Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
49 - Fakta Tersembunyi


__ADS_3

Suara seperti orang yang menjerit kesakitan, tidak hanya satu tetapi ada seperti ratusan. Hawa aneh tiba-tiba saja terasa, bahkan Amdara sendiri dapat merasakannya. Bulu kuduk ketiga orang itu yang bergeming itu seketika berdiri. Mereka saling pandang, menelan ludah susah payah.


Padahal sebelumnya Senior Fans tidak melihat ada seorang pun, tetapi dari mana suara itu berasal?


Cukup lama suara tersebut mulai mereda. Tetapi degub jantung Inay belum juga kembali normal. Dia sampai berpegangan tangan pada Amdara.


Senior Fans tidak tahu jika hal tak terduga ini terjadi. Dia berniat memastikannya.


"Tenanglah. Kalian tunggu di sini, biar aku yang masuk."


Amdara menoleh, mendengar perkataan Senior Fans membuat Amdara menolak mentah-mentah.


"Tidak. Kita masuk bersama."


"Itu membahayakan."


"Jauh lebih bahaya jika kau sendirian, Senior."


"Kepala batu."


Senior Fans terbang lebih tinggi agar melihat desa ke dalam tanpa membuka gerbang. Inay membawa Amdara menggunakan rambutnya, dia masih berpegangan pada lengan Amdara yang merasa tidak masalah.


Terlihat rumah-rumah pada umumnya, hanya saja sudah banyak yang ditumbuhi lumut dan tanaman liar yang tak terawat. Jelas sekali orang-orang desa tidak melakukan perawatan.


Tidak ada orang, dan seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Semakin memasuki desa, mereka merasa hawa yang mengerikan.


Masih penasaran dengan sumber suara mengerikan sebelumnya, Inay memberikan ide untuk melemparkan batu lagi dan ide tersebut disetujui Senior Fans dan Amdara.


Inay mengambil batu yang cukup besar dan langsung melemparnya pada dalam gerbang desa, menimbulkan bunyi nyaring.


Beberapa saat menunggu, suara yang membuat mereka penasaran muncul. Tepat saat mereka membalikkan badan, sebuah pusaran angin hitam melesat ke arah mereka. Senior Fans langsung menghindar, begitu pula dengan Inay. Yang membuat mereka tersentak adalah pusaran angin hitam itu membawa suara-suara mengerikan. Padahal sebelumnya dari luar mereka tidak melihat dan merasakan kehadiran pusaran angin hitam ini, tetapi mengapa saat berada di dalam mereka baru melihatnya?


"Menghindar!"


Pusaran angin hitam melesat ke arah Inay dan Amdara. Nyaris saja dua bocah itu terbawa pusaran jika saja Senior Fans tidak dengan cepat menarik mereka menggunakan kekuatan.


Pusaran angin hitam semakin cepat mengejar ketiga orang itu yang juga melesat dengan cepat. Seakan memiliki pikiran sendiri, pusaran angin hitam bahkan terus mengikuti mereka. Ada pertanyaan sama di benak mereka sekarang. Apakah mungkin jika dari luar apa pun tidak akan terlihat tetapi jika sudah masuk ke desa baru akan terlihat sama seperti pusaran angin hitam ini?


"Pusaran angin apa itu?!"


Senior Fans memfokuskan pikiran, mencoba menganalisis sekitar. Siapa tahu ada hal tak terduga lainnya.


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Inay. Mereka merasakan degub jantung yang kian menjadi. Ketegangan terjadi, mereka terus menghindari pusaran angin hitam. Apalagi suara-suara mengerikan itu membuat ketiganya merinding. Senior Fans melayang dan beberapakali melewati gang kecil untuk menyulitkan pusaran angin hitam tetapi yang ada malah rumah warga yang rusak.


Tidak ada cerita mengenai hal ini dari Kepala Desa. Fakta tersembunyi ini membuat Senior Fans, Amdara, dan Inay terkejut bukan main. Mungkinkah ada lagi fakta lain yang akan terkuak?


Senior Fans meningkatkan kecepatan dan langsung bersembunyi di balik gedung tinggi. Beruntung sepertinya pusaran angin hitam itu tidak mengejar dan entah pergi ke mana.


Baru saja Senior Fans dan Amdara mengembuskan napas lega, Inay langsung mengatakan bahwa kepalanya pusing.

__ADS_1


"Dadaku terasa sesak. Senior, aku ingin mengeluarkan isi perut ...."


Belum sempat keduanya merespon, Inay tiba-tiba mengeluarkan isi perut yang berupa gum*alan da*ing hitam.


Kekhawatiran jelas tercetak di wajah mereka. Hampir saja Inay terjatuh andai tidak segera Amdara pegang.


"Inay, apa yang terjadi padamu?"


Inay menggeleng saat diberi pertanyaan. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas.


Amdara yang melihat gu*palan da*ing itu merasa ada yang salah. Belum sempat berpikir lagi, kepalanya tiba-tiba terasa pusing, perutnya mual, dadanya sesak sama seperti yang dirasakan Inay.


Senior Fans juga sama. Dia mencoba menenangkan diri dan mengontrol kekuatannya. Senior Fans mengedarkan pandangan, seakan ada sesuatu yang tengah mengintai mereka. Perasaan Senior Fans jadi sangat tidak enak. Dia segera membawa Amdara dan Inay terbang ke tempat yang lain.


Senior Fans mendarat di salah satu atap rumah warga yang terlihat tidak banyak lumut.


Perasaan Senior Fans, Amdara, dan Inay jauh lebih baik. Amdara juga tidak lagi merasa dadanya sakit dan pusing.


Ini masih siang hari tetapi tidak mengurangi kengerian yang terlihat pada desa Bumi Selatan ini.


Senior Fans langsung membantu memulihkan tubuh Inay. Dia menatap Amdara saat bocah itu bertanya, "Senior, apa yang sebenarnya terjadi?"


Senior Fans menggeleng, tidak tahu.


Bocah berambut putih itu cemas jika mereka akan terserang penyakit menular.


"Pusaran angin itu."


Senior Fans membantu Inay memulihkan diri menggunakan kekuatannya sambil memeriksa luka dalam Inay. Dia menatap Amdara penuh tanda tanya.


"Senior, mungkinkah pusaran itu yang membuat kita merasa sesak dan pusing?"


Pendapat Amdara tidak langsung dibenarkan. Senior Fans menarik napas dalam. Di keadaan seperti pun, walaupun kekhawatiran menyerang tetapi Amdara dan Senior Fans masih mempertahankan ekspresi tenang.


"Aku tidak yakin."


Pasalnya mereka merasa sesak dan pusing saat berada di gedung tinggi dan setelah pusaran angin hitam tertinggal.


Amdara sangat khawatir. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Mereka seperti berada di desa mat*, dan udara yang membawa kemat*an.


"Kak Inay, kau baik-baik saja?"


Amdara bertanya cemas melihat wajah Inay yang sudah pucat dan terlihat tidak bertenaga walaupun sudah dipulihkan oleh Senior Fans.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


Inay mencoba tersenyum, tetapi sesaat berikutnya Senior Fans terlonjak kaget. Dia langsung menarik tangan dari punggung Inay dan berekspresi sulit diartikan.


"Senior, ada apa?"

__ADS_1


Senior Fans menatap Amdara dan dirinya langsung memeriksa tubuh Amdara. Setelahnya wajah Senior Fans terlihat lebih baik. Dia berkata, "Inay, apa yang kau rasakan?"


Inay menggeleng. "Aku hanya lemas. Senior, biarkan aku istirahat sejenak."


Senior Fans mengatakan agar Inay tidak menutup mata dan meminta Amdara agar terus mengajak Inay berbicara. Tidak tahu alasannya tetapi Amdara melakukan sesuai perintah. Senior Fans sendiri mengeluarkan cahaya dari tangannya dan langsung mengobati tubuh Inay yang menurutnya ada yang mengganjal.


"Kak Inay, apa kau benar baik-baik saja?"


Amdara memegang lengan Inay. Dia melihat perubahan pada wajah Inay. Amdara lagi dan lagi menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa melakukan apa pun dan malah merepotkan orang lain. Dirinya mengepalkan tangan kuat, dan malah melamun sendiri.


*


*


*


Sebuah ruang hampa muncul, Amdara yang tengah duduk sendiri sambil melamun ada di sana. Tetes demi tetes air dari atas berjatuhan, menyentuh kulit Amdara.


Tak ada siapa pun di sana, namun sebuah angin beling biru tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Amdara.


Amdara tersentak, dia menoleh ke arah angin biru yang seperti mirip dengan jurusnya akan tetapi ada suara di sana. Suara mengerikan yang sebelumnya dari pusaran angin hitam itu sekarang ada di angin beliung biru miliknya.


Amdara langsung mundur, dirinya memandang angin tersebut dengan perasaan takut. Suara-suara mengerikan semakin keras, membuat napas Amdara tidak beraturan. Tubuh bocah berambut putih itu seakan tidak bisa digerakan, bahkan mulutnya sulit berbicara.


Angin itu semakin mendekat membawa perasaan aneh. Sangat dingin sampai terasa menusuk tulang. Amdara membuka mulut lebar, tak sanggup menahan dingin dan menyeramkannya suara di depannya.


Beliung itu semakin mendekat, Amdara nyaris terbawa jika seseorang tidak memanggilnya.


"Dara. Dara!"


Amdara mendengar, tetapi dia kesulitan melakukan sesuatu. Seseorang terus memanggil namanya keras, Amdara merasakan punggungnya yang amat sakit.


Seketika Amdara menggigil. Napasnya tak beraturan.


"Ada apa denganmu?"


Senior Fans mengguncang-guncang pelan tubuh Amdara dan memanggil. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada adik seperguruannya. Padahal sebelumnya Amdara tengah mengajak berbicara Inay tetapi malah melamun seperti orang mat*.


Keringat menetes di dahi Amdara. Dia menatap Senior Fans dan langsung mengedarkan pandangan. Tidak lagi di ruang hampa, tidak ada angin beliung biru serta suara mengerikan. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Senior, apa yang terjadi padaku?"


Amdara malah balik bertanya membuat Senior Fans mengerutkan dahi dan kemudian mengatakan bahwa Amdara yang dia lihat tengah melamun.


Amdara menepuk pelan pipi, dia mencoba menenangkan diri. Yang dikatakan Senior Fans membuat Amdara kebingungan sendiri.


"Ilusi."


Senior Fans dibuat menahan napas sejenak. Dia sepertinya tahu apa yang baru saja dialami Amdara. Keadaan membuat Senior Fans akhirnya memilih turun dan mengistirahatkan Inay yang masih lemas dan Amdara yang seperti orang ling-lung.

__ADS_1


__ADS_2