
Ketu menghela napas panjang. Tidak menyangka Amdara bisa kembali dalam waktu lima hari saja. Padahal dia pikir gadis itu akan kembali lebih dari sepuluh hari. Namun, melihat luka di tubuh gadis itu membuatnya percaya telah terjadi banyak hal selama lima hari itu. Dia pasti telah bertarung habis-habisan dan berusaha sangat kuat. Tekadnya yang ingin mencabut Benang Merah membuat Ketu sekali lagi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sekarang di ruang bawah tanah yang memiliki penerangan berupa lilin api merah di pojokan ruangan ini. Cukup membuat mata remang-remang melihat ke sekitar. Ada segel berbentuk lingkaran dengan pola rumit di tengah-tengah. Bersinar terang ketika Ketu meneteskan darah sendiri dan beberapa ramuan yang diracik. Di sana, tidak ada benda lain lagi selain batu besar di pojok kiri. Bukan batu biasa, memiliki bentuk lingkaran dan ukiran aneh.
Tanah yang baru saja Amdara pijak terasa dingin. Tubuhnya segar setelah membersihkan diri menggunakan air hijau yang hangat di tempat pemandian kediaman Ketu. Luka luar dan dalamnya perlahan memudar ketika gadis itu berendam. Seperti air ajaib.
"Duduklah di sini," Ketu menunjuk tepat di tengah pola lingkaran.
Amdara mengikuti. Duduk bersila dengan tenang. Dirinya menoleh, dan berucap, "mengapa Tuan mau membantuku?"
Ketu mendongak. Kelima jari kiri yang berdarah masih menyentuh pola. Membiarkan darah mengalir begitu saja. Dia mendengkus mendengar perkataan anak di depannya.
"Ang yang meminta. Tutup matamu. Kita mulai pencabutan Benang Merah," katanya dingin.
"... aku akan membalas kebaikan ini."
"Tidak perlu. Biarkan Ang yang membalas jika dia datang."
"... aku yang dibantu. Kenapa Ang yang harus membalas?"
"Karena dia yang membawamu kemari dan meminta bantuan ku. Sudah, cepat tutup matamu!"
Amdara menghembuskan napas dan menurut. Mulai menutup mata sesuai perintah.
"Jika ada yang Tuan inginkan, katakan saja. Aku akan membantu sebisa mungkin."
Ketu berkedip mendengar ucapan Amdara. Dirinya mendengkus dan menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa membantu apa pun. Jangan banyak bicara! Proses pencabutan ini akan membutuhkan waktu lama dan pastinya kau tahu prosesnya tidak mudah."
Ketu mulai menjelaskan, "kau harus berkonsentrasi penuh. Abaikan sesuatu yang mengganggu pikiran. Pikiranmu harus tenang. Jika tidak, aku yang tambah kerepotan! Pusatkan kekuatan pada inti spiritual. Jangan sampai kekuatanmu buyar karena kurang berkonsentrasi."
Amdara mulai berkonsentrasi dengan tenang. Memusatkan kekuatan pada inti spiritual dengan baik.
Pria itu berpindah tempat, duduk bersila di belakang punggung gadis berambut putih tersebut.
Ketu juga berkonsentrasi menyalurkan kekuatan pada pola yang terkena darahnya. Dia hendak memeriksa keadaan kekuatan dalam tubuh Amdara, akan tetapi dirinya dibuat tersentak sebab kekuatannya ditolak oleh tubuh gadis itu.
"Aku hanya memeriksa kondisimu, jangan tolak kekuatanku!"
"Maaf, tubuhku secara alami menolak kekuatan orang lain."
"Apa?" Ketu mengerutkan kening. Sadar, dirinya dibuat menahan napas. "Tidak ku sangka aku menemukan tubuh istimewa. Tsk. Dia benar-benar beruntung memiliki tubuh ini. Setelah pencabutan Benang Merah berhasil, kekuatannya akan bertambah."
Itu karena Amdara sebelumnya sudah berendam di air ajaib yang membuatnya tidak terbakar oleh darah dari Siluman Landak Ungu. Walau begitu, Amdara merasakan panas luar biasa di bagian kepala yang terkena darah itu. Merambat ke bahu, lalu tubuh lain.
Panas itu mulai membuat Amdara sulit berkonsentrasi. Dia mengepalkan kedua tangan.
"Tahanlah. Ini bahkan baru permulaan. Jika kau tidak sanggup, lebih baik katakan sekarang. Kita hentikan prosesnya."
"Tidak. Lanjutkan," kata Amdara penuh keyakinan hati.
Panas dari darah Siluman Landak Ungu ini membuat seluruh tubuhnya panas, tapi tidak ada kulit yang mengelupas.
Amdara masih bisa menahannya sampai satu jam lebih. Dia terus mengalirkan kekuatan ke inti spiritual.
__ADS_1
Darah dari Siluman Landak Ungu baru saja habis. Dilemparnya bangkai itu sembarangan oleh Ketu. Telapak tangan kiri yang masih basah karena darah sendiri dia arahkan ke punggung Amdara.
Bibirnya mulai bergetar. Mengucapkan sebuah mantra yang sama sekali tidak dimengerti Amdara. Perlahan hawa panas di tubuh gadis itu kian menjadi setelah mendengar mantra barusan. Ada tekanan hebat yang membuat tubuhnya bergetar.
Pola rumit yang didudukinya pun bersinar terang sampai menyelimuti tubuh gadis itu. Seolah ada batu besar yang menghantam tubuh Amdara yang sampai menggigit bibir gemetar. Rasa sakit ini jauh lebih sakit dibanding sakit yang pernah dia rasakan. Seperti ada rantai duri di dalam tubuh yang sangat pelan ditarik paksa keluar. Kulit putih bersihnya mulai mengeluarkan cairan hitam. Sangat berbau khas.
"Tubuhku ... tidak. Aku bisa melewatinya."
Amdara kembali berkonsentrasi sebisa mungkin. Dia tidak ingin proses ini gagal begitu saja karena rasa sakit di tubuh.
Kulitnya perlahan mengelupas. Menampakkan darah segar mulai mengalir dari dalam pakaian yang dikenakan. Jelas hal itu menambah rasa sakit.
Ketu mendorong kekuatan lebih ke dalam. Keringat dingin sudah keluar sejak polanya bersinar. Dalam pencabutan Benang Merah, jelas dia juga harus berkonsentrasi penuh. Jika tidak, hal buruk bisa terjadi pada tubuh Amdara. Seperti akan mendapatkan luka serius, tubuh lumpuh sementara atau bisa ... kematian jika orang yang sedang dicabut Benang Merahnya tidak kuat menahan rasa sakit.
"Beruntung dia memiliki tubuh istimewa." Ketu melakukan gerakan tangan sangat cepat, lalu kembali mendorong kekuatan. "Rasa sakit yang dia rasakan hanya setengah dari orang biasa. Hmph. Ang, saat kau datang, kau harus membalas budi kepadaku karena membantu gadis kecil ini."
Ketu mengeluarkan Permata Air dan Bunga Api. Kedua benda itu mengeluarkan kekuatan masing-masing. Saling bertolak-belakang. Sinar keduanya membawa aura besar. Kemudian Ketu memasukkan Permata Air nya ke dalam tubuh Amdara dengan cepat.
"Akkkhhh!"
Teriakan Amdara keluar bersamaan Permata Air masuk ke dalam tubuh. Bukan panas luar biasa yang dia rasakan lagi, melainkan dingin yang belum pernah dia rasakan. Dinginnya Permata Air ini jauh lebih dingin dari air terjun.
Dia menggigil. Tangannya mencengkram kuat pakaian. Napasnya tidak beraturan akibat pergantian sakit panas-dingin ini.
Telinganya berdenging. Lalu suara besar dan aneh terdengar. Seperti ada yang tengah menyerukan namanya di dalam pikiran. Suara-suara itu berganti dengan teriakan memekakkan telinga. Hingga darah mengalir dari telinga gadis itu.
Cahaya merah berbentuk akar dalam tubuh Amdara mulai terlihat. Jelas itu adalah Benang Merah yang mulai bereaksi karena Permata Air. Amdara hampir tumbang ketika merasakan detakan jantungnya berdegup sangat kencang seolah akan lompat dari tempatnya. Tubuhnya mulai membiru akibat menahan dingin di dalam tubuh. Kulitnya mengeriput.
__ADS_1