Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
187 - Mencari Informasi


__ADS_3

Malam itu, keadaan desa Igir sudah bisa dikatakan tenang. Langit malam dipenuhi bintang, dan udara dingin berhembus kencang. Gelapnya malam biasanya akan membuat para warga gelisah, ketakutan, dan ingin melarikan diri dari desa. Akan tetapi malam itu terasa sangat berbeda, jauh lebih tenang, damai, dan perasaan lega menyelimuti. Tentunya itu semua berkat pertolongan satu wanita dan satu bocah yang wajahnya tertutup topeng.


Setelah mendengar bahwa desa Igir sekarang sudah aman, para warga saling berpelukan. Tangis mereka pecah, karena harapan ini baru terwujud setelah sekian lama. Mereka juga tidak henti mengatakan terima kasih kepada kedua penolong itu.


Tetua Widya dan Amdara dijamu dengan baik setelah para warga disembuhkan dan diberikan beberapa roti kering, daging, air, dan buah-buahan dari Tetua Widya. Mereka makan dengan perasaaan terharu, bahkan sampai meneteskan air mata. Hal yang membuat kalut adalah, mereka mendahulukan yang tua dan yang kecil untuk makan terlebih dahulu. Nyatanya, ada makanan mereka masih memiliki rasa saling menyayangi walau diri sendiri juga dalam keadaan tidak baik.


Dari cerita sesepuh di sana, Kepala Desa Igir telah meninggal. Mereka sekarang tidak ada yang memimpin.


Tetua Widya mengobrol dengan beberapa warga, sementara Amdara meminta izin untuk memulihkan diri di salah satu atap warga. Dia membuka topeng, angin menerpa wajah putihnya. Di malam itu, mata birunya terlihat bersinar indah. Dia menatap langit malam sambil memejamkan mata.


"Setelah kembali, aku akan mulai mencari informasi mengenai kedua orangtuaku."


Amdara menarik napas dalam. Membuka mata perlahan. Setelah menguasai Jurus Darah Pelenyap Roh Hitam, dia akan dengan cepat menyelesaikan misi dari Tetua Bram dan fokus pada tujuan awal. Namun, saat ini Amdara tidak tahu harus mencari informasi dari mana.


Dia mengeluarkan peta, beberapa titik merah yang pernah ditandai Tetua Bram telah menghilang. Itu karena Amdara telah melakukan misi melenyapkan roh hitam. Nyatanya walaupun Amdara berlatih khusus, dia mencuri kesempatan untuk menjalankan misi dari Tetua Bram. Sekarang hasilnya nampak cukup baik karena sudah banyak Roh Hitam yang dia lenyapkan. Jadi ke depannya, Amdara bisa mencari informasi mengenai kedua orangtuanya dengan tenang.


Dia melepas ikat rambut berukiran naga. Teringat Are, mungkin dia mengetahui sesuatu mengenai ibunya. Mungkin setelah ini dia akan pergi diam-diam ke Hutan Arwah.


Pagi menyapa, membawa kehangatan bumi bersama cahaya tersendiri. Suara kicauan burung serta udara dingin pada pagi hari menyambut warga desa Igir. Mereka saat ini sudah berkumpul, untuk melihat Tetua Widya dan Amdara pergi.


"Maafkan kami yang tidak bisa memberika apa-pun sebagai balas budi. Kami tidak akan pernah melupakan kalian."


Kata salah seorang warga. Mereka nampak sangat senang karena sudah terbebas dari penyiksaan.


Tetua Widya tersenyum dan berkata, "tidak perlu membalas apa-apa. Kalau begitu, kami pamit kembali."


Para warga mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan. Tetua Widya bersama Amdara melesat pergi.


Dalam perjalanan kembali, keduanya tidak banyak berbicara. Mungkin antara lelah dan tidak ada topik yang ingin dibahas. Beberapa kali Tetua Widyaa nampak melirik Amdara dan ingin menanyakan sesuatu, tetapi dia selalu mengurungkan niat entah karena apa. Sementara Amdara juga tidak berniat berbicara sebab dirinya harus memikirkan cara agar bisa diam-diam pergi ke Dark World.

__ADS_1


Kemampuan Amdara meningkat sangat pesat, Tetua Widya sampai tidak bisa berkata-kata. Dia ingin kembali melatih bocah di sampingnya, tetapi ingat masih ada beberapa Tetua yang belum turun tangan memberikan pelatihan.


"Nak, setelah kembali kau istirahat saja. Jangan terlalu keras berlatih. Mengerti?"


Amdara menoleh, dan mengangguk paham. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.


"Tetua, jika boleh tahu sudah berapa lama Akademi Magic Awan Langit berdiri?"


Pertanyaan tidak terduga itu membuat Tetua Widya tersenyum. Sangat jarang ada yang menanyakan hal seperti ini. Dia tanpa menaruh kecurigaan langsung menjawab tenang.


"Kurasa ... Delapan puluh tahun lalu?"


Amdara mengangguk. Ternyata sudah cukup lama.


"Aku ingat Tetua Besar Moksa, apa dia yang mendirikannya?"


"Mn. Dia memang pendirinya. Kau tahu? Dia orang yang sangat hebat. Di usia mudanya sudah mampu mendirikan Akademi."


"Tetua Besar Moksa adalah panutan bagi kami. Dia sudah seperti seorang ayah yang mendidik anak-anaknya. Sampai sekarang, dan sampai akhir hayatku dia adalah orang pertama yang aku banggakan."


Tetua Widya jadi hanyut dalam cerita sendiri. Dia menceritakan banyak hal mengenai Tetua Besar Moksa yang menurutnya sangat kuat dan luar biasa. Dia juga mengatakan bahwa Tetua Besar Moksa tinggal di alam atas, yang mana tempatnya berada di atas Akademi Magic Awan Langit. Jika dilihat oleh mata orang biasa, tidak akan terlihat karena memiliki segel.


Mendengar cerita tentang Tetua Besar Moksa, Amdara jadi teringat saat pertama kali mereka bertemu. Yang mana Tetua Besar Moksa mengatakan mata birunya seperti milik seseorang.


"... Sang Langit. Tetua, apa kau pernah mendengar Sang Langit?"


Pertanyaan ini lebih tidak terduga bagi Tetua Widya. Dia sampai terdiam sambil menoleh ke samping.


"Apa yang kau maksud adalah Sang Langit ... seorang legendaris penyelamat tapi malah ... uhuk. Mn."

__ADS_1


Tetua Widya terbatuk saat ingin melanjutkan kalimatnya. Jelas hal itu membuatnya merasa penasaran. Mungkin saja Amdara mendapat informasi bagus.


"Jika Tetua mengetahui ceritanya, maukah menceritakannya kepada murid?"


Entahlah, mendadak Amdara penasaran dengan cerita Sang Langit. Sepertinya ada sebuah cerita yang menarik. Amdara menunggu Tetua Widya bercerita, akan tetapi melihat raut wajah Tetua Widya yang berubah membuat Amdara kebingungan.


"Maafkan kelancanganku, Tetua."


Amdara jadi merasa bersalah karena mengungkit nama Sang Langit ini.


Tetua Widya menggeleng. Tatapan sendu nampak terlihat jelas. Dia menatap ke depan dengan perasaan tak karuan. Dia pernah diceritakan mengenai 'Sang Langit' oleh Tetua Besar Moksa yang sampai matanya memerah. Teringat ceritanya, membuat Tetua Widya sedikit kesulitan menelan ludah.


"Yah, namanya memang sangat legendaris. Sang Langit. Bahkan sampai sekarang 'mungkin' masih ada beberapa orang yang mengingatnya. Tidak hanya di Negeri Nirwana Bumi, tetapi di Tiga Negari sekaligus."


Amdara masih setia mendengar. Saat Tetua mengatakannya, suaranya terdengar lirih dan ada nada kesedihan di dalamnya.


"Aku akan menceritakan sedikit. Jika kau ingin mendengar banyak hal, tanyakanlah kepada Tetua Besar Moksa."


*


*


*


Beberapa hari perjalanan cukup menguras tenaga, Amdara memilih untuk memejamkan mata sambil berduduk sila. Saat ini dia tidak bisa pergi ke Dark World, khawatir Tetua yang lain akan datang memberikan pelatihan baru. Jadi selama seminggu dia masih menunggu sambil bermeditasi.


Namun, sebenarnya pikiran Amdara masih memikirkan mengenai Sang Langit yang diceritakan Tetua Widya.


Sang Langit yang diceritakan merupakan seorang pemuda yang benar-benar luar biasa menghentikan kekacauan besar. Namanya melambung tinggi, banyak yang menyanjung. Banyak yang menghormati karena kejadian itu. Namun, satu hal tidak terduga membuatnya dipandang remeh, serendah-rendahnya oleh orang-orang yang sebelumnya menjunjung hanya karena satu masalah sepele. Orang-orang itu menghormati karena Sang Langit kuat, tetapi begitu ada masalah mereka langsung menghindar, menjauh, dan bahkan tidak segan bertindak semena-mena.

__ADS_1


Entahlah, saat itu Tetua Widya menceritakannya dengan suara isakan. Dia bercerita terpotong-potong, jadi Amdara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya beberapa kalimat yang bisa dia pahami. Sepertinya Sang Langit ini memang orang yang luar biasa.


Amdara jadi berpikir, jika Tiga Negeri tahu Sang Langit, tapi mengapa sejak kecil Amdara tidak pernah mendengar namanya? Atau setidaknya Tetua Bram menceritakan. Bukankah ada yang aneh? Atau memang karena kejadiannya sudah lama, jadi sang legendaris ini mulai terlupakan?


__ADS_2