Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
251 - Perubahan III


__ADS_3

Ian terdiam sesaat. Teringat pertama kali seseorang menolongnya ketika ditindas menjadi pengemis. Tanpa mengetahui siapa dirinya, orang itu memberikan pil yang menyembuhkan luka luar dan dalamnya total. Ian sangat kaget saat itu, dirinya sampai dibuat menunduk dalam dan mengepalkan tangan. Aura yang dirasakan bukan aura biasa. Aura kewibawaan, ketenangan, tetapi juga dia merasakan kengerian samar-samar. Dirinya bertanya-tanya dalam pikiran, siapa sebenarnya gadis berambut putih itu.


Dia tentu tidak mengatakan Gadis berambut putih yang membuat sebuah pil hebat, yang sekarang sudah berjalan sebulan pada Arlet. Penjualan di Asosiasi Sinar Dunia, milik Lintang laku keras dalam sebulan kemarin.


Suasana di ruangan Arlet semakin menegang. Bahkan Enric hanya bungkam, dia juga dilanda kekhawatiran tersendiri.


Baru satu kabar ini Ian katakan. Tapi sudah membuat Arlet cemas sendiri. Terlebih setelah bertanya dari mana gadis bernama Luffy itu tinggal. Ian menjawab tidak tahu, sebab saat saat itu Luffy tiba-tiba saja menghilang dari pandangan. Mereka semakin berpikir, apakah gadis berambut putih itu memiliki kekuatan ruang dan waktu, atau portal, atau kekuatan magic lain.


Lima Belas Bintang Malam saat itu mencari keberaan si pengendali jiwa makhluk. Bahkan rela pergi cukup jauh dari kota untuk mencari informasi. Namun, naas tidak ada yang membuahkan hasil.


Bibir Ian kembali terbuka, mulai menceritakan lagi. "Dan saat perjalanan kemari, tepat di Laut Hitam. Aku kembali bertemu dengannya."


"Kau tahu sejarah Siluman Naga Air?"


Arlet tersentak dengan pertanyaan barusan. Dia mengangguk dan bergumam, "aku tahu. Siluman tersebut adalah pejaga Laut Hitam. Ceritanya sudah sangat lama, dia tidak menampakkan diri juga. Jadi ceritanya mulai surut. Tunggu, bagaimana Luffy bisa berada di Laut Hitam?"


Ian tersenyum simpul. Ternyata kabar si gadis berambut putih yang menjinakkan Naga Air belum sampai ke telinga Arlet.


Ian menceritakan bagaimana Amdara dengan keras kepala membentangkan tangan di depan Naga Air agar orang-orang tidak menyerang. Apalagi mengatakan hal tidak masuk akal. Arlet semakin dibuat terkejut ketika Ian mengatakan Amdara menjinakkan Siluman itu, terbukti dengan gadis itu naik di atas kepala Naga Air dan menyuruh Naga Air melesatkan kapal agar cepat sampai di pelabuhan.


Sampai saat ini, kabar gadis berambut putih yang menjinakkan Siluman Naga Air di Laut Hitam masih beredar.


Arlet lagi-lagi menggeleng, tidak percaya tetapi Ian tidak mungkin berbohong.


"Jika dia bisa mengendalikan Roh Hitam, dan siluman ... itu artinya kekuatannya sangat besar."


Ian mengangguk setuju dengan perkataan Arlet. Dirinya menambah, "auranya juga tidak biasa. Entah siapa sebenarnya dia."


"Ian, kau ingat saat ada gadis lain menyerukan nama Nona Luffy?"


Ian menoleh ke samping, lalu mengangguk dengan perkataan Enric yang langsung berkata, "apa dia juga mengikuti Turnamen Magic Muda?"


Ian terdiam sesaat, berpikir kemungkinannya memang iya.


"Jika begitu kita cari saja di Akademi!"


Arlet memberi saran antusias. Keinginan bertemu gadis itu mulai menjalar.

__ADS_1


Ian menggeleng. "Kau bisa pergi dengan mudah. Tapi tidak dengan kami. Murid-murid Akademi masih mengingat wajah kami, akan merepotkan jika sampai terjadi pertarungan."


Ucapan Ian membuat Enric dan kedua temannya sedikit menunduk.


"Benar juga. Tapi memang kenapa? Kalian juga murid Akademi Nirwana Bumi kan? Jika ada yang berani mengajak bertarung, aku akan maju membantu!"


"Itu dulu. Kami sudah dibuang. Mereka akan selalu menganggap remeh kami."


"Hmph! Lalu kenapa kalian nekad ingin bertemu Aki?" Arlet membuang wajah sebab tutur kata Enric yang benar.


"Masuk ke Akademinya memang sulit. Makanya kami kemari untuk meminta bantuan."


Arlet segera menoleh ke Ian yang tengah tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyembunyikan suatu hal besar.


*


*


*


Rantai-rantai es mulai melemah. Di dalam asap hitam, bayangan Mitsu mulai mendekat. Amdara mendongak, dua bayangan dalam sepuluh langkah lagi akan sampai.


Dirinya mengepalkan tangan, sekuat tenaga mengendalikan rantai menyerang Mitsu. Namun, tiba-tiba saja kedua bayangan itu menghilang dan muncul dengan tangan mencekik lawan.


Amdara telat merespon. Lehernya semakin dicekik kuat oleh Mitsu yang tersenyum remeh. Apalagi aura Mitsu semakin membesar, membuat tubuh lawan melemas. Dia berontak, napasnya tercekat.


"Haish. Kupikir kau kuat karena auramu tidak biasa. Sayang sekali kau tidak memenuhi ekspektasi," katanya sinis.


Asap hitam mulai memutari keduanya. Lalu masuk ke dalam tubuh Mitsu. Melihat lawan tidak berdaya karena racun, dirinya semakin angkuh.


"Kau terlalu labil mengambil tindakan. Dan sekarang lihatlah, kau sama sekali tidak berdaya."


Amdara mencoba melepas cengkraman dari leher, tetapi kekuatan Mitsu sangat besar sampai dia kesulitan. Amdara tidak terlalu terkejut, karena memang murid-murid Akademi Nirwana Bumi adalah 'monster'. Dan dia semakin yakin dengan rumor itu.


Kekuatan Mitsu membuatnya mengingat orang-orang Aliran Hitam saat di desa Igir. Kuat, tidak bisa dipandang remeh, dan mengerikan.


Sekarang terlihat jelas, udara dingin di arena mulai menurun. Wajah Amdara sudah memucat. Apalagi kedua tangan dan kakinya yang menghitam akibat racun mulai merambat ke seluruh tubuh. Tulang bahkan darahnya sekarang seperti dibakar api dari neraka. Walau begitu, wajah yang tidak menunjukkan rasa sakit.

__ADS_1


Mitsu menggeleng pelan dan berucap, "katakan menyerah, aku tidak akan membunuhmu. Racun itu pasti sangat menyakitkan, 'bukan?"


Darah mengalir dari telinga dan mulut Amdara secara tiba-tiba. Mitsu semakin yakin tubuh gadis ini akan segera lumpuh.


Mata birunya menatap tajam lawan. Bukannya takut atau mengatakan menyerah, senyum Amdara terbit dari balik cadar.


"Tidak akan. Kaulah yang harusnya menyerah."


Lima pedang es sekaligus tiba-tiba muncul dari ruang hampa dan melesat cepat ke arah Mitsu. Kecepatannya terbilang melebihi sebelumnya.


Mitsu menoleh dengan sekali kibasan, dua bayangan muncul menghancurkan pedang-pedang itu.


"Picik," dia menatap tajam Amdara dan semakin mengeratkan cengkraman.


Tiba-tiba kekuatan alam murni dalam jumlah besar berpusat di atas, semakin besar hingga warnanya berubah biru. Mitsu membuka mata lebar, melihat besarnya kekuatan murni sedang berputar cepat layaknya gangsing.


Bahkan dinding es mulai runtuh saking terkena efek kekuatan itu. Mitsu menatap Amdara yang matanya sudah mengalirkan darah segar, bahkan napasnya sudah sangat kesulitan akibat cengkraman.


"Kau!"


Mitsu terlihat marah dan menggunakan kedua tangan untuk mencengkram leher Amdara.


"Sial. Apa dia bisa menggunakan kekuatan alam?!"


Benar-benar ingin meledakkan tubuh lawan saat ini. Akan tetapi, Amdara tiba-tiba menyatukan kedua tangan di atas kepala.


Sesuatu tidak terduga terjadi. Dinding es hancur, perisai pelindung mulai retak akibat pusaran kekuatan alam berbentuk angin semakin cepat berputar sampai tidak terkendali. Kontan kejadian ini membuat terkejut siapa pun yang melihatnya.


Mata Amdara terpejam.


"Moghulai."


Blaaar!


Ledakan dahsyat mengakibatkan Mitsu terpental ke bangku penonton sampai hancur karena perisai pelindung yang tiba-tiba hancur berkeping-keping.


Para penonton yang tidak sempat menghindar terkena dampak sampai terluka dan menghantam ke belakang keras.

__ADS_1


__ADS_2