
Di Akademi Awan Magic, persiapan lomba atau bisa disebut pertandingan antar kelas akan diadakan dalam waktu seminggu ke depan karena para Tetua ada urusan jadi memang ditunda dalam kurun waktu seminggu. Namun, itu tidak jadi masalah bagi para peserta yang memanfaatkan waktu dengan baik berlatih.
Di kelas Satu C, Guru Aneh lagi dan lagi mengembuskan napas panjang. Dia duduk di meja guru, menatap satu persatu muridnya yang dalam waktu sebulan ini telah memiliki banyak perubahan. Terutama pada diri Aray.
Lima dari mereka selain Aray telah bisa mengaktifkan kekuatan, akan tetapi begitu diketahui oleh Guru Ghana langsung memindahkan lima murid itu ke kelas B. Awalnya Aray juga, tetapi Aray menolak keras bahkan berani menentang Tetua. Kejadian mengharukan bagi Guru Aneh salah satunya adalah ketika Aray menolak dan mengatakan hal tak terduga.
"Lima tahun Guru Aneh mendidik, tak peduli banyak cemoohan yang diterima. Akan tetapi beliau masih mau mendidikku dengan sabar. Sampai akhirnya aku bisa mengaktifkan kekuatan, beliau masih mendidik dengan baik."
Setelah perlawanan dengan Padma dan Daksa, Guru Ghana langsung melaporkan pada Tetua bahwa kelas Satu C ada yang sudah bisa mengaktifkan kekuatan. Entah bagaimana Guru Ghana langsung meminta Aray masuk kelas B. Namun, Aray menolak mentah-mentah.
"Sementara kalian, sama sekali tidak peduli. Bahkan turut memandang remeh. Bukankah itu keterlaluan? Hah, ya ampun. Kurasa kalian sama sekali tidak pantas kusebut guru karena sama sekali tidak mengajariku sedikit pun pengetahuan. Dan sekarang setelah sekian lama banyaknya yang mencaci, kalian baru memasukanku ke kelas B dan menganggapku sebagai murid?! Guru Aneh yang merasakan kepahitan, dan kalian yang malah mendapat kemanisannya?! Oh, yang benar saja! Aku sama sekali tidak su*i! Lebih baik memiliki satu guru yang tekun dan sabar mendidik daripada banyak guru yang hanya memberi perintah tanpa memberikan pengetahuan!"
Waktu itu, di depan Guru Aneh, Guru Ghana, Guru Kawi, dan Tetua Genta di ruang Guru. Aray tanpa takut sama sekali berucap demikian. Jelas semua orang waktu itu tak menyangka. Perdebatan pun terjadi saat itu juga.
Keras kepalanya Aray membuahkan hasil. Dia tidak jadi dipindahkan ke kelas lain. Namun ... lima teman sekelasnya yang baru-baru ini juga berhasil mengaktifkan kekuatan entah bagaimana caranya, Guru Ghana bisa mempengaruhi mereka sampai masuk ke kelas B. Aray tak terima, sehari setelah mengetahui hal tersebut dirinya langsung pergi mencari kelima teman sekelasnya, tetapi jawaban mereka membuat kemarahan Aray meledak.
Bagaimana bisa kelima temannya berani keluar kelas setelah sekian lama diajar Guru Aneh? Apa mereka tidak memiliki perasaan di kelas Satu C, teman-teman seperjuangan, dan Guru Aneh? Benar-benar membuat Aray tak habis pikir.
Guru Aneh tak bisa berbuat apa-apa karena memang dari yang didengar, itu kemauan anak muridnya sendiri. Guru Aneh tentu tidak akan melarang murid-muridnya untuk belajar lebih baik di kelas lain. Dirinya berharap, kelima murid itu bisa mengembangkan diri lebih baik di kelas baru.
Guru Aneh tidak menyangka pada sikap Aray waktu itu. Aray yang keras kepala dan pemarah, selalu membuatnya kerepotan. Namun, mendengar keyakinan Aray hari itu membuat hati Guru Aneh menghangat.
__ADS_1
Siang ini, Guru Aneh mengajar di kelas Satu C sama seperti biasanya. Ditatapnya satu persatu murid-murid yang masuk ada 11 murid. Tatapannya terkunci pada pandangan Aray yang juga tengah menatapnya.
"Apa ... sebaiknya kita katakan saja pada Tetua, Guru?"
Kata Aray pelan. Namun, Guru Aneh hanya mengembuskan napas. Dia menggeleng dan lalu berkata, "tidak. Mereka pasti kembali."
Suasana kelas Satu C sedikit berbeda. Mereka mengembuskan napas panjang. Keyakinan Guru Aneh pada kembalinya enam muridnya yang sudah sampai sebulan tidak kunjung kembali.
Padahal Guru Aneh, Aray dan murid-murid kelas Satu C telah mencarinya di Akademi tetapi tidak kunjung menemukan Ketua Kelas Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan dua murid yang belum lama masuk kelas, yaitu Amdara dan Inay.
Guru Aneh juga sudah mencarinya keluar Akademi, tetapi tidak menemukan keenam muridnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Beruntung, Guru Ghana tidak mencurigai. Begitu pula dengan murid kelas lain yang tengah difokuskan pada pembelajaran untuk pertandingan antar kelas.
Namun, dalam waktu seminggu Guru Aneh tidak boleh egois dengan mengharapkan seseorang yang entah kembali atau tidak. Dirinya harus mempersiapkan murid-murid lain untuk mengikuti pertandingan antar kelas.
*
*
*
Suasana Akademi Awan Langit tengah ramai oleh murid-murid yang berlatih keras untuk mengikuti pertandingan antar kelas seminggu lagi. Mereka jelas tidak boleh mengecewakan wali kelas yang telah mempercayakan kemenangan berada di kelas masing-masing dan teman sekelas yang mendukung penuh.
__ADS_1
"Hei, kalian tenang saja. Pertandingan itu akan kita menangkan dengan mudah seperti sebelumnya."
Salah seorang murid dengan percaya diri melontarkan kalimat barusan di depan gedung Akademi sambil berjalan. Teman-temannya pun mengangguk dan tersenyum senang. Akan tetapi tidak dengan murid beda kelas yang mendengarnya berdecak kesal.
"Kau begitu yakin, Senior. Kau jangan lupa bahwa kami semua berlatih keras. Jangan meremehkan kelas lain."
"Yang dia katakan benar. Senior, kau sangat angkuh. Biar ku taklukkan keangkuhanmu di pertandingan nanti."
"Hei, kalian percuma saja berdebat yang belum pasti. Lihat saja, kelasku yang akan memenangkan pertandingan. Melawan Senior pun kami sudah sangat sanggup."
Beberapa murid dari kelas berbeda itu sibuk dengan kepercayaan diri murid yang mewakili kelas. Mereka saling menyombongkan kelebihan dan menjatuhkan orang lain dengan kata-kata pedas.
"Sudahlah. Tidak menang pun tak apa. Yang terpenting, bukan berada di kekalahan terakhir?"
Perkataan salah satu dari mereka menginterupsi. Dan mereka pun tertawa bersama. Seakan tahu siapa yang akan berada di posisi kekalahan terakhir.
"Haha. Kau benar sekali saudaraku. Kita tidak mungkin berada di kekalahan terakhir."
"Bukankah sudah dapat dipastikan kekalahan terakhir berada di kelas Satu C lagi? Sama seperti sebelum-sebelumnya. Hahaha!"
Aray yang tak sengaja mendengar kalimat barusan menghentikan langkah saat sedang berjalan di depan gedung Akademi. Tangannya terkepal kuat, tatapan matanya menatap tajam murid-murid yang tengah tertawa dan membicarakan murid kelas Satu C.
__ADS_1
Dia baru saja akan maju, tetapi seseorang mencegah dan menggelengkan kepala. Pertanda tak boleh gegabah. Orang yang mencegah itu tidak lain adalah teman sekelasnya sendiri.
Persiapan pertandingan antar kelas telah dilakukan dengan maksimal. Para guru membimbing perwakilan murid kelas dengan maksimal juga. Tetua Widya dan Tetua Genta turun tangan untuk mempersiapkan lapangan dan segala hal yang diperlukan nantinya.