
"Lalu kenapa jika kalian lemah?! Kenapa tidak ingin berjuang bersama dan mendapatkan keadilan?!"
Aray berteriak keras. Menumpahkan segala kekesalan di dalam hatinya. Buliran air yang menggenang di pelupuk mata akhirnya mengalir perlahan.
Vir, dan kelima temannya yang belum jauh seketika menghentikan langkah. Mereka mengepalkan tangan sambil menggelindingkan air mata yang membahasahi pipi.
Tak ada yang menjawab. Vir terlihat menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan langkah diikuti teman-temannya.
Aray terduduk. Memukul keras tanah dan mengutuk, "kalian lemah! Kalian payah! Sama sekali tidak memiliki nyali untuk melawan tanpa kekuatan ...!"
"Benar-benar tidak berguna ...!"
Aray terus berteriak kesetanan. Tanpa memedulikan lagi waktu yang berjalan menutup kegagalan pertandingan pertama. Aray mungkin saja bisa melewati hutan ini sendiri, akan tetapi dia berpikir semua itu tidak akan berguna tanpa teman-temannya. Diadakannya pertandingan ini bukan hanya melatih mental tetapi juga melihat kekompakan setiap kelompok.
Aray mengkhawatirkan Guru Aneh yang akan kecewa padanya. Mungkin kekecewaan Guru Aneh padanya yang tak bisa lolos di hari pertama pertandingan membuat Guru Aneh akan berhenti mengajar. Walaupun Aray tahu Guru Aneh telah kecewa sejak lama, sejak mereka sama sekali tidak bisa lolos di pertandingan antar kelas ini. Namun, Aray sekarang bisa mengaktifkan kekuatan. Jelas pastinya Guru Aneh memiliki harapan sedikit saja di lubuk hatinya dan itu yang membuat Aray tak ingin kalah di sini. Namun, sekarang yang ada dia malah menangis dan mengutuk.
Di sungai yang mengalir tenang, semua peserta telah sampai dengan beberapa luka di bagian. Mereka nampak tersenyum senang bisa melewati hutan jebakan itu. Terkecuali kelompok Aray yang tidak sampai-sampai membuat kelompok lain sudah menduga akan terjadi hal seperti ini.
Di sana Guru Ghana tersenyum, dan menyilangkan kedua tangan depan dada. Tetua Haki yang masih melihat keadaan Aray di bola ajaib masih tak memberikan perkataan apa pun.
"Tetua, bukankah semua kelompok sudah sampai? Bagaimana jika langsung ke pertandingan berikutnya?"
Perkataan Guru Ghana mendapat helaan napas kasar Tetua Haki dan menjawab, "tunggu sampai waktu selesai."
Guru Ghana tersenyum kecut. Dia mengedarkan pandangan mencari seseorang. Tatapannya tertuju pada atap asrama putra yang di sana seseorang tengah bertengger. Senyum Guru Ghana semakin mengembang, dia melesat ke arah orang yang memakai topeng rubah di atap asrama.
Saat mendarat, Guru Ghana berucap, "kau menunggu siapa?"
Entah itu sebuah pertanyaan biasa atau ejekan pada orang yang memakai topeng rubah mengepalkan tangan. Orang itu tidak lain adalah Guru Aneh yang masih berharap murid didiknya keluar dari hutan. Namun, sepertinya harapan itu akan sulit terwujud.
"Mereka tidak akan sampai sama seperti tahun-tahun lalu."
Perkataan Guru Ghana kali ini cukup membuat Guru Aneh langsung berdiri dan menatap tajam Guru Aneh yang tersenyum remeh.
"Terima kasih atas perhatian Guru Ghana pada murid-muridku." Guru Ghana tersenyum sinis di balik topengnya.
Guru Ghana membeku sebelum akhirnya kembali tersenyum sambil memajukan tangan setengah.
"Yah, bukan masalah. Lagi pula murid-muridmu memang membutuhkan perhatian orang lain."
Ketika itu juga Guru Aneh menahan amarah. Dia tidak ingin bertengkar pada acara ini. Jelas yang akan terlihat dirinya tidak terima atas kegagalan murid-muridnya.
"Kurasa Guru Ghana terlalu baik pada murid-muridku. Tapi ini bukan urusan yang harus Anda urus." Guru Aneh berkata sinis, "Guru Ghana tidak ada pekerjaan lain saat ini? Atau Anda memang tidak memerhatikan murid Anda sendiri karena terlalu perhatian pada muridku?"
Senyum Guru Ghana menghilang. Dia semakin mengepalkan tangan dan seperti kalah dengan ucapan Guru Aneh. Guru Ghana membalikkan badan dan setelahnya berkata, "kita lihat, siapa yang akan menjadi perhatian semua orang nanti."
Guru Ghana langsung melesat dan pergi ke kumpulan para guru lain.
__ADS_1
Guru Aneh tersenyum. Menghadapi orang seperti Guru Ghana memang membutuhkan kesabaran dan mengolah kata agar kembali membuat orang itu tak bisa menjawab. Walaupun telah lama ada perseteruan di antara dua orang itu, tetapi belum pernah keduanya seperti akur.
"Setidaknya aku mengharapkanmu, Aray."
Guru Aneh memandang hutan buatan di depan sana. Seharusnya Aray merasakan apa yang dirinya rasakan juga.
Orang yang diharapkan Guru Aneh masih meratapi segala sesuatu yang barusan terjadi. Aray jadi tidak bersemangat melanjutkan pertandingan ini.
Tidak jauh di depannya, semak belukar tiba-tiba bergerak aneh. Aray yang tak sengaja melihatnya terdiam dan terus memperhatikan. Sampai sesuatu tidak terduga terjadi. Semak belukar itu meledak tiba-tiba membuat Aray terkejut bukan main.
Seseorang melesat cepat ke atas, Aray membelalakkan mata saat seperti mengenal orang yang baru saja melesat dan kini langsung menapakkan kaki memunggunginya. Jubah hitam dan rambut hitam keunguan itu yang hanya pernah dilihat Aray di kelasnya.
Sebuah lubang yang tidak terlalu besar yang awalnya tertutupi semak belukar terlihat, seorang bocah laki-laki muncul dari sana dan langsung keluar dengan susah payah.
"H-hah ... ternyata tidak mudah. Ya ampun, punggungku terasa sakit."
Bocah yang memakai jubah hitam sama dengan bocah perempuan sebelumnya nampak memegangi punggung dan terlihat kelelahan. Dia juga tidak melihat Aray yang semakin membuka mata dan mulut.
Tiga bocah lagi muncul dari lubang itu, dan yang membuat Aray langsung berdiri ketika dirinya melihat bocah berambut putih yang telah lama dia tunggu muncul.
"Akhirnya sampai, khakhaa."
"Huhuhu. Aku takut sekali. Huhuhu. Tapi ini menyenangkan."
"Kalian baik-baik saja, bukan?"
"Kalian ...."
Bibir Aray terasa berat saat mengeluarkan kata barusan. Keenam bocah itu tersentak dan segera membalikkan badan, terkejut saat melihat teman lama tengah menatap mereka tanpa berkedip.
"Aray?"
Aray menghampiri keenam bocah itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Amdara, Inay, Dirgan, Atma, Rinai dan Nada yang selama sebulan ini menghilang dan sekarang tiba-tiba keluar dari lubang itu. Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama ini? Tidak mungkin bukan, hanya berdiam di dalam lubang itu?!
Baru saja Aray akan marah karena hal tersebut tetapi segera bungkam saat perkataan Rinai yang tidak terduga.
"Huhuhu. Aray, kau terlihat baru saja menangis sepertiku."
Sontak Dirgan, Atma, Nada, dan Inay langsung memerhatikan mata Aray. Sontak mereka tertawa melihat wajah menyedihkan Aray ditambah lagi mata yang sembab.
"Hahaha. Apa yang terjadi padamu, kawan? Kau sampai menangis seperti ini, pasti ada masalah, bukan?" Atma tertawa dan menghampiri Aray sambil menepuk-nepuk bahu Aray keras.
"Khakhaa. Aku tidak menyangka kau bisa menangis, Aray."
Nada tertawa cekikikan. Dan terlihat senang dengan Aray yang terlihat kesal setengah mati.
"Berisik! Siapa yang menangis? Mataku terkena debu jadi berair!"
__ADS_1
Aray mengusap matanya menggunakan punggung tangan dengan kesal.
Amdara menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya memang telah terjadi sesuatu pada Aray sampai dia menangis. Bukankah seharusnya Aray tengah berlatih khusus di kediaman Guru Aneh? Mengapa dia bisa keluar? Apa Aray sudah bisa mengendalikan kekuatannya? Beberapa pertanyaan itu masih tersimpan di kepala Amdara.
Inay yang masih tertawa sampai perutnya sakit berkata, "hahaha! Ternyata seorang Aray bisa menangis seperti ini juga, yah?"
Mereka kembali tertawa tanpa mempedulikan kemarahan Aray yang kian menjadi. Bahkan mereka seperti lupa bahwa Aray melihat kemunculan mereka lewat lubang bawah tanah.
"Kau itu bisa berbohong. Tapi tidak dengan matamu, kawan." Atma masih menepuk-nepuk Aray sambil tertawa.
Aray menangkis tangan Atma dan berdecak kesal. Dirinya dengan ketus berkata, "mataku benar-benar berair karena debu. Sudahlah jika tidak percaya!"
"Sebenarnya ada apa denganmu?" Dirgan menghentikan tawanya sebelum bertanya.
Atma mencoba menghentikan tawanya. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Begitu pula dengan Inay yang mengembuskan napas.
Amdara melihat pakaian Aray yang berbeda. Dan juga seperti bukan seragam akademi.
Terlihat Aray mengembuskan napas panjang dan lalu berkata, "apa kalian lupa hari ini ada Pertandingan Antar Kelas?"
Perkataan Aray membuat teman-temannya tersentak dan seketika menghentikan tawa. Melihat wajah terkejut mereka, Aray menganggap mereka memang lupa. Sepertinya sekarang bukan waktunya Aray marah dengan menghilangnya mereka.
"Hah. Seharusnya sekarang aku dan yang lain tengah menjalankan pertandingan pertama ini." Aray mengepalkan tangan. "Tapi mereka memang pengecut."
Aray mengingat bagaimana teman sekelompok pergi karena merasa lemah dan tidak berguna. Apalagi setelah dit*nd*s. Aray juga menjelaskan kronologi ketika kelompoknya mendapatkan hin**n dari kelompok lain sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Mendengar cerita Aray, tanpa disadari tangan Amdara terkepal. Perasaannya marah saat itu juga. Pantas saja pakaian Aray terlihat berbeda, apa memang itu pakaian kelompok kelas Satu C? Setelah Amdara mengedarkan pandangan, memang hutan buatan ini ada yang berbeda.
Bukan hanya Amdara yang merasakan kemarahan. Namun, Dirgan sebagai Ketua Kelas juga merasa kesal bukan main. Dia sampai mengepalkan tangan kuat.
Tatapan Rinai, Nada, Atma, dan Inay menajam. Seakan siap menerjang siapa pun yang membuat kelas Satu C lagi dan lagi dijadikan bahan tertawaan.
"Apa yang harus dilakukan di pertandingan ini?" Amdara bertanya setelah Aray menjelaskan semuanya.
"Hanya perlu melewati hutan yang telah diberi banyak jebakan ini."
Sontak Amdara langsung menyapu pandangan. Hutan yang terlihat berbeda ini ternyata ada beberapa semak yang rusak, pohon yang tumbang, bekas serangan dan banyak panah yang menancap di tanah juga pepohonan.
Melihat situasi seperti ini, Amdara langsung melemparkan jubah hitam miliknya pada Aray dari Cincin Ruang.
"Pakai itu."
Aray jelas tersentak. Tidak mengerti maksud Amdara.
Bocah berambut putih itu kemudian memberikan teman-temannya topeng kucing dan meminta mereka memakainya.
Atma bertanya mengapa mereka harus memakai topeng itu. Amdara dengan santai menjawab agar terlihat lebih keren daripada memakai seragam yang dikenakan Aray. Jelas teman-temannya tersentak dengan perkataan pedas Amdara.
__ADS_1
"Kita akan selesaikan ini."