
Di sisi lain, enam bocah tengah berjalan melewati terowongan bawah tanah. Terowongan tersebut membawa mereka ke hutan buatan yang di atasnya ditutup oleh kayu kemudian ditutup kembali menggunakan tanah dan semak belukar. Rambut salah satu dari mereka bercahaya, menerangi jalan gelap itu.
Bocah-bocah itu tidak lain dan tidak bukan adalah Amdara, Inay, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada yang baru saja sampai ke tempat di mana terowongan menuju Akademi Magic Awan Langit. Sementara Senior Fans akan pergi dan setelahnya mengurus kepindahan mengenai data Amdara dan Inay di negeri ini.
Tidak ada wajah lelah sama sekali, yang ada wajah bersemangat bisa kembali ke Akademi dengan selamat setelah berbagai hal terjadi.
"Ah~ bisakah kapan-kapan kita menjalankan misi lagi? Ini sangat menyenangkan! Si Tampan Tapi Miskin ini sekarang memiliki sekantong uang. Oh ya ampun, beginikah rasanya perjuangan yang mendapat balasan?"
Tak henti Atma berkata demikian. Bahkan teman-temannya menggelengkan kepala dengan sikap Atma.
"Jika tidak ada Luffy, Nana, dan Senior Fans. Mana mungkin kita mendapatkan uang?"
Perkataan Dirgan diangguki oleh Rinai dan Nada. Atma sendiri terlihat mengerucutkan bibir. Yah, mau bagaimana pun ketiga orang itu memang yang banyak melakukan banyak hal.
"Yah, tapi setidaknya aku juga membantu, tau."
Amdara tersenyum simpul. Dalam pikirannya dia bertanya pada diri sendiri. Memang apa yang telah dibantunya? Dia malah menjadi beban bagi teman-temannya. Inti spiritual yang telilit Benang Merah, dan selalu tidak sadarkan diri begitu lama. Menyedihkan sekali.
"Khakhaa. Aku sangat berterimakasih pada Luffy, Nana, dan Senior Fans." Nada berlari ke depan di mana Inay yang berjalan paling depan sambil menyinarkan cahaya pada rambutnya.
Inay berkata, "haih. Kau tidak perlu berterimakasih. Kita adalah teman dan selamanya teman. Mengerti?"
Nada kembali tertawa dan mengangguk-angguk. Perjalanan terus berlanjut, mereka saling bercerita mengenai misi pertama yang dijalankan dengan susah payah.
"Hah ... aku tidak menyangka benar-benar keluar dari kelas dan menjalankan misi."
Kata Dirgan tersenyum bangga. Dia menggunakan tangannya menyilang di belakang kepala.
"Huhuhu. Aku takut. Dunia menang berbahaya. Huhuhu. Kupikir nyawaku akan melayang hanya satu langkah keluar akademi."
Rinai menangis sesenggukan. Amdara menepuk-nepuk pelan punggung Rinai, lalu berkata, "kau harus cepat mengaktifkan kekuatan."
"Huhu. Kau benar, Luffy. Tapi bagaimana caranya?"
Rinai menoleh, menatap Amdara dengan mata sembab. Amdara nampak menatap ke depan sebelum melihat wajah Rinai.
"Yakin pada diri sendiri." Amdara berhenti menepuk punggung Rinai. Lalu dirinya melihat tangan kecil sendiri. "Kau bisa melakukan apa pun selagi kau berusaha."
Rinai menatap Amdara lama, dia tidak mengerti apa yang dimaksud temannya. Akan tetapi, Rinai mencoba merenung apa yang dia inginkan.
"Luffy, apa kau baik-baik saja?" Dirgan yang berjalan di belakang Rinai melihat perubahan ekspresi bocah berambut putih itu.
Amdara tersentak, kemudian menggeleng. Dalam hati dirinya ingin sekali bercerita mengenai ketidakberdayaan dirinya saat ini. Rasanya ingin menyerah, tetapi bagaimana dengan tujuan awalnya? Orang tua ... Amdara ingin sekali bertemu mereka.
Di lapangan latihan, setelah dikatakan sahnya pertandingan antar kelas. Mereka diberi instruksi oleh Tetua Haki yang mana setiap kelompok harus melewati hutan buatan yang telah banyak dipasang jebakan. Mereka harus lolos dari hutan buatan dengan kurun waktu yang telah ditentukan. Jika sampai telat dengan waktu yang telah ditentukan, maka peserta dianggap gagal pada hari pertama.
"Baiklah. Kalian hanya perlu melewati hutan itu."
Setelah Tetua Haki menjelaskan, di tangannya jam untuk menghitung waktu telah diputar. Sementara Tetua Haki terus berbicara mengenai peraturan yang harus mereka taati. Dari kesebelas kelompok belum ada yang sadar. Sampai pada lima menit Tetua Haki belum juga selesai berbicara, salah seorang murid kelas tiga baru menyadarinya.
"Kita akan telat."
Murid itu meminta teman-temannya agar segera pergi ke hutan buatan. Awalnya mereka bingung, tetapi karena percaya dengan ketua kelompok mereka langsung melesat tanpa bertanya.
Jelas peserta yang lain merasa heran dan bertanya-tanya. Salah satu dari mereka berdecak dan berbicara, "bukankah mereka tidak sopan? Tetua belum selesai berbicara. Mengapa mereka pergi? Hah, padahal dia 'senior'. Bukankah harus menunjukkan contoh yang baik pada kita?"
Beberapa peserta menyetujui. Mereka nampak kesal dengan perbuatan Senior Cakra dan kelompok. Bena yang masih berdiri juga nampak mendengus kesal.
Namun, tidak dengan Aray yang matanya tak sengaja melihat jam waktu yang telah diputar. Dirinya tersentak dan segera mengajak teman-teman untuk berlari dengan cepat mengejar waktu. Teman-temannya menggeleng dan menolak karena perbuatan itu sama sekali tidak sopan.
Aray dibuat berdecak kesal saat teman-temannya tidak paham juga. Dengan membisikkan sesuatu pada teman sekelas, mereka baru saja menyadari dan segera berlari menuju hutan buatan.
__ADS_1
"Hei, kalian jangan pergi dulu! Dasar. Cih, sudah lemah, tidak punya etika pula."
Padma yang berbaris di samping kelompok Aray sebelumnya nampak menghentakkan kaki kesal.
Daksa mengangguk setuju. Matanya mengedar saat Aray dan kelompok sudah berlari agak jauh. "Kau benar. Bocah-bocah itu tidak tahu apa yang akan dilakukan Tetua dengan perbuatan mereka ini."
Namun, Kenes yang baris di samping Daksa membelalakkan mata saat baru menyadari sesuatu.
"Dasar bod*h! Waktunya sudah dimulai! Kita akan terlambat ...!"
Perkataan Kenes membuat kelompoknya tersentak, apalagi Padma dan Daksa yang melihat jam waktu telah menunjukkan sepuluh menit berlalu. Waktu yang mereka miliki sekarang adalah tiga puluh lima menit.
"Kenapa kau baru menyadarinya?!"
Padma langsung melesat diikuti oleh teman-temannya. Kenes malah menyalahkan Padma yang juga tidak sadar.
Semua kelompok peserta yang mendengar perkataan Kenes juga dibuat terkejut. Mereka baru sadar dan langsung melesat pergi. Saling salah menyalahkan karena dari mereka tidak menyadari lebih awal. Keributan itu terjadi beberapa saat sebelum mereka benar-benar meninggalkan lapangan latihan.
Saat semua peserta pergi, Tetua Haki nampak mengembuskan napas. "Saling menyalahkan merupakan kekurangan kelompok."
Di hutan buatan, Cakra baru saja melesatkan serangan ketika temannya nyaris terkena panah. Dirinya melayang dan membantu temannya yang kesulitan. Walaupun mereka telah berada di kelas tiga, akan tetapi jebakan yang dibuat bukan main. Bahkan mungkin saja dari kelas satu akan langsung kalah dalam melewati jebakan ini.
Beberapa jebakan adalah panah yang tak terhitung jumlahnya melesat cepat ke arah mereka. Beruntung mereka bisa menghindarinya.
Aray dan enam teman sekelasnya nampak terengah-engah, mereka lari secepat yang mereka bisa. Saat kaki Aray menyentuh salah satu rumput, saat itu serangan berupa lesatan cahaya yang dapat melukai nyaris mengenai Aray jika saja bocah itu tidak segera menghindar.
Teman-teman sekelas Aray itu sontak terkejut dan tanpa di duga langsung berlari sekuat tenaga tanpa memikirkan apa yang akan terjadi.
"Hei, jangan berlari sembarangan ...! Ada banyak jebakan di sini ...!"
Aray melesat mengejar mereka yang tidak mengindahkan. Seperti dugaan Aray, jebakan itu langsung berdatangan dan nyaris ada yang mengenai salah satu temannya. Aray dengan kecepatan kilat menangis menggunakan kekuatannya, dia sampai kesulitan menangkis semua serangan yang datang beruntun.
"Sial!"
BAAM!
Aray terpental ketika salah satu serangan yang entah dari mana mengenai punggungnya. Aray terbatuk-batuk menahan sakit.
"Hei, minggir!"
Kelompak lain mulai berdatangan, mereka juga menghadapi hal yang serupa. Namun, karena kerja sama kelompok yang baik dan bisa menangkis serangan menggunakan kekuatan tidaklah sulit bagi mereka untuk melewati kelompok Aray yang ketakutan. Bahkan Aray dibuat tak habis pikir dengan mereka yang malah saling menahan tangis.
Kelompok Padma datang, melihat kelompok Aray yang terlihat seperti kucing yang berkumpul ketakutan membuat mereka yang melihatnya tertawa dengan langsung mengatakan hal tidak baik.
"Kalian tidak akan pernah menang walaupun tantangan kecil. Hahaha. Lebih baik kembali ke kelas dan belajar dengan baik."
Perkataan Daksa memicu tawa teman yang lain. Dia tanpa ragu menangkis serangan yang datang dan dengan sengaja melemparnya dekat kelompok Aray yang langsung menjerit ketakutan.
"Itu benar. Di sini terlalu berbahaya untuk kalian. Kembalilah dan menangis saja."
Kenes juga melakukan hal yang sama. Dia dan teman kelompok masih sempat-sempatnya menertawakan kelompok kelas Satu C. Padahal tengah dikejar waktu.
Aray yang tidak terima dengan hin**n Daksa dan yang lain langsung melesat dan menarik kerah pakaian Daksa.
"Apa yang kau katakan?!"
Sontak semua yang melihatnya dibuat terkejut bukan main. Aray dengan berani memelototkan mata ke arah mata Daksa yang memicing.
"Lepaskan tangan kotormu!" Daksa mendorong keras Aray sampai tangan Aray terlepas dari seragamnya.
"Berani sekali kau menyentuhku!"
__ADS_1
Daksa membuat tanah bergetar, dan membuat teman-teman Aray semakin ketakutan. Daksa menggunakan kekuatannya untuk menyerang Aray yang terlihat tersentak dan langsung menghindar.
"Kau yang berani men*n*as teman-temanku ...!"
Aray tanpa rasa takut sedikitpun malah balik menyerang dan melesatkan serangan dahsyat.
Blaaar!
Lima pohon hangus seketika, Daksa yang dengan cepat menghindar tidak terkena serangan. Kejadian itu membuat peserta lain yang melihatnya tersentak.
Tangan Daksa terkepal. Menatap tajam Aray yang kini tengah mengumpulkan kekuatan lagi untuk menyerang.
Padma terlihat marah saat Aray berani melesatkan serangan. Dirinya baru saja akan maju saat tangan Kenes menahannya.
"Kita tidak memiliki waktu meneladani para pecundang itu. Cepat, waktunya tidak banyak."
Di saat Aray melesatkan kekuatan, Kenes dengan mudah memantulkan kekuatan itu membuat Aray yang tak sempat menghindar terpental karena kekuatannya sendiri.
Kenes tersenyum sinis, dan meminta teman-temannya agar cepat menyelesaikan pertandingan pertama. Awalnya mereka menolak, akan tetapi melihat peserta lain yang telah berada di depan mereka membuat kesal dan akhirnya pergi begitu saja.
Aray memuntahkan darah, tak disangka serangannya benar-benar kuat bahkan dirinya kesulitan menyembuhkan luka dalam dan luar sendiri.
Suasana hutan buatan masih ramai, beberapa dari peserta tengah kesulitan menghadapi jebakan yang dibuat oleh para Tetua dan Guru. Tetua dan Guru sendiri tidak melihat secara langsung, melainkan melihat dan mengamati jalan pertandingan dengan melihat pada bola berlian ajaib yang amat besar. Mereka sama sekali tidak memerhatikan saat serangan Aray yang berbalik.
"Apa kau berniat mem*uhku?!"
Salah seorang Senior telihat memarahi kelompok Aray yang tak sengaja membuat jebakan lain menyerang Senior itu.
"M-maaf S-senior." Vir menunduk dan terlihat ketakutan saat dibentak.
Senior itu memutar mata malas, dan dengan kesal mendorong keras Vir. Dan lalu berkata, "maaf?! Cepat pergi! Kau nyaris mencelakaiku."
"Dia tidak sengaja!"
Aray yang melihatnya berteriak menahan sakit. Dia mengepalkan tangan saat temannya kembali dit*n*as. Dengan tertatih dirinya berjalan tetapi Senior itu langsung diajak pergi temannya agar tidak memedulikan bocah-bocah pecundang ini.
Terlihat Vir dan yang lain meneteskan air mata. Mereka menunduk. Baru saja Aray akan menghibur mereka akan tetapi mereka melangkah pergi begitu saja membuat Aray tersentak.
"Hei, kalian mau ke mana?"
Aray dengan menahan sakit berlari mengejar teman-temannya sambil bertanya bingung.
Vir menatap Aray dengan pipi yang telah basah karena menangis. Begitu pula dengan yang lain.
"Kau tahu kami tidak bisa mengaktifkan kekuatan sepertimu. Tapi jangan paksa kami terus merasakan sakit karena hal ini!"
Vir membentak Aray yang langsung dibuat terkejut bukan main. Dengan menangis, Vir mengatakan hal yang membuat Aray merasa bersalah.
"Berhentilah mengikuti pertandingan ini. Sama sekali tidak ada gunanya bagi kita. Yang ada kita malah semakin dit*n*as."
Bukan hanya Vir yang berkata demikian. Namun, keenam peserta kelompok Aray juga terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat hati Aray tergores.
"Sampai kapan pun, kita akan terus dijadikan bahan tertawaan mereka. Hiks. Kumohon, jangan membuat kami mengalami lara lagi. Hiks. Biarkan kami pergi ...."
Aray mematung dengan tatapan kosong. Keenam temannya pergi melewati Aray yang mengepalkan tangan.
"Ayo, pergi."
Aray tak lagi mencegah. Dia mencengkram pakaian kasar miliknya dan menatap kepergian teman-temannya yang terlihat tidak berdaya.
Suasana mulai sunyi, semua kelompok telah sampai dengan beberapa luka tetapi ada juga yang tidak terluka. Terkecuali kelompok Aray yang kini malah memilih pergi tak mau melanjutkan pertandingan. Di hutan itu, Aray sendirian. Terduduk dengan perasaan sedih sekaligus kesal. Tatapannya merunduk. Ternyata berjuang sendirian tidak akan berguna. Ternyata teman yang dibelanya malah pergi begitu saja.
__ADS_1
Dada Aray terasa sesak menahan buliran air di kelopak mata yang entah sejak kapan muncul.