Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
236 - Siapa Kau Sebenarnya?


__ADS_3

Desir angin berhembus menyentuh wajah putih gadis muda yang masih berada di depan Siluman Naga Air. Ikat kepala bercorak naga masih setia terpakai. Apalagi rambut putih tidak biasa, cukup membuat beberapa orang terdiam dengan pikiran mendalam.


Seperti Tetua Rasmi yang menatap Amdara berbeda. Dia tahu bahwa Amdara adalah keturunan Legenda Sang Langit.


"Apa yang ingin bocah itu lakukan?"


Ada aura tidak biasa terpancar. Walaupun Amdara tengah mengalami luka dalam.


Siluman Naga Air sesaat tidak marah. Mata merah darah nya menatap tubuh kecil Amdara. Mata itu mulai menurun. Aura menekannya ia lepaskan. Bahkan petir dan akan gelap mulai memudar. Ombak juga sudah mulai tenang.


"Jangan sia-siakan kekuatan kalian hanya untuk menyerang. Walaupun kekuatan kalian di satukan, kekuatan Naga Air jauh lebih besar."


Suara gadis muda tersebut membuat semua orang terdiam. Memikirkan ucapan yang kemungkinan besar sangat benar. Mereka mengadapi Siluman tidak biasa. Walau menyatukan kekuatan, belum tentu akan menang. Yang ada tewas bersama-sama.


"Hei, Nak. Lalu apa kita hanya diam dan menunggu Siluman itu memakan kita semua?"


"Kau jangan bercanda! Cepat menjauh dari Siluman berbahasa itu!"


"Benar-benar seorang bocah. Tidak bisa membedakan bahasa besar!"


Amdara mendengarnya dengan sangat jelas. Dia tahu, akan ada banyak penolakan. Tapi dia akan melakukan sesuatu.


Dirinya membalikkan badan. Menatap Naga Air. Menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Mata merah darah itu menatap Amdara. Aura nya yang terasa tidak membahayakan membuat anak manusia tersebut tersenyum. Bibirnya buka suara pelan.


"Dia sebenarnya tidak ingin menyerang."


Naga Air mendengus sampai mengeluarkan angin dingin menerpa wajah anak manusia di depan.


Amdara diam. Tangannya tiba-tiba terurur tanpa ragu. Mulai menyentuh pipi Siluman Naga Air. Kontan siluman tersebut tersentak sampai matanya melotot merah, akan tetapi tidak menyerang.


"Tenanglah. Tidak akan ada yang menyerangmu lagi."


Amdara mengukir senyum tipis. Mengelus-elus pelan pipi Naga Air yang terasa kasar dan keras.


Ada perasaan lega saat Naga Air tidak menyerang saat dia melakukan tindakan tidak terduga.


Orang-orang yang melihatnya terkejut bukan main. Sampai Tetua Rasmi hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan akibat terlalu syok melihat muridnya itu.


"A-apa? Bagaimana Luffy melakukannya?"

__ADS_1


Tetua Rasmi menelan ludah susah payah. Tidak pernah terbayang akan melihat kejadian langka seperti ini.


Memang kejadian yang sangat langka. Orang-orang di sana juga tidak pernah memikirkan ada manusia yang bisa melakukan hal seperti Amdara.


"Lihat itu, silumannya tidak menyerang!"


"A-apa dia menjinakkannya?"


"T-tidak. T-tidak mungkin. Terlalu mustahil."


Ada salah satu dari mereka yang menampar pipi akibat tidak percaya. Begitu pula Shi, dia mencubit pipi sendiri. Merintih saat merasakan sakit.


Tatapannya tidak terlepas dari Amdara dan Siluman Naga Air. Dia berkata terbata-bata, "b-benarkah itu Luffy, juniorku?"


"Apa dia sebenarnya pengendali siluman?" Ucapan seseorang di samping Shi membuatnya kontan menoleh, terhenyak.


Orang berjubah hitam, dan mengenakan caping dengan kain biru tua tersebut berbicara pada rekan di samping.


"Sangat mustahil manusia biasa bisa melakukannya. Sekalipun orangnya adalah pengendali siluman."


Dari suaranya, dia adalah wanita dewasa. Orang yang menggunakan jubah senada ada tiga, saling memikirkan sedikit kemungkinan.


Satunya lagi menyahut, "menarik. Sangat bagus jika memang benar dia adalah pengendali siluman."


"Beri pesan pada Tetua. Ini adalah berita besar," suara perempuan yang merupakan rekannya memberi penuturan.


Ketiga orang berjubah itu sampai tidak sadar bahwa Shi sedari tadi mendengarkan. Air muka Shi sedikit berubah dengan perasaan tidak enak. Pikirnya mengatakan ketiga orang itu tidak memiliki niat baik terhadap juniornya.


Shi baru hendak membuka suara, akan tetapi suara air yang dihantam sesuatu yang besar hingga membuat guncangan pada kapal, membuatnya segera menoleh ke arah Naga Air yang masih diam dielus Amdara.


Mungkin dari banyaknya ekspresi, hanya tampang Cakra saja yang tidak terlalu menampakkan keterkejutan. Cakra hanya berkedip melihat kejadian ini. Dia mengatur napas pelan.


"Berapa banyak rahasiamu?"


Dia memandang Amdara berbeda. Cakra sedikit menurunkan pandangan, mengingat dirinya merasa jauh lebih lemah dari Amdara. Dia yakin, Amdara memiliki kekuatan sangat besar di dalamnya. Hanya saja gadis muda tersebut tidak ingin menunjukkan. Entah mengapa Cakra seyakin itu.


Bisa benar bisa salah pemikirannya. Saat ini Amdara sedang berusaha menenangkan siluman di depan.


Masih terlihat ada bekas darah di sela-sela wajah kasar Naga Air. Meskipun matanya telah pulih, karena regenerasi tubuh yang luar biasa. Tapi Amdara yakin, sebelumnya siluman ini memang merasakan sakit akibat diserang.

__ADS_1


"Maaf sudah membuatmu kesakitan," katanya tanpa nada. Amdara mengeluarkan sebuah pil, menyodorkan pada subjek di depan.


"Ini sebagai tanda maaf. Aku tidak memiliki apa-apa."


Siluman tersebut melirik sekilas, dan mendengus. Pil itu bahkan tidak akan bereaksi jika dia memakannya. Yah, Amdara tahu itu.


Dirinya berdehem dan berkata, "terima saja. Dan jangan serang kami."


Amdara tidak merasa takut saat mengatakannya. Dia seperti berbicara dengan manusia yang dikenal.


Tindakannya lagi-lagi mengundang kesyokkan luar biasa. Siapa sangka, tiba-tiba Siluman Naga Air menjulurkan lidah dan mengambil pil sangat kecil itu dari tangan Amdara. Menelannya tanpa melawan.


Amdara tersenyum, tapi kali ini senyumnya agak berbeda. Perasaan Siluman Naga Air mendadak tidak enak.


Dia mendekat ke arah telinga Naga Air. Mengeluarkan suara yang langsung membuat Naga Air merinding.


"Bagus. Tubuhmu dan kekuatanmu sangat besar. Sangat disayangkan jika tidak digunakan. Jadi ... tolong bantu kami."


Suara Amdara tidak bisa didengar saat sedang berbicara dengan Siluman Naga Air. Orang-orang berpikir itu karena kekuatan binatang tersebut. Kini dilanda kebingungan dan kekhawatiran, melihat Amdara yang tampak langsung naik ke atas kepala Siluman Naga Air.


Namun, mendadak Siluman Naga Air menggerak-gerakkan ekor, menghasilkan angin kejut. Menggeram marah, tapi melihat seringai Amdara membuatnya terdiam.


"Cepat. Atau kubunuh kau."


Suara menekan dan membuat sedikit getaran Naga Air dari dalam pikiran. Segera menurut, dan mendekatkan kapal menggunakan ekor.


Semua orang terkejut, waspada dan hendak menyerang. Tapi melihat tangan Amdara terangkat membuat mereka mengurungkan niat.


"Naiklah ke kapal. Naga ini akan membantu kita."


Sontak semua pandangan orang-orang terlihat berbeda. Ada banyak pertanyaan, ada kekaguman juga.


Tetua Rasmi tersadar, dia akan menanyakan ini nanti. Dia mengedarkan pandangan, ada beberapa orang yang masih ragu naik ke kapal.


Suaranya lantang saat bersuara, "Ayo naik. Kita akan sampai di Kota Pelita dengan cepat. Siapa pun yang tidak mau naik, kita tinggalkan saja."


Tetua Rasmi melesat ke arah kapal. Beberapa orang juga langsung naik tanpa kembali berpikir.


Kekuatan alami sebenarnya tengah menyelimuti Amdara, menyembuhkan luka dalam dan memulihkan kekuatan. Naga Air mengeluarkan kekuatan untuk melindungi kapal. Setelah nya menggunakan kekuatan itu melesat dengan cepat. Luar biasa cepat, sampai orang-orang di kapal ada yang langsung mengeluarkan isi perut.

__ADS_1


Kapal tersebut sudah melesat cepat, tapi Naga Air dan Amdara masih belum bergerak. Sampai akhirnya suara geraman terdengar.


"Ggrrr. Siapa kau sebenarnya?"


__ADS_2