Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
202 - Penyerangan II


__ADS_3

Di kedalaman Hutan Arwah, sebuah sekte didirikan. Tidak cukup luas, akan tetapi penjagaannya sangat ketat. Di sana banyak rumput racun. Udaranya jauh lebih pengap dari yang lain. Tidak hanya itu, tetapi setiap bangunannya juga ditumbuhi oleh tanaman beracun. Jelas sekali mereka mengandalkan racun sebagai senjata. Siapa pun yang masuk ke sana akan sulit bernapas, dan berakhir tewas terkecuali anggota mereka sendiri.


Anggota Aliran Hitam Sekte Tengkorak Racun ini sekitar 150 orang beserta Tetua. Markas mereka hanya ada satu.


Sekte ini selain terkenal racun ganas, tetapi juga terkenal sekte paling ditakuti tingkat menengah. Tidak banyak yang berani berurusan dengan mereka. Sekte Tengkorak Racun hanya akan melakukan penambah kekuatan dengan cara apa pun termasuk menggunakan kitab terlarang, jarang sekali berurusan dengan manusia biasa.


Tentu mencari kitab terlarang juga membutuhkan waktu. Untuk sekarang, banyak anggota mereka yang pergi ke seluruh penjuru demi mencari kitab hebat. Bisa dikatakan di Sekte hanya ada sekitar 80 orang dengan satu Tetua.


Kegiatan mereka di sekte hanya berlatih seperti biasa. Namun, tiba-tiba saja sebuah ledakkan besar-besaran mengelilingi sekte terdengar. Bahkan dari mereka yang terkena ledakkan langsung mendapatkan luka fatal.


Gedung-gedung hancur dalam waktu sepersekian detik setelah mendapatkan serangan. Orang-orang yang masih berada di dalam gedung langsung melesat menghindar sebisa mungkin.


Serangan tidak terduga jelas membuat seluruh anggota sekte yang tidak memiliki persiapan terkejut bukan main dan tidak sempat menghindar karena tidak merasakan hawa keberadaan musuh. Mereka yang dapat menghindar langsung melesat mencari dalang dari serangan ini.


"Sialan! Siapa yang berani menyerang Sekte Tengkorak Darah?!"


"Orang itu pasti bodoh karena masuk ke sarang harimau!"


"Tangkap musuh dan jangan biarkan dia hidup!"


Seruan-seruan lain membuat bara semangat membunu* meningkat. Mereka ada yang langsung melesat pergi. Akan tetapi, sebuah suara lonceng besar yang entah berada di mana terdengar.


Suara itu membuat telinga siapa pun terasa sakit dan berdengung. Darah langsung keluar dari telinga. Suara lonceng terus saja terdengar bahkan sampai membuat gendang telinga pecah.


Orang-orang Aliran Hitam berteriak kesakitan. Walau sudah menutup telinga menggunakan tangan, dan menggunakan kekuatan tapi suara lonceng itu terus saja terdengar.


Langit tiba-tiba mendung, sambaran petir tanpa ada hujan menghantam tanah sampai retak. Satu yang terkena sambaran tewas seketika. Petir-petir bermunculan, seolah sebanyak orang-orang sekte sekarang dan mencoba menyerang mereka.


Mereka berusaha sekuat tenaga menyerang petir tersebut atau setidaknya membuat perisai pelindung.

__ADS_1


Seorang Tetua dari Sekte Tengkorak Darah nampak menghempaskan kekuatan besar ke arah petir yang akan menyambar ke arahnya. Petir tersebut meledak, menghantarkan listrik ke sekitar.


BAAM!


Blaaar!


Pria sekitar berumur 50 tahunan itu menatap ke langit marah. Dia mengeluarkan cahaya hitam yang merupakan kekuatan, dan melemparnya ke langit. Bukannya menghentikan petir, tetapi petir-petir dari langit semakin banyak menyerang mereka.


"Aku yakin ada dalang di balik ini semua."


Tetua tersebut harus kembali berlindung. Dia berseru, "kalian cepat cari orang yang mengendalikan suara lonceng dan petir ini ...!"


Mendengar seruan tersebut, sebagian mereka berusaha keras melesat pergi mencari orang yang diperintahkan.


Tidak jauh dari Sekte Tengkorak Racun, dua orang yang mengenakan jubah khas seorang Tetua dari Akademi Magic Awan Langit terlihat tengah asik melakukan serangan. Keduanya saling mengerahkan kekuatan untuk meluluhlantakkan sekte Aliran Hitam ini.


"Tetua Genta, apa kau hanya akan menyerang mereka seperti ini saja?"


"Hmph. Tidak. Aku akan memberikan kenangan pahit untuk mereka."


Katanya sambil tersenyum sinis. Tetua Rasmi yang jarang melihat senyuman barusan hanya bisa mengedipkan mata, dia lalu menggelengkan kepala tanpa menghentikan tangannya yang tengah mengendalikan petir di langit.


Kedua Tetua dari Akademi Magic Awan Langit ini memang tengah menjalankan misi dari warga kota. Yang mendapat keluhan bahwa Sekte Tengkorak Racun membuat masalah dengan merebut paksa benda pusaka dan kitab-kitab milik warga. Kejadian ini jelas meresahkan. Bukan hanya di kota Awan Langit, melainkan di kota lain juga merasakan hal yang sama.


Sebenarnya sudah ada perwakilan dari orang-orang Aliran Putih untuk mengatasi masalah ini. Akan tetapi mereka pasti tewas karena racun di Sekte Tengkorak Racun benar-benar ganas. Sampai sekarang belum ada yang berhasil membuat penawar.


Tetua Rasmi dan Tetua Genta datang bukan tanpa persiapan. Mereka telah membuat rencana matang dengan harapan dapat membawa hidup-hidup orang-orang Sekte Tengkorak Racun untuk ditahan.


Walau keadaan ini akan menimbulkan balas dendam, tapi mereka sudah mempersiapkan diri.

__ADS_1


Harapan keduanya memang membawa musuh hidup-hidup, tetapi jika dalam masalah besar mereka terpaksa menewaskan musuh.


"Haih, kau memang lebih parah dariku sebenarnya. Kau urus bagian ini, aku akan pergi mencari Tetua Sekte Tengkorak Racun!"


Tetua Rasmi melesat tanpa menunggu jawaban. Lawan bicara hanya menatap sebentar sebelum memandang ke depan.


"Lihat, aku akan memberi pelajaran bagus untuk kalian."


Tangan Tetua Genta berputar menciptakan tali kuning yang menghubungkan dengan suara lonceng transparan. Dia juga memunculkan ledakkan besar ke arah lawan yang sudah melihatnya sekarang.


Musuh ternyata tidak mudah goyah saat diserang. Mereka menatap tajam Tetua dan balik menyerang membabi-buta, apalagi mereka tidak hanya satu-lima orang melainkan dua puluh lima orang sekaligus.


Ledakkan dan hantaman keras terdengar. Langit yang bergemuruh menambah nuansa seperti pertarungan tak biasa. Serangan dahsyat tak terelakkan, bahkan Tetua Genta nyaris terkena jika tidak cepat melentingkan tubuh.


Blaar!


Petir masih menyambar di langit gelap. Pertarungan antara dua orang dengan 80 orang nampaknya berat sebelah.


Saat ini Tetua Rasmi juga sudah bertarung menyambarkan petir. Dia adalah petarung jarak jauh, tapi jangan salah bahwa dirinya juga bisa bertarung jarak dekat walau tidak terlalu baik.


Serangan berupa tikaman dari arah belakang terlihat. Tapi Tetua Rasmi dengan cepat membuat perisai pelindung dan menyerang lawan dari arah samping.


Lawan yang tidak menyangka terkena serangan itu. Terbatuk darah. Dengan bengis bertanya, "kau! Siapa kau berani sekali mengganggu kami!"


Tetua Rasmi tertawa, walau demikian dia tidak lengah. Dia terus memberikan serangan telak ke arah lawan dengan kecepatan luar biasa.


"Hmph. Kalianlah yang telah mengganggu warga kota Awan Langit!"


Tetua Rasmi menghempaskan kekuatan tidak main untuk menyerang. Bahkan tekanan cukup terasa dipihak lawan.

__ADS_1


"Dan aku datang untuk menahan kalian. Menyerahlah atau pertarungan ini tidak akan pernah usai."


Ancam Tetua Rasmi dengan sambaran petir ke arahnya sendiri. Sambaran itu tidak melukainya, melainkan membuat kekuatan besar menghempas ke sekeliling yang langsung melukai 30 musuh.


__ADS_2