Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
190 - Bocah Pengemis (2)


__ADS_3

Amdara menarik napas dalam. Dia melirik wanita yang sedang dililit rantai es. Jentiknya bergerak, saat itu juga rantai es menghilang.


Wanita itu merintih kesakitan. Tatapannya kembali menajam ke arah Amdara yang telah berani melukainya.


"Kau ...! Benar-benar bocah sialan! Aku akan membunuhmu sekarang juga. Rasakan ini ...!"


Sebelum hal lebih buruk terjadi, Bocah Pengemis buru-buru menarik tangan Amdara dan melesat dengan kecepatan tinggi. Bahkan Amdara dibuat tersentak.


Sambaran kekuatan yang tidak mengenai mereka membuat lawan berdecak dan semakin marah. Melesat mengejar keduanya.


"Kalian tidak bisa kabur begitu saja! Lihat, aku akan memberikan perhitungan ...!"


Amdara mengepalkan kedua tangan. Saat itu juga sebuah pusaran angin melesat ke arah lawan yang langsung membulatkan mata dan segera menghindar. Tidak sampai di sana, bocah berambut outih itu bahkan membuat pusaran anginnya lebih besar agar lawan tidak bisa mengejar.


Saat merasa sudah cukup jauh, Amdara tersenyum tipis. Tanpa sadar orang yang masih memegang tangannya menatap penuh rasa penasaran.


"Kau memang kuat ya."


Amdara menoleh saat orang di sampingnya berbicara. Dia hanya mengangguk dan berkata, "aku masih belajar."


" ... apa kau belajar di Akademi?"


Amdara kembali mengangguk dan bergumam sebagai jawaban.


Nampak senyuman kecut di bibir Bocah Pengemis. Amdara yang melihatnya jelas merasa aneh.


Keduanya baru mendarat di salah satu lorong yang cukup gelap. Cukup jauh dari keramaian. Tanah yang ada juga becek, ada bau tak sedap menyeruak.


Amdara mengerutkan kening saat itu juga. Dia mengedarkan pandangan, ternyata rumah di sekitar sini sangat sederhana atau lebih tepatnya 'buruk'.


"Nona Muda, aku berterimakasih kepadamu sekali lagi karena sudah menolong."


Amdara menoleh begitu mendengar Bocah Pengemis berbicara. Dirinya menghela napas.


"Tidak masalah. Aku juga berterimakasih karena kau sudah menolongku."


Ucapan Amdara membuat Bocah Pengemis terdiam. Menatap Amdara yang juga menatap. Kedua matanya lawan bicara bertemu. Sampai Bocah Pengemis berdehem dan menggelengkan kepala.


"Yah, dengan begini kita impas kan?"


"Mn."


"... aku tahu. Sekarang sudah aman. Kau bisa pergi."


"Kau tidak mempersilakanku masuk ke rumahmu?"


Bocah Pengemis dibuat tersentak dengan ucapan Amdara yang tidak disangka-sangka. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tidak salah dengar, bukan? Dia yang memintaku untuk mempersilakannya masuk ke rumah. Rumah becek, bau, dan buruk. Dia ... tidak sedang bercanda kan? O-oh, jika kau mau masuk, aku mempersilakan."


Bocah Pengemis jadi merasa sangat aneh dengan bocah berambut putih ini. Dia berjalan duluan, melewati lorong becek tanpa terbang. Kakinya yang tanpa memakai sepatu terlihat sangat kotor karena lumpur hitam. Ada serangga yang berterbangan begitu dia lewat.


Amdara yang melihatnya terdiam. Dia melihat ke arah kakinya yang memakai sepatu putih bersih. Dan mulai melangkah tanpa melayang sedikitpun. Tidak ada rasa jijik sama sekali. Suara langkah kakinya terdengar, membuat Bocah Pengemis menghentikan langkah dan menoleh ke belakang terkejut dengan tindakan Amdara.


"H-hei, kenapa kau tidak terbang? Sepatu dan pakaianmu jadi kotor."


Amdara menghentikan langkah, menatap lawan bicara yang terlihat khawatir.


"Aku bisa membersihkannya."


Jawaban itu membuat lawan jenis terlihat kembali tersentak. Dia menurunkan pandangan, dan hanya bergumam sebelum kembali berjalan. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang aneh.


Dia menghentikan langkah saat tiba di depan rumah ... ah tidak, gubuk reot. Bocah Pengemis mengatakan dia akan masuk, sementara Amdara harus menunggu di luar.


Amdara mengangguk mengerti, dia pikir bocah itu akan meminta izin kepada orang tuanya karena membawa tamu. Amdara mengedarkan pandangan ke sekeliling yang terlihat gelap, berbau, pengap. Siapa pun pasti tidak akan betah tinggal di tempat seperti ini.


Samar-samar terdengar suara dari Bocah Pengemis tadi, dan beberapa suara lain. Selang beberapa saat, Bocah Pengemis keluar dan tersenyum ke arah Amdara kemudian mempersilakan Amdara masuk.


"Maafkan aku. Gubuk ini sangat berantakan."

__ADS_1


Amdara mengangguk paham. Dia mulai masuk ke gubuk tersebut. Bau tak sedap langsung terendus. Amdara terdiam membisu, langkahnya terhenti ketika melihat isi gubuk ini. Hanya ada satu meja, terdapat kantong plastik dan beberapa bambu tempat minum dan tikar yang sudah berlubang. Saat dia mengedarkan pandangan, ada pakaian kusam menggantung di atas. Sangat ... buruk.


Bocah Pengemis yang melihat ekspresi Amdara hanya diam menunduk. Tidak ada kata sepatahpun yang keluar dari mulutnya. Dia pikir setelah melihat gubuk ini, bocah berambut putih ini akan langsung pergi tetapi dugaannya salah.


"Apa aku boleh duduk?"


Bocah Pengemis langsung mendongak, tersentak dengan ucapan Amdara yang terlihat serius.


"A-ah, tentu, Nona. Tapi tikarnya kotor."


"Tidak masalah."


Amdara berjalan mendekat, dan duduk begitu saja di atas tikar tersebut. Dia sama sekali tidak menggunakan kekuatan untuk menciptakan kursi. Tindakannya kembali membuat lawan bicara tercengang.


Bocah Pengemis duduk berhadapan dengan perasaan tidak enak.


Amdara baru akan berbicara akan tetapi sebuah suara dari arah sekat membuatnya terdiam. Kemudian tiga bocah dengan usia kisaran di atas Amdara dan di bawahnya muncul dari balik sekat itu. Penampilannya sama persis dengan Bocah Pengemis ini yang belum diketahui namanya. Mereka semua laki-laki.


Amdara melirik Bocah Pengemis seolah ingin bertanya siapa mereka. Bocah Pengemis itu menggaruk pipi melihat tatapan barusan, kemudian keempat pengemis menghampiri dan duduk begitu saja. Mereka saling diam, canggung.


"A-ah, Nona. Mereka ini keluargaku."


Amdara mengangguk dengan perkataan Bocah Pengemis. Entah mengapa Amdara merasa sikap Bocah Pengemis berbeda dari sebelumnya. Keempat yang disebut keluarga itu menatap Amdara seakan tidak suka. Amdara merasakan hal itu, tapi dia masih diam.


Tidak ingin terus berada di situasi canggung ini, Bocah Pengemis berkata, "a-aku belum memperkenalkan diri. Namaku Nuri. Ini adikku, Nuki."


Nuri memperkenalkan bocah bernama Nuki yang usianya di bawah Amdara. Dia memiliki ciri khas berupa tahi lalat di bawah dahinya. Tatapannya mengarah ke Amdara, tetapi mulutnya tidak berbicara dan dia hanya mengangguk yang dibalas anggukan oleh Amdara.


"Ini Gan, Kakak tertua. Dan Pandu kakak kedua."


Amdara menganggguk sebagai respon. Dia kemudian juga memperkenalkan diri, "Luffy."


Satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Tidak ada jabat tangan di antara mereka. Amdara menghela napas, dia bingung harus mencari topik seperti apa.


Nuri izin pergi mengambil air. Jadi suasananya jadi semakin canggung. Amdara hanya duduk diam, tenang tidak goyah ketika ketiga bocah di depannya terus menatap.


Satu pertanyaan berhasil Amdara keluarkan. Sebenarnya dia jadi cukup penasaran sekarang mengenai bocah-bocah ini.


"Kami para pengemis memang tinggal di tempat seperti ini."


Kata Nuki sinis. Dia seolah memang tidak menyukai Amdara yang terlihat anak orang kaya. Amdara kembali diam, memikirkan topik lain. Nyatanya dia memang kadang kesulitan mencari topik pembicaraan.


"Berbeda sekali denganmu yang pasti tinggal di tempat enak. Nyaman, besar, dan tanpa merasakan kekhawatiran."


Ucapan Gan yang memiliki ciri khas dengan rambut panjang hitam itu membuat Amdara terdiam.


"Orang-orang kaya memang seperti itu," imbuh Pandu dengan helaan napas.


Amdara menatap satu persatu pengemis ini dan tidak menghiraukan perkataan sebelumnya dan malah bertanya hal lain.


"Kenapa tidak bekerja?"


Nuki memalingkan wajah saat menjawab.


"Kami sudah berusaha, tapi mereka selalu menolak dengan alasan kami tidak berpendidikan. Tsk."


"Andai kami tidak dikeluarkan dari Akademi .... " Pandu menunduk. Tangannya terkepal kuat.


"Di mana orangtua kalian?"


Entahlah, Amdara seolah ingin tahu banyak mengenai mereka.


Nuri datang dengan membawa bambu berisi air yang dia letakkan di atas meja, sambil menjawab pertanyaan Amdara.


"Kami yatim piatu sejak kecil."


Nuri duduk di samping Nuki. Tatapannya merunduk.


Amdara cukup terhenyak mendengar penuturan ini. Dia jadi merasa tidak enak karena menyinggung hal ini.

__ADS_1


"Apa pemerintah tidak tidak memberikan apa-apa?"


Yang Amdara ketahui, pemerintah selalu memberikan layanan kepada orang-orang miskin atau pun yatim piatu. Seperti di Negeri Elang Bulan.


Gan tertawa sinis. Dia mengepalkan tangan di atas meja. Tatapannya berubah dingin.


"Pemerintah? Kau mengatakan hal yang sangat mustahil pada saat ini, Nona. Mereka tidak melakukan tindakan yang berguna bagi masyarakat. Hanya mementingkan diri dan orang-orang bangsawan. Kami sudah muak dengan pemerintahan yang ada."


Gan yang paling tua di sini itu kembali berbicara dengan nada kekecewaan.


"Mereka sama sekali tidak peduli pada kaum bawah. Makanya ada kasta yang semakin merajalela, orang kaya selalu menindas orang miskin tapi tidak diberi hukuman. Saat orang miskin melakukan perlawanan, kami yang akan diberi hukuman. Ketidakadilan ini berlangsung entah sampai kapan."


Bahkan Nuri yang sebelumnya cukup tenang sekarang jadi mengepalkan tangan. Tatapan mata yang dingin seperti pertama kali Amdara melihatnya. Aura kebencian ini dapat dirasakan Amdara.


"Hukum pemerintahan memang benar-benar memuakkan." Pandu menimpali. Dia memutar mata malas.


"Jika saja, pemerintah diganti oleh orang-orang bijak. Masyarakat tidak akan mengalami nasib seperti ini."


Amdara diam, tangannya juga terkepal. Kejadian ini seperti pernah dia lihat. Ah, ya. Dia teringat Ang, yang mana pemerintah tidak berbuat adil kepada masyarakat.


Di saat suasana seperti ini, suara aneh terdengar.


Kurrr~


Sontak pandangan Amdara menoleh ke arah Nuki yang semakin menunduk sambil memegang perut. Gan, Pandu, dan Nuri berkedip ke arah Nuki yang wajahnya memerah. Seharusnya dia tidak mengganggu suasana barusan.


"Apa kalian lapar?"


"Kau bertanya hal yang sudah jelas, Nona. Huh, jika kau punya uang, maka berikan saja kepada kami."


Nuki sontak mendongak dan berdecak kesal.


"Nuki, bicara sopanlah kepadanya." Nuri menyenggol lengan Nuki.


Gan tersenyum sinis ke arah Amdara dan berkata, "Lapar atau pun tidak lapar bukankah itu bukan urusanmu? Nona Muda, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Orang tuamu pasti sedang mencarimu."


Nuri menoleh ke arah kakaknya. Dia baru akan menegur karena berbicara tidak sopan pada tamu, akan tetapi melihat tatapan tajam Gan membuatnya tidak memiliki nyali lagi.


Nuki yang mendengarnya mengerucutkan bibir kesal. Niat untuk meminta uang jadi tersingkirkan oleh ucapan kakaknya. Nuki menatap Amdara sambil menyilangkan kedua tangan depan dada.


"Nona Cantik sepertimu pasti berasal dari keluarga bangsawan kan? Yang Kakakku katakan benar. Sebaiknya kau segera pergi, menghampiri kedua orang tuamu."


Nuki jadi ikut menambah dengan perkataan pedasnya.


Nuri bertambah tidak enak kepada Amdara yang tidak mengatakan apa-apa. Dirinya berucap kepada adik dan kakaknya, "Kalian, hentikan. Jangan berbicara seolah mengusir tamu."


"Tamu? Itu tamu milikmu. Sejak awal aku sama sekali tidak mengizinkannya masuk. Tapi kau yang mendesak. Tsk. Dasar." Gan berdecak kesal kepada Nuri. Dia memalingkan wajah setelah melirik Amdara dengan sinis.


Amdara menunduk. Ucapan bocah-bocah pengemis ini memang cukup menyakitkan. Apalagi membahas kedua orangtuanya. Dia semakin mengepalkan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Tanpa disadari mengeluarkan aura tidak menyenangkan.


Amdara mengeluarkan sekantong emas dan meletakkannya di meja.


"Kau benar," ujar Amdara ke arah Gan yang langsung menatapnya kembali. Amdara menarik napas dalam dan kembali berbicara, "Pasti orang tuaku sedang mencariku. Bukan hanya aku bukan?"


Amdara tersenyum, senyuman yang membuat Nuki, Nuri, Pandu, dan Gan tersentak. Suasana di sekitar tiba-tiba saja berubah. Perasaan tidak mengenakan ini membuat mereka kesulitan menelan ludah.


Amdara berdiri, hendak pergi seperti yang diinginkan orang-orang ini.


"Terima kasih atas semuanya, Nuri. Izin pergi."


Amdara tersenyum, tidak menunggu jawaban dari Nuri dia langsung melesat pergi.


Di ruangan kumuh itu, Nuri menghembuskan napas perlahan. Dia berkata, "dia ... memiliki aura menekan begitu kuat."


Teman-temannya juga merasa demikian. Mereka menelan ludah susah payah. Mengingat senyuman tamu barusan dan perasaan tidak menyenangkan ketika dia berbicara.


"A-apa kita akan dalam masalah? Dia pasti mengadukannya kepada orang tuanya."


Ucapan Nuki membuat yang lain diam. Berpikir keras dan berharap hal itu tidak akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2