
Amdara kini berada di sebuah tempat yang mana tidak terlihat apa pun selain dinding putih dan lantai air. Dirinya kebingungan dan cukup waspada sejak tadi. Entah masalah apa lagi yang akan menimpanya. Cukup lama Amdara mengitari tempat ini yang seperti tidak ada ujung. Amdara yakin orang yang telah mengirimnya ke sini adalah seorang Tetua dari yang dirinya dengar pasti sangatlah kuat.
"Sebenarnya tempat apa ini?" Amdara mengembuskan napas. Dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan dan melakukan apa pun sekarang. Ini pertama kalinya Amdara memasuki tempat seperti ini. Bahkan Amdara tidak merasakan adanya kehidupan.
"Jadi, siapa namamu?"
Amdara tersentak ketika seseorang muncul dni belakangnya. Dengan cepat dirinya menoleh. Terlihat seorang Tua Bangka mengenakan jubah putih dan memiliki jenggot panjang. Wajah yang mengeriput itu dan mata menenangkan cukup membuat Amdara yakin bahwa dia bukan orang jahat.
Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tetua Besar Moksa yang tanpa ekspresi bertanya pada bocah di depannya.
Tatapan mereka bertemu, mata biru terang dan mata ungu terang saling pandang. Beberapa saat keduanya hanyut dalam pandangan. Ada perasaan tak asing bagi Tetua Besar Moksa saat melihat mata biru langit itu. Tatapan kesepian, ketegasan, dan ketenangan tercampur jadi satu.
Tetua Besar Moksa melibaskan tangan dan seketika itu juga sebuah meja muncul. Dirinya duduk dan masih memperhatikan bocah berambut putih itu yang diam mematung. Sepertinya mereka memang perlu bicara.
"Ini adalah tempat ciptaanku sendiri." Tetua Besar Moksa menjelaskan. "Kau tidak perlu takut. Duduklah."
"Aku tidak takut." Amdara menjawab dingin membuat Tetua Besar Moksa mengembuskan napas lalu mengangguk.
Amdara dengan tenang duduk di depan orang tua itu tanpa mengatakan apa pun. Jelas sekali dia tidak menghormati orang tua itu dan untungnya tetua tidak tersinggung. Topeng kucing hitamnya tidak dilepas, Amdara sama sekali tidak berniat memperlihatkan wajahnya.
Tetua Besar Moksa diam dan melihat gerak-gerik bocah ini cukup tenang dan seperti yang dibilangnya dia sama sekali tidak terlihat takut apa pun. Dirinya juga cukup penasaran dengan bocah ini dari auranya.
Merasa bocah di depannya tidak ingin mengatakan nama, Tetua Besar Moksa akhirnya berkata, "baiklah. Nak, biar ku panggil kau dengan ... Lili?"
Bukan tanpa alasan Tetua Besar Moksa memanggil Lili. Itu karena Amdara memiliki rambut putih indah. Dan kembali mengingatkan dirinya pada seorang muridnya dahulu.
Amdara mengangguk pelan. Dia rasa jika tidak mengatakan namanya, mungkin masalah lain dan hukuman tidak akan menimpanya nanti.
"Apa kau murid sekolah Awan Magic?" Dari yang terlihat, Amdara mengenakan jubah biasa. Tentu hal ini dijadikan pertanyaan.
Amdara kembali mengangguk sebagai jawaban.
Tetua Moksa hanya tersenyum ketika melihat anggukan 'Lili'. Entah mengapa dirinya jadi teringat seseorang yang kepribadiannya hampir mirip dan dari aura yang keluar juga ada kemiripan. Entah ini sebuah kebetulan atau takdir yang selama ini dirinya nantikan.
"Nak, kau terlihat berbeda dari murid lain. Apa kau memiliki darah Sang Langit?"
Pertanyaan Tetua Moksa membuat Amdara sedikit tersentak. Terlihat tangannya mengepal dan langsung menunduk. Melihat hal itu jelas membuat Tetua Besar Moksa menaikkan sebelah alisnya sambil mengusap-usap jenggot.
Beberapa saat keheningan terjadi, Tetua Moksa membiarkan bocah di depannya bicara tapi tak kunjung mengatakan sepatah kata.
Tetua Moksa meminta Amdara melepaskan topeng, tetapi kembali bocah tersebut hanya diam.
Yang tengah dipikirkan bocah itu sekarang adalah darah dirinya yang mengalir sampai sekarang tidak dirinya ketahui. Hal ini jelas membuat Amdara mengingat orangtuanya yang sampai sekarang bahkan dia tidak pernah melihatnya.
Kebisuan Amdara membuat Tetua Besar Moksa seperti merasa bersalah. Darah Sang Langit yang dikatakan Tetua Besar Moksa tidak lain adalah seorang legenda yang pernah menyelamatkan dunia dari masalah besar.
Dahulu, ada satu manusia yang berhati suci dan dengan kelapangan hatinya dia bisa membujuk makhluk mengerikan agar tidak membuat masalah di dunia. Nama Sang Langit melambung tinggi, setiap hari bahkan jam ada saja sekumpulan orang-orang yang ingin bertemu dengan dia. Waktu demi waktu berlalu, sebuah kejadian mengerikan kembali datang dan kali ini berniat melenyapkan Sang Langit. Di saat seperti itu, tidak ada orang yang menolong. Bahkan waktu itu Tetua Besar Moksa masih amat muda tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang awalnya melambungkan nama, waktu itu malah menghindar seakan tidak pernah mengenal. Manusia yang disebut Sang Langit itu akhirnya pergi entah ke mana, karena kekuatannya telah tersedot habis oleh seseorang yang tidak menyukainya.
Tetua Besar Moksa menutup mata sejenak ketika mengingat kejadian tersebut. Ada penyesalan di dada karena waktu itu dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kapan Anda melepaskan saya?"
Pertanyaan itu sontak membuat Tetua Besar Moksa tersadar. Dia memerhatikan bocah di depannya. "Lepas topengmu atau paling tidak sebut namamu."
"Setelah itu aku bisa pergi?"
"Tidak."
"Anda bisa memanggil saya sesuai keinginan Anda."
"Nak, sebut saja nama aslimu."
Amdara mengembuskan napas panjang. Dia tidak ingin orang di hadapannya tahu nama aslinya. Bisa-bisa akan kembali terkena masalah. Namun, masalahnya sepertinya Tetua Besar Moksa ingin dirinya mengatakan identitasnya.
"Dara. Murid Sekolah Akademi Magic Awan Langit."
Tetua Besar Moksa tersenyum. Dia tidak menyangka ada murid jenius di sekolahnya. Entah bagaimana kepribadian asli bocah ini, kesan pertama yang didapat Tetua Besar Moksa adalah Amdara bocah baik tapi cukup sulit dikendalikan. Untuk saat ini Tetua Besar Moksa tidak akan bertanya lebih jauh, dia tahu akan sulit berbicara pada Amdara.
"Aku akan menemuimu lagi."
Sebuah cahaya muncul membuat Amdara menyipitkan mata dan menghalau cahaya itu menggunakan tangan. Amdara merasakan ada yang menyentuh kepalanya pelan. Ketika cahaya itu menghilang, Amdara menurunkan tangan dan tersentak saat dirinya melihat di depannya sebuah gedung pengambilan misi. Padahal sebelumnya dia berada di tempat yang diciptakan Tetua Besar Moksa.
Sadar masih menggunakan topeng dan jubah biasa, Amdara memperhatikan sekitar dan ketika tidak terlihat seorangpun dia segera melepaskan topeng lalu mengubah jubahnya menjadi pakaian sekolah.
"Merepotkan." Amdara mengembuskan napas lega.
Dirinya berjalan ke arah sekolah di mana sebelumnya ada banyak murid, tetapi entah mengapa suasananya jadi sepi. Pikiran Amdara masih bergelut mengenai Tetua Besar Moksa yang mungkin akan membawanya terseret hukuman, dan juga mengingatkan Amdara mengenai orangtuanya. Sampai sekarang bahkan dirinya belum memiliki petunjuk.
Dari arah belakang, ada lima orang yang memanggil Amdara sambil berlari tergopoh-gopoh. Amdara yang mendengar menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
Seseorang berambut ungu kehitaman terus memanggilnya dan berlari dengan kecepatan lalu mengguncang-guncang bahu Amdara.
"Luffy, kau dari mana saja?!" Terlihat jelas Inay mengkhawatirkan Amdara. Dirinya tahu bahwa bocah bertopeng kucing yang mengacaukan acara, adalah Amdara. Tetapi tentu Inay penasaran Tetua Besar Moksa membawa temannya ke mana.
__ADS_1
"Ya ampun, aku bahkan sampai mencarimu ke ruang guru!" Bukan hanya Inay. Tetapi Atma juga terlihat cemas, dan juga kesal. Wajahnya yang tampan sedikit cemberut.
"Khakha, kau suka sekali menghilang, ya." Nada tertawa, sampai matanya menyipit.
"Kau membuat kami khawatir, huhuhu." Sementara Rinai tersenyum dengan nada bicara menangis. Ini hal yang cukup membuat bocah berambut putih itu tersentak sebab biasanya Rinai selalu menampilkan wajah sayu.
Amdara berkedip, tidak menyangka teman-temannya akan mencari sampai jauh. Ketika dia berada di Organisasi Elang Putih tidak banyak yang berbicara padanya, bahkan Inay juga sibuk dengan misi sendiri. Di umur muda sepertinya, melakukan sebuah misi adalah sebuah keharusan dan hal itu yang membuat murid yang berbakat Organisasi Elang Putih karena pengalaman. Sebab pengalaman adalah sebaik-baik guru diri sendiri.
"Apa yang terjadi padamu?" Ketua Kelas Dirgan bertanya, dia terlihat tenang saat berbicara.
"Aku tidak apa-apa." Amdara berucap tenang dan setelahnya membuat Inay berhenti mengguncang bahunya. Terdengar hembusan napas lega dari teman-teman Amdara.
Hubungan mereka semakin baik, padahal belum lama mereka saling kenal. Rasa nyaman dan senang saat mereka berkumpul membuat perasaan mereka selalu ingin bersama. Berbeda sekali saat Amdara dan Inay belum memasuki kelas, mereka bahkan jarang berkumpul dan tertawa bersama kecuali di kelas.
Perbedaan itu cukup disadari Ketua Kelas Dirgan. Tentu dirinya senang bisa merasakan pertemanan yang menarik.
"Sebenarnya kau dari mana?"
Pertanyaan Dirgan membuat Amdara berpikir sejenak sebelum menjawab. Atma, Nada dan Rinai pun penasaran dari mana bocah berambut putih itu pergi. Mereka telah mencari beberapa jam ke sekolah tetapi Amdara tidak ditemukan.
Amdara sendiri tidak menyangka bahwa dirinya dibawa ke alam Tetua Besar Moksa sampai beberapa jam. Padahal yang dirasakan Amdara hanya beberapa menit. Perbedaan dunia nyata dan dunia lain memang memiliki perbedaan waktu.
"Berlatih."
Jawaban Amdara agak sedikit ambigu. Tentu mereka terkecuali Inay yang tahu maksud Amdara.
"Berlatih? Kau berlatih di mana? Khahakhaa."
Nada bertanya bertambah penasaran. Begitu pula dengan yang lain, mereka bertambah penasaran.
Amdara melirik Inay petanda dia tidak ingin ditanya lebih jauh. Inay yang mengerti berdehem sebelum menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dirinya kembalikan badan, menghadap teman-temannya.
"Lupakan hal itu. Bukankah yang penting sekarang Luffy sudah ada di sini?"
Inay tersenyum gugup, dia tidak yakin apakah ini akan berhasil atau tidak agar mereka mengalihkan topik pembicaraan. Sebelum mereka mengucapkan sesuatu, Inay terlebih dahulu kembali berkata.
"Kau tahu, penyambutan Tetua Besar jadi kacau karena ulah seseorang."
Kali ini senyuman Inay lebih ke petanda dia mengetahui sesuatu menatap Amdara dalam. Atma, Rinai, Nada, dan Dirgan mengingat kejadian tersebut. Mereka jadi heboh sendiri membahasnya.
"Hei, itu sesuatu yang baru kulihat seumur hidup. Kejadian seorang bocah bertopeng menabrak Tetua Besar. Oh ya ampun, wajahku yang tampan ini sampai terkejut melihatnya." Atma menepuk-nepuk pelan pipinya. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala mengingat kejadian itu.
Inay yang mendengar ucapan Atma mengedutkan mata. Rasa-rasanya Atma senang sekali memuji diri sendiri. Bahkan karena kepercayaan dirinya yang besar itu membuat Inay geli sendiri.
"Huhuhu, itu benar sekali. Pasti dia berandalan kecil di sekolah." Rinai menggeleng-gelengkan kepala.
Inay menarik lengan Amdara dan tertawa. "Dia pasti berandalan kecil dan kupikir dia menyembunyikan wajahnya agar tidak malu."
Amdara kembali tersentak saat tiba-tiba Inay menggandeng lengannya dan saat tatapan mereka bertemu, Inay mengedipkan sebelah mata.
Atma, Nada, dan Rinai kembali mengangguk setuju.
Sepertinya mereka lupa dengan perkataan Inay sebelumnya yang berteriak bahwa bocah bertopeng itu adalah Amdara. Toh, mereka juga tidak yakin akan hal itu. Tentu saja Amdara dipandangan mereka seorang bocah baik.
Berbeda dengan Dirgan yang nampak tengah memandang Amdara sambil berpikir. Tatapan matanya berbeda dari sebelumnya, bahkan Amdara tidak menyadari hal tersebut.
Dirgan mengajak mereka pergi ke kelas, tetapi Atma dengan cepat menolak dan malah mengajak ke tempat pengambilan misi. Mendengar hal itu membuat yang lain tersentak.
"Huh, aku ingin mencari uang. Ketampananku tak akan berguna jika tidak memiliki uang."
Atma menaik turunkan kedua alis dan mengembuskan napas panjang melihat ekspresi teman-temannya.
"Sepertinya kau tengah bermimpi, khakhakhaa."
Nada menanggapinya dengan tertawa, dia memeluk bonekanya erat. Rinai malah tersedak napasnya sendiri mendengar Atma berkata demikian.
"Kau jangan bercanda Atma."
Dirgan menggelengkan kepala saat Atma tak berpikir dengan ucapannya. Mengambil misi, adalah sebuah tanggung jawab besar. Akan tetapi bukan itu permasalahannya sekarang, Atma bahkan belum bisa mengaktifkan kekuatan sampai sekarang. Lalu bagaimana bisa dia melakukan sebuah misi?!
Atma berdecak kesal mendengar perkataan teman-temannya. Dia berlari ke depan, kemudian menghadap teman-temannya sambil berjalan mundur.
"Hei-hei, aku ini pria sejati! Memang seharusnya bekerja lebih dari perempuan!" Atma berucap sambil memukul-mukul pelan dada.
Inay yang masih menggandeng lengan Amdara nampak berwajah kesal. "Kau hanya akan mengantarkan nyawa saat misi. Cih, dan lagi penjaga tidak akan mengizinkan manusia lemah sepertimu mengambil misi."
Kali ini Atma tertohok dengan yang Inay katakan. Seketika Atma menghentikan langkah dan menatap Inay aneh. Yang lain juga menghentikan langkah, Dirgan, Nada, dan Rinai juga berpikir demikian tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa karena itu cukup menyakitkan.
Atma mengembuskan napas. "Lalu apa aku harus menunggu kekuatanku aktif baru bisa mengambil misi? Sampai kapan? Aku hanya ingin mengambil misi sesuai kemampuanku. Lagi pula, dengan mengambil misi akan menjadi pengalaman baru untukku."
Amdara mengerti maksud Atma, tidak mungkin mereka harus menunggu lama hanya untuk mendapat pengalaman baru. Apalagi mereka selama ini hanya belajar di sekolah.
"Kau bisa mendapat pengalaman lain dengan tidak mengambil resiko nyawamu melayang." Inay tidak tahu jalan pikiran Atma. Memang apa kemampuan bocah dengan kepercayaan diri yang tinggi itu?
__ADS_1
"Yang dikatakan Nana ada benarnya. Jangan berpikir konyol hanya demi uang." Dirgan memeringati temannya tetapi Atma langsung membentak.
"Tapi aku sedang membutuhkan uang!"
"Untuk apa?" Amdara bertanya penasaran.
Entah bagaimana latar belakang teman-teman baru Amdara, tetapi dia yakin mereka sebenarnya bukan orang-orang biasa.
"Aku ingin makan dengan kenyang." Atma menunduk dan mengepalkan tangan. Selama ini memang dia jarang makan, ketika ingin mengambil makanan pun selalu ada yang menghalangi.
Setelah permintaan Amdara pada kekalahan Bena, memang jarang ada yang menindasnya lagi. Tetapi rasa trauma itu seakan tidak menghilang, rasa takut dan selalu ingin menghindar dari mereka selalu ada dalam lubuk hatinya.
"Aku ingin membeli seragam baru." Atma menggigit bibir bawah dan semakin mengepalkan tangan. "Dan membeli sumber daya untuk memperkuat tubuh."
Entah ada kejadian apa sebelumnya yang membuat mereka memakai seragam sekolah yang lusuh, berbeda sekali dengan murid-murid dari kelas lain. Untuk sumber daya sendiri, sampai sekarang murid kelas Satu C belum pernah mendapatkan dan bahkan merasakannya.
Mendengar hal itu membuat Dirgan, Nada, Rinai, Inay, dan Amdara tersentak bersamaan. Mereka sama sekali tidak menyangka Atma membutuhkan uang hanya untuk hal tersebut.
Perasaan Nada, Rinai, dan Dirgan mulai mengingat kejadian-kejadian pahit dalam hidup. Mereka juga ingin merasakan sebuah kebahagiaan seperti halnya murid-murid lain. Tetapi keinginan itu selalu tertampar oleh sebuah kekuatan mereka yang tidak bisa diaktifkan.
Amdara mengembuskan napas. Dia merasa tidak enak melihat wajah mereka yang nampak nelangsa.
"Kita akan mengambil misi."
Perkataan Amdara membuat Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada tersentak. Apalagi Inay yang langsung melepas gandengannya. Perasaan Inay mengatakan Amdara pasti akan melakukan hal konyol lagi. Entah itu mengambil masalah atau akan melangkah ke sumber masalah.
"Apa maksudmu?" Inay bertanya, dia menatap Amdara dalam.
Amdara menatap temannya satu persatu, sebelum menjelaskan mereka akan mengambil misi.
"Bersama-sama."
Inay menggeleng cepat. "Hei, yang benar saja. Aku tidak setuju! Itu ide buruk."
"Luffy, kau jangan bercanda." Dirgan tidak menyangka bocah berambut putih itu berkata demikian. Entah itu sebuah candaan atau bukan tetapi Dirgan merasa Amdara terlalu memikirkan keinginan Atma.
Sementara Atma masih membungkam mulut, tatapannya tak lepas dari wajah Amdara.
"Huhuhu, terima kasih sudah menghibur." Rinai merasakan perasaan aneh di dada. Perasaan di mana dia pernah merasakan ini sebelumnya.
"Kita? Mengambil misi?" Nada bertanya tak percaya.
Amdara tak menjelaskan lebih detail. Namun, dia mengajak teman-temannya ke suatu tempat. Tidak mendengar omelan Inay dan pertanyaan-pertanyaan yang lain, Amdara terus melangkah dan membuat Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay terpaksa mengikuti Amdara.
*
*
*
Amdara mengajak teman-temannya ke gedung peristirahatan, awalnya Dirgan, Atma, Nada dan Rinai menolak tetapi Amdara tidak peduli dan mengatakan mereka harus mengikutinya. Inay sendiri sedari tadi terus mengomel, dia sangat kesal dengan yang akan dilakukan Amdara.
Mentari sore datang membawa petang, burung-burung kembali ke sangkar dan bersiap bertemu dewi malam. Dari ufuk timur matahari mulai tenggelam, langit mengubah diri menjadi warna gelap di atas sana.
Di dalam Gedung Peristirahatan, banyak murid yang tengah beristirahat dan juga makan dengan rasa senang. Riuh datang ketika sekelompok murid membawa makanan dengan tenang dan cukup membuat murid-murid lain yang melihat mereka tersentak apalagi melihat seorang bocah yang kemarin baru saja mengalahkan seorang senior.
Gosip dan bisik-bisik tak terelakan di sana, bahkan ada yang tengah membawa nampan tersandung karena pandangannya tak teralihkan dari sekelompok bocah itu.
"Ah, aku memang tampan. Mèreka semua terpesona olehku."
Seorang bocah melibaskan rambut depan percaya diri membawa nampan berisi makanan sambil terus berjalan ke depan mendahului teman-temannya.
Sementara itu bocah yang matanya nampak sendu terus menunduk, antara malu karena dilihat banyak orang atau malah malu karena temannya yang terlihat memalukan.
"Kurasa dia tidak memiliki urat malu. Ah, ya ampun. Kenapa kalian bisa berteman dengan orang sepertinya?"
Pernyataan sekaligus pertanyaan dari seorang bocah berambut ungu kehitaman itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Inay membuat Ketua Kelas Dirgan tersenyum pahit. Dia juga bingung dengan sikap teman-temannya. Selama lima tahun ini, kelas Satu C sepertinya telah saling kenal sikap masing-masing sampai terbiasa dengan sikap mereka.
"Khakhaa, aku juga tidak tahu harus menjawab apa." Nada tertawa, dia berjalan di samping Rinai.
Benar. Bocah-bocah yang kini berjalan mencari tempat duduk untuk makan malam itu dan dibicarakan adalah rombongan Amdara dan teman-teman.
Amdara dengan tatapan datar duduk di sebelah Inay setelah mereka menemukan tempat untuk duduk. Amdara cukup terganggu dengan pandangan orang-orang terhadapnya, tetapi raut wajah Amdara sama sekali tidak berubah.
Berbeda sekali dengan Atma, Rinai, Nada, Dirgan dan Inay yang memiliki ekspresi berbeda-beda. Mereka nampak agak gugup, karena kali ini menjadi bahan pembicaraan yang berbeda dengan biasanya.
Tidak ada penindasan lagi terhadap mereka dan tidak ada yang menghalangi mereka mengambil makanan.
Atma, walaupun memiliki kepercayaan diri tinggi dari yang lain itu kini menatap makanan di atas meja diam. Ingatan mengenai penindasan dan perilaku mereka terhadap dirinya terngiang-ngiang saat itu juga, membuatnya tidak berselera makan.
Sama halnya dengan Dirgan, Nada, dan Rinai yang masih belum menyentuh makanannya. Berbeda dengan Inay yang kini sedang menyuap nasi ke tiga ke dalam mulut.
Amdara yang melihat hal tersebut mengembuskan napas. "Makanlah."
__ADS_1
Dirgan tersenyum sebelum mengangguk. "Ya. Aku akan makan."
"Kurasa makanan ini terlalu malu melihat ketampananku." Atma tersenyum sambil melibaskan rambut depannya dan kemudian tertawa sendiri.