Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
158 - Kabar


__ADS_3

Awalnya Shi tidak pecaya karena Amdara yang bisa sembuh sendiri. Namun, dia tidak memikirkannya lagi setelah berpikir bahwa semua itu ada bagusnya karena sekarang mereka bisa berlatih dengan baik.


Cakra hanya diam mendengar penjelasan singkat Amdara. Dia menghembuskan napas lega karena Amdara sekarang sudah pulih.


Suara kicauan burung di hari pagi membawa suasana baru. Sinar kehangatan menyinari bumi. Udara dingin seperti biasa berhembus, terasa biasa bagi manusia yang tidak memiliki kepekaan tinggi. Berbeda dengan seseorang yang kini tengah bermeditasi di gua jadi membuka mata tiba-tiba. Napasnya tidak beraturan, keringat dingin bercucuran.


Dia berkata dengan nada cemas, "aura ini ... sudah lama aku tidak merasakannya. Pertanda buruk. Aku harus cepat mengatakannya kepada Tetua Haki."


Pria bermata hijau itu bergegas pergi ke suatu tempat. Perasaannya sudah memburuk sejak membuka mata. Dia terbang dengan kecepatan tinggi. Menerobos lebatnya hutan. Beberapa kali dia harus menggerakkan gigi. Tangannya terkepal. Matanya sudah menajam sambil terus mengamati sekitar.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di kediaman yang dituju. Saat sampai, dia melihat ada tiga bocah yang sedang berlatih serius. Mata hijaunya menatap satu dari mereka, keningnya mengerut ketika merasakan aura aneh yang keluar dari bocah itu.


Dia menggeleng, segera masuk melewati jendela tepat di ruang tengah milik kediaman Tetua Haki. Nyaris wajahnya membentur dada bidang seseorang ketika dirinya tidak segera mengerem pergerakan. Sementara orang yang nyaris dia tabrak langsung membuka mata lebar saking terkejutnya.


Dia adalah Tetua Haki yang mengusap-usap dada karena syok dengan pria bermata hijau ini. Dirinya mendengus dan berujar, "apa kau tidak bisa masuk secara normal? Kau nyaris melec*hkanku. Hmph,"


Sementara lawan bicara Tetua Haki juga mendengus. Dia segera mengambil tempat duduk dan meminta Tetua Haki juga duduk. Sontak Tetua dari Akademi Magic Awan Langit itu berkedip. Dialah Tuan Rumahnya bukan pria itu yang tidak tahu malunya menyeruput teh hijau yang baru saja dibuat.


"Datang tidak tahu malu, kuharap kau membawa informasi bagus," kata Tetua Haki yang juga duduk di depan tamunya.


"Aku memang membawa informasi. Langsung ke intinya saja. Apa kau ingat Sang Langit?" tanyanya yang langsung diberi respon anggukan. Pria itu kembali melanjutkan, "setelah selama ini menghilang membawa 'wanita iblis' itu, aku merasakan ada aura aneh itu kembali."


Tetua Haki berubah serius. Dia menatap pria di depannya dalam kemudian bertanya, "jika ini benar, Tetua Besar Moksa sudah merasakannya. Atau aura yang kau rasakan ini hanya Raja Roh?"

__ADS_1


Pria itu menggeleng tegas. Dia bisa membedakan antara Raja Roh, dan iblis yang kekuatannya lebih besar dan dapat membahayakan dunia.


Suasana di ruangan itu jadi berubah. Keduanya sangat serius ketika mengatakan hal-hal berbau iblis. Apalagi selama ini tidak ada pergerakan dari makhluk kotor itu. Yang ada hanya Roh-roh hitam yang sangat banyak tapi mudah dilenyapkan sebenarnya.


Pria mata hijau menarik napas dalam sebelum kembali menjelaskan bahwa sekarang mereka juga membutuhkan kekuatan besar untuk bisa melenyapkan musuh yang sangat merepotkan. Bukan hanya satu negeri, tapi semua negeri harus berkumpul jadi satu untuk menyatukan kekuatan melenyapkan musuh. Jika kerja sama itu tidak dapat dilakukan, kemungkinan terbesar mereka akan tewas secara mengenaskan tidak akan ada terkecuali.


"Yang aku rasakan adalah aura wanita iblis itu. Aku sangat yakin. Untuk itulah aku harap kita segera mengambil tindakan."


"Kita tunggu Tetua Besar Moksa memberi perintah."


"Baiklah." Pria Mata Hijau mengembuskan napas. Dia tidak secemas sebelumnya karena telah mengatakan kegusaran kepada Tetua Haki. Dirinya teringat sesuatu dan segera berkata, "apa kau merasakan aura berbeda dari bocah rambut putih?"


Tetua Haki menaikkan sebelah alis. "Mn? Maksudmu Luffy?"


"Apa kau tidak memerhatikan bocah itu? Tsk. Dia sudah bisa menguasainya! Bakatnya luar biasa! Aku bisa merasakan."


Tetua Haki tersentak dengan perkataan orang di depannya. Dia segera keluar kediaman dan melihat bagaimana tiga bocah yang masih sedang berlatih memusatkan kekuatan. Dia dibuat menahan napas merasakan aura agung disertai mengerikan yang begitu tipis menguar dari tubuh bocah berambut putih yang tidak lain dan tidak bukan adalah Amdara.


Bahunya tiba-tiba saja ditepuk oleh tamunya yang mengangguk seolah mengerti keterkejutan Tetua Haki. Tetua Haki masih terkejut, apalagi Amdara yang memutar tubuh melakukan sebuah gerakan yang langsung mengeluarkan kekuatan dahsyat di atas.


BAAM!


Blaaar!

__ADS_1


Serasa seperti seratus bom yang diledakkan di langit. Angin kejut besar langsung menguar ke sekeliling. Cahaya biru disertai bunga-bunga harus berhamburan yang entah datang dari mana.


Tetua Haki memang bangga memiliki murid jenius tapi di sisi lain entah mengapa perasaannya sungguh tidak enak.


"Bagaimana mungkin? Dia terlalu muda untuk bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini."


Ucapan Tetua Haki dapat di dengar orang di sebelahnya yang juga hanya bisa terpana disertai kekaguman. Dia berkomentar, "seperti Monster cilik."


Tepat ketika dia mengatakannya, Amdara langsung menolehkan pandangan ke arah kedua pria itu. Amdara yang terkejut dengan kehadiran keduanya langsung berjalan ke arah kedua pria itu. Sementara kedua pria itu hanya bisa diam mematung.


Shi dan Cakra yang melihat Amdara berjalan pergi kebingungan. Namun, mata keduanya langsung tertuju ke arah Tetua Haki dan seseorang di sampingnya. Shi dan Cakra akhirnya juga mendekati kedua orang itu.


"Murid memberi hormat kepada Tetua Haki dan Paman Mo."


Ucapan Amdara yang terkesan tidak memakai nada membuat Tetua Haki dan pria di sampingnya yang tidak lain adalah Mo saling pandang sebelum akhirnya mengangguk sebagai petanda sesuatu.


Tetua Haki tersenyum ketika Cakra dan Shi juga menghampiri dan memberikan hornat. Dirinya bertanya mengenai perkembangan ketiga murid ini. Jawabannya sangat memuaskan dari cara Shi yang mengatakan. Shi memuji Amdara dan juga Cakra yang sudah bisa menguasai Pemusatan Kekuatan dalam waktu cepat. Memang terkesan aneh, tapi untuk seorang jenius, itu bisa dikatakan wajar.


"Itu bagus. Karena kalian sudah menguasainya, kuharap kalian akan terus mengasah." Tetua Haki kemudian berkata, "untuk latihan hari ini akan berbeda. Kita akan menguji kekuatan kalian. Kuminta kalian pergi berburu di hutan ini secara berpencar. Bawa permata silumannya kepadaku sebanyak mungkin."


Ucapan Tetua Haki langsung diangguki oleh ketiga murid tersebut tanpa protes. Bahkan sekarang Shi yang paling bersemangat pergi ke hutan. Dia mengatakan ingin bertaruh dengan kedua juniornya. Siapa yang paling banyak membawa permata akan mendapatkan hadiah. Tentu saja Amdara dan Cakra hanya mengembuskan napas panjang. Ketiganya pamit melesat ke hutan untuk berburu.


Mo juga melesat pergi untuk mengawasi. Baik Amdara, Cakra, dan juga Shi belum ada yang tahu identitas asli dari Mo. Tetua Haki sendiri juga pergu melesat ke suatu tempat. Dia pasrahkan ketiga muridnya dijaga kepada Mo.

__ADS_1


__ADS_2