Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
90 - Bentang Alam Mimpi Amdara (2)


__ADS_3

Anggukan wanita di depannya membuat Amdara membeku. Mata hitam pekat dan mata biru miliknya bertemu. Saling mengunci. Bibirnya mendadak terasa kelu.


"Kau ... siapa?"


Tak ada jawaban. Hanya uluman senyum hangat terukir di wajah wanita itu. Perlahan, tangan yang menyentuh pipi Amdara turun. Wanita itu mendekat, dan tanpa diduga mendekap tubuh Amdara.


Tak ada penolakan lagi dari Amdara. Wanita ini asing, tetapi hati Amdara merasa dekat dan nyaman saat didekap. Perasaan rindu yang sedikit terobati. Perasaan yang selalu dia nanti-nanti. Seperti mimpi mendapat dekapan dari seorang wanita yang layaknya ibu.


"Kau benar-benar tak mengenalku, Nak?"


Setetes air mata dari wanita itu mengalir. Dia mendekap erat bocah ini. Seolah melampiaskan kerinduan yang selama ini dia pendam. Tanpa peduli ekspresi Amdara yang terkejut bukan main. Tidak ada jawaban sama sekali. Suasana hening seketika. Desiran suara angin pada daun pepohonan sebagai pengiring. Hingga lima menit berakhir, dia baru melepas dekapan dan mengelap air mata menggunakan punggung tangan.


Ditatap Amdara penuh haru yang tanpa ekspresi menatap balik. Tangannya baru akan menyentuh ikat rambut Amdara, tetapi bocah itu langsung mundur.


"Kau ... jangan sentuh."


Amdara berkata dingin, tidak peduli orang di depannya menghapus air mata. Orang di depannya telah berani menyentuhnya, tetapi Amdara tidak mengharapkan wanita ini menyentuh ikat rambutnya.


"Baiklah." Wanita tersebut tersenyum dan mengangguk paham. Dia bertanya penasaran, "apa ikat rambut itu milikmu?"


Amdara mengangguk pelan tanpa pikir panjang. Dirinya tidak bertanya siapa wanita ini sebenarnya. Dia juga tidak berniat memperkenalkan diri. Namun, nampaknya wanita ini mengenalnya entah dari mana.


Wanita itu bertanya dari mana Amdara mendapatkannya. Amdara memperlihatkan wajah tidak suka, tetapi dia tetap menjawab, "ibu."


Raut wajah yang sebelumnya tersenyum itu kini membeku, seketika dia mengulum senyum lagi. Amdara dibuat kebingungan karenanya.


Dia berjalan menghadap sungai yang tenang. Menghirup udara segar nan menenangkan. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang memulai percakapan. Sampai akhirnya Amdara mendengar hal tak terduga.


"Apa kau tahu ini mimpi?"


"Tidak."


"Apa kau ingin kembali ke dunia nyata?"

__ADS_1


"Iya."


"Aku tahu kau kuat, Nak. Mengapa ingin kembali ke dunia yang membuatmu sakit?" Wanita itu menoleh ke arah Amdara yang sekarang berada di sampingnya dengan perasaan risau. Dia kembali berkata, "dunia nyata penuh tipu muslihat. Sekali kau mempertaruhkan nyawa hanya demi orang lain, belum tentu dia mengatakan terima kasih. Kenapa kau melakukan hal sia-sia, Nak?"


Amdara menaikkan sebelah alis. Tidak mengerti apa maksud orang di sebelahnya. "Apa maksudmu?"


"Mengertilah, kau bukan anak biasa. Kau jenius yang lahir dari dua insan kuat dari dunia manusia. Kau memiliki teman, dan dengan mempertaruhkan nyawa demi keamanan mereka. Lalu apa yang telah mereka balas untuk itu? Tidak ada bukan?"


Wanita itu masih berbicara, "berhenti melakukan hal baik jika itu hanya akan membuatmu terluka."


Amdara membeku. Perasaannya mendadak dibuat aneh oleh wanita ini. Angin menerpa wajah Amdara yang terasa dingin. Teringat dirinya yang mendapat luka parah ketika terpental ke dinding balai istirahat. Tulang punggung yang patah dan rasa sakit luar biasa. Jika benar dirinya berada di dunia mimpi, maka jelas Amdara tidak akan merasakan sakit.


"Aku tidak butuh balasan," kata Amdara yakin. Dia mengepalkan tangan. Terlihat tidak senang mendapat perkataan dari orang asing ini yang seolah mengetahui apa yang telah terjadi padanya selama ini.


Wanita itu tersenyum dan menghadap Amdara. Dia berkata, "kau memang mirip dengannya."


Tidak perlu ditanya lagi bagaimana eskpresi Amdara saat ini. Dirinya menelan ludah susah payah. Dan memundurkan langkah. "Siapa?"


"Nak, mau kah kau melakukan sesuatu untukku?"


Amdara mengangguk pelan dan berkata, "apa?"


"Carilah apa yang harus kau cari." Wanita itu tersenyum dan kembali berkata, "baiklah, sebagai balasannya bagaimana jika aku membantumu sedikit?"


Amdara belum sempat bertanya apa yang dimaksud. Tetapi sebuah cahaya hitam mengelilingi tubuhnya dan membuat dia melayang di udara. Amdara merasakan sebuah kekuatan besar masuk ke dalam tubuh saat tangan wanita itu terangkat.


"Ingatlah diriku, Nak."


Cahaya putih muncul menyilaukan mata, sampai membuat Amdara menutup mata. Namun, dia masih mendengar perkataan terakhir wanita aneh itu.


*


*

__ADS_1


*


Samar-samar Amdara mendengar suara banyak orang. Dia perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Tetua Haki dan Tetua Rasmi yang menatap tak percaya. Amdara segera duduk, tetapi Tetua Rasmi melarang.


"Nak, jangan banyak bergerak. Kau istirahat lah."


Amdara kembali membaringkan tubuh. Dia berkedip melihat ekspresi Tetua Rasmi yang terlihat khawatir. Entah itu perasaan Amdara saja atau memang benar Tetua Rasmi tengah khawatir.


Amdara tidak lagi merasakan sakit di punggungnya. Dia yakin punggungnya telah disembuhkan. Walaupun entah oleh siapa. Amdara menarik napas dalam, dia merasa kekuatan alam yang perlahan mengalir ke tubuhnya.


"Nak, bagaimana perasaanmu?"


Pertanyaan Tetua Haki membuyarkan lamunan Amdara yang langsung mengangguk dan berkata, "lebih baik."


Tetua Haki dan Tetua Rasmi dibuat mengembuskan napas lega dan saling menatap sebelum akhirnya mengangguk.


"Tetua, ada apa?"


Amdara bertanya, dia baru akan mengatakan sesuatu lagi tetapi Tetua Rasmi langsung menutup bibirnya menggunakan telunjuk.


"Kau baru saja sadarkan diri. Istirahatlah. Jangan memikirkan hal lain."


Amdara mengangguk sebagai respon. Sebenarnya dia ingin bertanya lagi, tetapi Tetua Rasmi dan Tetua Haki langsung melenggang pergi.


Suara lain terdengar dan menanyakan keadaan Amdara yang perasaannya jauh lebih baik. Ada beberapa ingatan terlintas, mengenai seorang wanita yang membuat Amdara terbangun dari mimpi. Namun, lagi-lagi dibuyarkan oleh senior yang ahli pengobatan bertanya keadaannya. Amdara menjawab baik-baik saja. Nampaknya raut wajah mereka juga terlihat lebih lega mendengar perkataan Amdara. Mereka kemudian melenggang pergi setelah meminta Amdara beristirahat.


Amdara duduk setelah terdengar suara derit pintu ditutup. Dirinya melihat kedua tangan, benar-benar merasakan aliran kekuatan alam pada tubuhnya. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi dia yakin bisa mengeluarkan kekuatan dengan baik.


"Bagaimana bisa?"


Kekuatan Amdara sebelumnya terlilit oleh Benang Merah sehingga dia sama sekali tidak merasakan aliran kekuatan. Namun, sekarang dia bisa merasakan kekuatan dalam tubuh. Dan jika memang Tetua Rasmi dan Tetua Haki yang menyembuhkan, Amdara harus berterima kasih dan membalas budi pada mereka.


Terlintas ingatan mengenai tubuhnya yang merasakan kekuatan saat wanita dalam mimpinya mengangkat tangan dan detik kemudian cahaya hitam mengelilingi Amdara. Ucapan wanita itu juga masih teringat jelas di kepala Amdara. Entah wanita itu yang menyembuhkan atau Tetua, Amdara akan mencari tahunya.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa dia?"


__ADS_2