itu tiba, kami harap Tetua Rasmi bisa menyembuhkan luka si Rambut Putih."


Tetua Rasmi dibuat tertohok. Dia sampai sekarang bahkan tidak bisa menyalurkan kekuatan pada Amdara. Bagaimana mungkin bisa menyembuhkannya dalam waktu singkat. Tetua Rasmi terbatuk dan mengangguk saja.


Tetua Rasmi menyilangkan kedua tangan dan berkata angkuh, "kau pikir aku selemah itu? Lima langkah saja kalian pergi dari sini, aku bisa langsung menyembuhkan luka bocah itu."


Aray tersenyum miring dan berkata, "baguslah aku jadi tidak terlalu mengkhawatirkan Rambut Putih lagi."


Dirgan menyetujui tindakan Aray. Dia dan yang lain membungkuk memberi hormat pada Tetua Rasmi.


"Tetua, kami izin pergi. Murid memberi hormat pada Tetua."


Setelahnya mereka pergi dengan perasaan yang lebih tenang menuju lapangan latihan. Tidak ada Amdara pun, mereka harus bertarung dengan sekuat tenaga. Tidak boleh membuat Amdara kecewa. Semangat mengikuti pertandingan muncul dan membuat mereka yakin bisa melewatinya dengan baik.


Sampai di lapangan latihan, mereka berbaris dengan rapi. Tidak menambah anggota, karena yang lain pasti tidak akan mau. Sambutan pertama seperti biasa oleh Guru Kawi dan Dua Guru Besar. Kali ini mereka diajak untuk masuk ke gedung Akademi.


"Pertandingan kali ini adalah di dalam gedung Akademi. Setiap kelompok akan berpencar dan masuk ke ruang berbeda." Penjelasan Guru Kawi membuat tercengang semua peserta. Guru Kawi kembali menjelaska, "kalian akan mendapat ujian tertulis dan jelas setiap anak berbeda pertanyaan dalam kertas."


Kelompok kelas Satu C saling pandang dan mengangguk yakin. Mereka harus bisa menghadapi pertandingan ini. Beruntung kali ini adalah pertandingan ujian tertulis dan bukan pertandingan pertarungan. Jelas mereka tidak perlu terlalu khawatir.


Guru Kawi dan Dua Guru Besar memasuki gedung Akademi sambil terus menjelaskan peraturan serta apa yang harus mereka lakukan. Diikuti para peserta dari belakang, mereka mulai dipisah dari kelompok masing-masing dan masuk ke ruang berbeda.

__ADS_1


*


__ADS_2