
Pusaran angin yang terbuat oleh kekuatan alam masih berputar, mengelilingi Amdara yang langsung ambruk. Kesadarannya mulai menipis, untuk bernapas terasa sulit. Dinginnya lantai es itu tidak mendinginkan organ tubuh dalam yang tengah digerogoti racun. Rambut coklatnya mulai berubah. Perlahan tapi pasti, rambut putih aslinya kembali.
Dia berusaha keras hanya untuk mengumpulkan kekuatan alam dan membuat ledakan. Sampai tubuhnya tidak kuat dan ambruk. Jurus barusan adalah pemusatan kekuatan yang pernah diajarkan Tetua Haki.
"Tidak. Aku belum mengalahkannya."
Dia berusaha lagi untuk tidak sampai kehilangan kesadaran. Aliran kekuatan alam terus menyelimuti dan berusaha menghilangkan racun hebat di dalam tubuh.
"Aku akan mendapat informasi tentang Ketu jika bisa mengalahkannya."
Racun yang menggerogoti tubuhnya adalah racun Serangga Bayang yang sangat kuat. Hanya orang tertentu yang bisa membuat racun ini. Racun Serangga Bayang akan membuat orang yang menghirup asapnya mengalami lumpuh jika tidak segera diobati.
Api Biru tiba-tiba muncul, padahal Amdara sama sekali tidak mengeluarkannya. Api itu memberikan pil yang pernah Amdara buat. Pil Itu tidak terbakar oleh Api Biru yang melayang-layang di depan Amdara.
Api Biru kemudian meleburkan pil dan menghamburkannya ditubuh Amdara. Api Biru mulai membesar dan menyelimuti tubuh gadis tersebut yang tidak terbakar bahkan pakaiannya.
Pusaran angin yang masih mengelilingi Amdara kian membesar. Menerbangkan benda-benda sekitar ke sembarang arah.
Kawa, Jogu, Gaku, Ilan, Pika, dan Phillomel juga terkena dampak ledakan. Mereka menghantam dinding dan mendapatkan luka luar.
"A-apa yang barusan terjadi?"
Jogu tergagap, angin besar menerpa tubuhnya. Matanya terbelalak melihat angin beliung yang berputar-putar di arena yang hancur.
Kawa menekan dada yang terasa sakit, menatap ke depan dengan terkejut bukan main.
"Perisai pelindung itu bukan perisai biasa. Kekuatannya besar dan sangat sulit diretakan, tapi barusan itu ...."
Dirinya menelan ludah susah payah. Tanpa sadar tubuhnya gemetar karena kekuatan gadis berambut coklat itu diluar dugaan. Bahkan Mitsu juga sampai tidak bisa menahan.
"K-kekuatan Luffy seperti monster," kata Ilan.
Tidak ada orang yang tidak terkejut. Murid-murid Akademi Nirwana Bumi bahkan lebih terkejut, karena tidak menyangka kekuatan ini melebihi mereka.
"D-dia bukan hanya pengendali es, tapi juga angin?!"
"Tidak mungkin. I-ni mustahil."
"Kau baru saja melihatnya. Bagaimana itu tidak mungkin?!"
Suara Gadis Petir terdengar kesal tapi juga ada kekaguman. Dia dan teman-temannya memang mendapatkan luka, tapi rasa sakit itu teralihkan dengan pusaran angin biru.
__ADS_1
Tempat menonton itu beberapa bagian hancur. Mitsu yang menghantam bangku penonton menekan dada. Darah keluar dari mulutnya. Topeng yang dikenakan sampai terhempas. Jantungnya berdetak lebih keras, pandangannya mengarah ke pusaran angin di sana.
"Tidak mungkin."
Mitsu masih tidak percaya dengan kejadian barusan. Dia bahkan tidak sadar jika ledakan tepat di depannya. Kekuatan barusan ... Sungguh mengguncang jiwanya saat ini.
Hatinya menolak mengakui kekuatan lawan, tetapi mata dan otaknya melawan. Dia melihat dampak rusak akibat ledakan barusan.
Wajah terkejutnya masih terlihat. Tapi langsung berubah. Seringai di bibir dia lengkungkan.
"Dia memang kuat, tapi aku belum kalah," katanya sambil mengusap darah yang mengalir.
Luka di tubuh menghilang dengan sempurna. Dia berdiri dengan serius, tanpa di sadari siapa pun dengan kecepatannya melesat ke arah pusaran angin.
Bayangan hitam muncul dari telapak kaki, semakin membesar hingga menyerupai bola. Menyerang pusaran angin itu.
Ledakan kembali terjadi akibat bertemunya angin beliung dengan kekuatan bayangan hitam. Kejadian itu sontak membuat orang-orang di sana terkejut bukan main dan kembali mendapatkan luka akibat ledakan besar yang sampai mengguncang tempat latihan itu. Asap langsung mengepul di udara setelah hilangnya angin biru.
Di sana, Mitsu melihat tubuh Amdara yang masih tergeletak, tetapi tidak lagi diselimuti Api Biru.
Mata nyalang Mitsu mengarah ke lawan. Keinginan menghancurkan tubuh lawan sudah berada di ubun-ubun sekarang.
Mitsu tertawa, dia membuat gerakan tubuh yang akan menjadi jurus. Bayangan hitam muncul di langit tempat pertarungan. Aura gelap nan menekan terasa kuat. Orang-orang luar terkejut dengan adanya bayangan hitam penghalang cahaya matahari. Murid-murid Akademi Nirwana Bumi yang berada di luar dan melihat bayangan besar itu menahan napas, mereka tahu milik siapa kekuatan bayang hebat itu.
Gadis Petir yang mendapatkan luka dalam membelalakkan mata. Sadar jika Mitsu akan melakukan serangan hebat lagi. Jika tidak keluar dari tempat itu, mereka semua akan mendapatkan luka fatal.
"Sialan. Ayo cepat pergi dari sini!"
Gadis Petir mengajak teman-temannya pergi dengan susah payah.
Arlet yang ternyata sudah dekat dengan Akademi membulatkan mata melihat bayangan besar tidak jauh darinya di langit. Ian, Enric dan kedua teman yang menyamar juga melihatnya. Mereka sama-sama terkejut. Bertanya-tanya siapa yang telah membangunkan kemarahan salah satu Klan Bayang Hitam.
Mitsu, yang merupakan keturunan dengan bakat hebat dari Klan Bayang Hitam sekarang menghentakan tangan ke tanah sampai berlubang besar.
"Bayang Pencakar Jiwa ...!"
Bayangan hitam di langit berubah bentuk menjadi tangan cakar harimau amat besar dan melesat ke bawah. Gedung pelatihan mulai retak, orang-orang di dalam ketakutan, mencari jalan keluar berebutan.
BAAM!
Serangan itu menghancurkan gedung dan menimbulkan getaran hebat di tanah. Suaranya sangat besar sampai-sampai guru Akademi Nirwana Bumi tersentak kaget.
__ADS_1
Orang-orang di luar terhuyung akibat tanah bergetar hebat. Kondisi itu membuat mereka terkejut, apalagi asap hitam mengepul di bagian gedung pelatihan yang hancur berkeping-keping.
Murid-murid yang tidak sempat menghindar tertimbun reruntuhan dan mendapat luka dalam cukup serius.
Kawa, dan yang lain beruntung keluar dengan cepat. Mereka merasakan jantung berpacu sangat cepat. Pandangan mereka mengarah ke gedung yang baru saja hancur dan mengepulkan asap hitam sangat banyak.
"Jangan mendekati asap hitam! Itu adalah gas racun ...!"
Teriakan salah seorang murid Akademi Nirwana Bumi membuat yang lain bertambah kaget dan langsung menjauh.
"T-tidak. Luffy ...!"
"Bagaimana ini?! Luffy. D-dia pasti--"
"T-tidak. Tidak mungkin! Luffy jelas berada tepat di bawah serangan itu!"
Jogu, Ilan, dan Pika terduduk lemas. Pikiran mereka semua kacau. Tidak peduli lagi pada luka akibat serangan sebelumnya.
Gaku menelan ludah susah payah. Napasnya sangat pelan. Di serangan besar itu tidak mungkin teman barunya bisa lolos. Phillomel juga sama, dia diam tetapi pikirannya kacau.
"Luffy," Kawa mengepalkan tangan. Dia tidak bisa menolong Amdara karena dirinya juga membutuhkan bantuan. Darah nampak mengalir dari mulutnya.
Kondisi gedung luas yang hancur menghebohkan orang-orang. Apalagi kepulan asap racun yang tidak bisa didekati.
Sementara itu, Mitsu menyeringai sebelum akhirnya tertawa lepas. Asap memang masih mengepul, tapi dia tidak akan terkena racun. Luasnya gedung latihan yang hancur menjadi lubang besar. Aroma khas dari ledakan barusan sangat terasa nikmat bagi Mitsu. Aroma kekalahan lawan.
"Lihatlah akibat kau berani menantangku! Cih, jangan remehkan murid Akademi Nirwana Bumi. Ha ha ha."
Dalam serangan jurus hebatnya, Mitsu yakin lawan tewas dalam keadaan mengerikan. Tidak ada yang pernah lolos dari jurus mematikan ini. Jurus Bayang Pencakar Jiwa yang memiliki kekuatan khusus yang mengerikan, yaitu menarik jiwa secara paksa.
"Bersyukurlah kau mati di tangan orang jenius dan mendapat penghormatan merasakan jurus Klan Bayang Hitam."
Katanya lantang. Mengejek lawan yang belum terlihat kondisinya karena masih ada asap hitam menghalangi pandangan.
Setitik cahaya putih bersinar di tengah-tengah arena. Cahaya emas lalu mulai muncul dan bercampur dengan cahaya biru juga. Cahaya itu mulai terang, sampai Mitsu yang tengah tertawa puas menyerngitkan dahi, terdiam.
Di gelapnya asap hitam, Mitsu mulai memfokuskan mata menggunakan kekuatan. Matanya terbelalak melihat sepasang sayap emas di kelilingi sinar putih dan biru. Sayap itu berbulu halus dan tampak indah.
Tepat ketika sayap tersebut terbuka, memperlihatkan hal yang tak pernah terpikirkan siapa pun. Termasuk Mitsu yang termundur dengan napas tercekat.
"T-tidak mungkin."
__ADS_1