Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
83 - Membuat Penawar


__ADS_3

Beberapa murid yang melihat Amdara tengah dengan tenang menunggangi Siluman Serigala Berbulu Putih dibuat membeku, membiarkan serigala itu melompati sungai yang cukup panjang menuju asrama. Amdara tidak memedulikan sekitar, dia terus berpegangan pada bulu-bulu lembut Lang.


Setelah sampai di depan asrama, Lang menunduk membiarkan Amdara turun.


"Kembalilah."


Amdara mengelus kepala Lang, tetapi serigala itu terlihat enggan pergi. Amdara tersenyum, dan menyentuh pelan wajah Lang lalu berkata, "Lang, jika butuh bantuan, cari aku."


Dengan berat hati, Lang akhirnya mengangguk dan segera berlari pergi melewati murid-murid yang dibuat tercengang.


Amdara juga segera pergi ke kamarnya, dia lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuh.


Sebenarnya ada murid-murid yang ingin bertanya sesuatu pada Amdara tetapi mereka urungkan setelah melihat Amdara yang bisa menjinakkan seekor siluman. Dan juga merasakan aura yang berbahaya dari tubuh bocah itu, yang padahal Amdara sendiri tidak melakukan apa-apa.


Amdara melihat banyak tatapan mata murid perempuan saat berjalan menuju kamarnya. Dia masih dengan tenang berjalan, selagi mereka tidak mengganggu Amdara juga tidak akan memedulikan mereka.


Teman-temannya juga mungkin sudah tertidur lelap karena lelah. Mereka benar-benar teman-teman baik Amdara.


Rasanya bisa menghirup udara dengan tenang setelah Amdara merebahkan tubuh di tempat tidur. Dia mengunci pintu kamar sebelumnya, untuk berjaga-jaga ada yang menyerang di saat dirinya beristirahat.


Baru saja bocah itu akan memejamkan mata, tiba-tiba wajah Ang terlintas dipikiran. Membuat Amdara membuka mata dan segera duduk bersila. Mengeluarkan kertas lusuh yang pernah diberikan oleh Ang mengenai tempat orang yang bisa menghilangkan Benang Merah.


"Ujung Bumi. Akademi Nirwana Bumi. Ketu."


Amdara membaca isi kertas sambil mengerutkan dahi. Di kertas terlihat tanda giok putih yang dililit rantai ungu dan tanda tangan seseorang yang bernama Ketu.


Amdara tak pernah mendengar bumi ada ujungnya. Dirinya juga baru tahu ada Akademi Nirwana Bumi di negeri ini.


"Tapi di mana?"


Amdara mengeluarkan peta, dan mencari nama dari Akademi Nirwana Bumi atau setidaknya kota atau pun desa Ujung Bumi. Namun, nyatanya di peta tidak tertulis nama-nama tersebut.


Bocah berambut putih itu mengembuskan napas. Jari-jarinya memukul pelan lutut sambil pikir. Dia jelas tidak bisa harus hidup dengan terlilit Benang Merah. Bagaimana akan menjalankan misi dari Tetua Bram dan mencari kedua orangtuanya jika seperti ini?


Amdara bersandar pada ujung tempat tidur, mulai berpikir walaupun sebenarnya dia lelah tetapi tidak bisa lengah pada diri sendiri.


Awalnya Amdara berniat bertanya pada Guru Aneh, tapi dia urungkan karena yang ada nanti Guru Aneh malah khawatir dan tidak membiarkannya mengikuti pertandingan antar kelas lagi.


"Aku akan bertanya pada orang yang tepat nanti."


Amdara mengangguk menyakinkan diri sendiri. Tidak bisa gegabah mengatakan kondisinya pada orang lain. Yang ada dia akan dicelakai dengan cepat oleh orang yang tidak suka padanya.


Teringat harus membuat ramuan penawar, Amdara segera mengeluarkan kitab berisi penjelasan obat-obatan, ramuan, pil dan mengenai tanaman herbal yang diberikan Are. Kitab itu berwarna hitam, bergambar tanaman herbal aneh dan masih terawat. Ketebalannya bukan main, bahkan baru membuka halaman pertama saja membuat Amdara merasakan denyut di kening. Tulisannya masih bisa dibaca dengan jelas, agaknya Are menjaga kitab-kitab perpustakaan dengan sangat baik.

__ADS_1


Untungnya di halaman kedua setelah kata pengantar yang mengatakan kitab ini dibuat oleh seorang genius dari bumi dan penjelasan-penjelasan yang tak perlu Amdara ingat. Ada daftar isi, dengan teliti Amdara mencari penawar yang bisa mengubah sesuatu ke bentuk asli. Daftar isi itu mencapai dua puluh lima lembar, Amdara hampir putus asa karena tidak menemukan daftar isi mengenai penawar yang dia cari.


Sampai akhirnya matanya bertemu dengan tulisan yang membuatnya tersenyum simpul.


"Ramuan Badan Manusia."


Amdara melihat sketsa tubuh manusia yang berwarna gelap semua. Namun, dengan penjelasan di bawahnya membuat Amdara tak kesulitan. Dirinya berdecak kagum dengan penjelasan yang langsung bisa dia pahami. Entah siapa yang menciptakan kitab itu, Amdara sangat berterima kasih. Banyak penjelasan mengenai jenis-jenis tanaman herbal serta kegunaannya. Bahkan membuat racun pun, di sana dijabarkan dengan penawarnya. Ini akan menjadi ilmu yang sangat bermanfaat sampai akhir hidupnya.


Malam itu, Amdara membaca kitab tersebut sampai pagi menjelang. Sama sekali tidak merasakan kantuk karena terlalu asik membaca.


*


*


*


Di ruang Tetua, empat Tetua Akademi Awan Langit tengah berdiskusi mengenai kejadian kemarin. Mereka menemukan satu hal yang membuat ramuan aneh buatan Atma bisa mengubah salah satu kelinci percobaan.


"Letaknya pada tanaman herbal yang hidup sampai ratusan tahun."


Pernyataan Tetua Haki membuat Tetua lain tersentak. Tidak menyangka bocah-bocah dari kelompok kelas Satu C yang berhasil membawa tanaman herbal yang hidupnya mencapai ratuaan tahun.


Jenis dan umur tanaman herbal memang dapat mempengaruhi saat membuat ramuan atau pun obat-obatan yang hasilnya jauh lebih berkhasiat.


"Ginseng Merah yang seharusnya sulit dicari, tetapi mereka bisa membawanya dengan kehidupan seratus tahun. Begitu pula dengan Teratai Hitam yang sangat langka, dan akar tanaman putih."


Di sebelahnya Tetua Rasmi yang tengah duduk sambil menyeruput teh hijau juga nampak tak menyangka. Dia berkata, "dari mana mereka mengambil?"


Tetua Haki menggelengkan kepala. Selama hidupnya, dia jarang menemukan tanaman herbal dengan umur tua itu.


"Mereka tidak mungkin membelinya."


Perkataan Tetua Genta memang terdengar benar. Sepengetahuan mereka, kelas Satu C tidak pernah melakukan misi dan tidak ada orang yang memberikan sepeser uang pun. Jika pun mengambil dari sebuah toko, tidak mungkin diberikan secara cuma-cuma kecuali mereka mengambil tanpa memberikan uang.


"Apa orang 'itu' mengetahui hal ini?"


Pertanyaan Tetua Rasmi membuat ketiga Tetua terdiam. Yang dimaksud jelas adalah wali kelas Satu C, Guru Aneh. Entah ada permasalahan apa sebenarnya sampai Guru Aneh seperti memang dikucilkan.


"Dia mungkin tahu kabar ini. Namun, tidak mungkin tahu dari mana anak muridnya mengambil tamanan herbal itu." Tetua Widya menyilangkan kaki dan menarik napas dalam. Dia berkata, "orang sepertinya tidak akan mengambil resiko besar. Terlalu berbahaya untuknya."


Tetua Genta mengangguk setuju dan menambah, "kecuali bocah-bocah itu memberi tahu pada orang itu."


Tidak tahu mengapa para Tetua saja seperti enggan menyebut nama asli Guru Aneh. Sepertinya ada pertikaian selama ini.

__ADS_1


Tetua Rasmi memberikan ide pada teman-temannya, "mengapa kita tidak bertanya langsung pada bocah-bocah itu?"


Tetua Genta menggeleng, dari informasi yang didapat, Atma mendapat tanaman herbal itu dari Amdara. Semalam Tetua Genta dibuat lupa untuk menanyakan langsung dari mana mereka mendapat tanaman herbal usia tua itu. Tetua Genta berujar tanpa nada, "kau akan terkejut mendengar jawaban bocah bernama Luffy."


Mendengar nama 'Luffy', membuat Tetua Widya teringat semalam yang dia nyaris dibuat tak bisa mengelak dari perkataan bocah berambut putih itu. Sebenarnya Amdara hemat bicara, tetapi ketika dalam kondisi tertentu, dia akan cakap bicara tanpa lecet dan menjadi orang yang cocok menjadi penasehat.


Tetua Widya memegang kepalanya yang terasa sakit mengingat kejadian semalam. Dia berkata, "haih, bocah itu benar-benar pandai merangkai kata dan menjebak."


Tetua Haki dan Tetua Widya tentu tidak mengerti maksud kedua Tetua itu.


"Bocah penyusup itu?"


Tetua Rasmi memastikan dan diberi anggukan Tetua Genta dan Widya.


"Apa dia selama ini memang benar mata-mata dari negeri sebelah?" Tetua Rasmi menggebrak meja. Perbuatannya mendapat gelengan kepala dari Tetua Haki.


"Aku telah mengawasinya selama ini. Tidak ada yang aneh. Kecuali selama sebulan ini dia tidak mengikuti kelas. Namun, dari yang kudengar, Luffy dan enam temannya tengah melakukan latihan tertutup dan mencoba belajar sendiri."


Jawaban Tetua Haki itu jelas dia dengar sendiri saat Guru Aneh tengah mengajar murid-murid lain di kelasnya. Entah memang sengaja atau tidak Guru Aneh mengatakan hal tersebut.


"Cih. Panggil saja Luffy kemari. Aku yang akan meneladeninya." Tetua Rasmi terlihat tidak suka. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada.


Tetua Widya tersenyum mengejek. "Kau yakin? Aku saja hampir kalah. Apalagi kau?"


Sontak Tetua Rasmi menatap tajam lawan bicara. Diberi penuturan seperti itu membuat Tetua Rasmi jadi kesal sendiri.


"Kau meremehkanku?! Heh, jangan samakan aku denganmu Tetua Widya. Kau ini memang payah dalam berbicara. Sudah, mari kita buktikan sekarang. Panggil Luffy. Aku akan memberinya pelajaran."


Tidak ada yang bisa menghentikan Tetua Rasmi yang kepalang marah. Tetua Widya malah semakin memprovokasi, membuat Tetua Rasmi sampai merasakan darahnya mendidih.


Di sisi lain, bocah yang tengah mereka perbincangkan tengah bergulat dengan berbagai tanaman herbal di hadapannya yang mengotori lantai. Beberapa kali Amdara mencoba konsentrasi mengeluarkan kekuatan, tetapi nyatanya dia sama sekali tidak merasakan kekuatan yang mengalir dalam tubuh.


Setelah membaca dan mengulang mengenai membuat penawar, Amdara langsung mempraktekkan.


Di depannya, penumbuk yang telah menumbuk beberapa tanaman herbal yang sesuai penjelasan untuk membuat penawar masih berbentuk sama. Membuat penawar itu tidak mudah, tidak seperti membuat permen. Apalagi Amdara hanya mengandalkan menumbuk tanaman herbal dengan cara biasa. Tidak ada periuk seperti Atma, atau kekuatan seperti yang dilakukan Are.


Amdara mengelap keringat di dahi. Tangannya sampai kotor karena tanaman herbal yang dia tumbuk setengah kesal. Emosinya benar-benar teruji. Ada kalanya Amdara juga tidak bisa mempertahankan ketenangan dan kedamaian dalam jiwanya.


"Siapa yang bisa membantuku?"


Di saat Amdara tengah menyandarkan kepala di sisi tempat tidur sambil berpikir, terdengar suara ketukan pintu. Amdara segera bangkit dan membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuknya.


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki yang memakai seragam khas murid Akademi Awan Langit.

__ADS_1


"Kau dipanggil Tetua."


__ADS_2