
Amdara menatap Guru Aneh yang juga menatapnya. Amdara tersenyum tipis, mencari teman memang sulit berbeda dengan mencari musuh. Amdara senang bisa memiliki teman-teman baik di kelas ini.
Guru Aneh yang selalu memberikan motivasi pada murid-muridnya, guru yang menjelaskan dengan sabar pada mereka ketika mereka tidak paham.
Kelas kali ini dimulai dengan penjelasan-penjelasan berbeda. Guru Aneh mulai berpikir untuk memberikan pembelajaran yang berbeda. Setelah sekian lama belajar di dalam kelas, kali ini Guru Aneh ingin mereka belajar di luar.
Awalnya mereka menolak sebab tidak percaya diri, takut akan ditindas, dan segala hal buruk lainnya, tetapi mendengar penjelasan Guru Aneh membuat mereka berpikir ulang dan menyetujui.
Di hutan buatan, Guru Aneh telah membuat kelompok yang terdiri lima orang dan satu kelompok lagi terdiri dari enam orang. Jumlah kelompok menjadi empat, dan kini masing-masing ketua kelompok maju ke depan.
Kelompok satu diketuai oleh Dirgan, kelompok dua diketuai oleh Atma, kelompok tiga diketuai oleh Inay dan kelompok terakhir diketuai oleh Amdara.
"Dengar, kalian dipilih menjadi ketua oleh kelompok sendiri jadi bertanggung jawablah dengan baik."
Penjelasan Guru Aneh dilanjut dengan pembelajaran kali ini mereka harus mencari kertas yang dijadikan petunjuk untuk mencari harta karun. Terdengar seperti permainan anak kecil, tetapi ini akan sulit karena mencari petunjuknya tidak mudah.
"Kupikir guru akan membuat kami bertarung." Salah satu murid kelompok Amdara mengembuskan napas lega. Awalnya dia merasa senang karena satu kelompok dengan Amdara yang bisa mengaktifkan kekuatan, walaupun umur Amdara lebih muda tetapi tidak membuatnya dan yang lain merendahkan.
Murid yang lain juga berpikir demikian. Mereka sudah merasa cemas jika bertarung.
"Aku tidak mungkin melakukan itu. Siapa pun yang cepat menyelesaikan petunjuk maka harta karun itu miliknya," jelas Guru Aneh sambil memberikan kertas pada masing-masing ketua kelompok.
"Guru, apa isi harta karun itu?" tanya Inay dengan semangat. Ini pembelajaran yang menarik menurut Inay yang selama ini selalu bertarung dengan Roh Hitam.
"Guru, ini permainan bukan belajar," kata Dirgan.
Atma mengembuskan napas melihat tulisan Guru Aneh yang lebih buruk darinya. "Aiya, manusia tampan ini akan melakukan misi pencarian harta karun."
Guru Aneh tersenyum dan menjelaskan bahwa ini adalah salah satu metode pembelajaran yang tidak akan membuat mereka merasa jenuh dan akan lebih menyenangkan dari pada di kelas.
Guru Aneh menjelaskan lagi bahwa tidak boleh perkelahian dan kecurangan. Jika ada yang bertengkar itu tidak masalah tetapi jangan sampai ada pertarungan. Peraturannya siapa yang lebih cepat maka akan mendapatkan harta karun.
"Baiklah, sekarang kalian boleh melakukan pencariannya!" Ucap Guru Aneh kemudian menghilang.
Semua kelompok langsung berpikir dengan penjelasan pada kertas yang diberikan oleh Guru Aneh.
__ADS_1
Amdara dan lima anggota kelompoknya nampak berpikir setelah membaca isi kertas tersebut yang mengatakan 'aku adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia. Kejernihanku bisa membuat siapa pun ingin memilikiku. Tidak bisa dipegang, tetapi bisa dirasakan. Aku akan memiliki bentuk sesuai benda yang menggiringku, tetapi volumenya akan tetap sama. Selain itu, aku bisa berubah keras ketika bertemu dingin."
Setiap kertas yang diberikan tentu berbeda. Kertas yang dipegang Amdara dengan tulisan buruk itu membuat Amdara mengerutkan dahi.
"Khakha, apa yang coba guru jelaskan? Khakha, aku sama sekali tidak paham." Nada yang satu kelompok dengan Amdara tertawa melihat tulisan yang baru saja dibaca.
Kelompok Amdara terdiri dari enam anggota, empat laki-laki dan dua perempuan. Salah satu anggota laki-laki Amdara langsung berbicara bahwa yang dimaksud tulisan itu adalah sebuah petunjuk.
"Kurasa jawabannya adalah udara," katanya.
Tiga laki-laki lain mengangguk setuju, dan mulai menerka-nerka dengan petunjuk selanjutnya.
"Tapi udara tidak bisa berubah keras." Amdara berucap sambil memikirkan kembali kalimat-kalimat di kertas.
Nada juga berpikir sama, udara memang bisa dirasakan dan tidak bisa dipegang tetapi juga tidak bisa mengeras.
Amdara bertanya apa yang bisa menjadi keras ketika dingin ada. Nada spontan menjawab angin, karena menurutnya angin yang besar akan membuat dingin. Sementara satu anggota laki-laki menjawab udara dingin. Dua laki-laki lagi menjawab karena ada tulisan 'jernih' maka mereka mengatakan yang berkaitan dengan kejernihan adalah air. Dan laki-laki terakhir menjawab bahwa dingin itu ada karena udara dingin sementara sesuatu yang bisa membuat keras karena dingin adalah es krim.
Amdara memikirkan jawaban-jawaban itu. Kemudian dirinya mengeluarkan air di udara dan angin yang mengelilinginya. Hal itu jelas membuat Nada dan yang lainnya menatap kagum.
"Airnya berubah jadi es!"
Hanya ada tatapan kagum saat melihat kejadian tersebut. Nada sampai membuka mulut lebar.
"Apa jawabannya itu es?! Khaha?!" Kata Nada antusias.
Anggota laki-laki langsung mengangguk setuju, dan yakin jawabannya adalah es.
"Bukan." Amdara menggeleng. Memang benar air dan angin bisa menjadi es. Namun, jika dipikirkan lagi dengan petunjuk dari tulisan tersebut jawabannya bukanlah es. "Air memang sangat dibutuhkan manusia, jernih. Tidak bisa dipegang utuh kecuali menjadi es. Dan seperti yang kita lihat bahwa dinginnya angin akan merubah air menjadi keras."
Penjelasan itu langsung dipahami Nada dan yang lain. Mereka langsung menjawab serempak, "air!"
Amdara mengangguk dan mengajak mereka ke sungai terdekat. Kemungkinan petunjuk lain ada di sana. Melihat kempok Amdara berlari agar cepat sampai membuat kelompok lain kesal karena belum memikirkan jawaban.
"Kelompok Luffy pergi! Pasti mereka mengetahui sesuatu dari balik tulisan buruk ini!"
__ADS_1
Inay mengigit jarinya saking gereget tidak tahu maksud tulisan di kertas. Kelompok Dirgan dan Atma juga demikian. Kesempatan mendapatkan harta karun sepertinya akan sulit.
"Kupikir ini permainan tapi mengapa rasanya begitu sulit?" Dirgan mengembuskan napas.
Di sisi lain, Amdara dan kelompoknya baru saja sampai di sungai pembatas antara hutan dan asrama. Mereka segera mencari petunjuk lain di sekitar aliran sungai.
"Aku menemukan sesuatu!"
Salah satu anggota Amdara berteriak dan memanggil rekan-rekannya.
Amdara bisa melihat di depannya ada pusaran air berwarna hijau. Entah mengapa Amdara merasakan ada sesuatu yang aneh. Bukan hanya dirinya tetapi salah satu rekan laki-lakinya juga merasakan sesuatu yang aneh dan juga familiar.
Amdara berniat mengangkat air tetapi tiba-tiba saja sebuah akar hijau panjang melilit kakinya dan yang lain. Akar itu seperti memiliki kekuatan sendiri, dan Amdara dapat merasakan kekuatan pada akar itu.
"Akar apa ini?!"
Nada dan tiga laki-laki tertarik ke dalam pusaran air dengan cepat sebelum Amdara menolong. Namun, anehnya saat ini Amdara tidak merasakan kekuatannya seakan kekuatannya disegel oleh akar hijau ini.
"Ketua, apa yang harus kita lakukan?!"
Satu laki-laki anggota Amdara untungnya tidak tertarik pada akar hijau karena dirinya saat ini berpegangan pada pohon sekuat tenaga.
Saat ini Amdara tidak tahu harus melakukan apa. Akar hijau ini mengingatkan Amdara pada tali ajaib. Amdara berusaha menenangkan laki-laki bermata hijau itu. Dirinya mencoba untuk melepas akar dari kaki tetapi sangat sulit.
"Ketua, gunakan kekuatanmu!" Laki-laki bermata hijau itu juga berusaha melepas akar pada kaki tetapi sangat sulit.
Amdara menggeleng dan mengatakan tidak bisa menggunakan kekuatannya karena akar ini menyegel kekuatannya. Mendengar hal itu membuat rekan Amdara terkejut, dan langsung berwajah pucat apalagi akar yang melilit kaki terasa sakit.
Amdara yang melihatnya mencoba membantu melepas akar pada laki-laki itu karena jarak keduanya dekat. Amdara menarik-narik akar sekuat tenaga sampai menggigit akar itu agar terlepas. Laki-laki bermata hijau itu tersentak dengan yang dilakukan Amdara.
Amdara menggunakan kekuatan fisiknya untuk melepas akar pada kaki rekannya sambil menahan akar pada kaki sendiri yang terus menarik ke bawah. Tepat setelah akar kedua kaki rekannya terlepas, Amdara langsung tertarik ke bawah. Untung saja Amdara berpegang kuat pada rumput di dekatnya.
"Aku akan menyelam dan menyelamatkan mereka, kau cari akar pohon untuk manarikku nanti." Amdara kemudian mengatakan jika sampai lima menit dirinya tidak kunjung muncul, maka laki-laki bermata hijau itu harus mencari bantuan.
"Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan! Tolong, kau jangan menyelam! Kita bisa mencari bantuan bersama! Aku yakin kau bisa!" Laki-laki yang usianya dua tahun lebih muda dari Amdara tiba-tiba saja menangis dan menarik tangan Amdara. Dirinya tidak menyangka Ketua Kelompoknya ini rela melepas akar pada kakinya dari pada kaki Ketua Kelompok sendiri.
__ADS_1
Amdara tidak bisa lagi menahan akar-akar hijau ini yang terus menariknya ke dalam. Dengan tenang dia berkata, "aku lebih yakin padamu, kak. Percaya pada dirimu sendiri, saat ini hanya kau yang bisa menolong kami."