
Saat ini kabar mengenai Tetua Genta dan Tetua Rasmi yang telah tiada telah menyebar ke penjuru ruang Akademi Magic Awan Langit. Banyak murid yang syok berat, dan menangis sangat kencang tidak terima.
Bunga-bunga telah dipersiapkan untuk pemakaman. Dari mereka ada yang ingin melihat wajah dua Tetua itu untuk terakhir kali, berbondong-bondong memasuki lorong.
Namun, Guru Kawi dan Tetua Widya baru saja keluar dari ruangan. Mereka berjalan tenang, tetapi para murid yang melihatnya langsung menghampiri. Wajah mereka terlihat kusut akibat menangis.
"Tetua Widya, kabar mendunianya Tetua Genta dan Tetua Rasmi itu apa benar? Hiks. Hiks. Mengapa ini terlalu mendadak. Aku belum sempat meminta maaf kepada mereka. Hiks Hiks."
"Huhuhu. Siapa yang telah membuat mereka tiada. Huhu. Aku akan membalas kematian Tetua!"
"Benar! Kita harus membalaskan dendam Tetua!"
Masih banyak seruan-seruan dari para murid. Sampai membuat Tetua Widya dan Guru Kawi saling tatap dan berkedip. Mereka kemudian menggelengkan kepala, dan tersenyum kecil.
Guru Kawi bahkan sampai nyaris tertawa. Dia berkata, "siapa yang mengatakannya?"
Pertanyaan itu malah membuat para murid di hadapannya terkejut dan menautkan kedua alis bingung.
"A-apa? Jadi beritanya salah?"
Guru Kawi menyembunyikan senyum dibalik kipas. Sementara Tetua Widya hanya menggelengkan kepala, dia tidak ingin ikut campur.
Tetua Widya berkata, "kau urus mereka. Aku akan mencari anak itu."
Guru Kawi mengangguk paham. Di depannya banyak murid yang masih bingung atas kabar ini.
Salah satu murid pengobatan terkejut dengan perkataan Guru Kawi. Sebelumnya, beliaulah yang mengatakan kematian dua Tetua dan memerintahkan untuk segera membuatkan acara pemakaman. Namun, saat ini perkataannya malah terbalik.
Dia mendekat dan berkata, "Guru, bukankah kau sebelumnya yang mengatakan bahwa Tetua Rasmi dan Tetua Genta telah tiada?"
"Hmph. Berita itu tidak benar. Lihatlah, Tetua Rasmi dan Tetua Genta masih hidup."
Guru Kawi melibaskan tangan, yang mana pintu ruang pengobatan terbuka secara tiba-tiba. Di sana, Tetua Rasmi dan Tetua Genta tengah duduk tenang menatap mereka keheranan.
Para murid yang melihatnya membulatkan mata tak percaya. Salah satu dari mereka berceletuk, "a-apa itu arwahnya Tetua?!"
Sontak saja yang lain dibuat tersentak. Bahkan Tetua Rasmi dan Tetua Genta sampai berkedip. Keduanya saling tatap sebelum menggelengkan kepala.
Tetua Rasmi mendekati para murid yang tiba-tiba saja termundur ketakutan. Hal itu membuat Guru Kawi tertawa kecil, sementara Tetua Rasmi berdecak kesal.
__ADS_1
"Yang kalian lihat sekarang adalah nyata. Manusia. Bukan arwah! Aku masih hidup. Hmph."
Kata Tetua Rasmi menatap tajam para murid yang terbelalak kaget.
"T-tapi beritanya ...."
"Apa kalian percaya keajaiban?" kata Tetua Rasmi tiba-tiba. Dia menyilangkan kedua tangan, teringat Amdara yang telah banyak berubah. Dia berkata dengan senyum tipis di bibir, "sekarang aku percaya. Keajaiban itu ada. Dan keajaiban itu telah menghidupkanku kembali."
*
*
*
"Apa kau melihat anak berambut putih bernama Luffy?"
Tanya Tetua Widya kepada salah seorang murid. Namun, lagi dan lagi murid itu hanya menggelengkan kepala.
"Maafkan aku Tetua. Aku tidak melihatnya."
"Ah, baiklah."
"Bagaimana mereka bisa tidak melihatnya? Luffy pasti terbang atau berjalan. Tapi bisa-bisanya mereka tidak melihatnya. Tsk."
Tetua Widya mencoba mencari hawa keberadaan Amdara, dia memejamkan mata dan memfokuskan pikiran. Tidak jauh darinya, ada aura aneh dan sangat asing. Dia mengerutkan kening, perasaannya mendadak tidak enak. Dia segera membuka mata.
"Aura Luffy ... tercampur dengan aura aneh."
Tetua Widya segera terbang dengan cepat ke arah belakang gedung Akademi. Dia mengeluarkan tanda pengenal, dan menghilang kemudian muncul kembali di ruang bawah tanah. Di sana, suara debaman keras terdengar serta tanah yang mulai retak.
Tetua Widya mencepatkan langkah, dia menyapu pandang. Para tahanan tampak tidak seperti biasanya yang akan heboh minta dilepaskan.
"H-hei, Widya! Cepat kau bawa pergi bocah setengah bangsa itu!"
Teriak salah satu tahanan yang memiliki rambut gondrong dan bertato ular di tubuh. Dia nampak gemetar memegang jeruji cahaya.
Tetua Widya baru akan mendekat, tetapi tanah kembali dibuat bergetar. Angin kejut bahkan sampai berhembus membawa dingin dan panas secara sekaligus. Indra penciuman Tetua Widya merasa ada bau amis tidak jauh darinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
Dengan perasaan gelisah, dia melesat cepat. Saat sampai, matanya disuguhkan sesuatu yang mengerikan. Darah sudah berceceran di mana-mana. Suara jeritan terdengar memilukan. Tubuh tak bernyawa bergelimangan di tanah. Tembok yang berubah es, tetapi ada hawa panas itu membuat Tetua Widya menahan napas.
Dia melihat bagaimana Amdara tanpa berkedip menewaskan satu orang perlahan dengan menjatuhkan lawan menggunakan rantai es berkali-kali.
Bukan hanya itu yang Tetua Widya lihat, akan tetapi aura aneh yang sungguh membuat merinding. Kekuatan mengerikan es dan api yang bisa bersatu tanpa ada perlawanan serta aura gelap yang muncul di bawah kaki.
"Luffy, hentikan!"
Suara lantang itu akhirnya keluar. Tetua Widya mengepalkan tangan, menatap tajam Amdara yang langsung menoleh. Mata biru laut yang selalu dia lihat, kini terlihat ada titik hitam di kedua kelopak mata. Menatap balik tanpa ekspresi. Seperti tidak ada jiwa di dalam tubuh anak itu.
"Luffy, apa yang kau lakukan pada mereka?!"
Tetua Widya mendekat, sudah sekitar lima belas orang terbunuh tanpa belas kasih. Dia menggelengkan kepala tidak habis pikir.
Para tahanan yang masih hidup nampak bergetar ketakutan dengan luka parah di tubuh. Menatap nanar Tetua Widya seolah meminta pertolongan.
Kembali tatapan ke anak di depannya yang masih tidak bersuara.
"Auranya benar-benar tercampur dengan aura gelap. Bagaimana dia bisa memiliki aura segelap ini? Apa ... karena telah membunuh orang-orang aliran hitam sebelumnya dan yang sekarang?"
"Luffy, kau bisa jelaskan."
Titik hitam di mata Amdara menghilang, saat itu juga dia mendengus.
"Aku hanya membayar hutang Tetua Rasmi dan Tetua Genta."
Jelas sekali Tetua Widya tidak tahu apa yang dimaksud. Alisnya tertaut dan lantas bertanya, "hutang apa maksudmu?"
"Nyawa Tetua bahkan tidak sebanding dengan nyawa mereka."
Perkataan Amdara membuat Tetua Widya terdiam, berpikir sejenak. Menatap lekat bocah berambut putih ini yang memang telah banyak berubah, padahal belum lama dirinya bertemu dengan Amdara. Dia juga memiliki banyak pertanyaan saat ini.
"Apa kau marah karena Tetua Rasmi dan Tetua Genta mereka racuni dan tidak bisa disembuhkan?"
" ... Mn."
Tetua Widya menarik napas dalam dan sedikit merasa sesuatu aneh. Pasalnya dia tidak menyangka seorang Amdara yang terlihat tenang bisa menghabisi nyawa orang yang telah membuat Tetuanya tewas.
"Kemarahan di dalam ketenangan, jauh lebih mengerikan."
__ADS_1