
Di dalam jurus Lasi, kini Amdara terjebak ke dunia yang diciptakan oleh Lasi. Dunia hampa, hanya ada suara tetesan air dari atas menyentuh lantai yang begitu dingin. Suasana di sekitar sunyi, tidak ada benda apa-pun.
Amdara perlahan membuka mata. Dia langsung terduduk, menyapu pandang ke sekitar. Tempat aneh. Amdara menyentuh kepala yang terasa pening. Dia mengingat terakhir kali bertatapan dengan mata Lasi. Teringat dengan penjelasan Guru Aneh, Amdara tersentak ketika tatapan Lasi membuatnya tidak sadarkan diri.
"Alam bawah sadar Senior Lasi." Amdara segera berdiri. Dia tidak boleh berada di Alam Bawah Sadar milik orang lain, yang ada sesuatu buruk akan terjadi.
Apalagi teman-temannya di dunia nyata pasti sedang kesulitan. Mereka mungkin saja akan menyerah dan meminta agar Lasi menyadarkan Amdara di dunia nyata.
"Hmph, pemikir cepat."
Suara seseorang menginstruksi lamunan Amdara yang mendongakkan kepala. Terlihat Lasi berada tidak jauh dari tempat Amdara berada yang berekspresi dingin. Keduanya diam dengan tatapan tajam, seolah bersiap dengan kemungkinan terburuk.
Amdara mengepalkan tangan. Tanpa bergerak dari tempatnya dia berkata, "keluarkan aku."
Lasi tersenyum sinis. Dia melangkah maju sambil menjawab perkataan Amdara, "tidak akan."
Amdara tanpa rasa gentar juga maju. Ketika keduanya dalam jarak dua langkah, mereka menghentikan langkah.
Amdara bisa melihat mata hitam pekat milik lawan. Seperti kegelapan yang bisa melenyapkan hanya dengan tatapan mata saja. Amdara merasakan kekuatan yang menekan tubuhnya.
"Akan menarik jika aku menggunakan tubuhmu melukai teman-temanmu sendiri."
__ADS_1
Lasi menyentuh pundak Amdara yang langsung ditempis kasar. Amdara mundur seketika. Aura yang dia rasakan sungguh mengerikan. Dirinya tidak yakin bisa menang dengan mudah melawan Lasi.
Tidak ada aliran kekuatan yang terasa dalam tubuh. Amdara juga tidak bisa menyerap kekuatan alam. Jika seperti ini, bagaimana Amdara akan melakukan perlawanan?
Suara tawa kecil dari lawan membuat Amdara merasakan tubuhnya semakin ditekan sampai akhirnya dia terduduk lemas. Tatapan tajam menatap Lasi yang kini berjongkok dan menyentuh dagu Amdara.
"Keras kepala. Aku hanya akan bermain sebentar menggunakan tubuhmu."
Hawa dingin menyelimuti tubuh Amdara. Perlahan Lasi menghilang digantikan sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Kedua tangan serta tangan Amdara seketika dirantai begitu erat. Amdara dipaksa berdiri tanpa bisa melakukan pemberontakan.
Satu mata merah menyala memelototinya. Semakin bertambah dan semakin banyak hingga nyaris seruangan gelap itu dipenuhi oleh sinar mata yang mengerikan. Hawa dingin serta menyeramkan tidak bisa disangkal.
Telinga Amdara berdenging. Kepalanya mulai terasa sakit. Dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Darah mulai menetes dari telinga, dan mulut. Amdara seperti hanyut dalam banyaknya suara menyakitkan tersebut. Napas Amdara jadi tidak beraturan. Dadanya terasa sesak.
Perlahan rantai yang mengikat Amdara berubah warna menjadi merah darah. Mata-mata yang sedari tadi mengawasi seolah tidak berkedip menatap nyalang Amdara yang tertunduk dengan pikiran campur aduk. Perasaannya lemah, ketakutan tak berdasar mulai menggerogoti hatinya tanpa sadar.
Bayangan-bayangan Roh Hitam yang mati dilenyapkan olehnya sedang berlarian mengejarnya dengan amarah besar. Suara-suara mengerikan menggema menambah kesan merinding. Wujud mereka berbeda-beda, mengerikan. Mereka mulai menyakar kaki Amdara yang tergantung, sampai menyakar tubuh Amdara yang tidak bisa melakukan perlawanan. Amdara bisa merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan dia merasakan darah yang mengalir keluar.
Cahaya hitam menyilaukan mata. Amdara yang sudah memejamkan mata merasakan sakit pada tubuhnya tidak tahu apa yang terjadi. Desiran angin berhembus. Melambai-lambaikan jubah hitam Amdara dan ikat kepalanya. Hawa yang sebelumnya dingin berubah menjadi panas. Ketika Amdara membuka mata, gambaran tanah gersang terlihat. Banyak orang yang saling membunuh entah karena apa.
Bau bangkai tercampur darah segar tercium. Udara pengap yang membuat dada Amdara semakin sesak dan sulit bernapas.
__ADS_1
Seorang anak kecil baru saja menggunakan kekuatannya untuk melenyapkan teman sebaya. Tatapan mata dia gelap seperti milik Lasi. Bocah itu berlarian di tengah-tengah perak berkecamuk tak berkesudahan. Kekuatan nyasar nyaris membuat bocah itu terpental andai dia tidak segera membuat perisai pelindung dadakan.
Bocah itu memunggungi Amdara yang melihatnya tanpa ekspresi. Beberapa pria berjubah hitam mendarat tepat di hadapan bocah itu. Di tangan mereka, sebuah kekuatan hitam dan kuat langsung dilesatkan pada bocah yang tengah membuat perisai pelindung.
Ledakan besar terjadi. Perisai pelindung bocah tersebut hancur dalam sekali serangan. Dia terpental dengan darah yang mengalir di tubuh. Para pria berjubah hitam itu tanpa belas kasih melesatkan serangan kembali tanpa ampun.
Amdara yang melihatnya mengepalkan tangan. Andai dia bisa lepas dari rantai ini saja, dia akan langsung menyelamatkan bocah itu sekuat tenaga.
Hal tidak terduga terjadi. Setelah lenyap dengan mengenaskan, para pria berjubah hitam membalikkan tubuh. Mereka mengenakan penutup kepala merah darah, sehingga Amdara tidak bisa melihat wajah mereka.
Mereka berjalan mendekat dan detik berikutnya menyerang Amdara secara brutal. Amdara merasakan tubuhnya dihantam sesuatu yang beratnya berton-ton. Dia tidak bisa mengelak apalagi memberi perlawanan. Hanya diam merasakan sakit pada tubuhnya. Panas dan juga seperti tertusuk benda tajam tepat di bagian punggung.
Amdara menggeram. Darah keluar dari hidung, mulut, telinga, punggung dan sekujur tubuh yang sudah teramat lemas juga.
Gambaran berganti dengan bulan merah darah menggantung. Suasana sekitar mencekam, dengan ruangan berwana merah darah. Tidak ada lagi orang-orang yang menyerang. Suara-suara yang menyalahkannya juga sudah tidak terdengar.
Amdara melihat tetesan darahnya menetes ke lantai. Dia benar-benar tidak berdaya. Pikirannya kacau. Tidak lagi berpikir mengenai teman-temannya.
Seekor siluman kadal muncul dari ruang hampa. Dia bersama kawanan sekitar lima ekor siluman kadal dengan ukuran bukan main berjalan mendekat ke arah Amdara yang diam.
Kadal-kadal tersebut melibaskan ekornya ke arah tubuh Amdara yang memuncratkan darah. Tidak sampai di sana, mereka bahkan menyeruduk tubuh kecil Amdara yang langsung memuntahkan darah segar. Berkali-kali hingga nyaris Amdara tidak merasakan udara masuk ke dalam paru-paru.
__ADS_1