Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
38 Di Awal Fajar


__ADS_3

Di dalam hutan, matahari terlihat ketika siang datang. Udara sejuk, serta ketenangan itu membuat Dirgan dan Atma langsung pergi seperti tiga hari mereka lalui untuk berburu binatang kecil. Sementara Rinai dan Nada pergi mencari sayur atau setidaknya mendapatkan umbi-umbian.


Di dalam gubuk hanya tinggal Inay, Senior Fans dan tentunya Amdara yang masih belum sadarkan diri.


Inay baru menceritakan semuanya setelah teman-teman pergi. Dia memulainya saat pertama kali memasuki Negeri Nirwana Bumi seperti yang diminta Senior Fans. Sementara Fans mengatakan dia berada di Negeri ini belum lama.


"Saat itu kupikir Dara akan membawa portal ke tempat lain. Tapi tidak diduga, portal itu malah masuk ke Akademi Awan Langit."


Inay ingat betul pertama kali dalam hidupnya mendapatkan masalah hampir setiap hari. Apalagi ingatan ketika mendapatkan hukuman


cambuk.


"Senior tahu? Aku dan bocah ini dicurigai sebagai penyusup dan mata-mata! Ya ampun, mereka bahkan memberikan hukuman cambuk."


Inay memijat kepala ketika mengingatnya. Dia tidak lupa menceritakan keadaan Amdara saat itu yang mendapatkan luka besar, dan menyelamatkannya dari hukuman cambuk terakhir. Dari mendapatkan kelas rendah, dan mendapat masalah dari Murid Akademi Awan Magic, sampai menjalankan misi dari Tetua Bram, berakhir dengan cerita bagaimana mereka bisa terpisah.


Ada sesuatu yang ingin ditanyakan Fans mengenai seorang wanita yang hampir melenyapkan Inay tetapi dia urungkan karena Inay tak berhenti bercerita.


"Hah, setelah Dara sadar kami akan kembali ke Akademi."


Kejadian tak terduga, sampai nyawa yang hampir terenggut apalagi mereka membawa empat teman yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan jelas sangat merepotkan.


Fans tidak habis pikir, mereka nekad menjalan misi yang lumayan sulit. Apalagi empat teman Inay tidak bisa mengeluarkan kekuatan.


"Tapi sampai kapan Dara tidak sadarkan diri?"


Pertanyaan Inay membuat Fans menarik napas dalam sebelum menjawab. Dia melihat Benang Merah di inti spiritual Amdara yang semakin bertambah.


"Aku tidak tahu."


Inay tahu, Amdara istimewa. Amdara yang harusnya kuat tetapi entah bagaimana bisa berbaring seperti sekarang. Bahkan Senior Fans tidak bisa membantu lebih.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"


Fans ragu menceritakan Benang Merah pada Inay tetapi bagaimana pun nanti Inay akan menjaga Amdara jika tahu keadaan tidak baik ini.


"Dia mendapat Benang Merah di inti spiritualnya."


"Benang Merah?"


"Mn. Intinya Amdara jadi sulit menyerap kekuatan."


Inay tidak pernah mendengar mengenai Benang Merah. Hanya mendengarnya saja membuat Inay tahu bahwa Amdara kesulitan menggunakan kekuatan juga. Untuk menyembuhkan luka dalam dengan sendiri pun akan membutuhkan waktu lama.


Inay bertanya bagaimana bisa Amdara mendapatkan Benang Merah, jawaban menyesakkan dari Senior Fans membuat Inay kembali mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menolong Amdara waktu itu.


Melihat perubahan wajah Inay, Fans berkata, "jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang kau harus lebih kuat."


Inay mengangguk. "Aku akan kuat. Sudahlah. Senior, kau istirahat saja. Biar aku yang menjaga inti spiritual Dara."


Semalaman, Fans tidak tidur. Dia terus menjaga inti spiritual Amdara menggunakan kekuatannya. Walaupun Fans terbiasa tidak tidur, tetapi kekuatannya berkurang hanya untuk menjaga inti spiritual. Ditambah sebelumnya dia telah mengeluarkan kekuatan besar hanya untuk melenyapkan seorang wanita.


"Kau menganggapku lemah?"


"Tidak. Tapi sebaiknya senior juga harus istirahat."


"Baiklah. Kau jaga Dara. Aku akan menyusul teman-temanmu yang katanya sedang 'berburu'."


"Eh?! Senior--!"


Senior Fans melesat cepat tanpa mendengarkan Inay. Bocah berambut ungu kehitaman itu berdecak kesal. Sikap keras kepala itu, bukan hanya dimiliki Amdara tetapi kebanyakan murid Organisasi Elang Putih memiliki sikap yang sama.


Fans melayang, mencari teman-teman Inay yang terlihat dari atas tengah sembunyi di semak-semak. Di depan dua bocah laki-laki itu, hewan putih kecil tengah memakan rumput. Fans memerhatikan sebelum mendarat.


"Dalam hitungan ketiga, kita akan menangkapnya."


Dirgan memberi aba-aba, dia menghitung lirih. Keduanya melompat bersama, dalam hitungan ketiga. Berharap binatang kelinci itu tertangkap, tetapi malah keduanya merasakan kepala yang pening akibat bertabrakkan dan si kelinci melompat pergi.


"A-aduh, kepalaku. Ya ampun ...."


Atma mengusap-usap kepalanya. Begitu pula dengan Dirgan. "Jangan sampai kelincinya pergi jauh. Tangkap ...!"


Walaupun dengan kepala yang masih pusing, keduanya berlari sempoyongan mengejar kelinci yang semakin jauh.


"Dirgan, coba pakai strategi lain!"


Atma hampir saja tersandung akar pohon yang besar, untung saja dirinya bisa menyeimbangkan tubuh.


Dirgan mengepalkan tangan, otaknya harus bekerja lebih cepat. Dia mengambil sebuah ranting kecil kemudian melemparkanya ke arah Atma yang langsung ditangkap.

__ADS_1


"Lempar itu tepat ke arah kanan kelinci!"


"Apa?!"


"Cepat!"


Atma langsung melemparkan ranting tersebut, dan kelinci melompat ke arah kiri yang ternyata Dirgan telah memperhitungkan. Dia berlari ke arah kiri, ketika kelinci akan tertangkap Dirgan terpeleset. Alhasil kelinci itu lolos begitu saja.


"Ack."


Dirgan kembali berdiri, dia terlihat berdecak kesal. Padahal barusan adalah kesempatan emas baginya, tetapi dia gagal.


Atma sama halnya, dia berlari dengan napas tak beraturan. Dua strategi yang dibuat Dirgan gagal. Atma sama sekali tidak memikirkan cara lain. Tiga hari berada di hutan, ketika berburu selalu Dirgan yang membuat strategi. Dirinya hanya mengikuti perintah Dirgan. Strategi Dirgan sebelumnya banyak yang gagal, tetapi ada satu yang berhasil. Sesuatu melintas begitu saja di atasnya.


Seketika Atma menghentikan lari, dan menahan napas. Yang barusan melintas di atasnya adalah Dirgan yang menggunakan akar pohon yang keluar dari atas untuk bergantungan dan melesat ke arah kelinci dengan cepat. Kecepatan Dirgan menyamai kecepatan kelinci. Di posisi yang pas, Dirgan melepaskan pegangan dan langsung menangkap kelinci tersebut. Berhasil!


Atma yang melihatnya terlihat kegirangan. Dia segera berlari menghampiri Ketua Kelas Dirgan.


"Haha! Akhirnya tertangkap juga!"


Dirgan membalikkan badan, dan langsung menyerahkan kelinci pada Atma yang sudah dihadapannya.


"Kau beran--!"


Dirgan menjatuhkan diri ke tanah. Dia berwajah pucat. "H-hah. T-tadi itu sangat menakutkan. K-ku pikir aku akan mati."


Atma yang mendengarnya mengedutkan sebelah mata. Baru saja dia memuji temannya pemberani, tetapi untung saja dia ketinggalan satu huruf.


Atma mengelus-elus kepala kelinci. "Kau ini ketua kelas, harus pemberani dari yang lain!"


Atma menggeleng-gelengkan kepala. Mulai memuji diri sendiri. "Yah, aku memang tidak bisa seberani dirimu. Tapi aku tampan 'kan? Aku akan dilindungi banyak orang karena tampan. Haha."


Kali ini Dirgan yang mengedutkan sebelah mata. "Kau pria bukan wanita."


"Apa salahnya pria tampan dilindungi?"


"Berarti kau bukan pria sejati."


"Tsk. Daripada kau, yang langsung gemeteran setelah berayun barusan."


"Hei, tapi itu lebih baik daripada dirimu yang ingin dilindungi!"


"P-paman Fans?"


Dirgan langsung berdiri, dia dan Atma tersentak oleh kedatangan manusia berekspresi datar tetapi tampan itu. Ekspresi yang sama dengan Amdara, dan Cakra.


Sempat Atma berpikir bahwa Cakra bagian keluarga dari Amdara yang memiliki ekspresi datar.


"Paman, ada apa datang kemari?"


Pertanyaan Atma membuat Fans melirik ke arah kelinci. Dia kemudia berbicara, "kalian hebat bisa menangkap kelinci."


Entah itu sebuah pujian atau Fans sedang meremehkan dua bocah itu, tetapi Dirgan menganggapnya opsi kedua. Fans tahu dari Inay bahwa mereka tidak bisa mengeluarkan kekuatan, dan Fans bisa melihat inti spiritual dan tubuh mereka ada yang mengganjal.


"Kalian ingin berburu lagi?"


Atma dan Dirgan saling menatap, seperti tengah berdiskusi lewat mata.


"Y-yah, kurasa kelinci ini saja tidak cukup sampai makan malam." Atma tersenyum kikuk.


Fans mengangguk. Mengajak keduanya pergi mencari hewan buruan. Awalnya Dirgan ingin menolak, tetapi melihat gelengan kepala Atma, dia hanya bisa mengembuskan napas.


Semakin menuju kedalaman hutan, semakin berbeda pula hawanya. Dan sinar matahari hanya sedikit yang masuk melewati celah pohon yang menjulang tinggi dengan lebatnya daun.


Seekor Siluman Rusa Berwarna Perak tengah memakan rumput. Ukurannya tujuh orang dewasa, besar dan itu membuat Dirgan dan Atma kesulitan menelan ludah.


"Perhatikan dengan baik. Aku akan memperlihatkan cara bertarung dasar."


Fans melesat setelah berkata demikian, sementara Atma dan Dirgan langsung bersembunyi di semak-semak. Beruntung mereka tidak bertemu siluman yang lebih buas.


Kedatangan Fans di hadapan Siluman Rusa Berkulit Perak membuat Siluman tersebut menatap tajam dan mewaspadai manusia di depannya.


Fans menggunakan ranting kayu untuk melawan. Dia langsung menyerang, mencari titik lemah Siluman itu. Pertarungan sengit terjadi, Siluman itu menggunakan tenaga dan kekuatannya untuk menyerang Fans yang sedari tadi mengambil sikap bertahan.


Belum ada darah yang mencuat dari keduanya. Fans tentu akan menggunakan cara agar binatang itu tidak mati dengan darah bercecerah.


Teknik Pedang. Yang tengah diperlihatkan Fans sekarang adalah sebuah tekhnik dasar berpedang. Jika Dirgan dan Atma bisa melakukannya, tentu akan sangat menguntungkan bagi mereka yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan.


"H-hebat."

__ADS_1


Dirgan terperangah melihat setiap gerakan yang begitu indah. Seperti aliran air yang tenang tetapi mematikan.


Fans memukul bagian leher, perut, dan hidung Siluman Rusa Berkulit Perak dengan keras dan cepat tetapi tidak sampai berdarah. Namun, cukup membuat Siluman itu berteriak kesakitan. Gerakan Siluman itu semakin gesit.


Fans melakukan hal yang sama ketiga kalinya dengan lebih cepat, jelas menggunakan kekuatannya melawan Siluman ini bukan apa-apa. Siluman tersebut memelototkan mata, teriakannya tertahan sampai dia ambruk tidak bernyawa.


Dirgan dan Atma segera mendekat.


"Apa dia benar-benar sudah mati?" Atma menyentuh kulit Siluman itu lalu bersembunyi di belakang Fans.


"Mn. Dia sudah mati."


Dirgan menatap tidak percaya. Dia memberanikan diri untuk menyentuh bahkan memukul Siluman Rusa dengan semangat. Atma yang melihatnya tertawa, dia ikut-ikutan dan melompat-lompat di atasnya.


Buruan kali ini besar. Mereka akan makan kenyang hari ini. Ketiganya kembali ke gubuk setelah beristirahat cukup lama. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Atma dan Dirgan dijawab singkat tetapi jelas oleh Fans.


*


*


*


"Paman--"


"Aku belum menikah. Panggil aku Senior Fans."


"Ah, baiklah."


Fans mengembuskan napas panjang. Awalnya dia tidak masalah dipanggil 'paman' tetapi kelamaan dirinya kesal sendiri.


Fans, Inay, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada tengah membakar binatang buruan. Mereka memutari api, wajah bocah-bocah itu berbinar-binar saat daging baru saja matang. Walaupun rasanya tidak seenak makanan kantin, tetapi tidak masalah. Selagi mereka masih bisa makan, itu sangat pantas disyukuri.


"Pam--Senior, kapan Luffy sadarkan diri?" Tanya Dirgan disela dirinya memakan daging.


Senior Fans menusuk daging rusa sebelum menjawab. "Tidak lama." Sebenarnya Fans tidak yakin dengan jawaban sendiri. Tetapi untuk menenangkan mereka, berbicara demikian bukan masalah besar, bukan?


Fans juga mengatakan Inay malam ini tidak perlu menjaga inti spiritual Amdara. Karena menurutnya Amdara akan baik-baik saja.


"Aiya, kasihan sekali dia. Hah, saat Luffy bangun, dia akan mencariku dahulu sebelum kalian." Atma berkata percaya diri. "Yah, karena kakak ini tampan dari yang lain."


Inay melemparkan sayur tepat ke wajah Atma yang tersentak.


"Yang ada Luffy tidak sadarkan diri lagi melihat wajahmu."


Perkataan Inay membuat yang lain tertawa terkecuali Fans dan Atma sendiri yang berdecak kesal.


"Cih. Kau perempuan menyebalkan. Kelak tidak akan ada yang mau menikah denganmu. Dan di saat itu, walaupun kau merangkak ingin aku menikahimu, jangan harap. Aku akan langsung menolak!"


Inay yang sedang mengunyah daging tersedak. Dia terbatuk-batuk, Nada memberikan air lalu menepuk-nepuk pelan punggung Inay.


Fans yang baru saja akan memasukan sayur ke mulutnya seketika berhenti. Dia berkedip, melihat Atma yang tidak tahu malu berkata demikian.


"Kau ...!" Inay menahan amarah. Dia diam-diam menggunakan kekuatan pada rambutnya untuk melilit tubuh Atma mengangkatnya secara terbaik.


Atma sampai menjatuhkan daging. Dia meronta-ronta tetapi Inay semakin menggoyangkan rambutnya hingga Atma merasakan pusing.


"H-hei, lepaskan aku!"


Atma memegang kepalanya. Jantungnya berdegub keras, melihat seberapa tinggi rambut Inay mengangkat.


Dirgan tertawa sambil menggelengkan kepala. Rinai berkata, "huhuhu. Ternyata Atma takut ketinggian."


Nada tertawa cekikikan. "Khakha. Atma, kau ini penakut. Khakhaa."


Fans tersentak, teman-teman Inay dan Luffy cukup unik.


"Tidak akan kulepaskan sebelum kau minta maaf."


Inay tersenyum. Melanjutkan memakan daging tanpa peduli Atma yang terus mengomel.


"Setelah Luffy sadar, kita akan kembali ke Akademi, bukan?"


Pertanyaan Dirgan membuat Atma, Rinai, Nada, dan Inay terdiam. Mereka tiba-tiba saja teringat wanita yang akan mencabut nyawa mereka kejam jika sampai pergi dari hutan ini.


Dirgan ikut terdiam dengan perkataan yang terlontar begitu saja. Dirinya meminum air, lalu menunduk.


Fans tidak tahu situasi macam apa sekarang. Yang dirinya lihat sekarang ekspresi penuh takut dari anak-anak termasuk Inay.


"Wanita itu ...."

__ADS_1


"Dia sudah kubunuh."


__ADS_2