Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
189 - Bocah Pengemis


__ADS_3

"Kau mau ke mana?"


"Menguji irama ketenangan."


Amdara memasukkan Seluring Putih ke Cincin Ruang. Dia segera melesat ke tempat di mana peta menitik merahkan tempat tersebut sebagai tempat berbahaya yang dihuni Raja Roh Hitam.


Amdara membuka mata, saat sampai di tempat tujuan yang mana ternyata tempat tersebut merupakan kota yang cukup ramai di huni oleh banyak orang. Sekilas tidak ada yang aneh. Orang-orang berlalu-lalang beraktivitas seperti biasa. Amdara pun tidak merasakan adanya aura gelap atau hal-hal mencurigakan.


Bocah itu berjalan santai, sambil mengamati sekeliling. Gedung-gedung tinggi berjejer, dan nampak banyak toko-toko besar. Tatapan matanya terfokus pada sekelompok anak kecil berusia sama dengannya sedang meminta-minta kepada orang-orang dengan membawa mangkuk. Penampilan mereka sangat tidak baik. Terlihat seperti pengemis.


Sekitar ada tujuh bocah, yang baru saja meminta-minta kepada orang lain berkumpul. Mereka nampak sedang membicarakan sesuatu.


Entah mengapa Amdara tidak mengalihkan pandangan. Dia tetap memperhatikan mereka sambil berdiri tidak jauh.


Sesaat kemudian sekelompok pengemis itu saling menepuk bahu dan setelahnya berpencar dengan cara berlari cepat.


*


*


*


"Kau itu masih muda! Kenapa meminta-minta sih?!"


Wanita kisaran berumur 40 tahunan membentak bocah pengemis. Wanita itu langsung melemparkan sekoin emas dan berdecak kesal.


Di depan toko perhiasan, salah satu pengemis yang sebelumnya berlari langsung menghampiri seorang wanita dan meminta sesuatu. Akan tetapi, wanita itu malah memakinya sebelum melemparkan satu koin emas.


"Ambillah. Aku sudah memberikan apa yang kau minta. Sekarang enyah dari hadapanku!"


Matanya melotot tajam ke arah bocah pengemis yang malah bergeming. Bocah itu menundukkan pandangan, dan mendongak sambil tersenyum miring.


"Terima kasih, Nyonya. Satu keping emas itu sama dengan satu pertolongan. Dan setelahnya ... aku tidak peduli padamu."

__ADS_1


Mendengar perkataan barusan, wanita itu langsung menjambak rambut bocah pengemis dan berkata kasar. Tidak peduli bagaimana orang-orang yang melihatnya sambil berbisik tanpa ada yang membantu bocah itu.


Sementara si bocah pengemis sama sekali tidak berteriak kesakitan. Seolah hal ini biasa baginya. Dia hanya menunggu rambutnya dilepaskan. Raut wajahnya dingin, tangannya terkepal kuat. Matanya berubah warna merah sesaat sebelum kembali seperti semula.


"Lepaskan dia."


Seseorang menapak dengan wajah datar, tapi wajah cantiknya masih terlihat. Rambut putihnya tertiup angin. Dia adalah Amdara yang mengikuti bocah pengemis ini.


Wanita yang sedang menjambak tersentak. Dia bertambah kesal dan semakin keras menjambak.


"Oh, apa kau juga seorang pengemis? Kau kemari untuk meminta uangku kan? Tsk. Dasar bocah zaman sekarang tidak ada yang berguna."


Bocah pengemis juga tersentak mendengar suara seseorang yang sedang berusaha menolong. Tapi ekspresinya tidak banyak berubah.


Amdara mengepalkan tangan. Sekali lagi berbicara dengan nada dingin, "Nyonya, tolong lepaskan tangan Anda."


Bukannya melakukan apa yang dikatakan Amdara, tapi wanita tersebut malah melemparkan satu koin emas lagi. Dan tertawa, meminta agar Amdara segera mengambil koin emas itu dan segera pergi. Tindakannya ini membuat bocah berambut putih itu semakin mengepalkan kedua tangan.


Tks. Apa benar seorang bocah cantik, memakai pakaian bagus terlihat seperti pengemis? Rasanya Amdara ingin sekali melakukan sesuatu pada wanita itu.


Apalagi wanita yang sebelumnya merendahkan, sekarang terlihat membulatkan mata bersama mulutnya. Tangannya terhenti menjambak untuk beberapa saat. Dia memperhatikan Amdara dari atas sampai bawah. Sama sekali tidak terlihat seperti pengemis. Yang ada terlihat seperti seorang bangsawan muda. Dia mengepalkan kedua tangan sambil menggigit bibir bawah.


"Apa sebelumnya aku salah lihat?" Tidak ingin dipermalukan, wanita itu mencari alibi lain. Dia tertawa dan menatap tajam Amdara.


"Hei, kau mencuri di mana sampai mendapatkan begitu banyak emas hah?! Dasar pengemis! Berani sekali memakai pakaian bagus padahal sebenarnya miskin! Cih, bau busukmu tetap akan tercium walau kau menggunakan pakaian bagus!"


Amdara menarik napas dalam. Berjalan tenang mendekati wanita tersebut.


"Nyonya, aku bukan pengemis." Amdara melirik bocah pengemis yang tidak berkutik walau sudah tidak lagi dijambak. Dia menatap wanita di depannya yang semakin menelan ludah.


"Jika kau tidak ingin memberikan uangmu, cukup katakan 'maaf' padanya. Tidak perlu mencaci."


Ucapan Amdara kali ini membuat bocah pengemis tersentak. Dia segera mendongak, menoleh ke samping ke arah bocah yang ternyata menatapnya tanpa ekspresi. Bocah pengemis itu menelan ludah susah payah. Seperti tengah menutupi sesuatu.

__ADS_1


"Cih, bocah sepertimu sudah sangat pandai berbohong yah. Lihatlah, aku akan memberimu pelajaran!"


Tangan wanita itu hendak menjambak rambut Amdara, tetapi Amdara dengan cepat menghindar dan menggelengkan kepala. Untuk menghadapi wanita seperti ini dia memang butuh melakukan sesuatu.


"Hmph. Apa kau tidak malu terus menyakiti bocah tidak berdaya? Lihatlah sekeliling."


Ucapan Amdara membuat wanita itu semakin mengepalkan tangan. Dia tahu sejak tadi terus diperhatikan.


Dengan tatapan tajam dia berkata, "kau benar-benar minta diberi pelajaran yah? Aku sama sekali tidak peduli terhadap pandangan orang lain terhadapku."


Sebuah kekuatan dari tangan wanita tersebut muncul. Tanpa peringatan langsung menyerang Amdara yang langsung menghindar. Wanita tersebut benar-benar menyerang menggunakan kekuatannya.


Blaaar!


Serangan nyasar itu mengenai tanah yang langsung hancur. Amdara terus menghindar, dan sesekali membuat perisai pelindung.


Karena serangannya terus saja tidak melukai Amdara, lawan semakin dibuat kesal dan mengeluarkan banyak kekuatan. Bahkan Amdara mulai serius dengan pertarungan ini.


Orang-orang yang berada di sekitar langsung menghindar atau membuat perisai pelindung. Tetapi tidak ada yang menengahi mereka.


"Bocah, aku akan membunuhmu. Rasakan ini ...!"


Sebuah tekanan kekuatan besar nyaris tidak bisa ditahan Amdara. Dia sampai terpental menabrak sebuah gedung hingga retak. Tidak sampai di sana, lawan kembali melakukan serangan beruntun.


Amdara segera berguling, dan melakukan serangan balik berupa rantai es untuk melilit tubuh lawan. Kali ini rantai es yang dibuatnya tidak terlalu kuat seperti saat melawan rekan Waki. Sehingga hanya membuat lawan terjatuh.


"Sialan! Rantai es ini kenapa bisa begitu kuat?!"


Wanita tersebut wajahnya memerah menandakan sangat marah. Giginya bergemerutuk tidak terima. Mulutnya tidak berhenti mengutuk bocah berambut putih itu yang hanya menatap datar.


"Hentikan."


Suara bocah pengemis menghentikan Amdara yang hendak melakukan penyerangan. Dia menoleh, mendapati lawan bicara sedang menatapnya aneh.

__ADS_1


"Lepaskan Nyonya itu. Dia tidak bersalah."


Perkataannya membuat Amdara berkedip. Bukankah bocah pengemis juga tidak bersalah? Tapi dia diperlakukan tidak baik oleh wanita ini. Amdara hanya berniat memberi pelajaran, tapi yang ditolong ... memang anak baik.


__ADS_2