Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
113 - Menjalankan Strategi Awal


__ADS_3

Memasuki arena pertandingan berarti harus siap mendapat serangan lawan. Dirgan yang pertama menginjakkan kaki di arena tersebut, dia mengepalkan tangan mencoba menyakinkan diri sendiri.


Atma terlihat sangat lemas dan nyaris ambruk jika saja Aray tidak langsung menarik kerah belakang jubah hitam mereka. Aray berdecak karena ulah Atma.


Kelompok kelas Satu C sudah berdiri dengan posisi berjejer menatap lawan yang juga melakukan hal yang sama dengan senyuman meremehkan.


Tetua Wan berdiri di tengah-tengah. Dia meminta kedua kelompok memberikan hormat dan setelahnya tangannya terangkat. Sebuah lesatan terdengar, pertanda mereka sudah bisa memulai pertandingan.


Kelompok kelas Satu C langsung berada di posisi masing-masing yang telah mereka tentukan semalam. Hal tersebut membuat lawan nyaris tertawa melihatnya.


Yaji dengan begitu sombongnya berkata, "hei, para junior polos. Sebaiknya kalian turun dari arena pertandingan. Kami tidak ingin melukai kalian."


Aray yang posisinya paling depan bersama Inay menahan emosi. Dia tidak boleh menghancurkan strategi yang telah mereka buat.


Lusi dengan tampang mengesalkan berjalan ke depan dan tersenyum ramah.


"Yang Yuji katakan memang benar. Mungkin aku akan menyakiti hati selembut tahu milik kalian, tapi aku lebih tidak ingin menyakiti fisik kalian. Yah, kalian memang penuh dengan semangat tapi harus pikirkan keselamatan kalian, oke?"


Perkataan menyebalkan itu membuat Inay mengedutkan bibir atas. Dia mengepalkan tangan. Tidak boleh berbicara sembarangan. Tugas berbicara ini adalah tanggung jawab Atma dan Rinai.


Namun, Atma dan Rinai malah menunduk tidak berani menatap. Keduanya terlihat gemetaran. Dirgan memanggil keduanya, tapi tidak ada yang menoleh.


Melihat kedua bocah yang sudah gemetar hebat, membuat Opi menarik napas dalam dan berujar, "kuakui keberanian kalian. Tapi kalian tidak boleh memaksakan diri seperti ini."


"T-tidak, kami sama sekali tidak memaksakan diri."


Tiba-tiba saja Atma buka suara. Dia menampakkan tatapan takut pada Opi dan rekan. Matanya sudah menggenangkan air mata yang nyaris tumpah tapi dia tahan sekuat tenaga. Tatapan teman-temannya beralih begitu pula dengan kelompok kelas Dua I.


Dengan suara gemetar Atma kembali berujar, "S-senior, kalian pasti ingin membanggakan guru kalian dengan bertanding di arena pertandingan ini. Begitu pula dengan kami. Jadi ... mau bagaimana pun, kami ingin melakukan perlawanan kecil. Dengan begitu, kami bisa memperlihatkan sedikit saja kemampuan kami ...."


Suara yang terdengar menyedihkan dari Atma membuat lawan terdiam. Mereka memikirkan ucapan Atma.


"Huhuhu. Kami memanglah lemah dan payah. Tapi tolong, biarkan kami terlihat bisa melakukan perlawanan pada kalian. Walaupun ... kami memang tahu akhir pertandingan ini."


Suara Rinai yang menangis menambah suasana jadi sulit diartikan. Amdara yang mendengarnya mengembuskan napas.


Terlihat lawan saling pandang sebelum mendengus. Opi sebagai ketua dari mereka berkata tenang, "apa sebegitunya kalian ingin terlihat mampu padahal tidak?"


Yuji menggelengkan kepala mendengar penuturan dua bocah yang terlihat lemah gemulai itu. Dia menyilangkan tangan depan dada.


"Tsk. Merepotkan. Sudah lemah, meminta penawaran pula."


Yuji terlihat kurang setuju. Dia menatap kesal lawan yang semuanya tiba-tiba saja menunduk tanpa terkecuali. Melihat hal tersebut, Yuji membelalakkan mata tak menyangka. Begitu pula dengan Opi, dan rekan-rekan yang lain.


"Ketua, biarkan mereka merasakan sebuah pertandingan. Aku jadi merasa kasihan melihat mereka."

__ADS_1


Rara memperlihatkan wajah menggemaskan pada Opi yang menarik napas dalam. Dia meminta pendapat teman-temannya yang ternyata juga berpikir memberikan kesempatan untuk mereka melakukan perlawanan sedikit. Toh, pemenang sudah dapat dipastikan mereka yang akan meraihnya.


Terkecuali Yuji yang terlihat agak tidak setuju. Setelah mendapat penjelasan, dia akhirnya tidak memiliki pilihan lain.


"Yah, baiklah. Kalian bersiaplah menyerang sekuat tenaga. Kami memberikan kesempatan emas untuk kalian." Berakhirnya kalimat Opi yang langsung meminta teman-temannya atur posisi.


Kelompok kelas Satu C sontak mengangkat wajah serentak dan mengucapkan terima kasih. Mereka menyembunyikan senyuman.


Dari yang terlihat, kelompok kelas Dua I memang mengatur posisi seperti yang telah Amdara duga. Dia menatap Dirgan yang juga menatapnya. Keduanya mengangguk bersiap.


Opi meminta lawan agar segera memberikan serangan dengan cepat. Mereka seperti tidak menyadari ada hal aneh. Mendapat kesempatan yang Amdara dan teman-temannya tunggu, sungguh kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.


"Mn. Memang kesempatan emas."


Amdara kemudian menyerap kekuatan alam. Dia dengan sengaja membuat pusaran angin yang kecil di tengah-tengah kelompok lawan yang masih belum bertindak karena pusaran angin kecil tersebut.


Pusaran angin Amdara kali ini bercampur dengan debu yang sangat banyak berwarna coklat. Amdara melayang, dia dengan cepat membuat pusaran angin penuh debu tersebut membesar. Sontak para lawan tidak bisa melihat dengan jelas ke sekitar.


Namun, bodohnya mereka belum juga bertindak. Para penonton yang melihatnya jadi kebingungan sendiri berbeda dengan Guru Aneh yang tersenyum senang di balik topeng rubahnya.


Nada menyeringai, dia menggunakan suara milik Opi untuk berbicara pada kedua kembar Kic dan Koc.


"Kalian, seharusnya sebelum pertandingan makan dengan banyak agar bisa mempertahankan kekuatan."


Suara tersebut hanya bisa didengar oleh Kic dan Koc.


Koc yang menjawab ketika suara ketuanya terdengar, "ketua, aku sudah makan banyak. Tapi Kic makan sedikit."


Kic yang mendengar perkataan Koc berdecak kesal dan tidak ingin nantinya disalahkan oleh ketua dia berkata, "Koc, bukankah kita makan bersama? Apa kau tidak lihat, hah? Kenapa kau malah berkata seperti itu?"


Percekcokkan antara Kic dan Koc sudah dimulai. Nada dengan cepat beralih ke Lasi, Lusi, dan Rara. Tepat di telinga Lusi, suara Rara terdengar mengatakan bahwa menurutnya Lasi lebih cantik dibanding dengan Lusi. Awalnya Lusi tidak terbawa emosi, tapi suara menyebalkan Rara mengganggunya.


Lusi yang sudah tersulut emosi berteriak, "lalu kenapa jika dia yang lebih cantik?! Rara, memangnya kau lebih cantik dariku hah?! Kau bahkan lebih buruk dari orang lain. Tahu tidak?!"


Rara yang mendengar teriakkan Lusi tersebut berdecak kesal karena dikatakan dirinya tidak cantik yang sontak membuatnya membalas, "hei, Lusi. Apa maksudmu mengatakan seperti itu?!"


Lasi yang berada di tengah-tengah mereka tersentak dengan suara Lusi dan Rara yang saling berteriak. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Kali ini Yuji dan Opi yang mendengarkan teman-temannya saling menyalahkan entah sebab apa dibuat kebingungan. Opi mencoba melerai, walaupun tidak bisa melihat dengan jelas karena pusaran angin yang dipenuhi debu ini.


"Yuji, kau itu lemah. Ini semua salah Opi karena dia memasukkanmu dalam kelompok. Cih, jika saja orang lain pasti kekuatannya sudah sangat kuat."


Suara Lasi yang terdengar di telinga Yuji langsung tersulut emosi. Dia membalas suara tersebut dengan berteriak menyalahkan Lasi dan juga Opi yang tidak tahu apa-apa disalahkan. Yuji terus saja berteriak dan menyalahkan teman-temannya yang juga saling menyalahkan.


Dari luar, Amdara dapat mendengar suara-suara kelompok kelas Dua I saling berteriak entah karena apa. Dia yakin Nada sudah melakukan tugas dengan baik.

__ADS_1


Kesempatan tersebut langsung digunakan oleh Inay yang mendapat perintah dari Dirgan untuk menyerang. Menggunakan rambutnya, dia menyalurkan kekuatan dan melayang. Dengan kecepatan kilat, dia melesatkan serangan dahsyat menggunakan rambut yang membuat angin kejut. Kic dan Koc yang berada di barisan paling depan lengah sampai terpental ke belakang.


Detik berikutnya Aray sudah mempersiapkan jurusnya yang hebat. Dia melesatkan serangan yang mengakibatkan suara debaman terdengar. Amdara menyatukan kedua tangan dia juga tidak akan membiarkan lawan menyadari serangan ini bukanlah serangan sederhana.


Amdara menggunakan portal dan muncul di hadapan di depan.


"Kilatan Angin Aliran Pertama."


Sebuah terjangan angin dahsyat layaknya gangsing muncul dan langsung membuat lawan terpental jauh. Tidak sampai di sana, Amdara langsung melesatkan banyak mata pedang yang ketika dekat dengan lawan langsung meledak.


Debaman dan hantaman suara begitu keras lagi dan lagi terdengar. Suara teriakkan memakakkan telinga seperti kesakitan menambah kesan lawan telah kalah. Para penonton yang melihatnya membelalakkan mata tidak menyangka dengan serangan yang dilakukan kelompok kelas Satu C.


Amdara kembali ke tempat semula. Dia mengangguk melihat teman-temannya yang tersenyum senang karena yakin strategi yang mereka lancarkan berhasil. Dengan dahsyatnya angin milik Amdara, pasti kelompok kelas Dua I sudah terpental keluar arena pertandingan.


"Yosh. Kita berhasil!"


Atma meloncat kegirangan. Begitu pula dengan Aray dan Inay yang bisa menarik napas lega.


Angin penuh debu yang sebelumnya mengitari lawan kini perlahan menghilang. Pandangan mengejutkan mereka ketika melihat Opi yang nyaris keluar arena pertandingan menggunakan tanaman merambat melilit teman-temannya agar tidak keluar arena pertandingan.


Semua orang yang melihatnya dibuat terkejut. Termasuk Amdara yang langsung bersikap waspada.


"A-apa? Harusnya mereka sudah terlempar keluar arena!"


Atma yang melihatnya menelan ludah susah payah. Dia kembali lemas. Jika strategi awal sudah gagal, maka tamatlah riwayat mereka.


"Teman-teman, waspadalah."


Dirgan menajamkan penglihatan. Dia tidak menyangka strategi yang dibuat susah payah itu bisa diatasi lawan dengan mudah. Teman-temannya mengambil sikap waspada, bersiap jika lawan tiba-tiba menyerang.


Kini untuk kesempatan emas itu telah sirna. Mereka tidak akan diberi belas kasih lagi. Entah apa yang akan terjadi jika sampai lawan benar-benar mengeluarkan kekuatan asli.


Terlihat Opi yang sangat marah sekarang. Kelompok mereka dibuat lengah begitu saja dan nyaris kalah dengan mudah. Dia menarik teman-temannya ke depan dan mendaratkan mereka ke tempat semula.


"Bagus, serangan itu tidak kami duga sama sekali."


Keterkejutan nampak di wajah Opi dan teman-temannya yang mudah dikelabui. Mereka menatap tajam kelompok kelas Satu C.


"Pengecut! Berani sekali melawan dengan cara sembunyi-sembunyi!"


Yuji berlari ke arah lawan. Tatapan amarahnya sungguh membuat lawan kesulitan menelan ludah.


Banyak dedaunan yang telah dipenuhi oleh kekuatannya melayang di belakangnya. Bersiap menyerang lawan dan meledakkan mereka.


Tidak sampai di sana, Opi juga melakukan serangan balasan. Tidak peduli lagi dengan alasan lawan yang sebelumnya ingin terlihat mampu di depan semua orang. Menggunakan tanaman merambatnya, dia berlari dan menghentakkan tanaman merambat pada arena pertandingan hingga hancur dalam sekejap.

__ADS_1


Melihat serangan yang dilancarkan oleh kedua orang itu, mustahil kelompok kelas Satu C tidak akan terluka parah.


__ADS_2