Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
250 - Pertarungan IV


__ADS_3

Akar besar menjulang tinggi. Mengikat keleher seorang laki-laki berkulit gelap. Dia memberontak, tetapi semakin erat pula ikatan akar di leher. Dia ingin menyerah, tapi mengingat sifat keras teman-temannya membuat dia enggan buka suara.


Kawa melempar tubuh lawan tepat ke perisai pelindung, yang mana di luar bertepatan dengan wajah Mitsu yang sedari tadi hanya menatap datar.


Senyum remeh terpampang jelas di bibir Kawa. Sementara Mitsu semakin mengeraskan rahang. Ditatapnya laki-laki berkulit gelap itu.


"Menyingkir dari arena."


Tiga kalimat bernada dingin membuat lawan Kawa menegang. Mitsu masuk ke areana pertandingan. Dengan susah payah terbang, keluar dari arena.


Kalahnya murid Akademi Nirwana Bumi itu membuat murid dari Akademi tersebut yang menonton membelalakkan mata kaget. Tidak menyangka. Dan kesal karena dikalahkan begitu saja.


Pemenang di pertandingan individu kedua adalah Kawa. Dia langsung melayang ke arah teman-teman.


"Kau menang, Kawa! Itu keren sekali."


Ilan berkata dengan penuh antusias. Kawa mendapat selamat dari teman-temannya. Kawa tersenyum, dia menatap Amdara yang hanya mengangguk.


Sebelum Amdara melesat, Kawa memberi peringatan.


"Kau jangan remehkan kekuatan Mitsu. Dia punya banyak trik licik. Berhati-hatilah."


Amdara mengangguk mengerti. Dia melesat ke arena. Perisai pelindung langsung muncul kembali.


Di hadapannya sekarang, Mitsu menatap datar. Amdara juga menatap tidak kalah datar.


"Kau sepertinya lebih kuat dari Kawa, sampai berani melawanku."


Bukannya menanggapi, Amdara malah memberi hormat dan berkata, "mohon bantuannya."


Mitsu dibuat berkedip, tapi dia langsung mendengkus. Bersiap menyerang.


Amdara mundur dalam beberapa langkah. Dia berniat hanya menggunakan kekuatan elemen es dan air. Tidak akan mengungkap dirinya berasal dari Klan Ang.


Rantai es mulai bermunculan di samping dan belakang. Tangannya tergerak ke depan, menyerang lawan yang langsung menghindar cepat. Semakin cepat Amdara melesatkan serangan rantai es, semakin cepat pula gerakan mengelak Mitsu.


"Kecepatannya sangat bagus." Amdara memuji.

__ADS_1


Tiga rantai kuat sekaligus pecah ketika bayangan hitam menangkis gesit. Amdara mulai serius, dia menggerakkan kedua tangan untuk mengendalikan banyak rantai lagi.


Sampai sepuluh menit berlalu, Mitsu sama sekali tidak menyerang secara langsung. Hal tersebut membuat Amdara mendengkus. Jika seperti ini, kekuatannya akan terkuras tanpa bisa melukai lawan.


Sekali lagi, rantai-rantai es mulai muncul dari tanah. Bergerak liar, mencoba melilit tubuh lawan.


Selagi lawan terfokus pada rantai es, Amdara menciptakan sepuluh pedang es tepat di atas lawan. Tangannya tergerak, saat itu juga kesepuluh pedang menerjang Mitsu.


Debaman keras terjadi. Asap mengepul ke udara. Amdara pikir lawan mendapat serangan telak dan jelas mendapat luka. Dirinya tersenyum di balik cadar.


"Hmph. Hanya pengendali es, berani sekali melawanku."


Amdara kontan melesatkan serangan tepat di belakang. Di mana suara mengagetkan barusan terasa dekat telinga. Akan tetapi, serangannya meledak sia-sia. Tidak ada orang lain di belakang.


Kepalan tangan gadis muda itu mengerat. Jantungnya mulai berpacu cepat. Tiba-tiba saja asap hitam mengelilingi. Berputar semakin cepat dari detik ke detik.


Kefokusan gadis itu semakin meningkat. Waspada ke sekeliling, bisa saja Mitsu tengah mempersiapkan serangan kejutan.


Satu bayangan hitam tertangkap netra, segera Amdara melesatkan rantai es dan pedang dari arah atas. Bayangan itu menghindar, debaman akibat melesetnya serangan barusan membuat tanah berlubang besar.


Keberadaan Mitsu semakin sulit terdeteksi, hal itu jelas membuat sulit pihak lawan.


Amdara mengepalkan tangan mulai kehilangan ketenangan. Gerakan tangannya aneh langsung dilakukan, bibirnya bergerak mengucap sesuatu. Aura di sekitarnya mulai dingin, bahkan tubuhnya mengeluarkan asap putih. Tidak main-main, dia mengeluarkan aura menekan dan mengerahkan kekuatan sambil terus menyerap kekuatan alam.


Kakinya bersinar biru, es mulai menyebar ketika dia menghentakkan sebelah kaki. Masih dalam selimutan asap hitam, es Amdara merambat ke luasnya arena pertandingan. Bahkan dia membuat dinding es mengelilingi arena. Tindakannya membuat tersentak para penonton sebab ternyata dinding es itu dibuat dengan kekuatan besar sehingga penonton menggunakan kekuatan untuk melihat pun akan kesulitan mengetahui pertarungannya. Dinginnya es di arena juga sama sekali tidak dirasakan mereka.


Kawa dan kelima temannya yang baru saja selesai berbicara mengenai strategi yang dikatakan Amdara, kontan menoleh ke depan.


Jogu yang masih merasa lemas membulatkan mata. Dia berseru, "kenapa Luffy malah membuat dinding es itu?! Jika begini kita tidak bisa melihat pertarungannya!"


Mereka dibuat bingung karena tindakan yang tengah bertarung. Ilan berdecak kesal, dia mencoba menggunakan kekuatan untuk melihat ke arena, tetapi sama sekali tidak tembus.


"Dinding esnya terlalu kuat. Tsk. Aku sama sekali tidak melihat apa pun!"


Ilan menggemerutukkan gigi kesal. Pika yang di sampingnya juga tidak bisa melihat apa pun.


"Sebenarnya apa yang direncanakan Luffy?"

__ADS_1


Kawa tersenyum tipis mendengar penuturan Pika. Awalnya dia tersentak dan bingung. Namun, pemikiran lain langsung muncul.


"Luffy baik sekali. Dia membuat Mitsu yang akan kalah tidak bisa dilihat orang lain."


Kawa menarik napas dalam, dia duduk di sebelah Gaku dengan tenang sambil melipat kedua tangan depan dada. Komentarnya ini malah membuat yang lain menyerngitkan dahi.


"Apa? Kenapa kau berpikir begitu?"


Pertanyaan Gaku mewakili isi hati yang lain. Kawa menoleh ke arah mereka santai. Terpampang raut kebingungan di kelima teman barunya.


"Menurut kalian, mengapa Luffy bersikukuh ingin melawan Mitsu?"


Pertanyaan itu sama sekali tidak bisa dijawab mereka.


Kawa memandang ke depan lagi. Memandang tingginya dinding es. Senyumnya sama sekali tidak pudar saat bertutur, "mn. Dia tahu kemampuan sendiri dan yakin bisa mengalahkan Mitsu."


Sementara itu di dalam area yang di kelilingi dinding es yang kokoh, udara dingin semakin menusuk tulang. Salju dari langit-langit tiba-tiba turun deras. Mata biru Amdara terbuka ketika sebelumnya tertutup.


Lalu dirinya menggerakkan tubuh yang merupakan salah satu jurus yang pernah diasah. Cahaya birunya sampai menembus asap hitam yang kian menebal, tetapi Mitsu sama sekali belum kembali menyerang.


Rantai-rantai es bermunculan, begitu pula dengan pedang-pedang tajam di langit-langit siap menghujami setiap area pertandingan.


"Elemen Api, Lesatan Es!"


Rantai-rantai dan pedang-pedang es benar-benar memenuhi arena. Ledakan besar tidak terelakkan. Dia sengaja menyerang seluruh arena karena lawan sulit dilukai.


Kesempatan ini dia gunakan untuk mendeteksi kembali lawan. Alisnya menyatu melihat dua bayangan yang sedang menangkis serangan pedang dan rantai sekaligus. Angin kejut tercipta, sesaat asap hitam menghilang.


Amdara melihat dua bayangan hitam itu sangat kuat menangkis serangannya. Dia semakin mengepalkan tangan.


"Hng. Bagaimana dengan bayangan-bayangan hitam itu?"


Suara Mitsu terdengar. Sontak Amdara memutar balik tubuh, tetapi tidak menemukan lawan. Hanya suara dengan nada mengejek.


"Kau pasti terkejut tidak mengetahui keberadaan ku. Hah ... tapi ini baru pemanasan. Kupikir bermain-main denganmu akan menyenangkan, tetapi ternyata malah membosankan. Ck, ck, ck."


Amdara berusaha menenangkan diri. Dia tidak merasakan hawa kehadiran lawan. Tiba-tiba saja aura mengerikan serta menekan terasa. Sampai membuat gadis muda tersebut terduduk. Dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Racun?"


__ADS_2