Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
118 - Akhir Pertandingan


__ADS_3

Dia melihat sekeliling lemah. Penuh darah, dan tangan-tangan mengerikan yang hendak mencabik-cabik tubuhnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Bahkan merasakan kekuatan sekitar saja tidam bisa.


"Lemah."


Amdara mengepalkan tangan. Menyalahkan diri sendiri karena terlalu lemah sehingga bisa terjebak dalam jurus mata orang lain. Dia memuntahkan darah segar kembali. Walaupun ini bukan dunia nyata, tapi rasa sakit yang dirasakan bocah berambut putih itu benar-benar terasa nyata.


Suara-suara yang menyebut namanya masih terngiang. Satu nama yang membuat dirinya terasa harus segera menolong teman-temannya. Dia dididik selama ini bukan untuk dilindungi, melainkan melindungi. Apa pun yang terjadi, Amdara diajarkan agar tidak pernah menyerah. Walaupun tidak memiliki kekuatan. Tapi selagi masih memiliki tekad, maka itu cukup membuatnya bangkit.


Amdara perlahan mencoba menarik tangan yang dirantai. Sakit sekaligus nyaris mustahil lepas tanpa adanya kekuatan. Mata cerah birunya meredup.


"Tidak. Dia akan kecewa jika aku menyerah."


Kedua tangan Amdara menarik-narik rantai sekuat tenaga. Tapi sia-sia saja, karena rantai tersebut sangat kuat. Berulang kali sampai darah keluar dari lengannya, tapi Amdara belum juga berhasil.


Sesosok manusia berjubah hitam muncul dari ruang hampa dan mulai mendekat ke arahnya. Amdara melihatnya dengan jelas. Manusia itu membawa cambuk hitam di tangan kiri. Seperti siap mencambuk tubuh kecil Amdara. Dua langkah mendekat, Amdara tidak mengatakan apa-pun. Bahkan saat cambuk itu berhasil mengenai punggung, Amdara hanya bisa menutup mata berusaha tidak mengeluarkan suara. Darah mengalir deras. Rasa-rasanya Amdara sedang berada di neraka mendapat hukuman dari malaikat neraka.


"Kau memang lemah. Tidak berguna dan tidak pantas hidup."


Sesosok itu berbicara pada Amdara, dia tidak menghentikan cambuknya sama sekali. Suaranya begitu dingin ketika kembali berucap, "tubuh dan kekuatanmu lebih pantas dimiliki Tuan ku."


Amdara tidak tahu siapa yang dimaksud sosok di depannya. Dia diam, menutup mata. Merasakan tubuhnya benar-benar sakit.


"Teman-temanmu, bahkan malu memiliki teman lemah dan tidak berguna. Egois. Tidak pernah memikirkan mereka. Cih, benar-benar bocah tidak tahu diri. Apa kau terlahir dari manusia lemah juga? Manusia memang lemah. Jika kau bosan hidup seperti ini, maka bergabunglah dengan kelompokku. Bangsa lebih kuat daripada manusia di bumi. Bangsa yang akan menguasai seluruh dunia dalam waktu dekat."


Sosok tersebut tertawa mengerikan. Sesaat dia menghentikan cambukan. Lalu menjilat darah yang mengalir di alat cambuk tersebut sambil menyeringai. Tatapan matanya melebar begitu mencicipi darah milik Amdara yang masih bergeming.


"Mn, darahmu ternyata lezat."


Dia menjilati darah pada cambuk dan tertawa-tawa menggema di ruangan mencekam itu tanpa tahu Amdara sedang menahan emosi yang sebentar lagi dia tumpahkan.


Lemah, tidak berguna, terlahir dari manusia lemah sudah cukup membuat telinga Amdara berdenging sampai mengeluarkan darah. Dia mengepalkan tangan. Pandangannya mendongak menatap tajam sosok yang sedang sibuk sendiri. Mata biru miliknya tiba-tiba berubah warna menjadi putih pucat. Dia menggertakkan gigi.


"Tarik kata-katamu mengenai manusia yang melahirkanku."


Suara tidak kalah dingin milik Amdara menginstruksi kegiatan sosok yang memiliki tanduk merah itu. Dia malah tertawa mendengar penuturan Amdara.


"Apa? Bukankah aku tidak salah bicara? Manusia pada dasarnya lemah dan tidak abadi."


"Kuberi kau satu kesempatan lagi. Tarik kata-katamu."


"Hmph, tidak tahu diri. Sudah tidak bisa bergerak dan tidak memiliki kekuatan masih saja mengancam? Tsk. Kau benar-benar membuatku marah, bocah!"

__ADS_1


Cambuk itu baru akan menyentuh perut Amdara. Namun, bunyi rantai terlepas membuat sosok itu membelalakkan mata tidak percaya.


Satu rantai terlepas, kemudian satu rantai yang mengikat tangan satunya lagi terlepas. Tatapan mata Amdara semakin menajam. Dia meledakkan rantai yang mengikat kedua kakinya membuat sosok tersebut terpental. Amdara terjatuh, segera bangkit dan berjalan pelan ke arah sosok tersebut yang langsung berdiri dengan tatapan masih syok.


Amdara menghilang dalam sekali kedipan, dia muncul kembali lalu melayangkan pukulan tepat pada perut sosok tersebut yang terpental.


Ikat kepala milik Amdara bersinar terang seolah tengah menyalurkan kekuatan hingga Amdara mampu melakukan serangan pada sosok makhluk tersebut sampai beberapakali harus menghantam lantai begitu kerasnya. Aura menekan serta membuat makhluk itu bergetar hebat. Benar-benar baru dia rasakan setelah sekian lama.


"Bangsamu memang seharusnya dimusnahkan dari dunia manusia. Kalian, lebih kotor daripada manusia sendiri."


Amdara menyekik leher makhluk yang bisa dikatakan Roh Hitam tidak bisa melakukan penyerangan. Kekuatannya terserap oleh Amdara hingga dia merasakan lemas. Roh Hitam tersebut memelototi Amdara penuh amarah. Wajahnya merah darah menyeramkan tidak membuat Amdara gentar sama sekali. Dia berusaha menyingkirkan tangan kecil yang mencekik, tapi semua itu sia-sia.


"Da-darah iblis! Kau benar-benar keturunan seorang ib--akkhh!"


Amdara meledakkan Roh Hitam tersebut menggunakan tangannya. Bunyi debaman keras terdengar. Asap hitam mengepul di udara setelahnya.


Di sisi lain, tubuh Amdara yang dikendalikan Lasi sedang mengeluarkan isi perut. Dia terlihat berwajah pucat, telinganya berdenging, perutnya tidak karuan. Dia terjatuh, berlutut merasa lemas.


Melihat hal tersebut, Inay dan Nada segera mendekat. Keduanya saling pandang lalu mengangguk. Mengunci lengan Amdara. Sementara Nada terus membisikkan sesuatu di telinga Amdara. Tubuh Amdara memberontak, telinganya berdenging sampai mengeluarkan darah.


Inay semakin kuat mengunci lengan temannya itu yang dikendalikan jiwa lain. Dia sampai memanggil nama Amdara berulangkali. Berharap dia segera mengambil alih tubuh sendiri.


"Senior Lasi, hentikan jurusmu ...!"


Atma yang sudah marah sampai menendang wajah Yaji. Tangannya menggapai-gapai tubuh Lasi tapi langsung ditempis oleh Rara.


"Pertandingan belum berakhir! Kecuali jika kalian menyerah, Lasi akan menghentikan jurusnya!"


Perkataan Rara membuat Dirgan, Atma, Aray, dan Rinai yang mendengarnya bergeming. Mereka tahu jurus mengerikan Lasi. Jika terus menerus tidak sadarkan diri, maka tubuh tersebut akan benar-benar kehilangan jiwanya yang lenyap oleh kekuatan mata Lasi.


Aray yang mendengarnya mengepalkan tangan. Dia berteriak, "jika sampai Luffy benar-benar tidak bisa kembali, kupastikan kalian akan bertemu neraka secepatnya."


"Aku tidak akan membiarkan Luffy terluka parah. Jika sampai itu terjadi, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


Dirgan tiba-tiba berdiri. Tatapan matanya mengandung ketegasan, sebuah aura kepemimpinan terlihat. Bahkan dirasakan oleh Tetua Wan.


Dirgan mengangkat tangan. Detik itu juga cahaya kuning keemasan muncul dari tangannya, kemudian dia menurunkan tangan dan cahaya tersebut langsung menghantam ke tanah begitu cepat. Angin kecut sampai membuat Opi, Kic dan Koc terpental jauh merasakan dada mereka sakit.


Di saat bersamaan, tubuh Amdara juga mengeluarkan cahaya hitam yang membuat tubuhnya melayang di udara. Cahaya tersebut menyeruak dan membuat angin besar sampai semua orang yang melihatnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ketika angin tersebut menghilang, Amdara sudah berdiri di tengah-tengah arena pertandingan yang kacau. Mata hitamnya berubah menjadi mata putih pucat.


Inay dan Nada menutup mata saat cahaya serta angin besar itu seperti sebuah kekuatan dahsyat membuat kekuatan dalam tubuh mereka pulih. Keadaan itu dirasakan Aray, Dirgan, Atma, dan juga Rinai. Namun, berbeda dengan yang dirasakan kelompok kelas Dua I yang mana mereka secara tiba-tiba terpental keluar arena.

__ADS_1


Inay membuka mata, yang dia lihat Amdara tengah berdiri dengan aura berbeda. Ketika Inay melihat mata putih Amdara, dia membulatkan mata. Namun, detik berikutnya mata Amdara kembali normal.


Nada sama terkejutnya dengan Inay. Dia melihat Amdara dengan tatapan tidak percaya. Sementara Dirgan sontak membalikkan badan, melihat Amdara seperti sudah dalam kendali jiwa sendiri. Atma, Aray, dan Rinai yang melihatnya sangat senang. Mereka segera menghampiri Amdara dan menanyakan keadaan bocah berambut putih itu.


Pertandingan berakhir begitu saja. Tetua yang melihat kejadian barusan menahan napas tidak menyangka. Dia melihat kelompok kelas Dua I yang sudah terpental keluar arena. Sementara kondisi kelompok kelas Satu C nampak baik-baik saja.


"Ini ... pertandingan yang luar biasa!" Tetua Wan bertepuk tangan mengalihkan semua perhatian semua orang yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tetua Wan mengeraskan suara, "pertandingan yang alurnya tidak diduga, endingnya juga sangat tidak terduga. Kelas Satu C berhasil mengalahkan kelas Dua I dengan membuat mereka terpental keluar arena pertandingan!"


Beberapa saat para penonton masih juga belum bereaksi. Namun, saat sadar dengan suara kembang api di atas langit. Mereka sontak menjadi riuh dan bertepuk tangan. Menyerukan nama kelas Satu C dengan semangat dan penuh decakan kagum.


Para Tetua sampai bertepuk tangan, ada perasaan haru saat melihat sepanjang alur pertandingan. Mereka menarik napas dan mengembuskannya perlahan.


Guru Aneh sendiri sontak langsung berdiri. Dia berteriak menyerukan nama-nama anak muridnya sambil bertepuk tangan dengan bangganya. Dia tidak menyangka mereka berhasil mengalahkan lawan.


Setelah akhir pertandingan tersebut, kelompok kelas Dua I segera dibawa ke ruang perawatan dibantu oleh para petugas. Awalnya kelompok kelas Satu C juga, tapi mereka langsung menolak karena merasa sudah pulih.


Amdara dan teman-temannya duduk di bangku peserta. Tidak ada yang membuka suara saat itu. Mereka sibuk dengan pikiran sendiri. Begitu pula Amdara yang tengah memikirkan banyak hal.


Atma terlihat menampar pipi sendiri, mencoba menyakinkan bahwa mereka benar-benar baru bertarung dan memenangkan pertandingan sengit. Dia seketika menjerit saat pinggangnya dicubit oleh Aray.


"A-aduh! Apa yang kau lakukan?!" Atma menatap kesal Aray sambil mengelus-elus pinggangnya yang ngilu akibat ulah Aray.


Aray sendiri tertawa melihat reaksi Atma. Dia berkata ringan, "itu agar kau sadar bahwa ini bukanlah mimpi."


"Apa perlu kau mencubitku keras-keras?!"


"Hmph, jika tidak keras kau tidak akan percaya."


Keduanya berakhir dengan adu mulut. Walaupun begitu mereka sangat senang karena telah meraih kemenangan.


Nada memeluk erat bonekanya. Dia tengah menenangkan detakan jantungnya yang masih tidak percaya sama dengan teman-temannya. Rinai sendiri sampai menangis mengingat pertandingan sengit barusan. Dia tidak menyangka pada diri sendiri yang memiliki keberanian untuk melawan orang yang memiliki kekuatan.


"Luffy, apa benar kau baik-baik saja?" Inay bertanya pelan pada Amdara yang menoleh dan langsung mengangguk.


"Bagaimana denganmu?" Amdara bertanya balik.


Inay tersenyum dan berkata, "aku baik-baik saja. Jika boleh jujur, aku tidak menyangka kita berhasil mengalahkan lawan."


Mengingat pertandingan sengit serta harapan untuk menang tidak lah mungkin, mereka masih syok dengan kemenangan sendiri.


Di saat mereka sedang berbicara, Dirgan hanya diam sibuk memikirkan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Dia menatap tangannya, ada bentuk khas kekaisaran di tengah-tengah tangan. Dia menarik napas pelan dan segera menyembunyikannya.

__ADS_1


__ADS_2