Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
75 - Atma


__ADS_3

Perjalanan kembali ke Akademi Magic Awan Langit tidak memakan waktu cukup lama karena Aray mengendarai dengan kekuatan penuhnya. Sampai rasanya jiwa teman-temannya masih tertinggal di sungai.


Atma, Rinai, dan Nada mengeluarkan isi perut tak tertahan setelah keluar dari alat ajaib dan tanpa peduli pada tatapan teman yang lain. Mereka bahkan merasa pusing dan mual tak hilang-hilang.


Dirgan bersandar pada pohon, dia mengontrol pernapasan dan memejamkan mata. Sementara Inay sempoyongan, dia lebih baik terbang dengan kecepatan tinggi daripada menaiki benda aneh yang membawa nyawanya hamir melayang.


Amdara menghirup udara segar. Matahari telah memunculkan sinar dan membawa kehangatan. Rasanya lebih baik ketimbang mengingat Dark World.


Sedangkan si pengendara malah tertawa melihat wajah menyedihkan Atma dan jubah serta rambut yang acak-acakan. Bahkan entah ke mana topeng yang sebelumnya dikenakan.


Waktu yang tersisa satu jam, dan mereka kini berada tak jauh dari Akademi Magic Awan Langit. Terbilang singkat dan mustahil mencari tanaman herbal di Hutan Arwah dalam kurun waktu yang mereka lakukan. Jika orang lain mendengar pun pasti tidak akan percaya.


Sepuluh menit mereka memutuskan istirahat, dan berlanjut jalan kaki menuju Akademi Magic Awan Langit. Sambil bahu membahu karena masih merasa lemas.


Ketika di depan gerbang Akademi, salah seorang penjaga gerbang yang melihat keadaan kelompok kelas Satu C yang kemarin menggemparkan karena berhasil lolos dari pertandingan pertama, dan kini malah terlihat menyedihkan membuat tertawa mengejek.


"Kau lihat, sejatinya mereka memang lemah dan payah. Kemarin hanya keberuntungan, dan sekarang adalah kekalahan yang menyedihkan sama seperti tahun-tahun lalu."


Penjaga gerbang yang merupakan senior itu tertawa bersama kawan-kawannya yang langsung menanggapi setuju.


"Kau benar. Seumur hidup pun, mereka tidak akan jadi berguna. Hanya beban bagi orang-orang."


Tawa mereka semakin keras tanpa mempedulikan Amdara dan keenam temannya yang menghentikan langkah mendengar hinaan-hinaan tersebut.


"Meskipun belajar di akademi, tapi mereka layaknya anak jal*nan. Tak berpendid*kan. Bukankah sia-sia belaja selama ini tapi bahkan tidak bisa mengeluarkan kekuatan secuil pun?"


Amdara mengepalkan tangan, menatap tajam mereka seolah ingin menelan hidup-hidup. Panas sampai terasa di mata Rinai dan Nada yang hanya menunduk. Kedongkolan hati Atma dan Dirgan semakin menjadi, tetapi mereka bisu untuk mengatakan sesuatu.


"Sialan! Bicara sekali lagi, kalian ...!"

__ADS_1


Aray yang tak tahan emosi berteriak dan menatap tajam para penjaga gerbang yang malah semakin melihat dengan tatapan ejekan.


Amdara menarik lengan Aray dan menggeleng, petanda mereka tidak boleh bertindak gegabah.


"Tapi mereka sudah merendahkan kita! Bagaimana mungkin aku hanya diam?!"


Aray menaikkan intonasi bicara di hadapan Amdara yang menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.


"Aku tahu. Tapi belum saatnya membalas."


Amdara menarik jubah Aray paksa, dia berdecak saat Aray yang terus marah-marah dan berteriak kembali memaki para penjaga gerbang dengan amarah memuncak. Dirgan sebagai ketua kelas mencoba menenangkan dengan merangkul bahu Aray dan mengatakan yang dikatakan Amdara ada benarnya. Ada waktu di mana mereka bisa membalas lebih.


Aray mengembuskan napas kasar, dan mengangguk mendengarkan Ketua Kelas Dirgan.


Mereka kembali berjalan, tatapan dari murid yang tidak mengikuti pertandingan menatap mereka remeh. Bahkan dari mereka tak sungkan menyinggung. Hampir saja Aray lolos dari rangkulan Dirgan dan menyerang, untung saja Atma berdiri di sampingnya dan memegang bahu Aray.


"Kau ini sangat pemarah, kawanku. Lihatlah tatapan kagum mereka, yang ingin meminta tanda tangan kita ...!" Atma berseru.


"Tentu saja itu juga karena ada aku yang tampan dan mempesona ini. Kalian, coba lihatlah ketampananku dan terima kasih telah memberikan dukungan pada kelompokku ...!"


Teriakan Atma membuat para murid yang melihatnya menggelengkan kepala dan semakin mencibir. Akan tetapi Atma sama sekali tidak peduli dan malah semakin percaya diri.


Aray yang berada dirangkulan Atma langsung menempis dan memilih berjalan mendahului. Rasa-rasanya Atma lebih membuatnya malu dari yang lain.


Dirgan menggelengkan kepala, dia tahu perangai Atma yang selalu percaya diri pada wajahnya yang terbilang pas-pasan.


"Apa dia kurang melihat diri pada pantulan kaca?"


Inay dibuat berkedip dan mendengus kesal. Dia juga sebenarnya ingin melakukan sesuatu pada para penjaga gerbang, tetapi melihat Aray saja dicegah oleh Amdara, bagaimana dengan dirinya? Jelas Amdara akan menatap lebih tajam.

__ADS_1


Namun, berbeda dengan pemikiran Amdara. Dia yakin Atma sebenarnya juga merasa sakit mendengar perkataan merendahkan, tetapi bocah yang selalu percaya diri itu menutupi dengan mengembangkan senyuman dan seolah kepercayaan dirinya terlihat seperti orang yang kurang bercermin. Padahal, dia melakukan hal tersebut agar teman-temannya juga tidak terlalu hanyut dalam cem**han dari orang lain.


Amdara terkesan, dan segera menyusul yang lain. Amdara lupa tidak memakai topeng kucing, dia malah meninggalkan di Dark World. Entah sadar atau tidak, Aray juga tidak memakainya. Begitu pula dengan Atma, Rinai, dan Nada yang sebelumnya melepas karena tengah mengeluarkan isi perut. Sementara Inay dan Dirgan melepas karena saat keluar dari transportasi merasa gerah.


Ada beberapa kelompok yang telah berkumpul di lapangan. Mereka sepertinya berhasil mendapatkan apa yang tertulis dalam kertas. Beberapa dari mereka bahkan sampai membanggakan diri sendiri pada kelompok lain.


Kelompok kelas Satu C memilih menuju balai istirahat untuk mengisi perut. Tidak peduli lagi dengan tatapan dan perkataan-perkataan menyanyat hati yang tertuju pada mereka. Selagi masih diberi makan, mereka memilih diam dan menyatap tanpa merasa terganggu. Yah, toh sebenarnya mereka juga terlalu lelah.


Di tengah lapangan, telah tersedia dua kursi besar dan tiga kursi lagi berada di belakangnya. Tempat itu untuk duduk Tetua Genta, dan Tetua Widya. Sementara tiga lagi untuk Tiga Guru Besar.


Ada sebelas meja mengelilingi, dikhususkan untuk meletakkan barang pertandingan ketika acara dimulai. Entah apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Sembilan kelompok telah berbaris rapi, dan penasaran dengan pertandingan lanjutan. Di antara kelompok, ada yang terluka akibat mencari barang. Ada juga yang masih terlihat kelelahan dan akhirnya memilih duduk di bawah terik matahari.


Waktu yang tersisa sepuluh menit, kelompok Amdara sedang berjalan ke lapangan dengan santai. Beberapa tatapan micing dari para murid ditangkap Amdara, dia tanpa peduli menegakkan dagu dan menatap ke depan tanpa ekspresi. Berbeda dengan Atma yang malah tebar pesona di saat seperti ini.


Rinai dan Nada dibuat gugup, keduanya memilih menunduk. Mereka tidak memakai topeng kucing lagi karena yang lain juga tidak.


Aray dan Dirgan berjalan paling depan, memimpin jalan dengan tatapan tegas dan terlihat berwibawa. Inay yang baru memperhatikan dengan jelas dibuat tersentak.


Mereka baris dengan rapi dan melihat Tetua Genta, Tetua Widya dan Tiga Guru Besar berdiri. Bersiap memulai kembali acara.


Hanya satu kelompok yang belum kembali, padahal Tetua Genta telah membuat sambutan awal. Kelompok tersebut adalah dari kelas Padma dan kawan-kawan. Entah berada di mana mereka sekarang. Seperti yang dikatakan Tetua Genta sebelumnya, nilai kelompok akan dikurangi.


Keberuntungan kali ini juga memihak pada kelompok kelas Satu C yang hadir di saat waktu yang ditentujan belum usai. Pandangan Tetua dan para guru jelas tertuju pada kelompok yang kemarin cukup membuat mereka merasa ada sebuah perubahan, kali ini pun mereka berharap demikian.


Amdara merasa ada yang tengah memandangnya, dia segera menoleh ke samping, tepat delapan langkah darinya seseorang memang tengah menatap datar. Amdara balik menatap datar, keduanya seperti berbicara menggunakan tatapan mata.


"Memalukan."

__ADS_1


Di saat bersamaan, Amdara dan bocah yang memakai ikat rambut putih yang tidak lain adalah Cakra berkata serentak dan langsung menatap ke depan.


Amdara mengembuskan napas dalam. Entah mengapa sering bertatapan dengan Senior Cakra itu.


__ADS_2