Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
53 - Kisah Yang Terkuak


__ADS_3

Malam dingin di desa Bumi Selatan, seseorang masih memandang ke depan. Angin malam melambai-lambaikan jubah hitamnya. Di belakang, seseorang berambut putih bergeming. Menatap punggungnya sudah sampai lima menit tak ada kalimat yang kunjung keluar dari keduanya.


Masih dalam keterkejutan, Amdara menarik napas dalam. Dirinya jadi bingung apa yang akan dikatakan, padahal sebelumnya dia berpikir bahwa orang yang dikejarnya adalah manusia yang mengendalikan mayat hidup. Namun, sekarang ... entahlah, Amdara tak ingin mengatakannya.


"Kau pandai bermain seluring."


Ang berkata tanpa menoleh ke belakang. Amdara jadi tersentak mendengarnya. Dirinya bergumam sebagai jawaban.


"Kau juga."


Kembali keduanya diam. Amdara memberanikan mendekat karena merasa Ang bisa diajak bicara, bocah kecil itu juga tidak mencegah Amdara yang kini berada di samping.


Amdara tak bisa melihat wajah Ang karena tertutup penutup kepala. Namun, Amdara entah mengapa masih merasakan kesedihan pada nada yang dimainkan Ang.


"Ang, kau bisa jelaskan?"


Amdara bertanya hati-hati. Walaupun Ang yang sekarang berbeda dari yang dia temui di lorong, bisa saja bocah itu langsung melenyapkan Amdara karena telah berani mengganggunya. Apalagi Amdara pastinya tak akan bisa melawan.


Terdengar hembusan napas dari Ang. "Kau ingin penjelasan apa?"


"Tentangmu dan desa Bumi Selatan."


Amdara yakin bahwa Ang bukan bocah biasa. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan selama ini. Ada sebuah teka-teki yang sejak lama tak ada yang bisa memecahkan dan mengenai misinya yang ditulis sengaja oleh seseorang.


Ang berjalan ke depan lima langkah, lalu berhenti. Ang berkata dingin, "siapa kau berani menanyakan hal itu?"


Mendengar kalimat itu bertambah Amdara yakin ada sesuatu di desa ini. Dan identitas Ang yang misterius.


"Aku temanmu."


Entah mendapat keberanian dari mana Amdara berkata demikian. Dua kata itu meluncur tanpa peringatan. Amdara bahkan setelahnya menggigit bibir bawah khawatir.

__ADS_1


Tak ada reaksi dari penerima jawaban. Amdara jadi tegang sendiri, takut-takut jika Ang langsung menyerang.


Masih menjadi hal misterius mengenai Ang. Apakah benar bocah itu mayat hidup atau manusia biasa atau malah makhluk lain?


"Teman?" Ang berkata dingin, "kau menganggapku teman?"


Amdara tersentak, dia segera menjawab dengan gumaman. Suasana seketika berubah saat Ang membalikkan badan dan lalu berkata, "bagaimana kau menganggapku teman?"


Diberi pertanyaan tak terduga itu membuat Amdara menarik napas dalam. "Aku dan kau sudah berbicara lima menit sebelumnya. Aku menganggapnya awal pertemanan. Tak peduli siapa sebenarnya kau, aku menganggapmu teman."


Penjelasan yang menurut Ang aneh itu membuatnya menaikkan sebelah alis. Memang ada orang yang mengatakan seseorang bisa jadi teman hanya karena sudah berbicara lima menit? Hah, rasanya aneh mendengar penuturan Amdara. Sebelumnya Amdara juga mengatakan bahwa Ang memiliki alasan sendiri, entah apa yang dimaksud.


Ang kembali membalikkan badan. Dia menatap ke depan dengan perasaan aneh. "Teman yah ...."


Walaupun Ang tidak yakin apakah Amdara berbicara jujur atau tidak, tetapi dia malah bertanya, "sebelumnya kau menganggapku mayat hidup?"


Amdara menelan ludah. Dia awalnya memang berpikir demikian, tetapi setelah mendengar nada seluring dan perasaannya yang mengatakan Ang bukanlah bagian dari mereka.


"Apa kau percaya padaku?" Ang bertanya serius terdengar dari nada bicaranya.


Walaupun mereka sama-sama orang asing, tetapi Amdara mencoba terus mengajak Ang bicara. "Tentu. Kau temanku."


"Baiklah. Kau boleh tidak percaya dengan perkataanku ini. Aku bukanlah mayat hidup, aku sama sepertimu."


Mendengarnya, Amdara kembali tersentak. Jika Ang bukan mayat hidup, tetapi apa maksud dari kata 'maaf' waktu itu? Lalu jika manusia, mengapa Ang tidak tertular penyakit?


Dan sepertinya Ang mengetahui isi pikiran teman barunya itu. Ang menjelaskan sedikit bahwa dia tidak tertular penyakit sebelumnya karena bisa mengontrol kekuatan berbeda dari warga desa, hidupnya penuh dengan peristiwa menyedihkan selama warga desa Bumi Selatan satu demi satu tertular penyakit dan lama kelamaan karena tidak ada bantuan dari luar, mereka jadi mayat hidup selama ini.


Ang masih bercerita, dia seakan memang telah menganggap Amdara bukan orang asing lagi.


"Mengapa kau tidak mencari bantuan?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Amdara dijawab dengan ekspresi sedih Ang.


"Tidak ada yang berani melangkah ke desa ini. Sejak dulu, tak ada yang membantu kami."


Ang tidak bisa membantu warga desa, karena dia juga hanyalah seorang bocah yang masih butuh perlindungan dan tak bisa keluar desa karena sebuah alasan. Amdara menanyakan alasan tersebut. Ang mengatakan bahwa desa ini seperti dikutuk, siapa pun yang keluar dari desa akan langsung tewas dalam jarak lima langkah dari gerbang desa. Sejak Ang lahir, desa ini telah terkutuk sejak lama dan Ang tidak bisa mengatakan kapan pastinya.


Amdara semakin mengepalkan tangan. Ada kemarahan dalam dada karena tak ada seorang pun yang membantu. Benar yang dikatakan Kepala Desa, kepemerintahan Negeri Nirwana Bumi ini sedang memiliki masalah sendiri atau memang tidak peduli pada masyarakat. Tak ada bahaya yang dirasakan Amdara, dia melangkah maju, dan kemudian menepuk bahu Ang sampai membuatnya tersentak.


"Kau bisa menceritakan padaku agar merasa lebih lega."


Ang menatap Amdara, ada sesuatu yang hangat menjalar ke tubuh. Kehangatan yang sudah sejak lama dirindukan.


"Kau tahu, warga desa ini menderita. Setiap hari mereka berteriak kesakitan, penyakit yang menular itu dinamakan Penyakit Hitam. Aku tidak tahu obatnya dan hanya menangis saat semua keluargaku merasakan sakit." Tubuh Ang bergetar. Namun, dia tetap melanjutkan cerita.


"Sebenarnya warga desa ini memiliki kekuatan yang besar. Namun, semua itu sama sekali tidak berguna. Bahkan tabib desa pun tak bisa meracik obatnya."


Penyakit Hitam ini menular lewat udara. Seperti yang dikatakan Kepala Desa dan dilihat sendiri oleh mata kepala Amdara mengenai ciri-ciri penyakit tersebut.


Amdara dapat merasakan kepedihan yang dirasakan warga desa Bumi Selatan dan Ang sendiri. Jika dirinya yang mengalami hal tersebut, Amdara tak yakin masih berdiri tegas seperti Ang.


Melihat tubuh Ang yang bergetar hebat seperti tengah menangis, tanpa diduga Amdara memeluk Ang.


Ang dibuat tersentak, tetapi dia tidak menolak ataupun berniat melepas pelukan hangat dari teman barunya.


Amdara menepuk-nepuk pelan punggung Ang dan berkata, "sekarang kau tak akan sendiri lagi."


Ang semakin meneteskan air mata. Isakannya terdengar oleh Amdara sendiri yang semakin memeluk erat mencoba menenangkan.


Malam itu, Amdara tak menyangka cerita asli yang terkuak di desa Bumi Selatan. Kisah tragis yang dialami desa Bumi Selatan ini benar-benar mengejutkan. Ini kesalahan besar untuk semua orang yang mendengar cerita mengenai warga desa Bumi Selatan yang terkena penyakit menular tetapi mereka malah menulikan telinga. Tak mengulurkan tangan membuat banyak nyawa melayang. Jika saja ada bantuan sejak dulu, kemungkinan warga desa tak akan mati mengenaskan digerogoti penyakit mematikan. Mungkin saja Ang kecil dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga bukannya hidup sendiri dengan rasa sepi dan keadaan membahayakan.


Andai saja Amdara bisa membantu sedikit saja agar kematian warga desa Bumi Selatan lebih baik, mungkin Amdara tak akan merasa turut bersalah.

__ADS_1


Inikah alasan mengapa Ang memainkan nada seluringnya? Kesepian dan kepedihan hidup.


__ADS_2