Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
33 Latihan


__ADS_3

Amdara sekarang berada di ruangan khusus. Berbeda dari ruangan bawah tanah sebelumnya. Ruangan penuh aroma teh khas dan aura dingin membuat tubuh Amdara merasakan hal yang aneh. Belum lagi tiba-tiba Nenek Nian yang memunculkan lahar panas di sebuah ruangan tersebut yang sebelumnya diledakkan agar membentuk lubang besar.


Entah apa yang dilakukan nenek tua itu, yang sekarang masuk ke dalam lahar panas. Amdara sampai menahan napas, "mustahil."


Seseorang yang memiliki kekuatan juga akan kesulitan ketika dihadapkan oleh iklim ekstrim. Tidak bisa dipungkiri orang itu kesulitan menguatkan ketahanan tubuh karena sebab tertentu.


Lahar yang diciptakan Nenek Nian bahkan terasa panas dijarak lima belas meter dari Amdara yang berdiri tegak. Beberapa saat Nenek Nian melesat dari bawah ke atas dan langsung mendapati salju di sana. Benar. Di bawah ada lahar panas dan di atas langsung dihadapkan dengan dinginnya salju yang dinginnya melebihi es.


Nenek Nian mendarat di samping Amdara yang tatapan matanya terlihat berbeda. Nenek Nian menciptakan elemen angin, elemen air, elemen petir, elemen awan, dan udara di sekeliling lahar api dan salju.


Nenek Nian menciptakan batu besar yang mengambang di tengah-tengahnya. "Kau duduk di sana. Konsentrasi pada indera pendengarmu."


Amdara tersentak, dia menatap Nenek Nian lagi. "Ini latihannya?"


Nenek Nian mengangguk.


Amdara menarik napas dalam. Tidak ada waktu berlama-lama. Secepat-cepatnya dia harus bisa melakukan indera kepekaan yang baik dan menyembuhkan luka dalam.


Amdara melesat, dan mendarat di atas batu besar. Dia duduk bersila sambil menutup mata, merasakan panas lahar dari bawah dan dinginnya salju dari atas membuat Amdara sedikit kesulitan berkonsentrasi.


"Jangan terfokus pada panas, dan dinginnya. Kau tak boleh sampai teralihakan. Coba fokuskan pada keadaan sekelilingmu juga."


Amdara mengepalkan tangan. Darahnya terasa mendidih. Tubuhnya terasa campur aduk oleh panas, dan dingin. Bahkan dia tidak bisa mendengar apa-apa karena terlalu merasakan panas dan dingin serta sakit di tubuhnya.


Beberapa kali dia ingin segera pergi karena tidak merasa kuat. Namun, saat itu juga bayangan Inay, Atma, Dirgan, Rinai, dan Nada terlintas membuat bocah berambut putih tersebut mengurungkan niat.


Seperti yang dikatakan Nenek Nian, Amdara mulai memfokuskan indera pendengarannya dan membiarkan rasa sakit itu menggerogoti tubuhnya.


Selain panas dan dingin, elemen yang diciptakan Nenek Nian mulai terasa. Amdara mencoba menyerap kekuatan alam tetapi sama seperti sebelumnya dia kesulitan.


Elemen angin sudah terbiasa bagi Amdara, begitu pula dengan elemen air. Lama, Amdara menggerakkan pelan kepala. Dia seakan merasakan awan yang dapat di sentuh dan udara.


Ekspresi wajah Amdara yang sama sekali tidak berubah membuat Nenek Nian tercengang beberapa saat. Tiga jam sudah berlalu, tetapi Amdara belum juga membuka mata. Tidak terlihat sedikit pun wajah kesakitan apa lagi air mata yang mengalir.


"Hah, dia benar-benar luar biasa."


Nenek Nian hendak pergi untuk membuat teh sambil menyaksikan Amdara yang sekarang menutup mata sambil duduk bersila di atas apungan batu besar.


Amdara melesat ke atas dengan kecepatan tinggi tetapi kepalanya saat bersentuhan dengan salju langsung membeku. Dia tidak bisa menghentikan laju kecepatan, kekuatannya seakan turut membeku. Amdara hampir kehilangan napas saat wajah sampai perut yang dikelilingi salju yang kemudian membeku begitu saja sebelum dirinya terjatuh.


"Luffy!"


Nenek Nian segera melesat saat tubuh Amdara yang hampir terjatuh ke panasnya lahar. Telapak kaki Amdara menyentuh lahar panas. Amdara merasakan tubuhnya yang panas sampai menjalar. Di tambah dinginnya salju dari kepala sampai perut membuatnya sangat lemas dan ingin menjerit tidak tertahan.


Tubuh Amdara beregenerasi lamban. Dia merasakan inti spiritualnya yang terhalang sesuatu dan itu dia rasakan setelah mendapat serangan berupa jarum pada wajah.

__ADS_1


Nenek Nian segera menyembuhkan luka luar dan seketika sembuh begitu saja. Nenek Nian hampir lupa menanyakan satu hal ini.


"Bagaimana kau menolak kekuatanku untuk menyembuhkanmu?"


Rasa cemas terlihat di wajah Nenek Nian. Dia membaringkan tubuh Amdara di ranjang kayu. Yang membuat Nenek Nian bertambah cemas adalah ketika dirinya menyadari ada benang merah di inti spiritual Amdara. Dia tahu bahwa benang merah tersebut untuk menghalangi sumber kekuatan seseorang.


"Benang merah .... " Nenek Nian menahan napas sejenak. "Kau memiliki masalah besar."


Amdara membuka mata perlahan. Dia tidak menjawab pertanyaan pertama, tetapi menjawab pertanyaan ke dua. "Kurasa ini akibat serangan jarum pria berambut merah itu."


Mendengar hal tersebut membuat Nenek Nian tersentak. Dia ingat malam saat Amdara hampir mat* dibunuh pria berambut merah.


"Jarum?" Nenek Nian berpikir sejenak. "Jarum perusak inti spiritual."


Seketika mata Nenek Nian terbuka lebar. Seseorang bisa menggunakan jarum perusak inti spiritual adalah sebuah kelangkaan. Jurus tersebut padanya jarang ada yang bisa menggunakannya. Jarum itu sangat berbahaya. Orang biasa akan segera mat* jika terkena jarum tersebut. Amdara yang mendapat serangan jarum tersebut dan sekarang masih bisa bernapas merupakan sebuah keajaiban.


Untuk menghilangkan benang merah pada inti spiritual, harus melakukan pelatihan khusus atau paling tidak dicabut secara langsung oleh seorang ahli. Sayang sekali Nenek Nian bukan termasuk orang yang bisa melakukan hal tersebut dan tidak tahu siapa orang yang ahli mencabutnya.


Amdara yang baru mendengar hal tersebut tersentak. Dia yakin jarum itu adalah kekuatan luar biasa sampai membuat inti spiritualnya terhalang.


"Nenek, kau tahu sesuatu?"


Nenek Nian mengangguk dan menjelaskan segala yang dia ketahui serta cara untuk menghilangkan benang merah yang ada pada inti spiritual Amdara.


Karena benang merah yang ada pada inti spiritual Amdara jelas akan membuat Amdara kesulitan. Apalagi nanti jika dirinya harus melawan Roh Hitam.


"Untuk sementara kau tinggallah di sini dan berlatih dengan giat."


Nenek Nian tentu mengkhawatirkan Amdara. Namun, segera Amdara menolak. "Tidak. Aku harus mencari teman-teman."


Keras kepala. Itu yang terpikirkan oleh Nenek Nian semenjak Amdara sadarkan diri. Padahal tubuhnya belum sembuh tetapi masih mengkhawatirkan orang lain.


Dua orang itu berdebat. Nenek Nian yang memaksa Amdara untuk menyembuhkan luka sendiri baru mencari teman dan Amdara yang kepala batu ingin segera mencari teman-temannya.


Nenek Nian sampai dibuat bungkam saat di kalah telak berdebat dengan bocah di depannya. Nenek Nian mengembuskan napas dan akhirnya menyetujui tetapi dengan syarat dia harus ikut mencari teman-teman Amdara.


Mega orange kemerah-merahan di sebelah barat nampak indah. Suasana kota yang ketika malam adalah sebuah pasar sekarang hanya beberapa orang berlalu-lalang.


Amdara mendapat perawatan sangat baik dari Nenek Nian sampai dirinya merasa sedikit baik. Mereka kini tengah berjalan di tempat yang menjadi tukar menukar barang ketika malam.


Amdara mengenakan pakaian yang diberikan Nenek Nian sebab pakaiannya habis diberikan pada Atma dan Dirgan dan dia tidak membawa pakaian lagi di Cincin Ruang. Amdara tidak memakai topeng kali ini dia hanya menggunakan cadar tipis putih dan rambutnya malah terlihat bergelombang yang entah bagaimana Nenek Nian yang melakukannya.


Beberapa orang menyapa Nenek Nian ramah. Seakan Nenek Nian memang terkenal di sana.


Dari kejauhan, seseorang yang familiar terlihat. Wajah tampan memakai jubah sederhana, rambut panjang yang diikat serta ciri khas dari pemuda tersebut adalah mata merah menyala tajam yang sekarang tengah menatap balik seseorang. Kisaran berumur 20 tahunan.

__ADS_1


Amdara tahu orang itu. Salah satu Senior dari Organisasi Elang Putih yang mungkin menjadi walinya dan Inay di negeri ini. Entah sejak kapan Senior Fans datang.


Senior Fans juga nampak terkejut bertemu dengan junior di sini. Pertemuan yang tidak di duga. Fans mendekat dan langsung bertanya pada Amdara yang walaupun menggunakan cadar tetapi dia tahu Amdara adik seperguruannya.


"Bagaimana bisa kau ada di sini?"


"Maafkan aku paman."


"Kau bisa menjelaskannya lewat surat nanti."


Amdara mengangguk sebagai jawaban. Dia melirik Nenek Nian yang diam. memperkenalkan Nenek Nian yang telah menolongnya. Nenek Nian dan Senior Fans saling menatap berbeda. Seakan ada sesuatu yang ingin mereka katakan tetapi terhalang adanya Amdara.


"Paman? Dia pamanmu?" Nenek Nian tersenyum miring ke arah Fans. Raut wajahnya seketika berubah. "Kenapa bisa tampan sekali? Oh ya ampun. Jiwa mudaku meronta ingin meng**c*n* paman ini."


Amdara berkedip beberapa kali melihat tingkah Nenek Nian yang di luar dugaannya. Fans sendiri tersenyum ramah, menambah ketampanan di wajahnya.


"Tapi kau sudah tua, Nenek."


Amdara hampir tertawa, dia memalingkan wajah tidak kuat melihat raut terkejut Nenek Nian yang cemberut. Amdara hampir lupa jika Seniornya ini memiliki wajah tampan tetapi bermulut pedas.


"Aku baru berumur delapan puluh empat tahun. Tidak setua yang kau katakan, Nak." Nenek Nian menggeleng-geleng kepala.


Fans mengembuskan napas pelan. "Maaf. Kau bukan seleraku, Nenek."


Kali ini Amdara sampai mengeluarkan bunyi 'pfft' yang membuat Nenek Nian melirik ke arahnya dengan tidak suka.


Fans selain itu juga sebenarnya orang yang ramah berbeda ketika berhadapan dengan musuh. Dia lebih kejam dari yang dibayangkan orang-orang yang melihat ketampanannya.


"Aiya. Anak muda, kau keterlaluan sekali."


Nenek Nian mengembuskan napas kesal.


Amdara kembali berekspresi datar dan menatap Senior Fans. "Aku akan pergi bersama paman."


Amdara perlu mengatakan sesuatu tentang keadaannya dan apa saja yang dia lalui selama menjalankan misi dan dirinya harus segera mencari Inay dan yang lain sebelum kejadian buruk datang.


Senior Fans menatap adik seperguruan dan kemudian mengangguk.


"Nenek, aku akan membawa ponakanku. Terima kasih telah menjaganya. Dara berhutang budi padamu."


Amdara tersentak. Dia lupa memberitahukan Senior Fans yang namanya telah diganti. Amdara menoleh ke samping tepat Nenek Nian mengangguk seperti mengartikan nama Dara sebagai nama kesayangan Fans pada ponakan.


"Bukan masalah. Tidak ada hutang budi di antara kami."


Amdara berpamitan pada Nenek Nian, kemudian pergi bersama Senior Fans.

__ADS_1


__ADS_2