Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
248 - Pertarungan II


__ADS_3

Kepalan tangan terbentuk dari aliran kekuatan Jogu hampir mengenai lawan, tapi serangannya malah diserang balik menggunakan aliran petir dahsyat.


Jogu menghindar cepat. Ledakan besar terjadi saat itu juga. Asap mengepul di udara, membuat pandangan sedikit terganggu.


Jogu menggemerutukkan gigi marah. Aura kekuatan di tubuhnya semakin besar. Berwarna abu-abu dan langsung membuatnya menghilang. Asap abu-abu tiba-tiba muncul mengelilingi area pertandingan.


Gadis Petir dibuat tersentak. Itu bukan asap biasa, melainkan asap yang benar-benar menurutnya sangat bau. Dia sampai menutup mulut, hampir memuntahkan isi perut.


"Sialan! Baunya seperti kaos kaki tidak pernah dicuci satu tahuanan!"


Tatapannya lebih tajam. Mencoba menghilangkan asap itu, tetapi sia-sia karena asap tersebut selalu kembali. Apalagi lawan yang entah berada di mana. Bahkan Gadis Petir tidak bisa mendeteksi.


Asap itu tidak bisa dirasakan oleh penonton karena terhalang perisai pelindung. Yang mereka lihat sekarang hanyalah asap abu-abu menghalangi dua petarung.


Amdara memfokuskan kekuatan untuk melihat di mana satu teman dan lawan di dalam area. Dirinya menyerngitkan dahi karena hanya melihat Gadis Petir, sementara entah berada di mana Jogu.


Amdara semakin memfokuskan pandangan. Sesuatu seperti batu melayang mengelilingi Gadis Petir terlihat.


"Mn. Dia memang hebat."


Amdara duduk dengan tenang. Dia tidak menyangka kekuatan Jogu besar juga. Entah dengan murid dari Akademi lain, tapi yang pasti Amdara harus mengerahkan kekuatan di area Turnamen. Namun, dia juga harus berusaha keras di pertarungan selanjutnya.


"Hei, kemana Jogu? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?"


Perkataan Ilan membuat Gaku tersenyum. Dirinya menjawab tenang, "dia ada di sana. Kau tidak akan bisa melihatnya. Itu adalah teknik hebat milik Jogu."


Bahkan Kawa sampai kesulitan untuk melihat keberadaan Jogu. Apalagi Gadis Petir yang benar-benar mulai merasakan pening akibat bau tak mengenakan tersebut.


Dia berdecak karena benar-benar tidak mengetahui keberadaan Jogu.


"Sialan. Kau membuat hidungku sakit!"


Sebuah petir dari berbagai sisi bermunculan. Sebelah tangan Gadis Petir terkepal kuat, terangkat dan dia hempaskan petir-petir itu ke sembarang arah. Ledakan besar lagi-lagi terjadi. Sesaat asap abu-abu menghilang. Di saat itu Gadis Petir lekas mengedarkan pandangan mencari musuh.


"Kena, kau!"


Sebuah serangan telak dari arah belakang mengenai leher Gadis Petir yang langsung terdorong ke depan dengan keras bahkan sampai menghantam tanah.


Jogu tiba-tiba saja muncul setelah lawan terpental. Dirinya tertawa senang. "Lihatlah! Keangkuhan mau berada di bawahku sekarang!"


Namun, mendadak sebuah petir dari arah bawah muncul. Menyerang Jogu dengan cepat. Dia yang kurang cepat menghindar terkena sambaran listrik itu. Jogu meringis kesakitan, kakinya terasa terbakar hingga ketulang.


Gadis Petir tiba-tiba muncul di hadapannya dan menarik kerah baju lawan. Mata ungunya tajam, siap menghancurkan lawan.


"Kau membuatku marah!

__ADS_1


*


*


*


Seorang remaja berciri khas mengenakan gelang ukiran ombak berjalan tenang bersama ketiga temannya. Mereka menuju ke arah penjaga Kota Ujung Bumi untuk mengurus surat izin masuk.


Begitu melihat tanda pengenal dari mereka, penjaga itu langsung memperbolehkan keempat remaja masuk.


"Kotanya lebih berbeda dari yang dulu."


Salah satu remaja bertutur melihat ke sekeliling. Ucapan itu disetujui oleh yang lain.


"Kekaisaran sangat memanjakan kota ini dan Akademinya."


Remaja bermata biru dan menggunakan gelang itu berwajah datar. Dia berkata, "terlalu dimanjakan sampai keterlaluan orang-orang di sini."


"Kau benar, Ian. Kurasa murid-murid Akademi di sini lebih parah dari sebelumnya."


Temannya menyahut. Keempat remaja itu adalah Ian dan kawan-kawan. Meraka terus berjalan ke depan, menuju Akademi Nirwana Bumi.


"Itu sudah jelas."


"Apa kita akan langsung masuk Akademi?"


Ketiganya mengangguk mendengar ucapan Ian. Mereka berbelok ke arah lorong yang nyatanya terlihat bersih bahkan dihiasi tanaman merambat. Itu terlihat jauh berbeda dari lorong di kota atau desa lain.


Melihat lorong bersih itu membuat Ian teringat jalan ke gubuk mereka di kota. Dirinya menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Cukup lama mereka berjalan melewati belokan-belokan lorong panjang. Sampai akhirnya, satu toko bercat gelap membuat langkah mereka terhenti. Toko tanpa banner nama terlihat sepi pengunjung. Toko ini juga satu-satunya yang memiliki aura berbeda, seolah ada sesuatu berbahaya di dalamnya.


Ian perlahan membuka pintu. Suara derit pintu terdengar. Mereka masuk tanpa rasa takut sedikit pun.


Di dalam terlihat beberapa benda tidak berguna. Suasana di dalam juga sepi. Ian menempelkan tangan dan tanda pengenal di atas meja secara bersamaan. Saat itu juga, cahaya gelap mengelilingi ruangan.


Dalam lima kali kedipan, mereka sudah berada di ruangan berbeda. Masih dengan aura misterius. Ditambah ada lilin-lilin bergelantungan di sudut ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Satu meja di tengah-tengah, dan sebuah kuas beserta alat menggambar lain tergeletak. Ada bunga anggrek putih yang masih terlihat segar di sampingnya. Lilin berapi ungu menerangi meja itu.


Ian dan ketiga temannya berjalan ke sana, dan berhenti ketika sebuah cahaya merah darah muncul di depan meja.


"Kenapa baru datang? Aku menunggu kalian sejak lama. Menyebalkan sekali."


*

__ADS_1


*


*


Pertarungan berubah sengit dalam sekejap. Sambaran petir dan ledakan terus terjadi. Asap mengepul di tengah-tengah area. Sama sekali tidak ada kerusakan, itu pertanda perisai pelindungnya kuat.


Sebuah hantaman keras menabrak perisai pelindung, tepat di depan Amdara. Tubuh Jogu tergeletak sudah tak berdaya. Dia nampak mengeluarkan darah dari mulut. Rasa sakit jelas teramat di tubuh.


Melihat kondisi Jogu, Gaku dan yang lain kontan terkejut.


"Jogu, sudah cukup! Kau terluka parah."


Teriakan Gaku jelas terdengar Jogu yang menekan dada kesakitan. Dia mengepalkan tangan. Keinginan menyerang kembali terus bergejolak, tapi tubuhnya sudah dihantam kekuatan dahsyat. Jika dipaksa, dia tidak yakin akan mengikuti Turnamen.


"Sialan. Dia memang monster." Jogu menggemerutukkan gigi, darah kembali mengalir dari mulut.


Gadis Petir terlihat tersenyum remeh ke arah Jogu dan teman-temannya.


"Lihat kemampuan seperti semut ini. Sungguh memalukan."


Gadis Petir kembali berkata, "sebenarnya aku ingin sekali membuatmu hancur. Tapi, aku bukan orang yang akan melewati batas aturan yang ditentukan. Haih, sangat disayangkan."


Jogu tidak membalas apa-apa. Mendengar teriakan teman-temannya yang meminta berhenti membuatnya hanya terdiam.


"Sudah jelas sekarang, siapa pemenangnya."


Gadis Petir melibaskan rambut dengan sombong. Terbang pergi begitu saja. Perisai pelindung langsung menghilang saat itu juga.


Gaku langsung membantu Jogu berdiri dan duduk di kursi. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kaki yang tersengat sudah menghitam. Walau tidak sampai lumpuh, tapi ini sudah cukup kelewatan menurut Gaku.


"Aku tidak ingin mengakui ini, tapi mereka memang monster."


Gaku menyalurkan kekuatan untuk menyembuhkan luka Jogu. Dia sampai dibantu oleh Phillomel.


Amdara tidak turun tangan, sebenarnya dia membawa obat yang diracik sendiri dan yakin Jogu akan langsung sembuh jika menelan pilnya. Namun, Amdara tidak ingin terlalu menonjol di antara mereka. Bisa saja akan ada yang membahayakan nyawanya.


"Mn. Ini sangat keterlaluan!"


Ilan terlihat sangat kesal. Tapi memang tidak bisa dipungkiri kekuatan mereka berada dibawah musuh.


Kawa yang melihat kondisi Jogu merasa menyesal karena membuat pertarungan seperti ini. Dia mengepalkan tangan dan menatap ke arah Mitsu yang ternyata tengah memandang remeh ke arahnya.


"Aku akan membalaskan dendammu, Jogu. Dengan melawan Mitsu."


Perkataan Kawa membuat Amdara yang sedari tadi diam menoleh. Dia melihat tatapan Kawa ke arah laki-laki bertopeng itu.

__ADS_1


Amdara kemudian buka suara, "biarkan aku melawannya."


__ADS_2