Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
267 - Pencabutan Benang Merah III


__ADS_3

"Berhenti menggangguku, sialan."


Sebuah cahaya dalam penglihatan Amdara muncul. Dia seperti berada di tempat yang sangat dingin dan membuat tidak nyaman. Sementara suara-suara mengerikan tidak henti terngiang.


Bayangan tangan hitam, besar, dan berdarah keluar dari bawah. Sontak gadis itu melompat menghindar, tetapi tangan-tangan mengerikan itu terus mengejar.


Amdara terus menghindari tangan-tangan tersebut sebisanya. Tubuhnya yang masih sakit kesulitan hanya untuk berlari. Aura di sana terasa mencekam.


Sementara itu, Ketu mengerutkan kening. Sinar orange mengelilingi tubuhnya. Dia memasukkan Bunga Api, di saat bersamaan di tubuh Amdara mengeluarkan panas luar biasa diiringi cahaya api. Tubuh yang sebelumnya dingin sampai ke tulang sum-sum berubah panas. Darah semakin deras mengalir dari bekas kulit yang sebelumnya mengelupas.


"Aneh. Ada aura gelap yang tersimpan di tubuhnya."


Ketu merasakan aura tidak biasa dari tubuh gadis di depannya ini ketika Benang Merah mulai bereaksi melepas. Aura yang membuat Ketu menekan ludah dan bertanya-tanya di pikiran sendiri.


"Apa dia dari Aliran Hitam? Jika benar, ini memang wajar. Karena Aliran Hitam kebanyakan menyimpan aura membunuh." Ketu kembali berpikir. Orang-orang Aliran Hitam sulit memasuki kota Ujung Bumi karena penjagaan yang ketat. "Tapi jika dari Aliran Putih, kenapa aura gelapnya sangat kental?! Ditambah dia masih semuda ini."


"Berapa banyak nyawa yang telah dia tewaskan?!" Ketu menahan napas sesaat. Dia tidak boleh lengah dalam proses ini. Sekali lengah, hal fatal bisa terjadi.


Akar dari Benang Merah terus bercahaya. Kembali bereaksi karena Bunga Api. Dalam tubuh Amdara, Ketu bisa melihat beberapa cahaya yang saling menyerang dengan gesit. Cahaya biru yang awalnya saling menubruk dengan cahaya merah mulai bergerak gesit ketika datang cahaya orange yang merupakan kekuatan Bunga Api.


Tampak Benang Merah mulai melawan dua cahaya itu. Kerutan di dahi Ketu kembali, saat cahaya emas tiba-tiba saja muncul dan melakukan serangan terhadap Benang Merah.


"Tunggu. Jenis kekuatan apa itu?"

__ADS_1


Semakin gesit serangan dari cahaya-cahaya dalam tubuh gadis itu jelas membuat Amdara semakin merasakan sakit luar biasa.


Tubuh gadis itu terasa terbakar sampai asap dari atas kepala mengepul. Amdara kembali tersadar ketika itu, tangan-tangan sebelumnya menghilang. Akan tetapi suara-suara aneh nan mengerikan masih menggema di telinga. Dia terbatuk darah. Napasnya tersenggal-senggal. Jelas hal tersebut membuat Ketu khawatir.


"Bertahanlah. Tidak lama lagi, kau harus berusaha keras konsentrasi, Bocah."


Amdara sama sekali tidak mendengar suara Ketu sebab terlalu bising suara di telinga dan pikirannya.


Darah dari hidung mengalir, mata yang tertutup bahkan mengalirkan cairan hitam. Dia berusaha konsentrasi, tetapi mulai goyah.


Hari sudah berganti malam. Suasana di luar kediaman memang sepi. Akan tetapi, berbeda dengan Akademi Nirwana Bumi saat ini. Di sana, Mitsu yang sudah sadarkan diri mendadak berteriak dan menyerukan gadis berambut putih.


Di ruangan pengobatan, Mitsu baru hendak melesat untuk mencari. Namun, teman-temannya menghentikan, bingung dengan apa yang dipikirkan Mitsu.


"Gadis itu! Dia ada di mana?!"


"Tidak mungkin! Dia masih hidup. Dia bahkan bisa selamat dari jurus mautku dan membuatku terluka seperti ini! Ada yang tidak beres dengannya. Aku yakin dia bukan manusia biasa!" Mitsu kembali mengingat. Sebuah sayap melekat di punggung lawan. Dia juga merasakan aura mengerikan ketika lawan balik menyerang. Seolah bisa menewaskannya dalam sekali serangan.


Lalu, Mitsu tidak lupa dengan bayangan hitam membentuk makhluk mengerikan yang keluar dari tubuh lawan saat itu. Jantung Mitsu berdetak lebih keras. Keringat dingin mulai bercucuran.


"D-dia bukan manusia! Dia adalah monster!"


"Tenangkan dirimu." Temannya menepuk punggung Mitsu yang wajahnya sudah pucat. Seolah tengah ketakutan akan sesuatu. Temannya kembali berucap, "dia tidak mungkin hidup setelah mendapatkan seranganmu. Kau pasti berhalusinasi tentangnya."

__ADS_1


Mitsu menggeleng dan berdiri tegas menatap satu persatu teman-temannya. "Tidak! Aku sama sekali tidak berhalusinasi. Dia benar-benar monster mengerikan."


Napas Mitsu memburu ketika kembali berbicara. "Kalian lihat tubuhku yang terluka parah, bukan?! Itu karena serangan gadis itu! Dia memiliki kekuatan gelap, dan dia bukan manusia! Melainkan monster."


Mitsu mencoba menyakinkan mereka. Akan tetapi, yang ada mereka menatap Mitsu bingung. Tidak percaya jika lawan Mitsu masih hidup. Karena informasi yang mereka dapatkan, gadis itu tidak ditemukan. Memang kemungkinan yang terpikir dia sudah tewas meledak sampai hangus. Mereka tahu betapa mengerikannya jurus Mitsu. Tidak mungkin lawan bisa selamat.


Namun, mereka juga dilanda kebingungan sebab luka parah di tubuh Mitsu.


"Tidak mungkin dia bisa menyerang. Bisa saja ada orang lain yang menyerangmu," yang lain mengeluarkan pendapat.


Mitsu kembali membantah tegas. "Tidak! Aku yakin yang menyerang adalah gadis rambut putih yang ku lawan!"


"Tapi dia tidak ditemukan. Kami sudah mencarinya di Akademi dan kota. Bahkan dari perkataan Kawa, dan kelompok yang sebelumnya melawan tidak menemukan tubuh gadis itu. Kau mungkin salah lihat yang menyerangmu adalah dia. Karena hal itu sangat mustahil."


Mitsu menggeleng-gelengkan kepala. Dia sedang berpikir sendiri saat ini. Kepalanya mendadak terasa sakit.


"Tapi aku lihat itu adalah gadis yang ku lawan. Bukan orang lain. Tapi ... yang dikatakannya bisa saja benar." Mitsu mencoba menenangkan diri sendiri. "Ada orang lain yang menyamar dan menyerangku?"


Kabar tentang perlawanannya ini sudah menyebar. Dari pihak perwakilan Akademi Magic Awan Langit, Tetua Rasmi dibuat syok.besar ketika mendengarnya. Dia langsung bertanya kepada Shi dan Cakra yang juga terkejut karena Tetua mereka sudah lebih dahulu mengetahui.


Shi waktu itu mencoba menenangkan Tetua Rasmi dan menjelaskan keadaan Amdara yang sekarang. Keadaan Amdara yang baik-baik saja akan tetapi entah berada di mana. Maksudnya, tempat yang tidak diketahui siapa pun.


Tetua Rasmi kembali dibuat terkejut. Kekhawatiran jelas terpampang di wajahnya waktu itu. Dia akan menanyakan kepada salah satu guru Akademi Nirwana Bumi, tetapi langsung dicegah Cakra dengan mengatakan mereka tidak boleh membocorkan hal ini. Karena yang jelas, urusannya akan semakin rumit jika melibatkan guru Akademi Nirwana Bumi.

__ADS_1


Tetua Rasmi tidak terima muridnya diserang membabi-buta oleh murid Akademi Nirwana Bumi. Namun, di sisi lain dia memikirkan resiko jika hal ini sampai membuat guru di sana turun tangan.


Shi hanya bisa mengatakan mereka harus yakin Amdara akan baik-baik saja dan akan kembali. Walaupun entah kapan. Shi mengatakan hal tersebut, tapi hatinya tetap saja tidak tenang. Begitu pula dengan Cakra, dibalik wajah tenangnya. Perasaannya sedang khawatir.


__ADS_2