
"Dia Ketua Kelasku."
"Cih! Kau benar-benar cari mati, ya?!"
"Tidak."
"Kau ...!"
Bena baru saja akan melangkah maju saat tiba-tiba Guru Ghana mengatakan sesuatu yang membuat semua orang yang melihatnya terkejut.
"Bertarunglah di lapangan latihan saat kelas selesai, dan yang kalah akan menuruti perkataan pemenang. Apa kalian setuju?"
*
*
*
Amdara dan beberapa teman kelas yang telah masuk tengah berbincang serius. Mereka terkejut mendengar cerita Dirgan, awalnya mereka tidak percaya tetapi setelah mendengar dari mulut Amdara langsung membuat mereka tidak menyangka bocah itu membela Dirgan dan dengan berani menerima pertarungan setelah kelas selesai.
Amdara sendiri hanya diam saat teman-temannya mengatakan dirinya harus membatalkan pertandingan itu. Amdara sudah memikirkan bagaimana dirinya akan melawan dengan Senior itu. Kekuatan mereka berbeda tingkat, tetapi Amdara yakin bisa menang.
Ketua Kelas Dirgan, "Luffy, kau memang anak pemberani. Aku kagum padamu. Terima kasih telah membelaku."
Amdara tersenyum, dia berkata sesama teman tidak perlu ada kata terima kasih karena itu hanya akan menimbulkan jarak di antara hubungan mereka.
Atma tersenyum sinis ke arah Amdara, dia mengatakan bahwa Amdara tidak akan bisa menang melawan Senior Bena. Ditambah nanti saat Amdara kalah pasti Bena akan meminta hal-hal aneh, seperti membunuh mereka misalnya?
Beberapa teman sekelas mengangguk menyetujui perkataan Atma, mereka tidak yakin Amdara bisa mengalahkan Bena.
Ketua Kelas Dirgan maju ke depan. Andai Amdara tidak membela, pasti dia akan ditertawakan seperti sebelumnya, andai gadis kecil itu tidak menolong Dirgan, pasti Bena akan menghajarnya sampai babak belur seperti sebelumnya. Dirgan benar-benar muak dengan perlakuan mereka. Bukan hanya dirinya tetapi teman-temannya juga merasakan hal sama. Namun, mereka sama sekali tidak melawan yang menyebabkan orang lain semakin berbuat kejam. Dia dengan tegas berkata, "apa kalian bodoh? Kita ditindas selama ini, dan kita hanya diam tidak ada perlawanan."
"Lalu kenapa? Apa kita akan melawan? Kita hanya akan dibunuh!" Salah satu murid menjawab, dia tahu ditindas tetapi melawan mereka yang memiliki kekuatan sama saja dengan bunuh diri.
Rinai menangis kembali, dia memeluk lutut erat. "Huhuhu, aku lelah. Aku ingin pergi dari sini. Mereka benar-benar kejam! Huhu, andai saja aku memiliki kekuatan untuk melawan ...."
__ADS_1
Atma mendengus kesal. "Haih, kita memang tidak memiliki kekuatan. Tapi kalian masih memiliki laki-laki tampan sepertiku! Jadi berbanggalah!"
Mendengar Dirgan diselamatkan Amdara, membuat Nada mengingat kejadian semalam di mana dia juga diselamatkan oleh anak kecil.
Nada memeluk erat boneka sambil tertawa kecut. "Khakhaa, satu bulan lagi kita akan mendapatkan kekalahan dan penghinaan yang sama."
Ucapan Nada membuat yang lain bertambah putus asa. Mereka saling berbicara kekejaman murid-murid yang pernah menindas.
Kebisingan itu membuat Dirgan menggebrak meja guru keras agar semua diam dan mendengarnya sebagai ketua kelas.
"Kalian tenanglah! Kita tidak akan kalah dan mendapat penghinaan seperti sebelumnya!"
Atma menggelengkan kepala. "Hei, kau terlalu percaya diri, Ketua Kelas. Ck, ck, ck, itu tidak baik. Hanya aku yang tampan ini selalu tersenyum saat mendapat penghinaan dari mereka. Hah, aku benar-benar tampan sampai mereka bersorak untukku."
Dirgan berdecak kesal. Dia tahu pemikiran teman-temannya, tetapi saat ini Dirgan tidak demikian. Dirgan menatap Amdara sebagai penyelamat cilik, harapan kecil muncul di hati Dirgan pada Amdara. Harapan yang mereka semua inginkan.
Amdara tengah bergulat dengan pemikiran sendiri, dia mengepalkan tangan kuat. Tatapannya begitu dingin. Mendengar teman sekelasnya ditindas selama ini membuat Amdara marah dan ingin segera bertarung untuk meraih kemenangan.
"Aku percaya pada kemampuan Luffy."
Dirgan tersenyum menatap Amdara dengan harapan. Perkataannya barusan membuat yang lain tersentak termasuk Amdara.
Nada, Rinai, dan yang lain menatap Amdara dengan pemikiran berbeda. Amdara sendiri hanya diam tanpa mengatakan apa pun.
Ketua Kelas Dirgan mendekati Amdara dan berhenti di depan meja Amdara.
"Kalian tahu? Walaupun dia masih kecil, tapi dia pemberani. Tidak seperti kita." Dirgan menarik napas dalam sebelum berkata lagi. "Aku jadi malu sendiri. Sebagai Ketua Kelas tidak bisa berbuat apa-apa saat kalian ditindas. Tidak bisa melawan dan payah. Benar-benar memuakkan."
Amdara melihat setetes air yang keluar dari mata Ketua Kelas Dirgan, Amdara merasa kesakitan dan kesulitan teman-temannya saat ditindas tanpa ada yang menolong.
Nada, Rinai, Atma, dan yang lain menunduk malu. Mereka mengepalkan tangan kuat sambil menitikkan air mata mengingat pedihnya kejadian selama ini. Rasa sakit itu mungkin tidak akan hilang sampai akhir hidup.
Amdara menepuk bahu Ketua Kelas Dirgan sambil tersenyum. "Kalian tidak payah, justru sebaliknya, kalian orang-orang keren."
Amdara menatap teman-teman di kelasnya satu persatu sebelum kembali berbicara. "Kalian bertahan selama ini membuatku kagum."
__ADS_1
Ketua Kelas Dirgan, "kau tidak perlu menghibur kami."
"Aku tidak menghibur kalian." Amdara tidak pandai menghibur dan perkataan barusan disebut menghibur? Sama sekali bukan.
Amdara memang berbicara ketika ada sesuatu yang penting, dan saat inilah dia harus berbicara banyak.
"Kalian tidak putus sekolah walaupun mendapatkan hinaan. Kalian bertahan sampai sekarang dan tetap belajar. Bukankah itu namanya keren?"
Ketua Kelas Dirgan tersenyum, dia mengelus pelan kepala Amdara. Rasa-rasanya Amdara lebih dewasa dari pada Dirgan sendiri.
"Hah, kau berbicara seperti itu membuatku bertambah lapar." Atma sedikit kagum pada Amdara yang cakap berbicara. Namun, perutnya saat ini malah mengacaukan suasana.
Yang lain tertawa saat mendengar perut Atma berbunyi keras. Ah, bukan hanya perut Atma yang berbunyi, Nada dan Dirgan juga.
Suasana jadi tidak seperti sebelumnya. Amdara tersenyum kemudian mengeluarkan makanan yang dia beli semalam dan mengambil sedikit milik Inay. Munculnya makanan tiba-tiba saat Amdara melibaskan tangan membuat yang lain terkejut.
"Apa kekuatanmu bisa memunculkan makanan?!"
Pertanyaan Atma dijawab oleh Ketua Kelas Dirgan mengenai benda yang bisa menyimpan barang. Beberapa murid yang tidak tahu manatap Amdara kagum.
Amdara hanya tersenyum saat teman-temannya mulai memakan makanan pemberian Amdara. Mereka lebih buruk dari Amdara dan Inay yang diberi makan malam saja. Dirgan, Nada, Rinai, Atma dan yang lain kadang-kadang malah tidak bisa makan selama berhari-hari karena dicegah oleh murid lain.
Pertandingan Amdara dan Senior Bena tersebar cepat ke telinga murid-murid sekolah Magic Awan Langit termasuk Daksa dan teman-temannya. Mereka menertawakan Amdara yang menerima pertandingan ini. Jelas mereka berpikir Bena yang akan menang.
Ini masalah pertandingan antara Kelas Satu C oleh Amdara, kelas terburuk di pandangan mereka dan Kelas Dua A oleh Bena. Bukankah ini pertandingan menarik?! Ada murid dari Kelas Satu C yang berani menantang kelas dua! Ck, ini berita besar!
Di kelas Bena sendiri, ramai memperbincangkan hal ini. Bahkan ada yang terus terang saat Bena menang nanti akan menjadi bawahan Bena dan memberikan hadiah. Walaupun begitu tetap saja ada yang jadi meremehkan kemampuan Bena yang melawan bocah umur 11 tahun dari Kelas C pula.
"Ck, siapa dia? Berani sekali menantang kelas dua A?!"
Salah satu teman perempuan Bena berdecak kesal. Sebuah penghinaan bagi mereka yang menantang Kelas Dua A.
Bena yang duduk di ruang kelasnya sendiri terlihat tenang, dia yakin akan menang sekali jurus. Bocah berambut putih itu cukup berani di usianya yang begitu muda. Cakap dalam berbicara dan ketenangan dalam menghadapi situasi membuat Bena penasaran dengan bocah itu.
"Ck, ketenagan itu malah membuatku mengingat Cakra!"
__ADS_1
Bena berdecak kesal, dia kemudian pergi dari kelas untuk menenangkan diri.
Di kelas Dua B, Mega telah mendengar berita tersebut dan cukup penasaran, dia tidak sabar dengan pertandingan nanti. Siapa yang tidak kenal Bena? Seorang senior berbakat dan juga sombong. Bertindak sesukanya dan akan melakukan apa pun untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.