
"Tetua, bukan begitu---"
"Lalu bagaimana? Apa kau tidak ingin mengikuti pertandingan ini karena statusmu dari kelas Satu C? Jika itu, maka aku bisa memindahkanmu ke kelas Satu A," sela Tetua Rasmi cepat.
Amdara menggeleng. Dia baru membuka mulut, tapi Tetua Widya menyerobot dan mengatakan hal yang sangat melencang dari pikiran Amdara sendiri.
"Kau murid yang tidak bisa bersyukur. Nak, dengan mengikuti turnamen ini, kau akan mendapat banyak pelajaran berharga. Sementara yang lainnya tidak akan mendapat apa yang kau dapat dari sebuah pengalaman."
Tetua Genta mengangguk setuju dengan ucapan Tetua Widya. Dia yang sedari tadi diam ikut buka suara untuk menyudutkan Amdara agar bocah berambut putih ini tidak bisa menolak lagi.
Dengan nada dingin, Tetua Genta menatap sambil berbicara kepada Amdara. "Selagi kau masih muda, maka jangan sia-siakan kesempatan langka ini. Kau belajar di Akademi bukankah untuk menjadi kuat dan berpengetahuan luas?"
Amdara jadi tidak ingin berbicara. Ketika mau buka suara lagi, pasti ada dari keempat Tetua yang menyela. Terkecuali Tetua Wan yang sedari tadi tidak ikut campur, hanya saja Tetua Wan merasa Amdara sedang memiliki masalah sehingga dia sampai menolak menjadi perwakilan Akademi Magic Awan Langit.
Suasana yang dirasakan Tetua Wan saat ini adalah panas. Tidak seperti sebelum kedatangan bocah berambut putih ini.
Tetua Rasmi, "jika bukan karena hal itu, maka apa alasanmu sebenarnya?"
Tetua Haki, "Nak, kau jangan khawatir dengan pelajaran yang akan kami berikan kepadamu. Kami pasti akan mengajarimu dengan sangat baik."
Tetua Widya, "yang dikatakan Tetua Genta benar. Ini adalah kesempatan langka. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya."
Tetua Genta, "sudahlah, kau terima saja. Kami tidak menerima sebuah penolakan dalam alasan apa-pun lagi."
Amdara hanya menarik napas dalam mendengar semua ucapan keempat Tetua. Amdara dalam hati meminta maaf kepada Inay karena sepertinya dia akan kalah debat dan tidak bisa lagi memiliki alasan untuk menolak.
Amdara dengan cepat mengatakan sesuatu selagi keempat Tetua tidak buka suara.
"Aku menolak bukan karena dari kelas Satu C, atau ragu dengan keputusan Tetua atau pun pelajaran yang akan diajar oleh Tetua. Namun---"
__ADS_1
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar. Semua orang di dalam ruangan tersebut terdiam, sebelum akhirnya Tetua Widya berdiri dan melangkah menggeser pintu. Seorang murid mengatakan sesuatu, hingga Tetua Widya mempersilakan seseorang masuk dan membuat terkejut Amdara.
Orang itu merupakan Senior Fans yang entah dari mana sebelumnya dia pergi. Senior Fans melirik Amdara yang masih tidak percaya dengan kehadirannya, terlihat dari tatapan mata.
Pria itu memberikan hormat kepada kelima Tetua lalu berkata, "junior memberi hormat kepada para Tetua. Aku Fans, paman Luffy yang baru bisa datang ke Akademi."
Sekarang keterkejutan terlihat di wajah kelima Tetua yang saling pandang sebelum memerhatikan Senior Fans dan Amdara secara bergantian.
Senyuman tipis Tetua Haki terbit. Karena sudah satu jam lamanya tapi Amdara masih kekeuh dengan keinginannya yang menolak menjadi perwakilan Akademi. Tetua Haki sampai merasa lelah dan bingung harus mengatakan apa lagi kepada bocah yang dia pilih ini. Walaupun Tetua Genta, dan tetua lainnya sudah buka suara dan memojokkan Amdara, tapi seolah Amdara tidak goyah sama sekali. Jika para Tetua itu memberikan sedetik waktu untuk berbicara, Tetua Haki yakin mereka pasti akan kalah debat. Perasaan itu nyatanya dirasakan juga oleh Tetua Genta dan Tetua Widya serta Tetua Rasmi yang sudah sedari tadi menggertakkan gigi sambil memasang wajah marah.
Kedatangan paman Amdara tentu adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan oleh Tetua Haki. Dengan suara yang sedikit mengandung rasa kesal dia buka suara kepada Fans.
"Kebetulan sekali kau datang. Akan sangat bagus jika kau sendiri yang membujuk keponakan keras kepala ini."
"Iya. Itu terjadi saat pertama kali dia memasuki Akademi tanpa terdeteksi segel pelindung." Suara Tetua Haki membuat Fans tersedak dan sontak langsung menolehkan pandangan ke arah Amdara yang diam tanpa ekspresi. Tetua Haki mengembuskan napas, dia lalu berujar tenang, "sekarang dia juga membuat masalah dengan berdebat dengan kami. Apa kau tidak mengajari keponakanmu agar menurut kepada orang tua?"
Tatapan Tetua Haki yang seolah sudah kesal dengan Amdara membuat Fans merasa tidak enak. Seorang Tetua berkata demikian pasti memang sudah terjadi masalah perdebatan. Sementara Tetua Genta yang hendak meminum teh mendadak berhenti, melirik Tetua Haki sambil berkedip.
Dalam hati Tetua Genta berkata, "apa kau sudah kesal menghadapi perdebatan bocah ini?"
Tidak biasanya Tetua Haki sampai dibuat berkata seperti itu. Ketiga teman Tetua Haki tentu saja terkejut. Mereka menatap Tetua Haki penuh tanya. Untuk Tetua Wan, dia masih diam mencerna situasi.
"Maaf, Tetua. Keponakanku ini memang keras kepala. Tapi dia pasti memiliki alasan sampai tidak menurut," kata Fans sopan sambil melirik Amdara. Dia lalu berujar, "Tetua, kalau boleh tahu masalah apa yang diperbuat keponakanku?"
Tetua Haki mengembuskan napas. Dia malah menyeruput teh sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Fans terkejut.
"Luffy kami pilih untuk menjadi salah satu perwakilan Akademi ini untuk mengikuti Turnamen Magic Muda yang akan dilaksanakan tiga tahu lagi "
__ADS_1
"Tapi dia malah menolak. Haish, bukankah keponakanmu ini sangat tidak bersyukur dan menyia-nyiakan kesempatan langka ini?" Tambah Tetua Widya yang langsung membuat Fans menjadi merasa bertambah tidak enak.
Pandangan Fans beralih ke samping, di mana Amdara yang tidak mengatakan apa-pun. Itu berarti yang dikatakan Tetua benar.
"Luffy, apa ada alasan yang membuatmu menolak?" Suara Fans sangat lembut saat bertanya.
Amdara mendongak ke samping, kemudian langsung mengangguk dan buka suara tanpa nada, "aku merasa tidak pantas."
Fans menggelengkan kepala. Jawaban adik seperguruannya ini benar-benar terdengar sangat rendah hati. Padahal Fans sebenarnya tahu apa alasan Amdara menolak.
"Tetua sudah memilihmu dengan ketelitian. Jangan buat mereka kecewa dengan penolakanmu ini. Aku akan sangat bersyukur jika Tetua Akademi melatihmu secara langsung. Sebuah? keberuntungan yang tidak boleh kau sia-siakan, Luffy."
Pandangan Amdara beralih ke mata tajam Fans yang mengangguk. Amdara tidak tahu mengapa seniornya ini malah setuju dirinya menjadi perwakilan Akademi.
"Luffy, kedatanganmu ke negeri ini adalah untuk belajar. Maka gunakanlah waktu dengan sebaik mungkin." Fans menyentuh kepala Amdara yang terkejut. Fans tersenyum dan melanjutkan kalimat. "Ikutilah turnamen ini. Aku mendukungmu."
Amdara mengepalkan kedua tangan. Dia menurunkan pandangan sebelum mengangguk pasrah. Dalam hati masih bertanya-tanya apa rencana senior Fans ini. Dirinya memberi hormat, "baiklah. Aku setuju mengikuti turnamen ini."
Senyuman Tetua Haki, Tetua Genta, Tetua Widya, dan Tetua Rasmi melengkung. Tapi keempat Tetua itu mencoba menyembunyikannya sambil mengalihkan perhatian atau terbatuk pelan. Keempat Tetua itu juga saling melirik satu sama lain, seolah sedang berbicara lewat tatapan mata.
Tetua Rasmi terbatuk pelan. Dia dengan nada yang sedikit dibuat kesal mengeluarkan suara. "Apa harus pamanmu dulu yang membujuk agar kau menurut?"
Fans tersenyum tipis lalu bersuara sambil memberi hormat, "maafkan keponakanku ini, Tetua. Sebagai pamannya aku merasa dia memang butuh banyak didikan lagi dari anda sekalian."
Tetua Haki mengangguk. Kemudian memperbolehkan Amdara pergi untuk beristirahat karena sudah larut. Amdara mengangguk dan izin undur diri.
Setelah kepergian Amdara, keempat Tetua Akademi Magic Awan Langit nampak mengembuskan napas lega bersamaan. Hal tersebut membuat Tetua Wan berkedip beberapa kali. Bahkan Fans sampai menaikkan sebelah alisnya.
Tetua Widya mempersilakan Fans untuk duduk, dia meminta maaf karena sebelumnya belum sempat mempersilakan tamunya ini untuk duduk. Kedatangan Fans tentu mengejutkan Tetua Akademi Magic Awan Langit.
__ADS_1