Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
40 Satu Kesepakatan


__ADS_3

Di kedalaman hutan, sore telah menghampiri dengan mega merah sebagai petanda. Kicauan burung mulai terdengar. Angin berhembus ke arah timur. Suasana hutan itu nampak sepi.


Tiga orang tengah mengintai di balik semak-semak. Mata mereka tertuju pada Siluman Harimau yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia memiliki tanduk merah, tetapi tidak memiliki taring.


Satu pria tampan memberi aba-aba. Dua bocah bersamanya yang memakai daun yang ditempel pada jubah dan wajah terlihat mengangguk walaupun tubuh mereka sedikit bergetar. Dua ranting sekaligus dipegang keduanya. Saat pria itu melompat tepat ke depan Siluman Harimau, dua bocah itu juga melakukan hal yang sama. Mereka mengepung Siluman Harimau yang terlihat marah, lalu bersuara seakan ingin melenyapkan tiga manusia di hadapannya.


Pria tampan yang tidak lain itu adalah Senior Fans langsung menerjang Siluman Harimau menggunakan ranting yang cukup panjang. Siluman Harimau sama sekali tidak menghindar, tetapi dia malah melawan. Di saat itu, dua bocah yang membantu Fans memukulkan ranting pada dua kaki belakang.


"Atma, satu titik!"


Dirgan menggulingkan tubuh saat nyaris kaki Siluman Harimau menginjaknya. Seperti yang dikatakan Dirgan, Atma dengan sekuat tenaga memukul di satu titik sebelumnya. Siluman Harimau menjerit kesakitan. Matanya tertusuk oleh ranting panjang. Darah mulai mengalir, dia mulai mengamuk sejadi-jadinya.


Atma berlari kencang, napasnya tidak beraturan. Dia kembali berlari ke arah Siluman Harimau dengan ranting di tangannya, lalu menusuk perut Siluman Harimau saat melompat ke atasnya. Darah mencuat ke berbagai arah termasuk jubah Atma sendiri. Beruntung Siluman ini belum menguasai kekuatan. Dari sisi lain, Dirgan langsung melompat ke punggung Siluman Harimau. Dia berpegangan pada tanduk, sekuat tenaga mencoba mematahkan tanduk walaupun itu mustahil.


Siluman Harimau memberontak. Dirgan semakin kesulitan mempertahankan tubuh kecilnya.


Senior Fans telah menusuk kedua bola mata, sekarang sasarannya adalah kedua telinga dan hidung. Ini strategi kejam dari Ketua Kelas Dirgan. Senior Fans bahkan sampai menahan napas mendengar strategi milik Dirgan.


Bukannya cepat melenyapkan, yang ada mereka malah membuat kema*ian yang pelan dan menyakitkan.


Darah berceceran, tubuh Siluman Harimau masih utuh tetapi darahnya hampir habis. Dirgan duduk di punggung, sementara Atma menyender pada tubuh Siluman Harimau. Mereka kelelahan setelah hampir tiga jam untuk mengalahkan tubuh besar binatang itu.


Perbedaan terlihat jelas di wajah, dan perilaku Dirgan dan Atma selama berada di hutan. Belajar menggunakan taktik dan strategi yang beberapakali gagal. Cara berburu, sampai melakukan kekejaman seperti barusan diajarkan oleh dan tidak bukan Senior Fans.


Hembusan napas terdengar dari mereka. Dirgan dan Atma melihat tangan masing-masing yang dipenuhi darah. Senyuman kecil terlihat.


"Hah, aku tidak menyangka bisa membunuh seekor siluman."


Dirgan mengelus-elus tubuh Siluman Harimau yang terkapar tidak bernyawa. Dirinya belajar banyak. Walaupun masih bergetar saat pertama kali melakukannya, tetapi tubuhnya mulai terbiasa.


"Yah. Kurasa tidak buruk tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Jika kita melatih fisik, dan bertarung dengan teknik maka lawan akan tewas dengan mudah."


Atma memejamkan mata. Bau amis tak mengganggu indera penciumannya. Malah dia jadi terbiasa.


"Tapi kalian masih perlu mengaktifkan kekuatan."


Senior Fans memperingati. Sejatinya manusia memiliki kekuatan yang harus diaktifkan walaupun itu hanya sekadar untuk melindungi diri sendiri.


"Kami tahu, Senior. Tapi kami tidak mengerti bagaimana cara mengaktifkannya."


Dirgan mengembuskan napas panjang. Diq mengepalkan tangan.


Atma membuka mata, dia menatap langit yang kian menggelap tanpa bulan apalagi bintang. "Ah, bukankah ini tidak adil? Mereka bisa mengeluarkan kekuatan. Mengapa kami tidak? Apa kami memiliki kutukan?"


Senior Fans yang mendengarnya menarik napas. Dia tahu pasti rasanya sulit hidup tanpa kekuatan, tetapi sebenarnya manusia lebih baik tidak memiliki kekuatan sebab mereka tidak akan bergantung pada sebuah kekuatan. Berusaha dengan kekuatan fisik menurutnya lebih baik.


Kutukan. Mungkin saja itu ada. Senior Fans melirik kedua bocah yang tengah menestapai hidup. Ekspresinya sedikit berubah.


"Yang perlu kalian lakukan sekarang adalah berusaha tanpa kekuatan." Senior Fans kemudian melanjutkan. "Kurasa kalian bisa jika berusaha."


Dirgan dan Atma seketika menatap Senior Fans dalam. Mereka kemudian saling pandang sejenak sebelum kembali menatap Senior Fans.


"Apa berada di hutan membuatmu berubah, Senior?"


"Kau baik-baik saja, 'kan? Senior, kau barusan mengeluarkan lebih dari lima kata. Itu menakjubkan!"


Senior Fans kembali pada ekspresi datarnya. Dia memalingkan wajah. Beberapa pertanyaan kembali dilontarkan Dirgan dan Atma. Mereka benar-benar banyak bicara. Namun, Senior Fans sama sekali tidak menanggapi.


Sepanjang perjalanan ke gubuk membawa Siluman Harimau pun demikian. Mereka sama sekali tidak terlihat lelah terlebih pada mulut mereka.


*


*


*


Di depan gubuk yang diterangi oleh api unggun itu, empat bocah perempuan tengah bertengkar. Mereka baru diam setelah salah satu dari mereka mengatakan hal tak terduga.


"Kalian kembali ke Akademi. Aku akan pergi menjalankan misi."

__ADS_1


"Apa kau gila?!" Inay tidak habis pikir dengan temannya yang masih keras kepala ingin menjalankan misi yang sempat tertunda.


Rinai menangis. Dia memeluk lutut erat. "Huhuhu. Kau pemberani tapi kau sama sekali tidak sayang nyawa."


"Khakha. Kau kepala batu. Apa hatimu juga? Khakha." Nada memeluk boneka erat. Menggunakan suara seorang wanita tua menasehati Amdara. "Nak, kau harus pikirkan nyawa teman-temanmu. Khakha. Kau juga hanya memiliki satu nyawa. Jangan keras kepala, kembalilah ke Akademi bersama kami. Khakhaa."


Amdara tahu pendapat teman-teman akan seperti ini. Kondisi dirinya dan teman-teman tidak memungkinkan melanjutkan misi. Terlebih sekarang Amdara kesulitan mengeluarkan kekuatan. Tapi bocah itu masih memikirkan nasib orang-orang desa yang memungkinkan tengah berharap seseorang menolong. Penderitaan mereka selama ini diabaikan oleh pemerintah. Amdara tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak, tetapi hati kecilnya ingin sekali pergi ke sana. Seakan ada panggilan jiwa untuknya.


Amdara juga berpikir bahwa jika mereka kembali ke Akademi dengan tangan kosong, mereka jelas tidak hanya akan dihukum tetapi juga mendapat masalah karena pergi dari Akademi tanpa izin. Bukankah itu sia-sia? Lebih baik periksa keadaan desa, jika memungkinkan mereka tidak mampu menolong maka ajukan permohonan langsung pada Tetua agar dapat diurus dengan baik.


Sekarang masalahnya hanya satu. Dia sama sekali tidak mendapat persetujuan teman-teman.


"Kalian benar." Amdara mengembuskan napas. "Begitu pula dengan nyawa mereka."


Inay memijat kening pusing. Setelah Amdara sadar, dia tidak menyangka masih memikirkan misi yang sulit itu. Terlebih jika harus mengorbankan nyawa untuk orang lain begitu mudah diucapkannya.


"Nyawamu lebih berharga, Luffy! Oh ya ampun, kita pergi dari Akademi sudah hampir lima belas hari. Kau tahu itu?!"


Kali ini Amdara yang dibuat terkejut. Setahu Amdara dia tidak sadarkan diri hanya sehari. Tapi apa yang didengarnya barusan? Lima belas hari?!


"Jangan membual."


"Apanya yang membual?! Kau pikir berapa hari kau tidak sadarkan diri?! Kami menunggumu selama lima belas hari di hutan. Bahkan kami sampai berpikir kau tidak akan sadar lagi!"


"Tidak mungkin."


"Itu semua mungkin! Kau yang saat itu mendapat luka parah dan kami sama sekali tidak bisa menyembuhkan luka dalammu, ditambah bukankah kau mendapatkan Benang Merah yang setiap waktu akan menghambat inti spiritual secara keseluruhan?!"


Napas Inay tersengal-sengal berteriak. Dia mengusap wajah kesal. Semua benar-benar parah. Misi mereka seharusnya bukan ini! Tetapi melenyapkan Roh Hitam. Harusnya mereka hanya menerima misi dari Tetua Bram dan tidak perlu ikut campur urusan Akademi. Sekarang bagaimana? Semua seakan berakhir dengan masalah yang terus menimpa.


Amdara memikirkan semua yang diucapkan Inay. Sejenak Amdara menarik napas dalam. Dia sama sekali tidak menyangka tidak sadarkan diri begitu lama. Pantas saja saat dirinya bangun, reaksi Nada, Inay, dan Rinai begitu antusias dan senang. Apa semakin parah Benang Merah di inti spiritualnya? Dan apa dia akan berakhir juga?


Empat bocah perempuan itu saling diam dan menunduk. Tidak ada yang berbicara kembali.


Tidak jauh dari mereka, Senior Fans, Dirgan dan Atma berjalan dengan membawa Siluman Harimau. Wajah Dirgan dan Atma sudah bersih, karena sebelumnya mereka pergi ke sungai membersihkan diri.


"A-apa itu Luffy?"


Dirgan menghentikan langkah. Matanya sama tertuju dengan Senior Fans.


"Dasar bodoh! Dia memang Luffy! Luffy sudah sadar!"


Atma sudah berlari duluan karena yakin yang duduk di sebelah Inay adalah teman kelasnya yang sudah lama mereka tunggu untuk sadar.


Masih tak percaya, Dirgan bertanya kembali pada Senior Fans. "Senior, apa menurutmu dia benar-benar Luffy?"


"Benar." Tanpa diduga, Fans melesat begitu saja membawa Siluman Harimau di pundaknya.


Dirgan dibuat tersentak karena hal barusan. Dia bahkan sampai berkedip beberapakali. Sebelum berlari kencang.


Amdara yang masih syok, dibuat terkejut bukan main saat seseorang menyerukan namanya dan langsung memeluk erat. Terlihat Atma yang kini meneteskan air mata.


"Ini benar-benar kau, 'kan?"


Amdara berkedip. "Benar."


Satu kata itu mampu membuat hati Atma lega. Dia merasa seperti seorang kakak yang baru saja bertemu dengan adiknya selama berabad-abad.


Amdara ingin agar pelukan Atma dilepas, tetapi melihat reaksi Atma barusan membuat Amdara tidak tega menghancurkan suasana seperti sebelumnya.


Seseorang mendarat, dia berdehem membuat Amdara mendongak. Senior Fans yang telah menyelamatkannya itu menatap dingin, lebih tepatnya ke arah Atma yang seketika merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia segera melepaskan pelukan.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Senior Fans.


"Lebih baik."


Jawaban Amdara membuat lega Fans. Dia lebih tidak menyangka jika Amdara bisa sadarkan diri lebih cepat, sebab dirinya mengira paling cepat Amdara akan sadar satu bulan lebih.


Dirgan yang baru saja sampai dengan napas tersengal-sengal masih bisa tersenyum saat melihat Amdara duduk manis, terlihat datar tetapi ada aura sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu? Apa lebih baik?"


Dirgan mendekat, tetapi dihadang oleh Senior Fans entah karena apa. Jelas tindakan barusan membuat yang lain tersentak termasuk Amdara sendiri.


"Mn. Aku baik." Amdara mengangguk. Dia merasa bersyukur memiliki teman-teman baik.


"Yah, kurasa sekarang kau bisa mengatakan keinginanmu pada Senior Fans." Inay berkata sinis. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada.


Amdara menarik napas panjang. Dia tahu jawaban yang akan dilontarkan Senior Fans. Tolakan.


Suasana hening sejenak sampai Amdara mengatakan keinginannya pada Senior Fans.


"Aku ingin melanjutkan misi."


Satu, dua bahkan sampai delapan menit tidak ada yang menanggapi. Mereka bungkam dengan tatapan sulit diartikan ke arah Amdara yang juga diam, masih dengan ekspresi datar tetapi sebenarnya dia tengah menenangkan pacuan jetak jantung.


"Misi ke Desa Bumi Selatan?"


"Kau yakin?"


"Kapan kita akan pergi?"


Tiga pertanyaan serentak dari Senior Fans, Dirgan dan Atma membuat Amdara, Inay, Rinai, dan Nada mengerutkan dahi. Pertanyaan tersebut seperti ada yang aneh di telinga mereka.


Dirgan dan Atma tiba-tiba saja mendekat, dan duduk di sebelah Amdara dengan wajah semringah.


Inay semakin membuka mata dan mulut. Dia mengatakan dengan jelas bahwa Amdara akan pergi ke Desa Bumi Selatan untuk menjalankan misi yang sempat tertunda. Bahkan Inay mengatakan di kondisi seperti sekarang, mereka tentu tidak bisa menjalankannya. Belum sampai ke desanya saja mereka sudah mendapat banyak masalah.


Namun, sepertinya yang didengarkan oleh Dirgan dan Atma hanya kalimat-kalimat yang ingin mereka dengar saja.


"Ayo! Aku tidak sabar menjalankan misi yang sebenarnya."


Pertakaan Atma kembali membuat Amdara, Inay, Rinai dan Nada terkejut bukan main. Kali ini Nada yang tengah mengelus-elus Siluman Harimau yang telah mati itu sampai mencubit. Sama seperti Dirgan dan Atma yang terbiasa dengan keadaan hutan termasuk Siluman, membuat mereka memiliki pandangan berbeda.


"Kau--!"


"Benar. Aku akan ikut denganmu. Luffy, besok pagi kita akan pergi ke desa itu. Bersama Senior Fans juga."


Dirgan memotong ucapan Inay begitu saja. Dirinya mendongak, menatap Senior Fans yang diam tidak menanggapi. Secara sepihak Dirgan berkata demikian.


"Hei, kau ini salah dengar atau bagaimana? Luffy akan menjalankan misi penuh bahaya itu!"


Inay berteriak keras. Dia tersulit emosi saat Atma tersenyum remeh. "Aku tahu. Tapi bukankah lebih bahaya jika berdiam di kelas tetapi kita sama sekali tidak memahami apa pun? Bayangkan saja jika di pertarungan antar kelas kali ini kita kalah dan mendapatkan luka lagi. Setidaknya jika kita berada di luar seperti sekarang, kita akan belajar sesuatu yang berbeda. Dan kurasa ... alam adalah tempat belajar sesungguhnya untukku."


Bijak. Satu kata itu yang mereka pikirkan sekarang. Atma yang biasanya hanya membanggakan diri sendiri dan memiliki kepercayaan diri sangat tinggi di banding yang lain kini berkata seperti orang yang telah berpengalaman.


"Hah, kau benar. Walaupun kita tidak bisa mengeluarkan kekuatan tetapi bukankah kali ini ada Senior Fans?"


Dirgan tersenyum picik ke arah Senior Fans yang nampak tersentak mendengarnya. Dia mengembuskan napas saat tatapan semua mata beralih ke arahnya.


"Pengalaman adalah pelajaran paling berharga." Senior Fans sedikit merasa senang saat melihat binar semangat di mata Dirgan dan Atma. Dia kemudian melanjutkan. "Aku tidak keberatan."


Inay di mata Fans sekarang tidak seperti di Organisasi Elang Bulan. Bocah berambut ungu kehitaman itu seakan enggan melakukan misi. Sama sekali tidak terlihat seperti biasa.


Inay mengatupkan bibir rapat. Dia berdiri, tanpa mengatakan apa pun pergi begitu saja.


Rinai dan Nada baru saja akan mencegah, tetapi Dirgan melarang. Dia tahu Inay sedang ingin sendiri dan memikirkan semuanya.


"Huhuhu. Apa kita benar akan pergi ke desa penyakit itu?" Rinai menangis tersedu-sedu. Menurutnya yang dikatakan Inay tidak salah begitu pula dengan Atma. Rinai merasa ada perubahan di tubuhnya.


Nada juga merasa demikian. Dia sejak tadi diam, tidak berani berkata.


"Ada satu syarat." Suara Senior Fans menginstruksi. "Satu kesepakatan."


Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada menatap dalam Senior Fans penuh tanya.


Senior Fans menarik napas, dia duduk di antara mereka menghadap api. Dengan jelas dan tegas dirinya mengatakan satu kesepakatan yang tentu menguntungkan mereka semua.


"Satu kesepakatan." Mereka semua mengangguk tanpa ragu setelah mendengar penjelasan Senior Fans.

__ADS_1


__ADS_2