
Kali ini tidak ada lagi arena pertandingan. Bangku peserta, para tetua, dan juga penonton. Di lapangan latihan sekarang terlihat ada sebuah cermin setinggi orang dewasa yang mengeluarkan sinar serta memiliki aura besar tepat di tengah-tengah lapangan. Sementara itu, sebuah cermin besar di atasnya menggambarkan suatu desa tenang dengan pagoda tinggi di tengah-tengahnya. Nampak bendera merah kecil ditancapkan pada sebuah kayu di atas pagoda.
Semua peserta berbaris rapi sesuai kelompok masing-masing. Mereka dibuat cukup penasaran dengan babak final kali ini. Para penonton juga sedari tadi sedang mencoba menebak.
Amdara baru saja mendarat mulus di barisan kelompoknya. Dia langsung mendapatkan pertanyaan beruntun dari teman-temannya.
Aray, "kau ini dari mana saja?!"
Dirgan, "Luffy, beruntung Tetua baru saja akan menjelaskan aturan mainnya. Lain kali kau harus tepat waktu dalam mengerjakan segala hal."
Inay, "haih, kau membuat kami cemas saja. Kau akhir-akhir ini jadi sering keluyuran sendirian, yah?! Luffy, tiga jam istirahat kau pergi ke mana, hah?"
Atma, "kupikir setelah kau meminjamiku kitab, kau menemui yang lain. Jadi aku tidak mencarimu. Apa terjadi masalah di Balai Istirahat?"
Rinai, "huhuhu. Luffy, kau jangan buat kami cemas lagi."
Nada, "khakhaa. Luffy, apa baru saja berlatih di suatu tempat?"
Amdara menarik napas dalam mendengar ucapan teman-temannya. Dia kemudian tanpa nada berkata, "aku barusaja memulihkan diri di hutan buatan."
Jawaban Amdara membuat teman-temannya menghela napas lega sekaligus kesal juga. Mereka tidak lagi menanyakan sesuatu pada Amdara karena suara Tetua Wan menginstruksi.
Tetua Wan melayang di tengah-tengah cermin besar itu. Dia mengedarkan pandangan sambil tersenyum ramah. Dirinya memberi hormat dan lalu mulai menjelaskan pada para peserta babak final yang akan mereka lalui.
"Babak final kali ini, kalian harus mendapatkan satu bendera kecil yang berada di atas pagoda."
Tetua Wan menunjuk pada gambar di cermin besar itu. Dia kemudian kembali berkata bahwa hanya ada satu bendera. Siapa pun kelompok yang berhasil mendapatkan bendera itu, maka dianggap sebagai pemenang juara pertama. Sementara juara ke dua dan ke tiga, wasit beserta para Tetua akan menghitung hasil nilai yang selama ini setiap kelompok lakukan.
"Kalian boleh saling bertarung, tapi seperti ketentuan dan syarat pertandingan sebelumnya. Peserta tidak diperbolehkan berniat membunuh, membuat lawan cedera parah, dan melakukan kecurangan. Jika terjadi, wasit akan segera menindakadili."
Desa yang nampak damai itu membuat para peserta terlihat kegirangan. Mereka yakin hanya butuh menghalangi satu sama lain agar bisa mendapatkan bendera tersebut.
Tetua Wan berkata bahwa dirinya tidak akan masuk ke dalam cermin untuk memasuki desa tersebut. Karena alam itu dirinya yang membuat, dan juga Tetua Wan bisa mengawasi dari cermin besar itu. Benar, cermin yang sangat besar itu nanti akan menampilkan sepak terjang para peserta.
"Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi. Para peserta, sekarang kalian boleh memasuki cermin pemindah ini."
Tetua Wan mempersilakan para peserta memasuki cermin yang telah dia buat.
Cermin ini bisa dikatakan sebagai portal. Perlahan para peserta mulai masuk ke dalam cermin setinggi orang dewasa tersebut. Mereka disemangati setiap kelas masing-masing. Namun, giliran kelompok kelas Satu C, terjadi hening beberapa saat. Bahkan tidak ada satu pun murid kelas satu C yang lain turut melihat pertandingan ini. Hal itu membuat Dirgan merasa kecewa pada teman-teman yang lain.
"Tsk. Apa teman-teman kita yang lain benar-benar tidak ingin melihat pertandingan kita yang terakhir?"
__ADS_1
Perkataan Aray membuat teman-teman yang lain terdiam dan merasa sedih. Mereka butuh dukungan dan juga sorakan semangat dari teman-teman mereka seperti peserta yang lain. Namun, hal itu sepertinya tidak akan mereka dapat.
Amdara menghela napas. Dia mengedarkan pandangan ke arah para penonton. Matanya melihat seseorang tengah melambaikan tangan. Seketika Amdara mengatakan sesuatu yang membuat teman-temannya tersentak dan segera menoleh.
"Guru sedang menyemangati kita."
Dirgan, Aray, Atma, Inay, Rinai, dan Nada melihat Guru Aneh yang sedang melambaikan tangan.
Atma balik melambaikan tangan dengan semangat dan berteriak, "Guru, doakan kami ...!"
Aray menutup telinga karena suara Atma nyaris membuat telinganya berdarah. Aray mendengus kesal tapi dia mengukir senyum dan juga melambaikan tangan.
"Guru, kau orang pertama yang mendukung kami. Kami tidak akan mengecewakanmu ...!"
Kali ini bahkan suara Aray lebih nyaring dari Atma. Teman-temannya yang lain sontak langsung menutup telinga.
Bahkan para penonton dibuat menyerngitkan dahi mendengar seruan Atma dan Aray. Tidak mau ketinggalan juga, Inay dan Nada juga melambaikan tangan dan menyerukan nama Guru Aneh. Nada malah menggunakan kekuatannya agar suaranya lebih keras dan hal tersebut membuat angin kejut nyaris saja salah seorang peserta terlempar karena angin yang dibuat Nada.
Amdara menggelengkan kepala. Dia hanya mengangguk saat Guru Aneh melambaikan tangan. Amdara masuk ke cermin setelah Dirgan, di belakangnya ada Aray, Atma, Rinai, Nada, dan Inay.
Cahaya menyilaukan membuat mereka menghalaunya dengan lengan tangan. Ketika menurunkan lengan, mata mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan menenangkan di depan. Seperti desa tidak berpenghuni. Udaranya terasa dingin, tidak ada suara apa pun selai angin yang berhembus.
Setelah memasuki cermin, setiap kelompok berada di tempat berbeda, akan tetapi masih tidak terlalu jauh dengan pagoda.
"Apa yang kita tunggu? Ayo cepat ambil benderanya dan jadi pemenang!"
Atma sangat bersemangat. Dia langsung berlari tapi tubuhnya dililit oleh rambut Inay dengan cepat.
"Kau tidak boleh sembarangan berlari!"
Inay mendengus kesal dengan kecerobohan Atma ini. Pengetahuan Inay jauh lebih luas dari teman-temannya mengenai dunia. Dia jadi teringat tempat sepi yang ternyata menyembunyikan Roh Hitam. Di Organisasi Elang Putih, Inay juga diajarkan agar selalu waspada dengan tempat asing. Dia harus menganalisis keadaan sekitar.
Apalagi, dari mereka tidak ada yang tahu berada di desa apa. Bisa saja dibalik ketenangan desa ini, ada bahaya yang tersembunyi. Dirgan bahkan sampai menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Itu benar. Kita tunggu instruksi Ketua Kelas."
Aray menambah perkataan Inay. Membuat Atma mengerucutkan bibir kesal. Dirgan tersenyum, dia meminta diterbangkan untuk melihat sekitar. Keadaan desa tersebut terlihat tenang, tidak ada sesuatu yang aneh. Kelompok lain pun masih belum kelihatan.
"Kita tidak akan terbang, tapi berlari untuk menghindari kelompok lain."
Maksud Dirgan adalah, jika mereka terbang bisa saja kelompok lain melihatnya dan langsung menyerang. Ini akan merepotkan. Sementara jika mereka berlari, tidak akan ketahuan karena tertutup oleh rumah warga. Penjelasan Dirgan dimengerti teman-temannya. Mereka kemudian mulai berlari tanpa banyak tanya lagi.
__ADS_1
Amdara sedari tadi terus menyapu pandang. Dia harus waspada dengan sekitar yang membuatnya tidak nyaman.
Rumah-rumah desa itu senada. Diperhatikan dengan baik, jarak antara rumah-rumah desa ini sama. Di samping rumah selalu ada pohon tinggi. Rerumputan liar tidak terawat, serta lumut tanah bisa dikatakan bahwa desa itu tidak terjamah manusia selama beberapa bulan. Yah, setidaknya itu yang Amdara simpulkan. Sepanjang jalan, Amdara tidak mengeluarkan suara.
Sementara mereka terus berlari, Inay juga sebenarnya sedang memerhatikan sekitar. Dia buka suara, "apa benar tantangannya hanya harus melawan kelompok lain?"
Aray yang mendengarnya menaikkan sebelah alis dan menjawab.
"Bukankah sudah jelas? Maka kita jalankan strategi yang sudah dibuat saja."
Untuk saat ini mereka tidak tahu strategi apa yang harus digunakan terlebih dahulu. Mereka harus melihat situasi nantinya.
"Untuk para senior, kurasa ini akan sangat mudah berhubung mereka memiliki jurus dan kekuatan besar," Dirgan mengeluarkan pendapatnya.
"Huhuhu. Apalah daya kelompok kita yang lemah."
Rinai yang berlari paling belakang menangis. Perkataannya barusan membuat teman-temannya seketika tersedak napas dan langsung mendengus kesal.
Atma menoleh ke belakang, menatap Rinai yang wajahnya tertutup rambut panjang. Dia kemudian berbicara, "Rinai, kau lebih baik diam saja. Menurunkan semangat saja."
Nada tertawa cekikikan. Dia melihat Rinai yang semakin menunjukkan kepala. Teman-temannya kemudian kembali berbicara mengenai apa yang akan mereka lakukan jika tiba-tiba bertemu musuh.
Berbeda dengan Amdara yang berlari paling depan bersama Dirgan. Amdara memfokuskan kekuatan untuk pendengarannya. Dia masih belum yakin dengan desa ini.
Mendadak Amdara menghentikan langkah. Hal itu membuat teman-temannya juga melakukan hal yang sama.
"Ada yang aneh." Amdara lantas terbang sedikit sambil menyapu pandang.
Tidak ada suara apa pun. Hanya suara angin yang berhembus terasa tidak nyaman bagi Amdara tapi tidak dirasakan teman-teman yang lain.
"Luffy, apa ada sesuatu?"
Dirgan bertanya khawatir. Atma, Aray, Inay, Rinai, dan Nada juga penasaran. Tapi mereka segera mengurungkan niat saat mendengar seruan Amdara.
"Merunduk!"
Lesatan serangan petir dari atas langsung ditangkis Amdara dengan cepat. Tapi, serangan petir barusan sangat cepat dan kuat, Amdara sampai terdorong mundur. Dia menajamkan pandangan melihat ke sekitar waspada.
Lima serangan sekaligus muncul dari langit dan langsung melesat ke arah mereka. Kali ini Amdara membuat perisai pelindung bersama Aray dan Inay yang terlonjak kaget dengan dahsyatnya serangan barusan.
BAAM!
__ADS_1
Nyaris perisai pelindung yang mereka buat retak. Serangan petir langsung meledakkan diri. Namun, tiba-tiba saja seseorang dari dalam salah satu rumah berteriak nyaring. Amdara, Aray, Dirgan, Atma, Inay, Rinai, dan Nada tercengang melihatnya. Tidak lama kemudian, banyak orang yang keluar dari rumah dan mengeluarkan suara mengerikan.