
Amdara sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Dia terbang cepat agar tidak semakin tertinggal Shi. Masih memainkan seluring dengan Irama Ketenangan.
Suasana sekitar yang sebelumnya ada suara geraman para siluman perlahan hirap. Angin berhembus membawa ketenangan di malam itu, ditemani oleh sang dewi malam. Keheningan, hanya suara seluring menenangkan membuat lebih tenang bagi Amdara.
Dia terus terbang, tetapi Amdara tiba-tiba mengubah irama menjadi irama kematian yang mana secara mengejutkan suara geraman para siluman yang mendengar irama tersebut langsung mencari sunber suara.
Amdara tersenyum, dia sengaja membuat para siluman mendekatinya. Irama kematian ini sangat mengganggu dan juga membuat tubuh terasa sakit.
Tidak butuh waktu lama sampai beberapa siluman melesat menerjang Amdara dengan kekuatan besar.
Namun kecepatan Amdara melebihi mereka, dengan gesit dia menghindar dan memberikan tendangan telak tepat pada mata salah satu Siluman Badak. Terpental saking kerasnya menabrak pepohonan.
Amdara melentingkan tubuh, semakin menggila meniup seluring irama kematian. Ada tiga siluman kuat yang masih menyerang.
Kekuatan berupa lava panas menyembur dari mulut seekor Siluman Lintah, nyaris mengenai Amdara jika bocah itu tidak segera mengelak. Sementara satu Siluman Beruang Berkulit Emas melesat menyerang fisik Amdara.
Amdara membuat perisai pelindung, tetapi langsung pecah saat terkena pukulan Siluman Beruang Berkulit Emas. Amdara langsung menggerakkan rantai es dari bawah tanah, melilit tangan lawan agar tidak sampai menyentuh.
Rantai es melilit seluruh tubuh Siluman Beruang Berkulit Emas cepat. Berontak, tapi kekuatannya tertahan oleh Irama Kematian.
Groaaarr!!
Geraman dari ketiga siluman malah membuat Amdara semakin asik meniup seluring. Bahkan Api Birunya turut membantu Amdara melawan musuh.
"Nona, ini hanya membuang waktu."
Suara Api Biru membuat Amdara menoleh. Didalam pikiran dia berkata, "aku hanya ingin bermain."
Kaki Amdara naik ke atas, saat itu juga sebuah angin beliung muncul mengecoh kedua siluman lain. Amdara menapak pada salah satu dahan pohon. Menikmati suara geraman yang seolah kesakitan.
Beberapa siluman berdatangan lagi. Melihat Amdara yang tengah memainkan seluring, mereka sontak menerjang menggunakan kekuatan masing-masing kuat.
Amdara menghilang, dan muncul kembali dengan melesatkan banyak pedang api dari atas ke arah siluman-siluman itu.
Api membara, membakar pepohonan sekitar. Siluman yang tidak sempat mengelak terkena luka bakar parah. Api yang diciptakan Amdara kekuatannya sudah meningkat.
Sementara siluman yang berhasil menghindar langsung melesat menyerang Amdara dari berbagai sisi. Namun, rantai api tiba-tiba saja melilit tubuh mereka semua secara kilat.
__ADS_1
Panasnya api tersebut melemahkan para musuh yang langsung ambruk sambil menggeram kesakitan.
Di tengah-tengah para siluman yang terkapar tidak berdaya, Amdara terbang sambil terus memainkan seluring. Entah mengapa ini membuat hatinya jauh lebih tenang, dan merasa tidak sendirian.
Walau Irama Kematian ini sungguh hebat fungsinya, akan tetapi bagi siluman-siluman ini tidak terlalu terpengaruh. Itu menandakan mereka siluman kuat. Tapi, semakin lama mendengar semakin kesakitan pula tubuh mereka yang langsung lemah.
Amdara menghentikan memainkan seluring. Seringainya terbit di kegelapan. Tatapan tajam langsung tertuju pada siluman di bawahnya.
Amdara menghilangkan seluring. Menciptakan pedang tajam, melesat ke arah Siluman Beruang Berkulit Emas.
"Harganya pasti mahal."
Dalam sekejap mata, tubuh Siluman Beruang Berkulit Emas tergores. Kulit siluman ini memang sangat istimewa, hingga sulit dikupas.
Amdara mendengus. Mengalirkan kekuatan besar ke pedang, kemudian menebas cepat. Angin kejut tercipta setelah dia menghunuskan pedang.
Siluman Beruang Berkulit Emas menggeram kesakitan. Berontak, tapi Amdara langsung memecahkan jantung. Darah mencuat ke atas, mengenai jubah putih Amdara.
Amdara langsung mengelupaskan kulit emas dari daging. Tindakannya ini membuat siluman lain yang sudah lemas bertambah melemas, tidak berani mengeluarkan suara.
Bunyi pedang bergesekan dengan daging terdengar mengerikan di telinga para siluman. Tapi Amdara sendiri sama sekali tidak merasakan takut.
"Ambil semua inti spiritual mereka."
Titahnya pada Api Biru yang melayang-layang dan langsung melesat. Api Biru mendekati Siluman Lintah, membakar tubuh dan kemudian mengambil inti spiritual.
Dalam gelapnya malam itu, bau anyir menyeruak. Aura kegelapan nan mencekap teramat terasa. Suara dari koyakan, serta geraman kesakitan menjadi penghibur pelita malam.
Untuk menyingkat waktu, Amdara juga menggunakan rantai es untuk mengambil inti spiritual secara paksa. Dia bahkan mengambil benda-benda lain. Seperti taring, kulit, tanduk, dan bulu yang terlihat indah dan juga langka.
Setelah berkutat selama satu setengah jam, Amdara menghentikan aktivitas. Dia mengusap keringat di dahi. Tersenyum melihat semua siluman di dekatnya tewas dengan darah bercucuran. Dia mendapatkan keuntungan besar malam ini.
Jubah berlumuran darah langsung menghilang saat Amdara membersihkannya menggunakan kekuatan air, serta angin.
"Lanjutkan perjalanan."
Amdara melesat ditemani Api Biru. Dia ingin membawa daging siluman kuat untuk dibuat makanan, akan tetapi waktunya telah banyak dihabiskan.
__ADS_1
Tidak lama Amdara melesat terbang, Cakra baru saja sampai di tempat mayat-mayat siluman. Dia menapak di dahan pohon, memperhatikan mayat-mayat siluman yang ditewaskan secara mengenaskan.
Cakra mengerutkan kening, tahu bahwa mayat ini baru saja dibunuh. Pepohonan sekitar yang terbakar, tumbang, serta layu itu membuat dirinya berpikir bahwa yang menyerang bukan siluman kuat, melainkan manusia.
"Dia berasal dari Aliran Hitam."
Pikirnya. Karena hanya orang-orang dari Aliran Hitamlah yang membunuh tanpa belas kasih, liar, dan mengenaskan.
Cakra kembali melesat. Untuk melewati gunung besar ini.
"Dia sudah sampai mana?"
Terlintas bayangan Amdara di pikiran. Cakra menarik napas dalam, mendongak memandang langit gelap.
"Kuharap dia baik-baik saja."
*
*
*
Di sisi lain, masih berada di sekitar gunung. Seorang gadis cantik sudah lama bertarung dengan lima orang berjubah hitam. Jubah hitam itu bercorak matahari di punggung.
Mereka saling bekerjasama secara baik, untuk menyerang gadis kuat itu. Sejak siang, mereka melakukan pertarungan sengit tanpa henti.
Hantaman keras mengenai kepala gadis itu yang tidak sempat mengelak terpental menubruk pepohonan. Keadaannya memprihatinkan. Jubah yang terkoyak, berlumuran darah karena mendapatkan luka. Wajah yang jelas kelelahan menghadapi musuh tangguh.
"Sial. Aku akan tewas jika terus menyerang."
Gadis itu terbatuk darah. Kekuatannya telah terkuras banyak untuk melawan mereka.
Dia menoleh ke arah serong depan. Nampak tiga orang anak telah terluka parah. Sementara satu orang dewasa tewas. Dirinya menggeleng tegas.
"Jika aku pergi, mereka yang akan tewas."
Sebuah pedang melesat ke arahnya. Gadis tersebut menggunakan sedikit kekuatan untuk menggulingkan tubuh. Naas, serangan lain telak mengenai tubuhnya.
__ADS_1
Suara teriakan terdengar memekakkan telinga. Lima orang berjubah hitam tertawa keras, mengira bahwa lawan telah lenyap.