
Shi berhasil menggunakan jurus penghenti waktu saat serangan musuh mengenainya. Dia langsung terpental cukup jauh. Tubuhnya teramat sakit saat ini.
Rasanya dia tidak kuat menahan rasa sakit. Perlahan setitik air mata mengalir, dia memejamkan mata. Berharap datang bantuan secepatnya.
"Sial. Bahkan untuk melindungi orang lain saja aku tidak bisa. Bagaimana aku akan mengikuti turnamen?"
Mulutnya mengeluarkan darah segar. Walau tubuhnya sudah lemah, tapi hatinya tetap ingin berdiri melindungi tiga bocah sebelumnya dia tolong.
Lima belas detik, waktu kembali seperti semula. Lima musuh melesat ke arahnya, tertawa puas.
"Hahaha. Apa hanya ini kemampuan murid yang akan mengikuti turnamen?"
Salah satu dari mereka berjongkok. Wajah mereka memang tidak terlihat, tapi auranya sangat mengintimidasi.
"Hei, nona. Kau pergilah, atau kami habisi."
Suara pria itu membuat Shi mengepalkan tangan kuat. Ingin sekali melampiaskan amarah, tetapi kekuatannya sudah tidak cukup untuk sekarang.
"Kenapa kau meminta pergi? Kita habisi saja dia!"
Rekannya mendengus kesal. Menendang kaki Shi yang terluka. Shi menatap sinis ke arahnya.
Orang pertama tertawa keras. Menyentuh dagu Shi pelan, tapi langsung ditangkis Shi.
"Dia tidak pergi ataupun pergi, aku akan tetap menghabisinya."
Dia mencekik Shi sampai benar-benar membuat Shi nyaris kehilangan napas masuk ke paru-paru.
Mereka semakin tertawa keras melihat Shi tidak berdaya.
Tiba-tiba suara seluring memekakkan telinga terdengar di kegelapan. Telinga mereka langsung terasa sakit, sampai mengeluarkan darah. Tubuh mereka terasa sesak, lalu sesuatu yang bergejolak dalam dada seperti besi tengah dicambukkan di dalam.
"Akhhhhh!!"
Cengkraman pada leher Shi terlepas. Mereka yang mendengarnya langsung merasakan tubuh terasa sakit tidak terelakkan. Bahkan Shi juga menekan dadanya yang semakin sesak mendengar irama seluring.
"Siapa yang memainkan seluring?! Aakhhh tubuhku ...!"
"I-irama ini sangat mengerikan!"
Irama Kematian semakin dekat dengan mereka. Satu titik cahaya biru menampakkan wujud seorang gadis kecil berambut putih yang dengan tenang memainkan seluring.
Dia tidak lain adalah Amdara. Tatapannya tertuju pada Shi yang berteriak kesakitan. Amdara segera menghentikan memainkan seluring.
"Aku belum bisa menjaga orang-orangku."
Amdara mendengus melirik Seluring Putih. Menyimpannya di Cincin Ruang. Melesat ke arah Shi, diikuti oleh Api Biru.
"Senior,"
Tubuh Shi terluka parah. Bahkan telinganya sampai berdarah. Amdara segera memunculkan salah satu pil, meminta Shi menelan pil itu.
"Telanlah pelan-pelan."
Samar-samar Shi melihat Amdara yang membantunya duduk bersandar pada pohon.
"Luffy?"
"Mn. Ini aku."
Suaranya menenangkan, sampai membuat Shi menitikkan air mata. Bersyukur Amdara datang tepat waktu sebelum dirinya benar-benar tewas.
"Kau istirahatlah."
Pandangan Amdara langsung ke belakang. Tatapan dingin tertuju pada kelima musuh.
Amdara berdiri, tanpa mengeluarkan sepatah kata mengeluarkan rantai es dan melilit kelima orang berjubah hitam.
__ADS_1
Tiga orang yang tidak sempat mengelak terlilit tanpa bisa lepas. Apalagi tiba-tiba es membekukan setengah badan mereka.
Kejadian ini membuat kelima orang terkejut bukan main. Menelan ludah kesulitan melihat tatapan Amdara biru menyala, siap menyerang.
"A-apa? Dia pengendali es!"
Dua orang yang lolos segera mengelak saat ada rantai es muncul. Mereka terbang melesat menjauh, tapi rantai es yang digerakkan Amdara juga melesat tidak kalah cepat.
"Sialan!"
Satu dari mereka mengutuk. Terpaksa menghadapi langsung rantai es yang bergerak-gerak liar. Dia mengeluarkan sebuah jurus, melesatkan pada rantai es.
Dalam sekejap suara debaman keras terdengar. Rantai es hancur berkeping-keping.
Orang itu menarik napas lega. Merasa jurusnya memang kuat.
"Kupikir---"
"Kau akan tewas."
Suara dingin tepat di telinganya sangat menekan. Dia yang tidak sempat menoleh, lehernya tercekik dari belakang. Cekikannya semakin mengeras saat berusaha berontak.
"Bocah sialan! Lepaskan aku. Uhuk!!"
Rantai es langsung muncul di leher orang tersebut. Kali ini bukan rasa dingin, melainkan panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Dia menjerit kepanasan sampai ambruk bertepatan Amdara melepaskan tangan.
Kejadian itu dilihat jelas oleh rekan-rekan, Shi, dan bahkan ketiga bocah yang sampai tidak berkutik ketakutan.
Satu orang berjubah hitam menelan ludah melihat kejadian ini. Tatapannya bertemu dengan netra biru Amdara. Dia membesarkan bola mata, terbang kabur.
Namun, tiba-tiba Api Biru muncul tepat di hadapannya. Tahu bahwa itu adalah bahaya, dia menyerang menggunakan sebuah tongkat. Tapi, dalam beberapa menit tongkat tersebut meleleh terkena semburan api biru.
"A-apa yang terjadi?!"
Dia termundur, mulai lemas ketakutan. Api Biru melayang mendekat, menyemburkan api bukan main panas.
Pria itu terbakar dalam sekejap. Berteriak kesakitan dan meminta pertolongan. Tapi tidak satu pun rekannya yang bisa menolong.
Anehnya, api itu sama sekali tidak membakar pepohonan sekitar. Juga tidak membawa hawa panas.
Kini tatapan semua orang tertuju pada Amdara yang masih melayang dengan tenang. Angin meniup-niupkan rambut beserta ikat rambut. Mata biru terangnya turut bersinar di sana. Dingin, tajam, tapi juga menenangkan bagi yang melihatnya lebih dalam.
Dia mendarat di samping Shi yang telah sembuh dalam beberapa menit. Shi menahan napas sesaat menatap junior ini. Takjub, tapi juga agak takut.
Bibir Shi bergetar saat bertanya pelan, "L-luffy, kau baik-baik saja?"
Tatapan yang terlihat di mata Shi adalah tatapan sulit diartikan. Shi menahan gemetar sesaat. Walau Amdara adalah juniornya dan tidak mungkin melukainya, tapi dia merasa ada aura tidak biasa di tubuh bocah berambut putih itu. Tapi Shi dibuat tersentak melihat reaksi Amdara.
Amdara berkedip mendengar pertanyaan konyol Shi. Dirinya mendengkus dan berkata, "lebih baik kau menanyakan diri sendiri, Senior."
Shi tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk tidak gatal. Dia menghembuskan napas lega. Pikirannya jadi kacau saat ini. Perlahan dia berdiri, menatap tangan dan merasakan tubuhnya telah pulih. Dirinya berdecak kagum pada pil yang diberikan Amdara. Pil ini sama sekali tidak perlu bermeditasi untuk menyerapnya.
"L-luff--"
"Siapa mereka?"
Amdara menyela. Memandang ke arah tiga orang yang sudah membeku. Satu orang lagi langsung terseret oleh rantai es.
Shi berubah serius. Dia menggeleng dan berkata, "aku tidak tahu. Tapi aku merasa mereka ingin membunuh seseorang."
Shi mengarahkan pandangan pada tiga bocah yang masih terluka sambil meringkuk ketakutan. Melihatnya membuat Shi iba, dan memiliki keberanian untuk meminta pil.
"Luffy, apa kau masih memiliki pil ajaib?"
Amdara mengikuti arah pandang lawan bicara. Dia menaikkan sebelah alis mendengar ucapan Shi.
"Aku tidak akan memberikan pil lagi."
__ADS_1
Ucapan Amdara kontan membuat Shi tersedak napas. Dia terbatuk-batuk.
"A-apa? Kenapa tidak?"
Bak wajah tanpa dosa, Amdara menjawab, "jika mereka mau, mereka harus membayar."
Mulut Shi terbuka lebar. Tak percaya dengan perkataan bocah berambut putih ini.
"Luffy, apa aku juga harus membayar pil itu?!"
Wajah Shi langsung pucat membayangkan tabungannya kosong melompong jika harus membayar pil mujarab itu. Dia yakin pil ini sangat berkualitas dengan harga tinggi.
Amdara memalingkan pandangan. Dengan ekspresi dan nada datar berkata, "bahan untuk membuatnya sangat langka. Cara mengolah, membutuhkan kekuatan dan konsentrasi besar. Apalagi pilnya sangat mujarab. Bukankah harganya sudah jelas?"
Shi menelan ludah susah payah. Dia menunduk, merasa tidak tahu malu karena meminta pil berkualitas tanpa memberi imbalan seimbang.
Amdara melirik, tersenyum tipis melihat ekspresi Shi. Dia memunculkan tiga pil tanpa pamrih menyodorkan pada Shi.
"Aku bercanda. Berikan pil ini."
Shi sontak mendongak. Melihat tiga pil di depannya. Bibirnya mengerucut kesal. Merebut pil di tangan Amdara dan berucap, "kau sama sekali tidak lucu dengan ekspresi itu."
Shi terbang melesat ke arah tiga bocah yang masih terluka. Dia akan memikirkan hal lain untuk membayar pil ini. Dirinya juga tahu malu untuk membalas budi.
Amdara menggelengkan kepala. Dengan eskpresi datar memang tidak cocok untuk bercanda. Ekspresi dingin kini dia tunjukkan pada keempat orang berjubah hitam.
"Bocah dungu! Cepat lepaskan kami!"
Mereka yang dibekukan mencoba berontak. Tapi semua itu sia-sia sebab kekuatan mereka seolah terserap oleh es.
"Berani-beraninya kau!! Kubunuh jika tidak melepaskan kami!"
Suara kutukan dari mereka menyerang Amdara yang mulai mendekat dan mengeluarkan kalimat, "jika bukan karena ada anak kecil, aku sudah menghabisi kalian."
Amdara mengangkat jari telunjuk. Saat itu juga es semakin naik ke tubuh ketiga pria. Sementara satu pria yang masih terlilit rantai es di leher berteriak kepanasan.
"K-kau! Hentikan cepat! Aakkk!!"
Jeritannya sampai membuat Shi dan ketiga bocah menoleh kaget. Shi menarik napas dalam, dan tersenyum kaku ke depan.
"Entah apa yang dilakukan Luffy saat ini. Tapi aku harus cepat ke sana. Apa kalian sudah baik-baik saja?"
Ketiga bocah ini mengangguk tanpa buka suara. Nampaknya mereka masih syok atas apa yang terjadi. Pil yang mereka telan mulai bereaksi, menutup luka luar dan memulihkan kekuatan.
Shi menahan napas beberapa saat. "Bukan hanya kekuatannya yang besar, tapi dia juga kaya."
Shi pikir itu adalah pil yang dibeli, bukan dibuat sendiri. Rasanya tidak percaya jika Amdara mampu membuat pil mujarab dalam waktu singkat.
Ketiga bocah itu juga nampak terpukau melihat dan merasakan hal luar biasa dalam tubuh karena menelan pil. Rasa pil ini juga tidak pahit seperti biasanya. Melainkan hambar.
Salah satu dari ketiganya menatap Shi dan terduduk sambil berkata, "t-terima kasih, Nona."
Kemudian dua bocah lagi mengikuti sambil mengucapkan terima kasih secara tulus.
Shi berkedip, dan segera menepuk bahu mereka agar tidak terduduk dan segera berdiri. Dirinya mengangguk tanpa mengatakan bahwa Amdara lah yang memberikan pil ajaib itu. Dia kemudian mengatakan mereka tidak boleh kemana-mana. Sementara dirinya akan pergi ke musuh.
Shi menelan ludah, bayangan kekuatan besar Amdara dalam sekejap menjerat musuh. Padahal Shi bertarung sejak siang, tapi tidak membuahkan hasil besar. Kekagumannya kian membesar ke bocah itu.
"Siapa sebenarnya kalian?"
Shi mendekat, menatap keempat musuh. Raut wajah mereka tidak terlihat karena tertutup jubah. Namun, mereka sama sekali tidak menjawab. Hanya erangan kesakitan.
Amdara menghentikan aksi. Dia membekukan pria yang sebelumnya terantai.
Shi kembali bertanya geram karena tidak mendapatkan jawaban, "hei, bedebah pengecut! Berani-beraninya menyerang bocah-bocah itu!"
Shi mengepalkan tangan erat. Teringat bagaimana ketiga bocah yang diselamatkannya nyaris kehilangan nyawa jika dirinya tidak menolong.
__ADS_1
Suara tawa tiba-tiba terdengar dari mereka. Salah satu dari mereka mengeluarkan suara lantang, "kau gadis payah! Ini bukan urusanmu. Jangan sok suci menolong orang lain!"
Tawa itu berakhir teriakkan memilukan saat Amdara melakukan hal tidak terduga.