
Amdara segera berjalan ke arah pintu setelah mengatakan akan membuat penawar. Dia membalikkan badan saat teman-temannya sama sekali tidak merespon. Bahkan malah melihat Amdara dengan tatapan sulit diartikan.
Amdara menautkan alis dan bertanya, "ada apa?"
"A-apa yang kau katakan Luffy? M-membuat penawar?"
Atma bertanya terbata-bata, dia menatap Amdara tak percaya. Membuat penawar bukanlah perkara mudah. Membutuhkan pengetahuan luas, tanaman herbal, dan tentunya telah mempraktekkan sebelumnya. Mendengar Amdara akan membuat penawar, jelas tidak ada yang percaya sekalipun Inay.
Ramuan aneh yang berbeda efek pada tubuh manusia adalah termasuk jenis ramuan langka yang tak disangka-sangka siapa pun. Untuk membuat penawar jenis ini tentu akan sulit dan sang alkemis hebat pun akan membutuhkan waktu lama membuat penawarannya.
"Kau jangan membual, Rambut Putih. Bagaimana cara membuatnya? Tsk. Si pembuat ramuan aneh saja tidak bisa membuat penawar. Apalagi kau?"
Aray memang terkesan meledek. Tetapi yang dia katakan juga tidak salah.
"Kau masih butuh istirahat, Luffy. Kemarilah, kau masih belum pulih." Inay menepuk-nepuk tempat tidur. Dia tersenyum canggung.
"Nana benar, Luffy. Kau tidak perlu memikirkan banyak hal. Cukup istirahat saja dengan baik."
Dirgan juga nampak tersenyum kikuk melihat wajah datar Amdara. Nada dan Rinai membujuk agar Amdara istirahat saja dan tidak memikirkan banyak hal. Namun, yang ada malah membuat Amdara mengembuskan napas.
"Mereka tidak percaya." Amdara mengangguk dan berjalan ke arah tempat tidur. Matanya melirik jendela kamar yang terbuka lebar. Dengan kecepatan kilat dia melesat keluar.
"Luffy ...!"
Teman-temannya jelas terkejut. Aray segera melesat menyusul lewat jendela. Inay baru saja akan melakukan hal yang sama tetapi, tangannya ditarik Atma dan meminta agar mereka juga bisa mengejar Amdara.
*
*
*
"Luar biasa."
Amdara terbang bebas di atas dengan perasaan senang. Tidak menyangka bisa merasakan terbang kembali. Amdara mempercepat terbang menuju hutan buatan yang jauh dari Akademi dan asrama.
__ADS_1
Dia berniat membuat penawar di hutan buatan. Dan untuk mencapai itu, harus melakukan hal tak terduga seperti keluar dari jendela. Tidak bisa membiarkan teman-temannya yang meminta untuk istirahat sementara Amdara harus membuat penawar malam ini juga. Tersisa malam ini saja dan jika sampai gagal, masalah besar akan menimpa dia dan kelas Satu C.
Mata Amdara melihat sebuah periuk di lapangan latihan. Menggunakan kekuatan, Amdara melayangkan periuk dan membawa bersama dengannya.
"Mari kita coba."
Di belakangnya, Aray melesat cepat mengejar Amdara yang tahu tetapi tidak melakukan apa pun. Aray memanggil, tetapi Amdara malah semakin mempercepat terbang.
Sampai di hutan buatan yang dituju, Amdara mendarat dan meletakkan periuk di depan. Malam berbintang tidak cukup menerangi hutan. Amdara lalu mengeluarkan cahaya, menyinari sekeliling.
"Hoi, kau ini sedang sakit. Kenapa malah terbang cepat dan pergi ke hutan ini?!"
Aray mendarat sambil mengomel. Dia berdecak kesal saat Amdara tidak menanggapi dan malah sibuk membersihkan periuk.
Dari belakang, Inay membawa Dirgan, Atma, Rinai dan Nada menggunakan rambut melesat cepat mengejar Amdara. Untung saja tidak sampai kehilangan jejak.
"Luffy, apa yang kau lakukan?"
Yang paling terkejut senarnya adalah Inay. Dia tahu Amdara tidak bisa menggunakan kekuatan karena ada Benang Merah. Melihat Amdara yang bisa terbang, pemikiran Inay mengenai Tetua Haki dan Tetua Rasmi yang kemungkinan besar telah menyembuhkan Amdara. Ada beberapa hal yang nanti Inay tanyakan langsung jika situasi memungkinkan.
"Membuat penawar."
Amdara mengeluarkan tanaman herbal berbentuk bunga dengan warna merah bercampur orange dari dalam Cincin Ruang. Tanaman herbal itu bernama Bunga Matahari Sore, jika dilihat dari bentuk serta warnanya yang semakin pekat, jelas umurnya telah mencapai ribuan tahun. Kemudian Amdara mengeluarkan akar tanaman herbal dari sungai Es dan Api dari yang Amdara baca di buku pemberian Are. Dua daun hitam berbentuk segitiga, dan juga lima tanaman herbal kelompak bunga hitam bercampur merah pekat. Semua tanaman herbal itu berumur ribuan tahun, dan memiliki aura tersendiri.
Sepertinya tanaman-tanaman herbal ini tidak ada yang berumur tahunan. Amdara sendiri cukup tersentak saat melihat tanaman-tanaman ini sebelumnya saat di Dark World.
Dirgan, Atma, Inay, Aray, Rinai, dan Nada terkesima dibuat melihat jenis-jenis tanaman herbal yang kini melayang di depan mereka. Tatapan tak percaya melihat tanaman herbal dengan umur ribuan tahun itu.
"Luffy, dari mana kau mendapatkan tanaman herbal ini?" Dirgan bertanya penasaran. Dia menatap kagum. Seakan melupakan Amdara yang harus istirahat karena belum sepenuhnya pulih.
"I-ini luar biasa."
Atma tak mengedipkan mata karena saking terkesimanya. Dia baru akan menyentuh salah satu tanaman herbal, tetapi langsung dicegah Amdara.
"Jangan sentuh. Itu akan membuatnya layu."
__ADS_1
Sontak Atma menjauhkan tangan dan meminta maaf karena tidak tahu. Amdara mengangguk, itu wajar. Amdara juga tidak akan tahu jika tidak membaca buku.
Ada beberapa jenis tanaman yang tidak boleh dipetik sembarangan. Harus menggunakan cara khusus agar tanaman itu tidak layu.
"Ini tidak ditemukan di Hutan Arwah. Kau mendapatkannya dari mana, Rambut Putih?"
Aray begitu penasaran, dia bertanya langsung dan dijawab singkat oleh Amdara.
"Mn. Suatu tempat."
Tentu Amdara tidak akan mengatakan kebenaran dia mendapatkannya dari Dark World. Yang ada nanti teman-temannya banyak bertanya dan malah menyebar luaskan mengenai dunia lain manusia.
"Hei, apa kau mau bermain-main dengan rahasia? Ayolah, Luffy. Kau katakan pada kami dari mana mendapatkan tanaman herbal ini?" Inay mendekati Amdara dan menyenggol lengan sambil menatap penuh penasaran.
Amdara menghela napas. Akan repot jika urusannya dengan Inay dan yang lain. Amdara berkata, "tidak perlu tahu."
Inay mengedutkan sebelah mata. Tahu perangai keras kepala teman satu ini. Sementara Aray, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada juga tidak bisa memaksa Amdara buka mulut.
Amdara meletakkan tanaman-tanaman herbal tersebut ke dalam periuk dan kemudian mengeluarkan api birunya untuk memasak ramuan yang akan dibuat. Tidak sampai di sana, dirinya mengambil kayu tidak jauh darinya untuk mengolah ramuan yang kini mulai melebur.
Seperti yang dibaca dalam buku, Amdara harus membuat tanaman herbal itu tercampur rata setelah melebur menggunakan alat. Yang membedakan kali ini adalah api milik Amdara. Dalam buku tertera penjelasan bahwa membuat ramuan tidaklah sembarangan menggunakan api. Namun, karena Amdara tidak bisa mengeluarkan jenis api seperti yang dijelaskan, dia menggunakan api biru miliknya dengan harapan hasilnya cukup.
Letupan-letupan kecil dari mulai terdengar dari dalam periuk. Semakin lama, letupan itu semakin terdengar keras sampai berdengung.
Amdara terkejut, apalagi suara dengungannya semakin nyaring. Begitu pula dengan teman-temannya yang penasaran dan cemas akan terjadi hal tak terduga.
"A-apa yang terjadi?"
Pertanyaan Atma mewakili perasaan teman yang lain. Dirinya menelan ludah susah payah. Dan terlonjak kaget mendengar suara Amdara.
"Menghindar."
Ledakan besar terjadi. Asap hitam langsung mengepul di udara. Untunglah Amdara memberi aba-aba pada teman-temannya hingga mereka menghindar dengan cepat.
Asap mulai menghilang perlahan. Amdara segera mendekat dan melihat apa yang terjadi dengan olahannya. Amdara menahan napas melihat isi periuk, dan teman-temannya juga sama halnya tak menyangka.
__ADS_1
"P-pil?! Bagaimana bisa jadi sebuah pil?!"