
Salah seorang bocah mengenakan jubah hitam, dengan tudung merah yang menutupi kepala. Wajahnya tidak terlihat tetapi aura yang terpancar membuat seseorang yang berdiri di sampingnya cukup bergidik ngeri.
Purnama menyinari, tak ada suara hewan satu pun. Angin yang berhembus seakan sebagai irama pembawa kabar.
Bocah berjubah hitam dan satu temannya yang mengenakan jubah yang sama berdiri di batang pohon. Sekitar lima menit mereka hanya diam dan akhirnya bocah yang memegang erat pohon di sampingnya angkat bicara.
"Sampai kapan kita berdiri di sini?"
Pertanyaan tersebut tidak ditanggapi temannya dan malah dirinya diberi pertanyaan yang cukup membuat tersentak.
"Sampai kapan kau merasakan takut dengan dunia?"
Bocah yang berpegangan pada pohon itu menelan ludah susah payah. Lututnya sudah lemas sedari tadi, tetapi dia tidak mengatakan apa pun pada temannya.
"Kau meremehkanku? Aku tidak takut hanya ...."
"Kau takut menghadapi masalah. Kau pengecut. Lari dari setiap masalah yang menimpa. Kau hanya memiliki aura pemimpin tetapi tidak memiliki keberanian memimpin. Kau payah---"
"Aku tidak payah!"
"Benarkah? Jika demikian, mengapa kau sampai sekarang belum mengambil tindakan? Kau pecundang--"
"Aku bukan pecundang!"
Bocah yang berpegang pada pohon mengepalkan tangan kuat dan menatap tajam temannya yang menutupi wajah menggunakan tudung. Amarah bocah tersebut hampir memuncak ketika dia tidak mengingat perjuangan hidupnya selama ini.
Bocah tingginya hanya sebahu teman yang baru saja dia sebut 'pecundang' itu di balik tudung tersenyum. Tangannya terkepal.
"Pecundang. Kau benar-benar pecundang sampai tidak bisa lepas dari wanita itu. Terlalu lemah dan tidak berguna di saat teman sedang menghadapi lawan yang lebih kejam. Kau memang pecundang, malah menyeret teman-teman ke sumber masalah besar."
Suara dingin bocah yang terdengar seperti perempuan itu baru saja membuat orang di sampingnya akan berkata tetapi bocah itu kembali berujar.
"Haha. Kau pecundang, Na. Kau ... semua ini salahmu."
Terdengar suara isakan kecil. Temannya yang baru saja akan memarahinya jadi terdiam seribu bahasa. Tatapan mata yang tajam sekarang itu terlihat sendu.
Bocah laki-laki di sampingnya mengembuskan napas. Dadanya naik-turun. Seakan menahan sesak di dada. Dia menepuk temannya dan lalu berkata, "ini bukan salahmu. Jangan salahkan semua padamu."
Lalu dirinya menepuk bahu temannya. "Aku yakin dia akan datang menyelamatkan kita. Sama seperti dulu dia menyelamatkanku pertama kalinya."
Dua bocah itu saling menguatkan. Dinginnya angin malam tak membuat keduanya pergi ke tempat yang lebih hangat. Mereka mendongak, melihat betapa indahnya dewi malam yang hadir membawa cahaya di kegelapan.
Di Akademi Magic Awan Langit, Daksa dan Padma baru saja mendarat di depan bangunan guru. Dua bocah itu mengangguk seperti telah merencanakan sesuatu sebelumnya. Baru saja keduanya akan melangkah menuju pintu, seseorang melesat dan mendarat di depan mereka dengan kecepatan tinggi.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
Padma tersentak, Aray yang baru saja mendarat terlihat menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menatap keduanya tajam.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian lakukan di sini?"
__ADS_1
Pertanyaan Aray malah diberi tawa oleh Daksa dan Padma. Kebetulan sekali tidak ada murid yang menjaga pintu seperti biasanya.
"Kurasa kucing hitam ini telah berani tidak menjawab pertanyaanmu dan malah bertanya balik." Daksa tertawa dan maju selangkah. "Apa kau sudah memiliki keberanian untuk melawan kami?"
Aray menatap tajam Daksa sambil mengepalkan tangan kuat. Sebelum dia berkata, Padma berujar sinis.
"Ah, kau tidak perlu tahu apa yang akan kami lakukan." Padma menyeringai. "Bukankah seharusnya kau kini sedang berlatih bersama teman-temanmu? Kenapa kau hanya sendiri? Atau jangan-jangan temanmu menghilang?"
Aray semakin menguatkan kepalan. Pemikirannya mengenai dua bocah di depannya pasti benar. Daksa dan Padma yang sebelumnya mendobrak pintu asrama Amdara mencurigai keberadaan Amdara yang sampai sekarang tidak diketahui dan berniat mengatakan hal ini pada guru atau Tetua. Untung saja Aray melihat kedua bocah ini yang baru saja mendarat dan dengan cepat dirinya melesat.
Dan jelasnya, Aray tidak akan membiarkan mereka mengatakan hal tersebut pada siapa pun.
"Kau tidak menjawab lagi, heh?!"
Daksa baru saja akan meninju perut Aray ketika sebuah asap hitam menghentikan pergerakannya. Asap hitam tersebut mengelilingi dua bocah itu dan entah bagaimana membuat mereka sekarang berada di hutan buatan.
Di sisi lain, orang yang dikhawatirkan Aray tengah berusaha berlindung dari serangan nyasar. Entah disengaja atau tidak tetapi wanita bernama Fusi itu selalu melesatkan serangan ke arahnya. Senior Fans tentu tidak membiarkan begitu saja. Sejak sepuluh menit berlangsung mereka telah bertukar serangan dan belum ada yang terluka. Bahkan goresan kecil pada jubah saja tidak ada.
BAAM!
Debaman keras lagi-lagi terdengar. Di hutan itu, Amdara terpental karena perisai pelindungnya yang tidak kuat akibat kekuatannya yang tidak mengalir dengan baik. Dia terbatuh darah, menekan dada yang terasa sakit.
Sementara Senior Fans mengepalkan tangan dan meninju Fusi. Tidak peduli dia wanita, Fans mengeluarkan jurus beruntun hingga membuat Fusi terpental jauh.
BAAM!
Pohon sekitar hangus seketika. Nampak Fans menarik napas dirinya segera melesat ke arah Amdara yang masih terbatuk darah. Fans mengalirkan kekuatannya untuk menyembuhkan Amdara. Tahu tubuh Amdara yang istimewa, Fans hanya bisa menjaga inti spiritual Amdara agar tetap stabil.
Amdara mengangguk. Rasa sakitnya sangat besar, tetapi wajah datarnya mencoba tenang. Walaupun begitu tetap saja Fans tahu Amdara menahan sakit.
"Kau pergi dari sini." Fans memberikan perisai pelindung pada Amdara. "Aku akan mengalahkan wanita itu."
Amdara menggeleng. "Tidak. Aku akan membantumu."
Fans menatap dalam Amdara sebelum berkata. "Kau malah merepotkan."
Fans tidak bisa mengeluarkan portal. Ketika dia akan berkata lagi Fusi yang terbatuk darah telah melayang kembali dan menyeringai. Ini kesempatannya untuk melenyapkan lawan ketika sedang lengah.
Fusi mengeluarkan selendang hitam, melayang-layang dan langsung melesatkan jurus dahsyat ke arah Fans dan Amdara.
BAAM!
Blaaar!
Debaman keras terjadi, lubang besar akibat serangan Fusi terbentuk di tanah. Asap hitam mengepul di udara. Terlihat banyak darah di sana. Bahan beberapa pohon hangus begitu saja.
Fusi yang mengira telah melenyapkan lawan tertawa keras. "Haha. Mereka begitu lemah. Ah~ sayang sekali. Aku jadi tidak bisa memakannya--"
BAAM!
__ADS_1
Sesuatu melesat ke arahnya. Sebuah lesatan putih mengenai lengannya mengakibatkan wanita itu yang belum sempat menghindar mengalami luka parah. Beruntung hanya tangan yang terkena serangan barusan.
Serangan beruntun kembali. Dengan sigap Fusi menghindar dan membuat perisai pelindung. Dia tersentak sebab tidak merasakan hawa kehadiran siapa pun.
Blaaar!
Fusi menggunakan selendangnya untuk menangkis serangan dari samping. Mengakibatkan petir menyambar di langit malam.
"Apa maumu?"
Pertanyaan dingin itu terdengar di telinga Fusi yang begitu tersentak. Dia tahu suara ini. Suara yang harusnya telah lenyap oleh jurus sebelumnya.
Fusi tersenyum, tetapi dalam hati dia cukup terkejut. Tidak menyangka lawan masiih hidup. Lalu darah siapa yang ada di lubang besar itu? Dan entah bagaimana lawan bisa menghindari serangannya.
"Aih~apa kau tidak menanyakan siapa aku?" Fusi mencoba menajamkan netra dan pendengaran agar bisa merasakan kehadiran orang lain.
Tidak ada jawaban membuat Fusi semakin melebarkan senyum. Sejak awal dia memang tidak banyak berbicara tentu memiliki niat tersendiri.
"Hehe. Aku hanya butuh bocah itu untuk membuat kekuatanku bertambah."
Tanpa Fusi ketahui, sebelumnya Fans telah membuat rencana. Fans membuat boneka buatan dengan darahnya sendiri, sebelumnya dia telah membawa Amdara pergi jauh. Agar bisa melindungi dari jarak jauh. Sementara dirinya akan melawan lawan yang tidak diketahui asal usul dan tujuan.
Tindakan Fans tidak salah. Dia sebelumnya tahu bahwa Fusi orang yang berbahaya dan berniat mengincar nyawa Amdara.
Tidak jauh dari hutan, dua bocah berpakaian jubah hitam dengan tudung berjalan bergandengan. Mereka nampak tengah membicarakan sesuatu.
"Khaakhaa. Kapan kita lepas dari wanita itu?"
Nampak bocah yang membawa boneka bertanya pada temannya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Aku tidak tahu ... huhu. Aku rindu Luffy."
Dua bocah itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rinai dan Nada. Entah bagaimana tiga hari mereka jalani ketika tidak bersama Amdara.
"Apa dia masih hidup?"
Pertanyaan Nada dijawab dengan gelengan kepala. "Aku tidaik tahu. Huhuhu, jika dia masih hidup, dia akan mencari kita. Tapi jika dia tewas, kita yang harus mencarinya."
Dari kejauhan, seseorang berjalan pelan sambil menekan dada. Rambut putih panjangnya dilambai-lambai angin malam dingin. Wajahnya pucat pasi. Cadar yang dikenakannya berlumuran darah dan tak henti dia terbatuk darah. Satu tangannya memegang dada, sementara satu tangan berpegangan pada pohon untuk mempertahankan posisi berdirinya.
Nada mengembuskan napas. Dia dan temannya berjalan, di tengah-tengah hutan yang disinari rembulan.
Mata Nada menyipit ketika melihat seseorang baru saja terjatuh. Dia menyenggol lengan Rinai dan menunjuk orang itu.
"Aku seperti pernah melihatnya. Khakhaa."
Rinai melihat ke arah seseorang yang ditunjuk. Matanya awalnya biasa saja, tetapi detik berikutnya terbelalak. Begitu pula dengan Nada yang terus berjalan dan memerhatikan bocah berambut putih itu. Keduanya tanpa sadar menahan napas saat jarak mereka semakin dekat.
"Luffy?!"
__ADS_1
Rinai dan Nada langsung berlari ke arah bocah bercadar itu yang masih terbatuk darah.