Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
205 - Perasaan Sesal


__ADS_3

Tetua Widya dan Guru Kawi segera menghampiri Tetua Rasmi dan Tetua Genta yang wajahnya gelap. Apalagi mereka tahu bahwa keduanya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?"


Kekhawatiran jelas tampak di wajah banyak orang saat ini. Tetua Widya membantu membawa Tetua Rasmi yang nyaris ambruk.


"Aku akan menceritakannya nanti."


Tetua Rasmi terbatuk-batuk. Dia meminta agar Tetua Widya membawa para tahanan ke ruang bawah tanah.


Tetua Widya mengangguk paham. Dia meminta seorang murid kelas Tiga untuk membawa Tetua Rasmi dan Tetua Genta ke ruang perawatan.


Tetua Widya dan Guru Kawi langsung mengambil alih tawanan berjalan menuju ruang bawah tanah. Mereka jadi melupakan Amdara yang bergeming menatap kepergian mereka.


Perlahan pandangannya menurun. Telinganya mendengar seseorang berjalan mendekat.


"Kau ... Luffy?"


Suara berat anak laki-laki membuat Amdara mendongak. Di depannya ada seseorang yang tidak asing.


"Mn."


"Apa yang terjadi pada Tetua dan siapa mereka?"


Tanya Bena yang penasaran. Awalnya Amdara lupa, tapi setelah memperhatikan lebih lama dia mengingat.


"... kau tanyakan pada Tetua saja. Aku pamit pergi, senior."


Amdara melesat ke arah ruang perawatan. Tanpa mempedulikan keterkejutan Bena yang sampai mendengus kesal dan bergumam.


"Tsk. Aku hampir saja tidak mengenalinya. Dia benar-benar berubah dari segi wajah."


*


*


*


Amdara tahu bahwa saat ini kondisi Tetua Rasmi dan Tetua Genta tidak sedang baik-baik saja. Pil dan mantra yang memperlambat racun akan tidak bereaksi beberapa saat lagi. Jika tidak dengan cepat membuatkan penawar, mereka akan tewas.


"Salahku. Jika saja tidak terlambat menyelamatkan."


Amdara mengepalkan tangan. Sebenarnya dia juga merasakan lelah, akan tetapi karena kekuatan alam serta regenerasinya yang luar biasa membuatnya pulih.


Beberapa murid ahli pengobatan berlalu-lalang. Mereka tampak sibuk membuatkan ramuan untuk menyembuhkan Tetua.


Amdara mengedarkan pandangan, mencari ruang pengobatan Tetua. Tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari arah belakang sampai Amdara terdorong ke depan. Dirinya segera menoleh ke belakang kesal.

__ADS_1


Wadah tanaman herbal terjatuh. Di depannya seorang anak tengah mengambil tanaman herbal ke dalam wadah. Saat selesai, dia segera berdiri dan mendongak.


"Maafkan aku karena tidak sengaja menabrakmu. Aku benar-benar terburu--"


Ucapannya terpotong. Dia tidak lagi mengeluarkan kata. Yang ada hanya mata dan mulut terbuka sempurna.


Amdara hanya diam menatap datar orang di depannya. Dia yakin di depannya adalah teman lama. Hanya saja tinggi serta penampilannya sudah berbeda.


"Tidak apa-apa, Atma."


Suaranya masih terdengar tenang dan sama di telinga Atma.


"Kau ... Luffy?"


"Mn."


Atma langsung menjatuhkan wadah dan menghambur ke arah teman lama ini. Dia sampai mendekap erat.


Amdara berkedip dan menepuk punggung lawan bicara pelan, mencoba menenangkan.


"Sudahlah."


Atma melepas pelukan saat mendengar satu kata barusan. Dirinya memegang bahu bocah berambut putih yang sudah lebih cantik di hadapan.


"Kapan kau kembali? Mengapa tidak pernah mengunjungi kami? Kau baik-baik saja selama pelatihan 'kan? Tidak cedera atau disiksa oleh Tetua 'kan?" Atma bertanya tanpa henti.


Amdara menggeleng sebagai respon.


Pandangan Atma menurun. Dia tersenyum kecut.


Amdara menaikkan sebelah alis melihat raut wajah berbeda dari teman. Dirinya melepas tangan Atma dari bahu. Pandangannya beralih ke wadah berisi tanaman herbal.


"Kau ceritakan nanti. Atma, kau sedang terburu-buru bukan?"


Perkataan Amdara menyadarkan Atma yang langsung menepuk dahi. Dirinya segera mengambil wadah dan mengedarkan pandangan.


"Aku hampir saja lupa. Luffy, katanya Tetua Rasmi dan Tetua Genta terkena racun. Jadi aku dipanggil untuk mencoba menyembuhkannya."


Atma menemukan ruang pengobatan Tetua. Dia segera beranjak dan berkata, "Luffy kau jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali!"


Atma memasuki ruang dengan pintu corak awan putih dan memiliki ukiran berbeda tersendiri.


Sepertinya memang sudah banyak hal yang terjadi di Akademi. Atma yang dulu sering diremehkan, sekarang dipercaya untuk membuatkan obat-obatan di Akademi. Sungguh kemajuan yang luar biasa!


Mengingat obat, Amdara jadi teringat bahwa dirinya pernah meminjamkan Atma sebuah kitab. Dia jadi ingin melihat langsung Atma memproses obat-obatan.


Dia berjalan menuju ruang pengobatan Tetua, akan tetapi seseorang mencegahnya.

__ADS_1


"Aku ingin membantu Tetua."


"Nak, kau sebaiknya pergi. Biarkan kami yang bekerja."


"Tidak. Aku---"


"Kau tidak bisa melakukannya. Berhentilah membuat keributan."


"..."


Amdara hanya mengepalkan tangan, menatap dingin lawan bicara yang menyuruhnya segera pergi.


Tangan Amdara menyentuh dinding, saat itu juga menghilang dan muncul di dalam ruang pengobatan Tetua. Di ruangan itu nampak Tetua Widya membantu mengeluarkan racun di dalam tubuh Tetua Rasmi, sementara Tetua Genta sedang dicoba diobati Atma yang cukup serius dalam menangani. Nampaknya kekuatan Atma sudah aktif.


Beberapa murid perawat juga sibuk memeriksa dan membuatkan obat. Seperti Orion yang sedang menumbuk tanaman herbal.


Amdara mendekati Tetua Rasmi, kedatangan yang baru diketahui membuat Tetua Widya terkejut. Aura yang dibawah anak ini sangat berbeda dari terakhir yang dilihat.


"Kau? Mengapa bisa di sini? Ah, sebenarnya apa yang terjadi? Tetua Rasmi belum sempat menceritakannya padaku, tapi dia sudah tidak sadarkan diri. Kau ada bersama mereka kan?"


Amdara memberi hormat. Dia melirik Tetua Rasmi yang napasnya mulai tidak beraturan. Tetua Widya juga nampaknya tidak memiliki harapan, hanya saja dia tidak mengatakan apapun.


"Tolong, biarkan aku mencoba."


Bukannya menjawab, Amdara malah mendekat ke arah Tetua Rasmi dan meletakkan tangannya di dahi. Dia berkonsentrasi tanpa mempedulikan tampang Tetua Widya saat ini.


Napas tidak beraturan, menandakan saat ini paru-paru telah terkena racun. Aliran darah yang mulai tidak stabil, juga demikian. Amdara memeriksa bagian jantung, sudah terkena sedikit racun yang sebentar lagi akan menyebar.


Amdara terkejut, dahinya mengerut tidak bisa menyembuhkan menggunakan kekuatan.


Tetua Widya tahu, dia menurunkan pandangan. "Aku belum pernah melihat racun kuat ini. Aku tidak tahu harus berharap pada siapa."


Amdara tidak mengeluarkan sepatah kata. Dalam hati terus menyalahkan diri sendiri.


"Racunnya sudah menyebar luas sampai ke jantung. Tidak ada harapan. Tenaga obat telah dikerahkan, tapi tidak mengubah apa-apa. Aku tidak mungkin mencari Tetua Haki yang tengah menjalankan misi lain di tempat jauh."


Tetua Widya tahu racun ini dari Sekte Tengkorak Racun yang tidak memiliki penawar sampai sekarang.


Orion membawakan ramuan yang telah ditumbuk. Perlahan meteskannya ke mulut Tetua Rasmi. Dia harap ada keajaiban, tetapi semuanya sia-sia. Bahkan Orion sebenarnya sudah putus asa, tetapi dia tidak ingin terlihat menyerah di hadapan Tetua Widya yang sedang bersedih.


"Keadaan Tetua Genta juga sama persis. Racunnya benar-benar akan merenggut nyawa mereka."


Tetua Widya memijat kepalanya. Entah apa yang harus dikatakan kepada Tetua Besar Moksa nanti.


Terlihat Tetua Genta dibaringkan di ranjang tidak jauh. Dia juga sudah berusaha disembuhkan. Beberapa obat, mantra, serta kekuatan untuk menyembuhkan racun tidak ada yang berhasil.


Di sana, Atma nampak berkeringat dingin. Dia meracik sebuah obat lagi dan lagi.

__ADS_1


"Maafkan, aku." Amdara menunduk sedih. Tetua Widya yang mendengarnya menaikkan sebelah alis dan mendongak.


Amdara kemudian kembali berbicara, "seharusnya aku tidak telat. Maka mereka tidak dalam keadaan seperti ini. Mereka terkena racun karena aku terlambat."


__ADS_2