
Kejadian tidak terduga siang kemarin membuat gempar orang Akademi Magic Awan Langit. Masih banyak yang tidak menyangka dan menyangkal akan hal kelolosan kelas Satu C. Apalagi seorang bocah yang dengan mudahnya menjinakkan Serigala Berbulu Putih hanya dengan seluring.
Bahkan Guru Aneh sendiri berhasil mengalirkan setetes air dari pelupuk mata. Dia sampai rela menjaga ketujuh muridnya bergantian demi melihat kondisi mereka setelah diobati. Jelas, mereka pasti sangat syok dengan apa yang terjadi. Guru Aneh awalnya meminta ketujuh murid itu untuk istirahat saja, tetapi setelah mereka sadar malah membuat Guru Aneh memijat pusing kepala oleh tingkah laku mereka. Bagaimana tidak? Atma yang pertama kali sadarkan diri langsung mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Guru Aneh hampir copot.
"Siapa pun, tolong ... ini sangat sakit. Aku tidak bisa menahannya ... sepertinya aku tak kuat lagi." Seakan merasakan kesakitan yang teramat, ekspres wajah Atma sore itu menyakinkan. "A-apa aku akan segera bertemu malaikat pencabut nyawa ...?"
Guru Aneh dibuat cemas sendiri. Padahal dirinya sudah yakin bahwa luka luar dan dalam Atma telah ia sembuhkan dengan baik. Dia segera menyalurkan kekuatan pada tubuh Atma sambil bertanya cemas, "apa kau benar-benar masih sakit?"
Entah mengapa, tiba-tiba saja Dirgan yang terbaring di ranjang sebelah Atma di ruang istirahat nampak mengigau, "sampai sini saja kah hidupku? Apa akhirnya aku bisa mengembuskan napas terakhir di dunia ini?"
Guru Aneh tersentak, dan segera beralih menyentuh dahi Dirgan. Dia juga telah menyembuhkan luka Dirgan, tetapi sama seperti Atma yang katanya masih merasakan sakit. Jelas ini membuat bingung Guru Aneh.
"Sshh. Tidak! Jangan cabut nyawaku. Pergi sana kau! Argghh ...!"
Tiba-tiba saja Aray yang juga terbaring di ranjang sebelah Dirgan berteriak tetapi dengan mata tertutup. Dia membuat Guru Aneh langsung melesat, dan mencoba menyadarkan. Kecemasan selalu bertambah, keringat dingin mulai bermunculan di dahi Guru Aneh.
"Aray, sadarlah."
Aray masih berteriak kesakitan. Dia meremas bantal, dan kakinya bergerak-gerak tidak jelas.
Guru Aneh menyalurkan kekuatan Aray di inti spiritual, yang memang stabil. Namun, keadaan ini malah membuat Guru Aneh tidak bisa berpikir jernih.
"Kalian, jangan pergi ke alam lain. Hei, sadarlah, Nak. Jangan membuatku cemas."
Tidak hanya omong belaka, tetapi raut wajah Guru Aneh benar-benar terlihat cemas. Dia telah mencoba menyadarkan tiga murid ini, tetapi sama sekali belum ada yang sadar.
Ekspresi Guru Aneh membuat Atma yang sedang pura-pura kesakitan menahan tawa. Dia menendang-nendang ranjang keras. Dan berkata dengan nada yang dibuat-buat, "ah~ ini sakit ... tapi aku mulai menyukainya. Tolong, malaikat pencabut nyawa, jika kau berani mengambil nyawaku sebelum aku membuktikan diri ini bisa, jangan datang."
Guru Aneh membeku. Suara lain yang dikenalinya terdengar.
"Napasku masih terasa di dunia ini. Itu berarti aku masih hidup. Hah, bagaimana mungkin aku meninggalkan tanggung jawab sebagai Ketua Kelas?"
Kali ini Guru Aneh segera menoleh ke arah dua bocah yang langsung meledakkan tawa tanpa merasa bersalah. Guru Aneh dibuat tersentak dan mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
"Bukan malaikat pencabut nyawa yang akan mencabut nyawaku, tapi akulah yang akan mencabut nyawa malaikat itu."
Aray membuka mata, tangannya dijadikan bantal dan menghadap Guru Aneh yang langsung menatapnya tajam dengan perasaan campur aduk.
"Kalian membohongiku?"
Guru Aneh menahan amarah. Dia segera berdiri dan hendak pergi tanpa memedulikan tawa tak berdosa ketiga muridnya.
Atma yang melihatnya segera berkata, "aiya, Guru. Kami baik-baik saja. Jangan marah, oke?"
Atma, Dirgan, dan Aray berniat mengerjai Guru Aneh agar suasana tidak terlalu menyedihkan karena mereka tidak sadarkan diri. Namun, sekarang Guru Aneh nampak marah dan tidak menghiraukan permintaan maaf mereka.
Di sisi lain, Amdara yang baru sadarkan diri saat tengah malam nampak berjalan ke arah jendela dan memandang keluar dengan perasaan sedih.
Dia mengeluarkan seluring dan menatap seluring di tangannya lama sebelum berkata, "lemah. Tidak berguna."
Amdara mengingat saat dirinya menjadi beban bagi teman-temannya. Perasaan marah pada diri sendiri semakin memuncak. Bahkan seluring yang terbuat dari bambu itu sampai retak.
Suara gedoran pintu kamar membuat Amdara tersentak, bahkan Inay, Rinai, dan Nada yang tengah tertidur pulas sampai terbangun.
"Apa?!
Inay, Rinai, dan Nada serentak terkejut bukan main. Kesadaran mereka langsung kembali dari mimpi. Penjaga itu sampai dibuat menggeleng-gelengkan kepala.
Amdara mengangguk dan berucap terima kasih pada penjaga itu sebelum pergi.
*
*
*
Di lapangan latihan, telah banyak murid yang berkumpul. Mereka terlihat mengobrol asik. Tatapan mereka menajam saat melihat tujuh bocah berjubah hitam dan memakai topeng kucing berjalan santai.
__ADS_1
Amdara dan rekan-rekannya tidak menghiraukan. Toh, selama ini tatapan itu sudah seperti makanan sehari-hari. Atma sendiri nampak melibas rambut depan penuh percaya diri.
Di depan mereka, Tetua Genta dan Tiga Guru Besar nampak memandang ke depan. Salah satu guru besar melayang, dan mengeluarkan suara yang cukup keras.
"Baiklah. Kurasa waktu istirahat kalian cukup. Jadi pagi ini kita akan memulai pertandingan kedua."
Dia memberikan salam pembuka dan beberapa wejangan untuk para murid berharap mereka mengerti dan mendengar. Namun, karena terlalu lama memberikan sambutan, sampai banyak peserta yang berdecak kesal.
"Hoam ... apanya yang pagi? Ini masih malam."
"Aku masih mengantuk,"
"Bisakah langsung dimulai? Pembukaan ini malah membuatku bertambah mengantuk."
Apalagi dari kelompok Padma yang hampir terjungkal karena mengantuk. Bahkan Amdara sendiri mencoba menahan kantuk, dia merasakan tubuhnya yang lemas.
Rinai dan Nada terlihat saling menyenderkan kepala, dan menutup mata tanpa mendengarkan sambutan dari guru. Atma juga terlihat menyender di bahu Aray dan langsung ditangkis oleh Aray karena kesal. Akibatnya Atma ambruk mencium tanah.
Dirgan yang melihatnya menggelengkan kepala. Beberapa peserta yang melihatnya tertawa tak tertahan.
Entah sejak kapan Guru Besar itu undur diri, dan diganti oleh Tetua Genta yang berucap tanpa nada, "kita akan pergi keluar akademi dan mencari benda-benda yang telah tertulis dalam kertas. Setiap kelompok memiliki isi kertas yang berbeda, dan dalam kurun waktu lima jam, kalian harus segera kembali ke akademi."
Guru Genta tanpa basa-basi menggunakan kekuatannya untuk melayangkan sebelas kertas dan meminta setiap ketua kelompok untuk mengambil.
Amdara meminta Inay untuk mengambil salah satu kertas menggunakan rambutnya, tetapi ketua kelompok mereka tetaplah Dirgan.
Kertas kuning emas itu dibuka, terlihat beberapa gambar dan penjelasannya.
"Jika sampai melebihi batas waktu, maka nilai kelompok akan dikurangi." Tetua Genta mengembuskan napas pelan dan lalu berkata, "aturan sama seperti pertandingan sebelumnya."
Penyambutan diakhiri oleh Guru Besar, sampai satu jam penuh. Amdara tetap mendengarkan, tetapi dia mengedarkan sekeliling. Sementara teman-temannya tengah melihat isi kertas.
Mata Amdara tertuju pada satu titik di mana mata hitam pekat tengah menatapnya dingin. Kedua mata itu membuat Amdara berkedip, dia langsung mengalihkan pandangan saat mata Cakra tak berkedip.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?"
Aray tiba-tiba bertanya pada Amdara yang mengangguk sebagai jawaban baik. Bocah berambut putih itu mencoba menarik kekuatan alam, tetapi tidak bisa juga. Dia mengembuskan napas, entah apa yang akan terjadi bila dirinya tidak bisa mengeluarkan kekuatan.